Langgar Mbah Kaji di Atas Kolam

Masa mengenal turutan adalah setelah seringnya bertandang ke langgar. Turutan bersampul ‘jambon’ yang dibeli di Toko Lowo, samping masjid Kauman, adalah buku berhuruf arab pertama yang kumiliki. Bapak dari salah satu teman bermain  adalah guru mengaji pertamaku. Sempat dibilang aneh, karena ibuku seorang guru ngaji yang muridnya banyak. Ya, ada rasa enggan mengaji pada ibuku sendiri, bukan karena malu tetapi karena ibuku galak setengah mati. Makhraj harus benar, panjang pendek harus tepat. Sementara lidah anak badung sepertiku sangat bandel untuk turut. Maka jadilah bapak temanku itu jadi guru mengajiku. Lancar. Ibuku urung memaksaku jadi muridnya. Kegiatan mengaji dan sholat berjamaah adalah saat yang paling menggembirakan, tak terkecuali sholat Jumat. Setiap Jumat, selepas pulang cepat, buru-buru mandi dan bersegera berpakaian bersih sambil mengikuti Bapak berjalan menuju masjid yang jaraknya lumayan jauh. Oiya, ketika masa kecilku, mukena atau rukuh untuk anak-anak sangat jarang ditemukan di toko. Sementara menunggu besar sedikit, aku memakai dua kain jarik, selembar untuk menutup rambut sampai pinggang, selembar yang lain menutup pinggang sampai kaki. Ketika telah selesai, dua kain jarik itu berfungsi sebagai ‘klebet’ atau jubah superman. Sekali waktu boleh meminjam sarung bapak untuk bawahan. Tapi itu tak lama, karena sudah mulai rajin ke masjid aku mendapat hadiah rukuh dari ibu. Senangnya. Ketika berangkat sholat subuh selalu dibujuk menjadi pocong-pocongan untuk menakuti anak komplek lain, riuh dan ribut. Hadiahnya jeweran Pak Modin yang rumahnya tak jauh dari rute kami menuju masjid.

Masjid Taqwa, aku ingat namanya. Luas, depan masjid ada pohon beringin besar yang biasa untuk berteduh kami ketika menunggu teman lain selesai. Sembari mengunyah kacang bawang mulut kami ikut bersholawat. Kehidupan masjid satu-satunya di kawasan asrama tentara itu semakin riuh ketika bulan puasa tiba. Turutan jambon itu tak pernah lupa kubawa serta. Ada banyak coretan dan paraf beberapa guru ngaji yang mengevaluasi. Ada kalanya diminta mengulang halaman sebelumnya hingga ingin rasanya menangis.

Sembari mengunyah kacang bawang mulut kami ikut bersholawat. Kehidupan masjid satu-satunya di kawasan asrama tentara itu semakin riuh ketika bulan puasa tiba. Turutan jambon itu tak pernah lupa kubawa serta.

 Lain waktu ketika liburan tiba, kegiatan mengaji di kampung simbah yang berada di lereng gunung Sumbing tak berhenti. Mengikuti jejak bulik-bulik yang ke langgar membawa Quran. Kadang membawa buku tipis yang bukan turutan. Segan mau bertanya karena tidak yakin bisa membacanya. Semua huruf arabnya tak berharokat. Setiap waktu sholat tiba, kampung menjadi sepi. Kerumunan ada di dua langgar. Langgar terdekat di samping rumah Simbah lebih banyak jamaah laki-laki. Sementara yang perempuan ada di langgar milik Mbah Kaji Thoyib. Masih hitungan saudara dekat dengan Simbah. Mbah Kaji Thoyib putri terkenal disiplin dan galak. Untuk anak kecil sepertiku, hanya diminta menyimak dan mengikuti yang besar. Ada yang bilang langgar itu khusus perempuan. Tapi memang benar adanya. Bahkan peturasan samping kolam kecil di bawah kaki langgar, laki-laki dilarang wudhu di situ. Setiap jamaah perempuan yang mengaji dan sholat di langgar harus memakai sarung atau kain, kami menyebutnya ‘tapian’. Menggunakan kerudung yang diikat ke belakang untuk mencegah rambut keluar dan terlihat. Konon, langgar itu lebih tua dari langgar milik Simbah. Bedanya, langgar Mbah Kaji Thoyib lebih banyak bermaterial kayu dan seperti rumah panggung. Kolam di bawah langgar untuk mencuci mukena atau rukuh, wudhu dan boleh mandi. Asal perempuan, bukan laki-laki. Mbah Kaji Thoyib putri, menurut cerita ibuku, adalah guru mengaji yang sangat keras. Semua muridnya perempuan termasuk ibuku ketika belum mulai bersekolah ke kota. Ya, Mbah Kaji Thoyib kakung memang membuat orang segan karena ilmunya yang kukuh. Berbadan tinggi besar, hidung mancung, jarang berbicara kecuali nasehat. Mbah Putrinya juga begitu, berkerudung putih, suara tajam dan membuat orang enggan melawan. Jarang kutemukan turutan di langgar itu, banyak kitab tebal dan tipis yang belum pernah kupelajari. Semua menderas dengan alunan ritmis. Malam lepas isya’ menjadi semakin khusyuk. Aku yang masih kanak ketika itu melirik pun tak berani. Apalagi makan kacang.

Bedanya, langgar Mbah Kaji Thoyib lebih banyak bermaterial kayu dan seperti rumah panggung. Kolam di bawah langgar untuk mencuci mukena atau rukuh, wudhu dan boleh mandi. Asal perempuan, bukan laki-laki. Mbah Kaji Thoyib putri, menurut cerita ibuku, adalah guru mengaji yang sangat keras. Semua muridnya perempuan termasuk ibuku ketika belum mulai bersekolah ke kota.

Kini ketika telah berumur, lama rasanya tak bertemu buku tipis yang dulu kusebut turutan. Syawal dua tahun lalu yang selalu bersamaan dengan Haul Simbah dan leluhur, aku pulang. Selepas pengajian, langkah kaki menjejak menyusuri jalan desa yang masih sama. Aku berdiri di depan langgar Mbah Kaji Thoyib. Rumah besar samping langgar itu tertutup rapat, langgar yang dulu anggun itu masih berdiri, kayu-kayu telah berubah menjadi dinding tembok. Paturasan dan kolam yang ada di bawah langgar itu sudah berubah menjadi ruang-ruang yang fungsional. Mungkin untuk TPA. Mbah Kaji Thoyib putri berpulang sekitar 3 bulan sebelum simbah putriku. Dua sosok perempuan santri yang kukenal tegas dalam mengajar, selain ibuku. Terkadang, betapa menyenangkannya anak-anak mengaji masa itu. Tanpa buku laporan dan akhirussanah. Tanpa seragam, cukup berpakaian bersih dan rapi. Tidak berat, hanya niat. Niat kanak-kanak yang ingin selalu bersama teman-teman kemana pun perginya. Bahkan ke masjid atau ke langgar. Penuh suka ria ketika sholawatan sambil makan kacang. Anak-anak tanpa prasangka. Benar-benar gembira. Berlarian ninja-ninjaan dengan sarung yang ada. Sungguh riang.

Buku Langgar Shop
Yessita Dewi
lahir di Magelang 28 April 1974. Berdomisili di Solo pinggiran. Lama di dunia radio dan sesekali menjadi pengisi suara/dubber. Kini menjadi salah satu narator Difalitera. Pernah menulis naskah sandiwara radio, naskah sinetron serial anak-anak, FTV dan film dokumenter sampai tahun 2017. Selain ikut berkumpul ngangsu kawruh di Sastra Pawon Solo, ia juga menulis cerpen, esai, cerkak di media cetak serta beberapa buku antologi yang turut ia ramaikan. Pernah memenangi lomba sayembara novel dari Dewan Kesenian Jawa tengah 2011. Bisa bersilaturahmi di Instagram @yessita_dewi, Facebook : Yessita Dewi, Blog:https://kacamatayessita.blogspot, Twitter : papercut@yessitadewi.