Ul Tidak Jadi Ke Rumbuk Randu: Dawuk dan Deidealisasi Citra Pedesaan

Seorang kawan yang juga seorang aktivis, sekaligus pegiat perserikatan yang gigih (sebut saja namanya Ul), pernah membayangkan kalau kelak menjelang masa tua, dirinya akan menepi. Meninggalkan kehidupan kota yang sering diasosiasikan sebagai ruang hiruk pikuk dipenuhi dengan kompetisi tiada ujung, kegaduhan hidup yang bergegas, dan aneka kesemrawutan lainnya. Ia berharap bisa hijrah. Melipir ke desa di pegunungan atau tepian hutan yang adem-ayem: hamparan padi menguning, gemericik sungai jernih, kolam ikan menghanyutkan, hubungan sosial yang harmonis, ekonomi resiprositas, keseronokan acara-acara pengajian perserikatan, dan jalinan solidaritas yang sering tergambar dari heroisme orang-orang yang rela bantingan mencarter pikup demi bisa menembus pekat malam untuk pengajian di kampung lain yang terkadang jaraknya tidak bisa dibilang dekat.

Tapi konon dia mulai merasa mual dan mulas memikirkan masa depannya ketika berkesempatan mengintip Puncakwangi (Santoso, 2019), sebuah desa nahdiyin di puncak gunung yang ternyata tidak seideal yang dibayangkan. Di sana ada perjudian ekonomi. Gosip dan intrik tak berkesudahan. Seorang pengemis yang dikucilkan oleh para santri yang telah berhasil mendirikan masjid kampung senilai dua milyar. Dan berbagai kekacauan-kekacauan hidup lainnya. Boleh jadi kawan saya pun akan muntah-muntah ketika mengetahui bahwa ada desa yang lekat dengan nilai-nilai agama bernama Rumbuk Randu, tersembunyi di balik kerimbunan hutan jati, tapi diam-diam menyimpan kemelut, tragedi, serta petaka tak berkesudahan yang melibatkan warganya. Dari pengucilan ke pengucilan. Dari pembunuhan ke pembunuhan. Dari kebohongan ke kebohongan. Dengan kisah-kisah tragis semacam itu, saya berani bertaruh, meskipun Ul, kawan saya itu, sangat menyukai desa yang berada di sekitar hutan, ia pasti tak bersedia untuk menghabiskan masa tuanya di Rumbuk Randu, sebagaimana Ina dan pasangannya Mat Dawuk.

Dari kebohongan ke kebohongan. Dengan kisah-kisah tragis semacam itu, saya berani bertaruh, meskipun Ul, kawan saya itu, sangat menyukai desa yang berada di sekitar hutan, ia pasti tak bersedia untuk menghabiskan masa tuanya di Rumbuk Randu, sebagaimana Ina dan pasangannya Mat Dawuk.

Bagi saya Rumbuk Randu yang digambarkan Mahfud dalam novelnya (Dawuk), bukanlah sebuah prototipe desa yang khusus, keluar dari corak desa yang seharusnya; yang nuansanya sering kita jumpai pada brosur-brosur pariwisata budaya dan lingkungan, di mana kearifan lokal menjadi kata kunci sekaligus identitas desa. Seolah-olah, itu semua tak akan pernah lekang oleh derasnya arus perubahan dan pembangunan, yang boleh jadi berjalan ala bus Indonesia yang melindas ayah Dawuk, untuk tidak mengatakan melaju secara ugal-ugalan.

Gambaran desa sebagaimana yang ada di benak kawan saya itu nampaknya hanya akan ada di angan-angan, jika bukan hanya menjadi harapan. Paling jauh ada di kalender, atau lukisan-lukisan pemandangan yang sering dijajakan berkeliling di kompleks-kompleks perumahan: gunung dan langit membiru, hamparan sawah menguning, dan gerobak sapi membelah di tengahnya. Sebagaimana yang saya dengar dari seorang antropolog senior, bahkan “gotong-royong”, ungkapan sakti yang sering diasosiasikan dengan nilai-nilai desa, tidak lebih dari sekadar frase yang diciptakan oleh Soekarno untuk kepentingan mobilisasi warga pedesaan – sebelum tahun 1950 frase gotong royong konon tidak pernah ditemukan. Dengan kata lain, gotong-royong adalah cita-cita, sesuatu yang harus dihadirkan (tapi terkadang, bahkan seringnya, tidak berhasil).

Lantas adakah yang baru ketika orang-orang Rumbuk Randu yang nampaknya begitu lekat dengan agama akan tetapi secara dingin melakukan pengucilan pada Muhammad Dawud dan Inayatun, sosok-sosok yang kemudian akrab dipanggil Mat Dawuk dan Ina, hanya karena mereka dianggap menyimpang dari cita-cita ideal warga desa? Bukankah orang-orang Puncakwangi juga melakukan hal yang sama pada sosok pengemis yang kemudian saya panggil Sripah (Santoso, 2019)? Bukankah sekelompok warga desa di Madura juga melakukan pengucilan pada kelompok warga tertentu karena alasan yang kira-kira juga sama? Lalu di mana desa romantis dan harmonis seperti yang diangankan Ul itu? (Dan mungkin juga diangankan Ulid, bocah Lerok yang meminjam kaset India Mat Dawuk).

Bagi orang-orang seperti Mat Dawuk, Ina, dan Sripah, desa yang tidak harmonis dan romantis bukanlah persoalan. Kekalahan di desa tidak selalu berarti kiamat. Dari catatan-catatan Michael Adas (1986) yang kemudian diromantisir oleh James Scott (1985), kita tahu bahwa migrasi, foot dragging dan semacamnya adalah senjata ampuh bagi orang-orang kalah, dengan satu harapan bahwa kelak bisa bersalin dan kembali ke kampung halaman sebagai puteri dan pangeran. Semacam kisah Shreks atau Beauty and The Beast. Atau Rasul Muhammad yang gagah dan gemilang kembali ke Mekah bersama rombongan yang mengular di belakangnya. Jalan itu pula yang pada akhirnya ditempuh Mat Dawuk dan Ina: pergi ke Malaysia. Seperti mengikuti jejak perjudian Ulid dan keluarganya di Lerok, desa yang konon bertetangga dengan Rumbuk Randu.

Tapi agaknya Shreks dan Beauty and The Beast hanyalah dongeng pelipur lara, meski mungkin tidak dengan Rasul Muhammad. Migrasi dengan hanya mengandalkan tekad, untuk tidak mengatakan push and play, pada umumnya memang kerap menuai kesulitan-kesulitan. Catatan Kartono (2004) menyebutkan bahwa tanpa dukungan jaringan sosial yang memadai, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Boyan (Bawean), kecil kemungkinan migrasi akan bisa menyulap seorang Mat Dawuk menjadi Pangeran Adam, dan seorang Inayatun menjadi puteri Cinderella.

Kepulangan mereka berdua dari negeri jiran, meskipun telah menjalin hidup bersama sebagai pasangan suami isteri, pada kenyataannya memang tidak mengubahnya menjadi puteri dan pangeran. Bahkan kesulitan-kesulitan hidup yang mereka alami di negeri perantauan, justru seperti dilipatgandakan di kampung halaman. Alih-alih desa tempat kelahiran bisa meringankan beban, yang terjadi justru memporakporandakan kehidupan dan masa depan dua sejoli itu. Inayatun terbunuh bersama benih Mat Dawuk yang di kandungnya dalam kemelut perebutan cinta segitiga dengan seorang Mandor Hutan. Mat Dawuk sendiri kemudian babak belur dimassa. Dan raib (Kembali disingkirkan?). Bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh warga kampungnya, oleh para tetangganya sendiri. Tak jelas apa alasannya, kecuali karena Mat Dawuk memang harus tidak tinggal di Rumbuk Randu.

Mat Dawuk sendiri kemudian babak belur dimassa. Dan raib (Kembali disingkirkan?). Bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh warga kampungnya, oleh para tetangganya sendiri. Tak jelas apa alasannya, kecuali karena Mat Dawuk memang harus tidak tinggal di Rumbuk Randu.

Sampai di sini novel Mahfud, penerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 itu, seperti mengajak kita untuk membuka mata lebar-lebar. Bahwa kita tidak bisa serta merta melakukan idealisasi citra pedesaan dan pedalaman, yang sepertinya menyimpan romansa dan oleh kalangan advokat masyarakat sering dianggap memegang teguh rahasia kearifan lokal. Di Rumbuk Randu idealisasi itu runtuh. Dan sebagaimana yang sudah saya singgung di muka, di Puncakwangi pun demikian, juga di segenap desa-desa pedalaman lainnya. Di pedalaman Riau misalnya, saya seperti ditabrak kenyataan bahwa kalangan masyarakat adat setempat dengan enteng menjual seluruh wilayah ulayatnya kepada gelombang migran dari Sumatera Utara yang sering digambarkan meluncur seperti “gerobak pasir”, demi bisa menjadi bagian yang sah dari gelombang kelahiran masyarakat konsumsi (Santoso, 2020). Tragedi, kekerasan, kebohongan, eksploitasi, dan hal-hal buruk lainnya; sebagaimana kebaikan, ketulusan, dan keiklasan, bisa terjadi kapan saja di mana saja. Di Desa pedalaman atau di perkotaan.

Bahkan di banyak kasus, keterampilan beragama, sebagaimana yang terjadi di Rumbuk Randu, dan juga Puncakwangi, sebuah desa pegunungan di kawasan Dieng, juga tidak sepenuhnya bisa mencegah praktik-praktik kekerasan yang dialami warganya. Jika di Puncakwangi agama justru seperti menjadi faktor produksi keempat selain tanah, tenaga kerja, dan modal, di mana melalui agama orang seperti mendapat pengesahan untuk melakukan eksploitasi tenaga kerja dan sumber daya alam (Santoso, 2019). Di Rumbuk Randu agama seperti menjadi orkestrasi pengiring drama kekerasan warga. Tapi bukankah akhir-akhir ini hal semacam itu juga terjadi di mana-mana?

Boleh jadi, itulah mengapa novel Dawuk, tiba-tiba seperti dekat dengan kejadian demi kejadian yang ada di sekitar kita. Di abad 21 ini. Meskipun pada akhirnya kita juga bertanya-tanya: adakah drama di Rumbuk Randu itu kebenaran? Atau pasca kebenaran? Mengingat seluruh isi novel itu sesungguhnya adalah bualan Warto Kemplung, produk migrasi gagal yang pulang ke kampung halaman untuk menjual fantasi-fantasinya dengan imbalan rokok dan kopi. Dan sialnya seorang wartawan justru seperti berusaha membangun narasi kebenaran baru dari bualan-bualan itu, semata-mata untuk meningkatkan oplah korannya. Tapi sesungguhnya apakah, jika bukan adakah, kebenaran itu dalam drama sosial abad 21? Entahlah.

Bromonilan, Desember 2020


Illustrations by Dmitrij Gladkij

Hery Santoso
Doktor Antropologi lulusan UGM. Pekerja lepas (freelancer) untuk isu-isu sosial dan ekonomi masyarakat pedalaman pada beberapa agensi pembangunan.