Tentang Hidup Penak, Ayem

Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan tamu, seorang penggiat literasi yang cukup tekun dan teguh dalam menjalani profesinya sebagai penerbit buku-buku Indie karya sastra Jawa. Jika boleh dikatakan penerbit yang di kelola teman saya ini tidak begitu besar. Ia selalu menyamakan profesinya, tak ubahnya seperti jualan kacang di pinggir jalan, eceran. Tidak seberapa hasilnya. Tapi yang menarik adalah tag line yang selalu muncul dalam setiap terbitannya yaitu; terus melaku tansah lelaku (terus berjalan, dan selalu menghayati perjalanan).

Sore itu, hujan turun begitu deras. Cak Kandar nama sapaannya, ia datang dengan tergopoh-gopoh, mungkin karena kedinginan. Sore itu tak ada maksud spesifik kedatangannya ke tempat kami. Kecuali hal kecil, prihal menyampaikan sebuah titipan. Selebihnya adalah agenda silaturahmi yang memang ia sering agendakan ke tempat kami.

Berbeda dengan pertemuan-pertemuan kami sebelumnya, yang sekedar ngobrol ngalor ngidul. Sore hingga malam itu, obrolan terasa begitu panjang dan lebih hangat, padahal di luar hujan menyambar-nyambar. Entah ada apa, yang jelas saya sendiri mendapat banyak pelajaran dari obrolan-obrolan dengan Cak Kandar malam itu.

Sebelum jauh, saya ingin sedikit mengulas terkait tag line yang menurut saya sangat genuine dari Cak Kandar yang saya sebutkan di awal tadi. Yaitu terus melaku tansah lelaku, ungkapan yang menurut dugaan saya hasil pergulatan batin Cak Kandar dan olah pengalaman melewati dinamika hidup yang Cak Kandar pernah lewati selama ini. Bagaimana tidak, sebagai sama-sama pelaku literasi di dunia penerbitan buku Yogya––walaupun saya jauh di bawahnya––saya bisa merasakan naik-turunnya bisnis perbukuan ini. Apalagi Cak Kandar, yang sudah hampir 15 tahun makan asam dan garam dalam ekosistem buku ini. Pasti ia paham betul, bahwa kalau tidak didasari cinta buku dan ilmu pengetahuan, sebagai penerbit yang modalnya pas-pasan, aktivitas perbukuan ini memang tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan.

Saya sendiri jadi ingat, salah satu ulasan Phutut EA dalam sebuah unggahan di twiter soal dinamika perbukuan di Yogya. Ia menyatakan bahwa posisi penerbit buku di Indonesia sebenarnya sangat rentan di lihat dari sisi bisnis. Karena tidak ada perlindungan/subsidi dari negara sedikit pun. Harga kertas yang selalu melambung tinggi, biaya produksi yang tidak murah, sementara harga jual di pasaran selalu minta ditekan untuk serendah mungkin, yang  hal tersebut membuat penerbit kelimpungan. Belum lagi menghitung risiko, yang semua mesti di tanggung penerbit jika bukunya tidak laku.

Kondisi ekosistem perbukuan yang rentan tersebut, tentu sangat dipahami oleh semua pelaku buku termasuk Cak Kandar. Namanya juga usaha, pasti ada risiko yang membayanginya. Tapi apa yang dilakukan Cak Kandar yang ia sebut sebagai macul kata-kata dalam dunia penerbitan, patut kita lihat lebih luas maknanya. Bahwa sebenarnya saya melihat, dari ungkapan-ungkapan yang muncul dari Cak Kandar mulai dari terus melaku tansah lelaku merupakan gagasan yang saya pikir menjadi kekuatan untuk menjalani derap ketidakpastian dalam menjalankan roda penerbitan buku ini.

Ungkapan yang terlihat sederhana tersebut, jika saya hayati menyimpan pemahaman bahwa bagaimanapun kondisinya hidup ini harus terus berjalan, terus melaku. Karena ketika kita berjalan, hal itu menandakan bahwa kita itu hidup. Dan jika tidak berjalan ––tidak hanya dalam arti fisik––kita bisa dikatakan mati. Nah, agar ketika berjalan ini terasa lebih ringan dan tidak terbebani oleh gagasan persoalan yang ada di kepala kita. Ungkapan Tansah lelaku ini perlu kita baca dalam kerangka filosofis yang lebih mendasar. Bahwa lelaku dalam kesadaran orang Jawa tidak serta merta bisa kita memahami sebagai upaya berjalan begitu saja, tapi jauh dalam lagi “lelaku” adalah usaha untuk menghayati dari proses hidup yang sedang dijalani.

Bahwa lelaku dalam kesadaran orang Jawa tidak serta merta bisa kita memahami sebagai upaya berjalan begitu saja, tapi jauh dalam lagi “lelaku” adalah usaha untuk menghayati dari proses hidup yang sedang dijalani.

Hidup yang dihayati sederhananya adalah upaya menghidupkan hidup, yang tidak hanya raga tapi juga jiwa. Menghayati sendiri berasal dari kata hayyat dari bahasa Arab yang artinya “hidup”. Menghayati sebagai kata kerja tidak ada lain adalah menghidupkan hidup. Upaya menghidupkan hidup inilah, sebenarnya yang mesti terus kita upayakan dalam keseharian kita. Bahwa bagaimanapun diri kita tersusun dari dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, yaitu apa yang ada di dalam, yaitu jiwa dan berbagai elemen lainnya yang sering kali menopang raga jasmani kita. kedudukan keduanya sama pentingnya. Namun, karena apa yang di dalam soal  jiwa, rasa, kehendak, pikiran kita selalu tidak menjadi perhatian kita. Operasionalisasi dari unsur-unsur yang ada di dalam diri kita itu sering kali tidak maksimal. Atau bahkan di pandang sebelah mata.

Jika hal itu tidak kita sadari, apa yang kita sebut menghidupkan hidup, kiranya akan susah kita gapai. Karena dalam usaha menghayati yang artinya menghidupkan hidup tadi, dibutuhkan usaha untuk mengoptimalkan segala potensi rohani dan jasmani kita. Misalnya sederhana, jika kita di pagi hari bangun, terus melihat matahari yang begitu cerah dan udara begitu segar. Terus Anda mencoba mengambil nafas panjang, merasakan hangat pagi yang menyentuh kulit. Lalu masuk dalam lagi mencoba merasakan keheningannya, mencoba memikirkan kondisi yang ada. Pasti secara gerak natural pasti Anda akan dihantarkan pada kesadaran atas makna hidup yang lebih subtansial. Dan Anda dapat pengetahuan dari aktivitas yang tapak sederhana tersebut.

Maka apa yang dilakukan oleh Cak Kandar dengan lelaku sebagai penerbit buku, dengan segala dinamikanya yang disebutkan di atas. Tentu tidak menjadi soal yang meresahkannya. Karena apa yang sedang dilakukannya pada dasarnya tidak sekedar pada aktivitas pekerjaan yang hari ini sering hanya dipahami dalam kerangka untung dan rugi. Tapi lebih dalam dari hal itu, apa yang sedang dilakukan Cak Kandar adalah upaya untuk memaknai atau menghayati hidup dalam usaha untuk menghidupkan apa yang sedang ia jalani. Karena pada dasarnya, apa pun bentuk aktivitasnya jika kita mampu memetik makna dari aktivitas yang kita jalani, akhirnya kita juga dapat menyesap manisnya atau indahnya hidup ini. Dan hal ini, tentu tidak bisa diukur dari apa yang sedang dikerjakan dan seberapa hasil yang kita dapatkan.

Belum cukup di sana, sore itu, Cak Kandar lagi-lagi melontarkan pernyataan yang cukup menggugah kesadaran saya. Tentang bahwa apa yang dilakukannya, dengan filosofi yang dijabarkan di atas dengan maksud dan tujuan untuk menggapai tujuan hidup penak ayem.

Menurut Cak Kandar hidup “penak” bisa kita artikan senang, belum tentu “ayem” damai. Karena senang dalam hidup ini bisa jadi sifatnya sangat relatif dan tidak selamanya. Tidak ada dalam rasa kita sifat senang terus menerus. Jika ada orang merasa terus menerus senang berarti dia bukan manusia. Hal itu tampaknya sejalan dengan apa yang dikatakan Ki Ageng Suryamataram dalam kawruh bejo-nya, bahwa rasanya manusia itu selalu akan berada di antara susah dan senang dan keduanya akan selalu ada secara bergantian.

Menurut Cak Kandar hidup “penak” bisa kita artikan senang, belum tentu “ayem” damai. Karena senang dalam hidup ini bisa jadi sifatnya sangat relatif dan tidak selamanya. Tidak ada dalam rasa kita sifat senang terus menerus. Jika ada orang merasa terus menerus senang berarti dia bukan manusia.

Jika seperti itu, jika ada seseorang ingin mengejar rasa kepenak atau senang terus menerus, berarti ada yang salah dalam cara berpikirnya. Karena rasa seperti itu tidak ada. Misalnya saat Anda merasa sedang lapar, yang muncul dalam bayangan keinginan Anda––Suryamataram menyebutnya karep––adalah makan yang enak yang membuat hati Anda senang. Terus kemudian Anda berupaya mewujudkan rasa tersebut, dengan membeli makanan yang menurut Anda enak agar rasa bahagia itu ada. Tetapi silang beberapa menit, setelah Anda berhasil memakan sesuatu yang Anda bayangkan tadi, yang muncul kemudian rasa kurang untuk menambah dan akan terus seperti itu. Dan jika Anda turuti, karena perut itu ada batasnya, dan Anda memaksakannya menjadi berlebih hal itu bisa menjadi sakit, di situlah kemudian muncul rasa susah tidak bahagia. Karena Anda memaksa perut untuk menampung tidak sesuai dengan kapasitasnya.

Seperti itulah kiranya rasa senang dan susah selalu melingkupi kita. Maka apa yang disebutkan Cak Kandar tadi bahwa kita butuh tidak hanya rasa kepenak tapi juga ayem. Rasa yang dapat melampaui rasa senang berupa kedamaian yaitu ayem. Karena penak belum tentu ayem. Dan biasanya rasa itu ditandai dengan adanya perasaan merasa cukup, dan menerima apa-apa yang didapatkan. Sehingga ukuran banyak, sedikit, baik dan buruk, tidak lagi menjadi prioritas lagi.

Mengenai rasa ayem/damai ini, sering kali memang susah untuk dijelaskan, tetapi bisa dirasakan. Hanya orang yang mengalami lah yang mampu merasakan fenomena rasa seperti itu. Tentu hal itu tidak lantas serta merta bisa diraih begitu saja. Diperlukan latihan, kesadaran, menghayati proses laku, pelan-pelan, sejengkal demi sejengkal dari perjalanan hidup ini. Hingga akhirnya kenyataan perasaan ayem/damai tadi, tidak lagi menjadi semboyan tapi sudah menubuh dalam diri kita.

Melihat dari apa yang dijalankan melalui laku hidup Cak Kandar saya kok merasa, ia sudah setapak lebih dahulu, merasakan manisnya hidup yang di kerangkai dengan gagasan tentang lelaku urip kang golek kepenak tur ayem.


Foto Ilustrasi: Kittipimkasam

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96