Saya mengenal langgar ketika kecil, bahkan sebelum sekolah TK. Bapak atau ibu sering mengajak saya ke langgar ketika bunyi kentongan ditabuh. Magrib.

Jumlah langgar di desa saya sekitar tigapuluhan, sementara masjid cuma ada dua, itu pun karena beda kampung. Sebagian langgar sudah tembok, sebagian masih gladag kayu. Sebagian besar sudah ber-toa, yang akan bersahut-sahutan suaranya di kala Magrib, Isya, atau Subuh. Kebetulan di langgar saya sudah ber-toa. Jadi ikut meramaikan sahut-menyahut itu.

Di langgar itulah saya bertemu teman-teman. Biasanya kami ikut bermain salat-salatan ketika orang-orang dewasa salat. Tak jarang kami berlari-larian diantara orang-orang salat. Biasanya pula orang-orang dewasa memarahi kami.

Lama-lama saya diikutkan bapak atau ibu mengaji habis Magrib, yang diajar oleh kiai langgar. Anak kecil mengaji Turutan. Tahap awal sebelum Qur’an. Saya ingat, ibu saya membelikan Turutan yang baru di pasar, dengan gambar sampul yang saya sukai. Ngaji Turutan pertama mulai dari Alip ba’ ta’, sesuatu yang sudah hapal sebelumnya, karena orang tua atau tetangga sudah mengenalkan itu.

Lambat laun saya terbiasa sendiri ke langgar jelang Magrib. Sore sebelum Magrib di langgar adalah waktu kami bermain. Ada banyak jenis permainannya, mulai dari petak umpet, kelereng, atau tinju-tinjuan. Dan ketika mendengar bedug masjid ditabuh, kami akan rebutan kentongan langgar untuk ditabuh. Tapi seringnya kentongan dikuasai anak yang lebih besar.

Berbeda dengan azan. Kami belum berani rebutan. Biasanya anak yang lebih besar yang mengumandangkan, anak Qur’an atau orang dewasa. Baru ketika azan usai, saatnya pujian. Nah, waktu pujian inilah saya ikut rebutan mik. Urun suara cempreng saya untuk bisa masuk speaker.

Seringnya kami pujian bersama-sama, dengan mik digilir. Saya masih ingat beberapa lagu lagu pujian, seperti “Cilik-cilik diulang ngaji, gedhe-gedhe supaya aji…,” atau “Aja sira banget-banget, olehmu bungah ana dunya…,” lagu-lagu pujian yang saya sampai saat ini tidak tahu itu karangan siapa. Mungkin pengarangnya merasa tak penting lagi namanya dikenang. Selain puji-pujian lagu Jawa, kadang-kadang kami juga pujian Arab seperti “Robbana atina…,” atau “Astagfirullah robbal baroya….” Kalau kemarau panjang, pujian yang paling sering adalah “Allahummasqina gaisa mugitsa…”.

Ketika salat, kami yang masih kecil-kecil itu biasanya menempati shaf paling belakang. Biar tidak mengganggu orang dewasa. Atau juga biar tidak dimarahi karena kelihatan bermain ketika salat. Salat kami awal-awal tentu sekedar rubuh-rubuh gedhang, karena belum tahu doa-doanya. Kadang dalam salat itu, kami masih suka senggol-senggolan, injek-injekan kaki, atau lempar-lemparan kopyah.

Karena belum tahu doanya itulah, ada teman saya yang mengaku mengisi salatnya dengan komat-kamit pelan-pelan dengan berhitung. Misalnya ketika sujud atau ruku’ ia menghitung angka 1-10, sementara duduk tahiyat menghitung 1-10 tiga kali. Saya sendiri lebih sering berkomat-kamit berbisik wesuwesuwesss… dengan pelan. Biar dikira baca do’anya.

Saya baru bisa hapal bacaan-bacaan salat ketika ada pelajaran Pasolatan, alias praktik salat, sekali dalam seminggu. Dan lebih lancar lagi hapalannya berkat ibu-ibu guru TK ketika saya mulai sekolah. Saat itu saya juga baru belajar wudhu, mulai doanya hingga apa yang membatalkannya.

Salah satu yang paling saya sukai dari mengaji adalah ketika kiai mendongeng, kebanyakan dongeng kisah nabi-nabi. Saya paling suka cerita Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala, tetapi ketika dihukum dengan dibakar malah kedinginan. Cerita itu yang membuat saya kadang ingin menghancurkan sesuatu yang saya anggap patung, seperti orang-orangan untuk jualan baju ketika saya diajak ke pasar malam. Tapi saya tidak berani menghancurkan, karena ketika kulit saya kena bara api sedikit saja masih kepanasan.

Malam Jum’at ngaji libur. Wiridan habis Magrib diganti tahlilan. Kadang-kadang habis tahlilan ada yang brokohan, berkatan atau bancakan. Apakah bancakan weton, syukuran atau selametan. Biasanya sohibul bancakan membawa ambeng nasi tumpeng, dengan jajanan. Ketika pak kiai mendoakan, kami akan suka teriak “Amin” dengan kencang dan bersahut-sahutan. Semangat sekali. Sehabis itu makan bersama, yang kadang juga rebutan dalam satu tampah. Saya tidak tahu mengapa makan nasi berkat di langgar dengan rebutan itu begitu enak. Padahal kalau dilihat lauknya biasa-biasa saja. paling-paling sayur, bumbu kelapa, mie, tempe, dan suwiran telor goreng yang ditabur.

Orang bancakan tidak harus malam Jumat. Saya justru suka kalau malam-malam yang lain, karena ngajinya diliburkan. Artinya, sehabis salat Magrib langsung makan-makan, setelah itu bisa langsung bermain entah kemana.

Di langgar, kadang-kadang lomba-lomba diadakan. Waktu itu setiap anak membayar iuran lima puluh atau seratus rupiah. Ada juga yang memberi lebih. Tergantung orang tua. Lomba yang paling sering diadakan adalah cedas cermat. Dengan soal-soal seperti tajwid, nama-nama Nabi berikut kisahnya, matematika dasar, bahasa krama inggil atau nama-nama anak hewan. Saya paling suka nama-nama anak hewan, dan paling tidak bisa bahasa krama.

Grup saya, yang terdiri dari dua anak, pernah memenangi lomba cerdas cermat itu. Seingat saya, kami mendapat hadiah bungkusan besar. Setelah dibuka kalau tidak salah isinya buku dan kerupuk. Kerupuk itu juga jadi rebutan teman-teman.

Ketika Ramadhan tiba, langgar jadi lebih ramai karena salat tarawih. Waktu remaja, saya seringkali memilih mencari langgar lain yang salat tarawihnya lebih cepat. Di langgar saya masih kurang cepat. Langgar sebelah lebih cepat. Saya sudah menghitung selisih waktunya, yakni hampir sepuluh menit. Di langgar yang salat tarawihnya lebih cepat itulah biasanya ramai anak-anak remaja.

Sehabis tarawih ada tadarus. Orang-orang dewasa yang tadarus, atau anak-anak yang sudah Qur’an. Anak-anak turutan belum ikut. Kalaupun ikut andil, paling-paling sekedar menghabiskan makanan atau camilan yang diberikan warga sekitar langgar untuk suguhan tadarus.

Ketika Ramadhan juga, siang hari langgar ramai anak-anak atau remaja. Langgar jadi ramai permainan. Para remaja itu biasanya sibuk latihan tongklek untuk keliling waktu sahur. Kadang mereka mereka sibuk membuat mercon. Kiai langgar tidak melarang itu.

Hari-hari jelang lebaran kampung kami jadi lebih ramai karena banyak pra perantau yang pulang kampung. Dengan sendirinya langgar jadi lebih ramai. Dan puncak keramainan adalah malah lebaran. Langgar akan ramai sekali dengan anak-anak takbiran. Bunyi mercon juga meledak dimana-mana. Mercon bikinan sendiri, karena mercon yang beli jadi terlalu kecil, kurang keras ledakannya. Maka, di sepanjang jalan bertebaran kertas-kertas sisa ledakan. Pelataran langgar termasuk titik paling sering orang meledakkan mercon, sehingga banyak juga kertas bertebaran.

Di langgar, para remaja takbiran sampai pagi. Malam lebaran memang terasa meriah sekali. Dan, langgar-langgar menjelma titik-titik kemeriahan, dengan masjid sebagai pusatnya. Merenungkan hal itu, saya jadi berkesimpulan bahwa langgar adalah salah satu bentuk pengejawantahan dari Islam berkebudayaan yang paripurna.

Bersambung