Saya dan Langgar

Tulisan ini bukan tentang lembaga langgar.co. Bukan. Lembaga ini tak perlu ditulis, tak harus, dan tak usah.  Biarkan sepak terjangnya menjadi tulisan itu sendiri. Menjadi bukti eksistensinya. Program, kegiatan, apalagi sosok pemimpinnya, adalah diri yang harus didukung, diayomi, dan didampingi. Mari saling melengkapi satu sama lain. 

Tulisan ini tak lain hanya dongengku belaka. Tak lebih. Dongeng tentang keberadaan langgar di kampungku, di pedesaan Madiun, Jawa Timur. Dongeng tentang langgar zaman dulu, sekira antara tahun 1900-2000, yang sebagian kudengar dari bapakku. Keadaannya mungkin sekarang berbeda, seiring dengan cobaan dan godaan zaman yang semakin dahsyat. Pembaca mungkin nanti akan tahu perbedaannya setelah membaca dongeng ini.  

Langgar lebih dulu ada sebelum masjid. Langgar itu sebutan di Jawa untuk tempat ibadah umat Islam di pedesaan Jawa. Orang modern biasanya menyebut musala (atau lebih fasih, musholla). Sebutan ini sebenarnya jadi membingungkan dengan masjid jika ditilik dari arti asal katanya. Musholla artinya tempat salat. Masjid artinya tempat sujud. Padahal sujud itu bagian dari salat. Orang modern akhirnya membedakan musala dan masjid dengan fungsinya. Selain luas bangunannya, musala biasanya tak dipakai salat Jumat, masjid dipakai. Saya menduga, penggantian sebutan langgar jadi musala ini tak lain untuk menghilangkan peran langgar dalam sistem pengetahuan Jawa. Memang apa peran langgar bagi orang Jawa?   

Luas langgar lebih kecil daripada masjid. Langgar Pak Zaini misalnya, ukurannya hanya 4×4 meter. Langgar Mbah Nuhyi 4×5 meter. Langgar Mbah Romo lebih kecil lagi, hanya 3×3 meter. Langgar Pak Yadi, kiai dengan jenggot sepuluh helai itu, luasnya 4×5 meter. Langgar Mbah Karsono yang berbentuk panggung dari kayu luasnya lebih besar 7×7 meter. Di depan rumah Mbah Karsono ini, di seberang jalan, Mbah Zainal yang lulusan pesantren Oro-Oro Ombo Madiun yang dipimpin Kiai Mahfud, juga mendirikan langgar seluas 3×4 meter.  Namun, langgar dikenal bukan hanya sekedar luas bangunan. Bukan.  

Umumnya, langgar itu didirikan di dekat rumah pemiliknya, yang umumnya santri lulusan pesantren. Sepulang mesantren di pesantren-pesantren yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, mereka itu ingin mempraktekkan ilmu yang diperolehnya. Mereka kemudian mendirikan langgar dan oleh masyarakat biasa disebut kiai langgar atau kiai kampung. Mereka mengajar sesuai dengan ilmu yang dikuasai dan diijazahkan kiainya saja. Tak boleh yang lain. Tujuannya, menunjukkan kepada masyarakat bahwa Islam itu menyenangkan, boleh berbeda, saling menghormati, dan tak kaku.    

Desaku, desa Wangsen, terdiri dari 15 RW (rukun warga) dan 25 RT (rukun tetangga). Desa sebesar kurang lebih 10 hektar dengan penduduk sekitar 800 KK atau 1500 jiwa itu dikelilingi 30 bangunan langgar dan dipersatukan oleh satu masjid besar, Masjid Jami’ Misbahul Muttaqin (lentera orang-orang taqwa). Saat salat Jumat, warga atau jamaah, tumplek blek di masjid tersebut. Para orangtua, laki-laki dan perempuan, juga anak-anak, baik  yang jalan kaki  maupun yang berkendaraan, mereka berduyun-duyun datang ketika mendengar suara Muammar ZA atau Ustaz Mustafa dari kaset yang sama dan diulang-ulang. Khatib Jumat berkhutbah dengan membaca kitab Berbahasa Arab sekira 7 menit. Sang imam juga membaca surat-surat pendek. Para muazin (pelantun azan) umumnya adalah santri langgar, sementara khatib dan imamnya adalah kiailanggar. Dari titik ini, langgar adalah ruang untuk mendidik para muazin, khatib, dan imam masjid. 

Selepas salat Jumat, para kiailanggar dan beberapa jamaah masjid akan bercengkerama di serambi masjid sembari udud, membersamai remaja masjid yang menghitung uang dari kotak amal, kemudian menuliskan jumlahnya di papan tulis serambi masjid. Para kiailanggar bercengkrama tentang langgar masing-masing, tentang anak-anak kampung yang nyantrik di langgar mereka, bertukar pengalaman tentang ilmu yang mereka peroleh dari pondok, dan tentang kiai-kiai pesantren mereka yang unik dan lucu, serta kadang tak masuk akal. 

Lha mbah kiaiku, Mbah Mangli, kui aneh. Nek diundang ceramah po slametan neng ndi ngono, blas ora gelem nek diwei duit po salam tempel. Wegah tenan pokok e. Nek wiridan ra umum suine. Kabeh pasa sunah dilakoni,” cerita Pak Zaini sembari tertawa kecil.

Nek Mbah Mahfud Oro Oro Ombo kui mben jumat esuk mesti mara neng terminal Madiun. Trus menehi rokok sakler-sakler (sebatang) kabeh tukang becak, preman, ro sopo wae sing terminal. Mben jumat kui,” kata Mbah Zainal diiringi asap rokok yang mengepul dari mulutnya.

Aku kui mbiyen pernah dijak mbah kiaiku neng sawahe. Njur aku kon nyabuti suket nganti suwe ra dikon mandeg, nganti boyokku kaku..ha..ha..ha… mbah yaiku ming udad-udud neng gubug kaya etok-etok ra weruh. Sakwise kira-kira sejam aku diceluk. ‘Nuhyi… kowe tak kon nyabuti suket ngerti maksude?’ ‘Mboten, Kiai,’ jareku. ‘Ngene, suket kuwi urip dewe, ora ditandur. Ana sing gampang dicabut lan ana sing angel. Lha, kuwi kaya urip iki. Masalah kui ana sing tukul dewe, ana sing angel dirampungke lan ana sing gampang. Kui mau kabeh kersane Gustialah. Manungso kaya awak e dewe iki mung dijalok manut, supoyo ngerti nek sing kuoso kui Gustialah, dudu manungsa… ngerti kowe?’ ‘Nggih, kiai.’ Bar kui aku diwei rokok e mbah kiai, tapi aku ra gelem soale aku ra udud,” cerita Mbah Nuhyi yang memang tak merokok sampai tuanya.

Saling cerita pengalaman unik dan lucu itu akan berakhir setelah salah satu dari para kiailanggar itu izin pulang, atau akan ke sawah atau angon kambing. Waktu selepas Jumat itu memang menjadi waktu silaturahmi para kiailanggar. Di antara mereka kadang saling bertukar pendapat tentang aktivitas di langgar masing-masing. Misalnya, bertanya tentang maksud isi kitab yang mereka gunakan untuk mengajar, saling meminjam kitab, saling meminta ijazah, atau wirid, jopa-japu (doa) antar mereka.

Para kiai langgar itu mendirikan langgar berdasarkan ijazah ilmu yang dianggap mereka kuasai dari kiai mereka di pesantren. Tanpa ijazah itu, mereka tak berani mendirikan langgar, apalagi mengajarkan kepada masyarakat. Karena setiap santri itu memiliki penguasaan ilmu yang berbeda, maka setiap kiai langgar itu mengajarkan ilmu yang berbeda di langgarlanggar mereka. Atas alasan itu pula mereka mendirikan langgar sendiri-sendiri, bukan karena egois. Antar para kiai langgar itu sudah memahami hal tersebut, sehingga antar mereka tak saling benci, iri, atau rebutan santri kampung. Antar mereka bahkan akan memberi saran kepada santri kampung untuk ngaji kepada kiai langgar tertentu jika ingin menguasai ilmu khusus. 

Pak Zaini misalnya, ia dikenal sebagai kiai wirid, karena dari pesantren ia diijazahi oleh kiainya untuk mengajarkan ilmu wirid. Pak Zaini hafal beragam wirid, baik Bahasa Arab maupun Bahasa Jawa. Ia kuat tirakat puasa sunah, salat malam, dan wirid berlama-lama. Puluhan wirid ia baca. Ada wirid harian, tiap jumat, tiap bulan suro, ramadhan, dan sebagainya. Langgar Pak Zaini hanya menerima santri kampung yang ingin mendalami wirid dan tirakat.   

Mbah Nuhyi dikenal sebagai kiai langgar dengan penguasaan ilmu quran. Di langgar Mbah Nuhyi hanya diajarkan cara membaca alquran, dari pengenalan huruf hijaiyah sesuai makharijul huruf (keluarnya suara huruf dari mulut), arti dan makna tiap huruf dalam sistem pengetahuan Jawa, tujuh model bacaan alquran (qiraah sab’ah), belajar membaca alquran dengan dilagukan baik gaya Mesir, Turki, maupun langgam Jawa. Aku pernah nyantrik di Mbah Nuhyi tapi gagal, karena nafasku pendek. Hehehe….

Mbah Zainal dikenal dengan kiai fikih (aturan Islam). Di langgar Mbah Zainal hanya diajarkan tentang fiqih saja, tidak yang lain. Para santri kampung yang ingin tahu tentang najis, cara wudlu, apa yang membatalkan salat, aturan haidh bagi perempuan, cara memilih jodoh bagi laki-laki akan nyantrik di langgar Mbah Zainal. Setiap sore selepas asar, biasanya banyak santri kampung berangkat ke langgar dengan membawa kitab Taqrib, kitab fikih dasar yang biasa diajarkan di pesantren. 

Mbah Karsono beda lagi, ia dikenal sebagai kiai jaduk. Di langgarnya selain untuk salat lima waktu, juga diajarkan ilmu jaduk atau ilmu kebal. Langgar Mbah Karsono tidak banyak santrinya, melainkan hanya tertentu saja. Ini memang disengaja oleh Mbah Karsono, karena tak semua orang boleh memiliki ilmu jaduk. Mbah Karsono hanya memilih sedikit dari banyak orang kampung yang ingin menjadi santrinya. Ia sudah diwanti-wanti oleh kiai pesantren yang memberinya ijazah, bahwa ilmu yang dikuasainya tak boleh sembarangan diberikan pada orang lain. Cerita bapakku, dulu beberapa orang kampung diminta untuk menelan gotri sepeda oleh Mbah Karsono setelah berpuasa dan berendam di sendang desa. Orang-orang itu kemudian dikirim Mbah Karsono untuk ikut perang melawan Belanda. Mereka masih hidup sampai tua.

Mbah Arifin juga berbeda. Ia dikenal sebagai kiai gurah. Langgar Mbah Arifin tidak ada santri yang belajar. Sekali waktu saja langgar Mbah Arifin didatangi santri kampung atau dari luar kampung untuk minta digurah. Mereka minta riyak atau gumpalan lendir di tenggorokannya dikeluarkan, agar suara mereka jernih saat menyenandungkan ayat alquran. Mbah Arifin biasanya akan menumbuk bawang merah dan bawah putih di campur air, kemudian setelah didoakan akan menuangkannya ke lubang hidung para santri kampung itu. Setelah bersih-bersin dan kepala pusing, biasanya dari mulut para santri itu akan keluar banyak lendir kental. Beberapa hari kemudian, mereka akan merasakan khasiatnya. Suara mereka bersih, nafas mereka panjang dan semua huruf hijaiyah seperti mudah diucapkan sesuai makharijul huruf-nya. Aku pernah digurah Mbah Arifin, tapi aku kapok karena kepalaku pusing berhari-hari. Ha… ha… ha….      

Dapatlah dipahami, bagi orang Jawa, langgar itu episentrum penyemaian ilmu-ilmu Islam yang beragam dan menyenangkan. Langgar itu ruang pendidikan nilai-nilai kebaikan Islam. Dengan mendirikan langgar, para kiai langgar bisa mengatur dan mengelola langgar sesuai dengan ilmu yang mereka kuasai. Hal-hal itu tentu saja tak mungkin dilakukan di masjid, karena masjid harus mewakili banyak orang. Masjid biasanya juga memiliki struktur pengurus yang programnya tak bisa sebebas langgar. 

Aahh… aku merindukan langgarlanggar seperti dulu itu.

Wallahu a’lam bi al-shawab.