Telat Mengenang

Semua gara-gara telat. Sekian hari, ia berlagak bersih-bersih dan memberesi ribuan buku di Bilik Literasi. Di luar sering hujan, ia lambat bekerja. Adegan memegang dan membersihkan buku sering meminta pemanjaan. Ia mengingat lagi buku-buku itu terkhatamkan, sekian tahun lalu. Buku demi buku, dipandangi sambil merangsang ingatan saat mula-mula sebagai pembaca. Hari-hari dingin berganti kehangatan dalam nostalgia membaca buku. Sekian buku mengesahkan keputusan menjadi pembaca meski hidup tetap berantakan.

Ia teringat lagi Pariyem. Buku sudah lama dalam tumpukan. Berdebu. Ia perlahan membersihkan dengan tatapan mata sendu. Buku terbaca saat masih menjadi murid SMA. Dulu, ia pernah berahi gara-gara khatam Pengakuan Pariyem (1981) gubahan Linus Suryadi AG. Buku sederhana dicetak dengan kertas buram, terbitan Sinar Harapan. Buku agak berpengaruh untuk menguatkan hasrat sinau Jawa. Buku dikhatamkan berulang, membujuk turut menjadi penggubah sastra.

Pada masa remaja, ia memilih menikmati radio ketimbang televisi. Ia mengalami malam bersama siaran klenengan, keroncong, dagelan, dan lain-lain. Situasi mengesankan saat melintasi hari-hari dengan rangsang imajinasi kejawaan. Di buku tulis, ia mulai membuat catatan-catatan dan menaruh sekian kutipan penting tentang Jawa. Adegan mencatat sambil telinga terberikan untuk radio. Ia mendengar kemerduan Nyi Condrolukito. Semula, nama “mengejutkan”, sebelum terasa wajar setelah  rutin mendengar radio, rutin membeli kaset-kaset bekas macapat dan klenengan.

Ia mungkin mirip Pariyem. Kutipan tentang babu asal Gunung Kidul  menikmati seni Jawa: Wayang kulit dan kethoprak/ Tontonan kegemaran saya/ Ditambah sandiwara RRI Nusantara II/ Ngayogyakarta Hadiningrat/ saban Minggu malamnya/ Sedangkan pada hari siang/ ketimbang ngrasani para tetangga/ dan bergunjing perkara bendoro-nya/ Ongkang-ongkang di amben dapur/ sinambi kalaning nganggur/ Mending muter radio amatir/ yang menyiarkan uyon-uyon Manasuka/ Dan gadhon sing “Perkutut Manggung”/ mengipas hawa panas yang prungsang/ Aduh, Condrolukito, cengkok-nya/ elok betul, lho. Ia menduga bila Linus Suryadi AG memang sengaja ingin mengenalkan seni(man) Jawa dalam Pengakuan Pariyem. Adegan Pariyem mendengar siaran radio mengudarakan suara Nyi Condrolukito  turut mengingatkan nama-nama penting dari masa lalu.

Ia tak bisa menembang, mendengarkan saja. Di luar hal-hal kejawaan, ia malah terlena dengan lagu-lagu cengeng. Ia tak malu turut bersenandung lagu-lagu biduan mengajak berairmata dan sedih berkepanjangan. Hidup itu kecengengan. Ia memilih cengeng ketimbang ngamukan. Nyi Condrolukito tak memberi cengeng tapi ketenangan. Suara itu seperti tata cara berdoa. Ia perlahan ingin memastikan bakal menekuni Jawa saat kuliah demi mengerti beragam hal. Salah. Ia tak pernah kuliah mengurusi Jawa.

Suara itu seperti tata cara berdoa. Ia perlahan ingin memastikan bakal menekuni Jawa saat kuliah demi mengerti beragam hal. Salah. Ia tak pernah kuliah mengurusi Jawa.

Peristiwa membersihkan ribuan buku belum rampung. Sekian hari lalu, ia wahing-wahing. Tanda raga bakal lungkrah dan sakit. Dua hari, ia absen dari mengurusi buku masih berantakan. Ia beruntung menemukan buku berjudul Ensiklopedia Tokoh Kebudayaan terbitan Depdikbud, 1994. Ultraflu sudah masuk tubuh. Ia bakal tertidur meski menginginkan terjaga dini hari untuk menonton balbalan. Di halaman 188, ia terpana dan kecewa. Telat! Ia telat memberi persembahan berupa tulisan-tulisan kecil. Di situ, terbaca: “Nyi Condrolukito, yang nama kecilnya Turah, lahir pada 25 April 1920, di Sleman, Jogjakarta.” Ah, ia belum menulis seabad Nyi Condrolukito. Kini, 2020 mau berakhir. Ia ingin mengenang saat raga sedang bermasalah dan siaran balbalan sedang menegangkan.

Ia mengikuti pengisahan Nyi Condrolukito dalam buku berpenampilan wagu. Pada saat remaja, Turah sudah konangan bersuara merdu. Alkisah, Lurah Laras Sembogo mengajak Turah serius dalam olah suara. Di Kepatihan, remaja itu mendapat nama baru: Penilaras. “Peni” berarti bagus dan “laras” berarti pas. Hari demi hari, olah suara makin mengangumkan. Pada usia 18 tahun, Penilaras ikut Sultan Hamengkubuwono VIII. Di Keraton Jogjakarta, ia mendapat nama baru: Padasih. Ia menapaki ketenaran, dikagumi orang-orang. Pada suatu hari, Padasih dinikahi Condrolukito. Kewajaran bila ia mulai mendapat sebutan Nyi Condrolukito. Pemilik suara merdu itu pindah ke Jakarta. Nyi Condrolukito mengabdi di RRI Pusat Jakarta, 1955.

Kutipan dari buku: “Banyak orang kagum akan suara Nyi Condrolukito yang terdengar lewat radio. Sehubungan dengan itu ia sering diminta mengisi suara dalam berbagai pagelaran wayang kulit. Walaupun honor yang ia terima tidak seberapa tapi tidak kecil hati. Dengan menghibur rakyat, ia sudah sangat senang dan bahagia. Itulah salah satu keluhuran budi yang terlihat pada Nyi Condrolukito.” Sosok penting diceritakan dan dikenalkan saat orang-orang menggandrungi hiburan-hiburan baru di radio dan televisi.

Itulah salah satu keluhuran budi yang terlihat pada Nyi Condrolukito.” Sosok penting diceritakan dan dikenalkan saat orang-orang menggandrungi hiburan-hiburan baru di radio dan televisi.

Buku belum rampung dibaca, lelaki ingin menghormati Nyi Condrolukito itu tidur. Raga beristirahat, berharap sembuh. Ia ingin melanjutkan bersih-bersih dan merapikan ribuan buku, sebelum 2020 berakhir. Rencana muluk-muluk. Ia mengaku telat membaca lagi buku-buku dan majalah memuat berita-berita Nyi Condrolukito. Koleksi kaset masih berada dalam karung dan kardus. Ia belum ingin membongkar untuk memandangi lagi kaset-kaset lawas. Ia masih ingat foto Nyi Condrolukito di sampul kaset.

Telat dan kecewa tanpa menulis esai seabad Nyi Condrolukito. Ia masih agak beruntung. Kebiasaan ke Gladak (Solo) untuk berbelanja buku mendapat kejutan kecil. Ia membeli tujuh bundel majalah Kartini masa 1980-an. Murah. Di rumah, ia lekas membuka halaman-halaman. Senang. ia berjumpa tulisan di Kartini, 10-23 Maret 1986, mengisahkan Nyi Condrolukito. Kliping agak menghibur. Tulisan tentang Bung Karno dan Nyi Condrolukito.

Pemuatan tulisan itu bukti Nyi Condrolukito adalah sosok penting dalam seni Jawa, terakui sejak masa kekuasaan Soekarno sampai Soeharto. Paragraf mengesankan: “Sebagai waranggana RRI terkenal, Nyi Condrolukito kerap kali manggung di Istana Kepresidenan di zaman Orde Lama. Maklum, Presiden Pertama RI ini sangat keranjingan pertunjukan wayang purwa. Tak heran, apabila ibu ‘sekodi’ anak ini punya segudang pengalaman dengan Bung Karno, yang berkait erat dengan seni karawitan dan seni pedalangan.” Di situ, ada foto Nyi Condrolukito sudah berusia tua. Ia tampak anggun dan mengingatkan orang-orang setia mendengarkan Jawa. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).