Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Buka Ngaji Pasanan #4

Tradisi ngaji di Bulan Ramadhan mungkin menjadi hal yang biasa diadakan di sebuah pondok pesantren. Tradisi ini biasanya dikenal dengan “ngaji ngalong”. Banyak santri mencari pondok, untuk mengikuti kajian singkat kitab tertentu, selama bulan ramadhan. Tapi akan beda ceritanya jika tradisi ngaji Bulan Ramdhan atau ngaji pasanan ini diadakan di Pondok Pesantren Budaya kaliopak Piyungan Bantul.

Ngaji posonan biasanya hanya dikemas layaknya yang lumrah ada di pesantren-pesantren di pelosok Jawa, mulai dari kajian kitab dan ritual peribadatan khas bulan Ramdhan. Tetapi berbeda halnya dengan Ngaji Pasanan yang diadakan oleh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak. Pondok yang sudah lama dikenal eksesntrik ini, akan mengadakan progam ngaji posonan dengan kemasan yang berbeda, dengan sentuhan yang millenial tapi tetap berakar.

Hal ini bisa dilihat dari materi kajian yang akan membahas berbagai aspek keilmuan terkait sejarah nusantara, kebudayaan, kesenian, kesehatan, tatanegara dan banyak lagi ilmu-ilmu lainnya yang jarang ditemukan dalam sebuah kajian pesantren. Selain kajian yang rencananya akan diadakan pada malam hari, pada sore harinya ngaji pasanan juga akan diisi dengan workshop kreatif, meliputi workshop literasi, penciptaan karya seni mulai dari seni music, seni rupa, film, dan yang tidak kalah menarik adalah apresiasi seni yang nanti akan ada beberapa penampilan khusus untuk Ngaji Pasanan.

Selain berbagai tema kajian dan agenda workshop dan apresiasi seni, sebagai sebuah pesantren, Pondok Kaliopak juga akan tetap berpegang teguh pada tradisi pesantren pada umumnya. Seperti kajian kitab kuning yang tetap akan diadakan di waktu subuh yang diampu langsung oleh Kiai M Jadul Maula. Selain kajian kitab kuning tradisi lainnya seperti sholat terawih, mujahadah, dan membaca sholawat, menjadi agenda penguat selama progam yang akan diadakan selama 17 hari ini.

Hal itupun tidak mengurangi rasa kekaluargaan yang ingin dibangun di Ngaji Pasanan. Yaitu, semangat saling asah dan asuh, saling menjaga satu sama lain diantara peserta menjadi hal yang diutamakan selama progam berlangsung.

Dalam kesempatan Ngaji Posonan tahun ini, tema besar yang akan melambari proses selama 17 hari diberi judul Islam Berkebudayaan: Aktualisasi Diri dan Produksi Budaya Hari ini.  Frasa Aktualisasi diri sendiri dalam hal ini menjadi metrum penting dalam membahas gagasan Islam berkebudayaan. Bagaimana gagasan Islam Berkebudayaan ini bisa menjadi pemantik setiap diri, untuk melihat dirinya sebagai ciptaan Tuhan, yang mempunyai kecakapan untuk melihat masa lalu, sekaligus menjangkau masa depan. Selain itu kami juga berharap gagasan Islam berkebudayaan ini mampu memberi peta bagi “diri” untuk menemukan potensi ke-diri-annya agar produk kebudayaan baru yang lebih relevan bisa diciptakan. Dengan niat seperti itulah Ngaji Posonan #4 tahun ini kami usahakan. Yakni usaha untuk selalu mengaktualiasasi diri dalam kerangka Islam berkebudayaan.

Frasa Aktualisasi diri sendiri dalam hal ini menjadi metrum penting dalam membahas gagasan Islam berkebudayaan. Bagaimana gagasan Islam Berkebudayaan ini bisa menjadi pemantik setiap diri, untuk melihat dirinya sebagai ciptaan Tuhan, yang mempunyai kecakapan untuk melihat masa lalu, sekaligus menjangkau masa depan

***

Sebagai program rutinan Pondok Pesantren Budaya Kaliopak yang ditujukan sebagai penghormatan pada bulan Ramadhan dengan antara lain menjadikannya wadah belajar dan bergulat bersama secara intelektual dan spiritual. Menyambungkan rasa bersama melalui kegiatan yang didesain secara terbuka dengan semangat kolaborasi yang setara antara peserta dan panitia.

Tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, Ngaji Posonan #4 tahun 2022 akan banyak diisi dengan berbagai kegiatan. Di antaranya kajian keilmuan, ngaji ilmu-ilmu dasar kepsantrenan, workshop/pelatihan, apresiasi dan pertunjukan. Semuanya akan dirangkai dalam rentetan acara 17 hari yang akan dimulai pada tanggal 6 -22 April. Dalam kurun waktu tersebut, peserta akan dipertemukan dengan ekosistem pesantren dan kesenian yang sulit ditemukan di ruang lainnya.

Selain itu Pondok Pesantren Budaya Kaliopak yang bertempat di pinggiran Kaliopak sebagai sungai tertua di Yogyakarta dengan view ruang yang nyaman dan sejuk ditambah lagi daerah Piyungan sebagai domisili pondok yang penuh muatan historis. Peserta akan diajak menyusuri jejak sejarah keislaman yang tidak jauh dengan lokasi Pondok Kaliopak. Hal itu sebagai upaya untuk mendekatkan lagi peserta dengan pengalaman keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.