Logistik! Sekolah anak-anak! Terpal! Pohon bodhi! Sejarah desa! Naskah buku yang belum selesai! Manajemen posko! Rindu Lala! Semua mendesak masuk resahkan pikiran. Pikiran saya kalut. Kepala saya menolak. Memaksa mendorong jauh-jauh semua itu. Semakin disingkirkan. Pikiran-pikiran itu semakin kuat mendesak masuk.

Angin malam berhembus. Dingin selimuti desa. Kami duduk-duduk di atas traktor yang diparkir di tepi jalan sebelah barat posko. Saya, Papa Awal, Papa Din, Bang Deki, dan Solah. Sebelumnya, Awal, sembilan tahun, ikut bergabung dengan kami. Malam semakin larut ketika Papa Awal meminta Awal masuk ke dalam tenda yang didirikan di halaman rumah, “Awal! Tidur, Nak. Besok pagi sekolah.” Ujar Papa Awal meminta Awal lekas tidur.

Semasa bujang, orang-orang menyapanya Fadlin. Ia menikah tak lama setelah menyelesaikan studi psikologinya di salah satu universitas di Palu. Setahun setelah menikah, Awal Akbar Ramadhan lahir. Sejak itu pula Ia disapa Papa Awal. Usianya setahun lebih tua dari saya.

Selepas menikah, Papa Awal fokus menggarap sawah untuk ditanami padi. Di masa awal saya tinggal di Posko Desa Karawana, sore hari saya mendapati Papa Awal dan istrinya memasukkan gabah-gabah–yang seharian dijemur–ke dalam karung. Bencana gempa, tsunami dan likuifaksi yang datangkan sedih, kecewa dan duka tak menghalangi keluarganya untuk terus bekerja. Kadang Awal ikut membantu memasukkan gabah ke dalam karung.

Keluarga inilah yang mula-mula saya kenal di Desa Karawana. Mama Awal, suaranya keras menggelegar. Begitu berkarakter. Ibu-Ibu di desa, bermufakat bahwasanya suara Mama Awal menjadi suara perempuan terkeras di desa. Ketika Ia memarahi Awal, atau Citra, 7 tahun, adik dari Awal, atau anak-anak lain yang berulah dan mengganggu kinerja keposkoan, saya pun gentar. Lebih lagi jika Ia marah-marah sembari menggenggam gagang sapu di tangan kanannya.

Mama Awal satu dari empat orang pengelola dapur umum Dusun Dua. Selama tiga pekan di Desa Karawana, setiap hari saya menyantap masakan Mama Awal dan tim. Masakan yang dimasak dengan bumbu utama cinta dan kerelaan, selalu nikmat terasa. Begitulah citarasa masakan dapur umum Dusun Dua.

Masakan yang dimasak dengan bumbu utama cinta dan kerelaan, selalu nikmat terasa. Begitulah citarasa masakan dapur umum Dusun Dua.

Jika diminta memilih beberapa anak untuk dibawa ke Yogya, Awal satu dari beberapa anak yang akan saya pilih. Awal sempat menjadi pemandu saya keliling desa ketika saya mengerjakan transek Desa Karawana. Selain pemandu, Ia dan beberapa anak usia SD lainnya menjadi narasumber awal saya.

Bang Deki tiga tahun lebih muda dari Papa Awal. Ia pernah merantau keluar desa cukup lama untuk bekerja di perkebunan sawit. Dua tahun Ia mengumpulkan uang untuk membangun rumah di desa usai menikah, dan baru satu tahun rumah pertamanya Ia dan keluarga tempati, rumah itu rusak parah diguncang gempa.

Bang Deki menjadi salah satu pemain kunci tim sepakbola desa. Kesehariannya ceria dan selalu berusaha menghibur orang lain. Usahanya itu hampir selalu berhasil. Di desa, Bang Deki menjadi ahli elektronika. Mulai dari mesin air, televisi, hingga telepon seluler yang rusak, sekuat tenaga Ia perbaiki.

“Kalau malam dingin macam begini, langit cerah, bintang banyak, besok siang akan panas. Panas sekali.” Ujar Papa Din memberi informasi.

Papa Din berkulit gelap, tinggi badannya tak lebih dari 160 sentimeter, Ia bertubuh gempal. Dari Papa Din kali pertama saya mendapat informasi mengenai ragam rupa Bahasa Kaili. Mulai dari Ledo hingga Da’a, dari Rai hingga Inja, dan banyak lainnya. “Puluhan, bisa jadi bahkan ratusan.” Ujar Papa Din terkait bahasa-bahasa yang digunakan Suku Kaili.

***

Bencana, betul-betul menguji kolektivitas dan kekompakan warga. Jika rapuh ia, hancur berantakan sudah. Jika kuat, arus deras pelajaran berharga menjebol bendungan kebodohan di kepala kita. Desa Karawana, manjadi satu dari banyak desa yang berhasil melalui cobaan dari sebuah bencana. Kolektivitas mereka tetap terjaga di tengah kelumpuhan pemerintahan provinsi hingga kabupaten.

Guncangan di awal yang merusak kolektivitas tentu tetap ada. Namun dengan cepat semua itu bisa diperbaiki. Solid. Malah semakin solid. Saya akan ceritakan sedikit di sini. Bagaimana kolektivitas begitu berguna sebagai alat untuk bangkit bersama dari keterpurukan akibat bencana.

Di Dusun Empat, tempat pendatang dari Suku Bugis dan Jawa banyak tinggal menetap, berdiri banyak kandang ayam. Satu kadang berisi ribuan ekor ayam. Ada dua jenis ayam. Ayam petelur, dan ayam potong.

Ketika gempa merusak rumah dan kandang ayam mereka, kebanyakan pendatang dari Bugis pemilik kandang ayam itu, mengungsi ke kampung halaman mereka. Sisanya mengungsi jauh ke perbukitan di timur desa. Beberapa pemilik kandang ayam, memberikan pengumuman bahwa ayam dan telur milik mereka, boleh diambil untuk dimanfaatkan sebagai lauk oleh seluruh warga desa, bahkan juga untuk warga di desa-desa tetangga.

Bang Deki, dalam sehari membawa lebih dari seratus ekor ayam. Banyak warga lainnya, membawa puluhan ekor ayam dan berkarton-karton telur. Mereka kemudian mendistribusikan ayam dan telur itu ke tetangga. Ada yang di antar langsung ke rumahnya, ada pula yang mengambil sendiri ke rumah Bang Deki dan warga lainnya.

Hibah dari beberapa pemilik kandang membikin warga Desa Karawana aman dari kekurangan sumber lauk. Mereka bahkan bisa menyubsidi desa-desa tetangga.

Hibah dari beberapa pemilik kandang membikin warga Desa Karawana aman dari kekurangan sumber lauk. Mereka bahkan bisa menyubsidi desa-desa tetangga. Dalam hal ini, desa betul-betul berdaulat.

Lebih 80 persen penduduk desa berprofesi sebagai petani sawah. Air yang digunakan untuk mengairi sawah didapat dari saluran irigasi yang bersumber dari Danau Lindu. Saluran Irigasi Gumbasa. Gempa merusak saluran irigasi. Saluran irigasi desa, kering kerontang. Beberapa sawah yang ditanami padi terancam gagal panen. Selain merusak saluran irigasi, gempa juga mengubah kontur tanah sawah. Dari yang sebelumnya landai, di beberapa tempat jadi bergelombang. Di tempat lain timbul retakan-retakan lebar menganga. Yang tetap seperti semula, ada juga.

Selain Papa Awal, Papa Din, dan Bang Deki, beberapa orang lain yang saya temui, menjawab dengan nada hampir serupa untuk satu pertanyaan saya, “Jika diberi sebuah pilihan dari dua kemungkinan, mana yang akan dipilih lebih dahulu, bantaun rumah atau perbaikan saluran irigasi?”

“Irigasi!” Semua memilih ini. Beberapa warga menambahkan, “jika saluran irigasi pulih, kami bisa kembali bekerja. Sekira empat bulan berikutnya, kami sudah bisa memanen padi dan beberapa komoditas lain yang kami tanam. Kami bisa dapat uang dari situ. Uangnya bisa kami gunakan untuk memperbaiki rumah kami. Beras yang kami hasilkan, bisa untuk menambah stok beras di kota Palu. Dengan kata lain, kami bisa menyubsidi kota dengan hasil sawah kami.” (Fwz)