Jalan Menemukan Diri Melalui Tradisi

Beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba ada notifikasi di Instagram saya. Lewat DM, seseorang memperkenalkan diri dengan sopan. Ternyata ia adalah seorang perempuan muda dari daerah Jakarta yang ingin tanya terkait tradisi Jawa Islam. Kemudian kami saling berkenalan. Tentu saya menanyakan motif mengapa ia—yang dalam bayangan saya, seorang anak muda urban—ingin mengetahui tentang tradisi yang mungkin sekarang banyak tidak diperhatikan. Bukan aneh sih, tapi saya agak kaget saja. Ternyata, di hari ini, masih ada seorang yang jelas-jelas hidup di kota metropolitan, menanyakan persoalan yang selama ini dianggap kampungan dan terbelakang.

Tapi sudahlah, itu mungkin hanya keluguan saya menanggapi sesuatu yang jarang saya temui. Namun dari perkenalan saya dengan teman tersebut, akhirnya juga memantik banyak pertanyaan dalam benak saya, terutama mengenai apa sih sebenarnya yang digelisahkan anak muda urban terkait identitas dan mental health yang ternyata memantik saya untuk menulis catatan ini.

Teman saya tersebut menceritakan kenapa ia tertarik mengetahui perihal tradisi Jawa. Menurutnya, sebagai orang yang tumbuh besar dan dewasa di kota, ia semacam menemui kebuntuan untuk mengidentifikasi persoalan mental yang hari-hari ini sedang ia rasakan. Entah mendapat referensi dari mana, ia pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan terkait kejawaan dan keislaman. Yang menurut teman saya tersebut, ternyata nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Jawa itu begitu menenangkan. Setidaknya, hal tersebut seperti yang ia temui di berbagai teori-teori terkait self healing yang juga banyak ia baca.

Yang menurut teman saya tersebut, ternyata nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Jawa itu begitu menenangkan. Setidaknya, hal tersebut seperti yang ia temui di berbagai teori-teori terkait self healing yang juga banyak ia baca.

Rasa penasaran terkait tradisi nilai-nilai Jawa tersebut, ternyata juga bukan suatu yang tiba-tiba muncul dalam kesadaran teman saya itu. Karena jika dilacak sebenarnya latar belakang dari keluarganya ternyata juga orang Jawa, ibunya dari daerah Jawa Tengah dan Bapaknya dari Jawa Timur. Kedua orang tuanya pergi ke kota kemudian tinggal di sana dan sehingga membuat dirinya menjadi orang keturunan Jawa yang lahir di kota. Jadi, walaupun ia hampir tidak pernah mengenal bagaimana tradisi Jawa dari orang tuanya itu sendiri, dari latar belakang keluarga yang ia ceritakan, saya pikir itu cukup menjadi alasan kenapa kesadaran untuk lebih mengenal tradisi Jawa itu masuk akal.

Yang menjadi pertanyaan juga, kenapa teman saya tersebut memilih saya untuk dibebani pertanyaan yang tidak mudah dijawab tersebut. Soal yang satu ini, biarkan teman saya nanti yang menjawabnya hehe. Yang jelas, sebenarnya selama ini saya juga sedang bergulat untuk menemukan kedirian saya. Entah kenapa juga, dengan mempelajari tradisi yang telah membentuk diri saya selama ini, saya merasa lebih mengerti diri saya sendiri. Mulai dari orientasi hidup dan banyak hal saya mendapat ketenangan di sana.

Peristiwa perkenalan saya dengan teman saya tersebut, lantas memantik saya untuk menjelajahi ulang proses saya sendiri dalam mengarungi luasnya gagasan tradisi yang ternyata selama ini, kalau boleh jujur, hampir tidak tersentuh oleh generasi kita lebih khusus saya sendiri. Dalam hal ini, saya ingin mengucapkan terimakasih untuk teman saya tersebut.

Sebelum jauh, yang saya maksudkan tradisi dalam tulisan ini bukan hanya bentuk-bentuk tradisinya semata yang selama ini kita semua pahami dalam wilayah produk kesenian. Misalnya, tradisi Jatilan, Kethoprak, Ondel-ondel, atau bahkan wayang kulit dan yang lainnya. Iya, itu bagian tradisi, tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan. Namun, tradisi dalam artian nilai-nilai yang hadir dalam kehidupan kita selama ini. Mulai dari ekosistem terkecilnya, yaitu keluarga, kemudian masyarakat kita, hingga dalam kehidupan berbangsa dan negara.

Perlu ditegaskan juga dalam hal ini apa yang saya pahami terkait tradisi bukan semata setiap kebiasaan-kebiasaan dari perilaku manusia bisa dikatakan sebagai tradisi dalam pengertian subtansialnya. Karena seringkali, kata tradisi dilekatkan pada suatu perilaku yang menyimpang, seperti ungkapan “tradisi korupsi”, “tradisi berjudi” dan masih banyak lagi ungkapan lainnya. Penggunaan kata tradisi dalam konteks perilaku buruk manusia itu jelas kurang tepat. Karena jika kita dalami tradisi masyarakat kita itu selalu terikat dengan gagasan spiritual yang orientasinya untuk mendidik manusia yang meliputi perasannya, fikiran, dan perbuatannya. Itu artinya apa yang disebut tradisi mestinya selalu mengarahkan pada pengendalian atas ke tiga unsur tadi.

Karena seringkali, kata tradisi dilekatkan pada suatu perilaku yang menyimpang, seperti ungkapan “tradisi korupsi”, “tradisi berjudi” dan masih banyak lagi ungkapan lainnya. Penggunaan kata tradisi dalam konteks perilaku buruk manusia itu jelas kurang tepat. Karena jika kita dalami tradisi masyarakat kita itu selalu terikat dengan gagasan spiritual yang orientasinya untuk mendidik manusia yang meliputi perasannya, fikiran, dan perbuatannya. Itu artinya apa yang disebut tradisi mestinya selalu mengarahkan pada pengendalian atas ke tiga unsur tadi.

Hal ini selaras seperti diungkapkan oleh Irfan Afifi atas penggaliannya dalam Serat Wedhatama, makna tradisi yang selalu terkait erat dengan definisi budaya itu sendiri, yang merupakan proses olah “budi” cahaya kebaikan dalam diri manusia, dan “daya” manusia untuk menyatukan karsa, cipta, rasa, dan sukma, manusia untuk keluhuran kita sebagai manusia lebih jauh sebagai bangsa (Irfan Afifi: 2018).

Dari pengertian yang seperti itu, tradisi sebagai hasil dari kita berbudaya melalui penyatuan unsur-unsur yang terdapat dalam diri kita tersebut, mestinya selalu mengajak kita kepada jalan kebaikan melalui mengetahui kedirian kita sendiri. Maka dalam konteks itulah berbagai macam tradisi warisan leluhur kita, sebenarnya diciptakan sebagai jaring pengaman sosial untuk mengarahkan pada kesejatian hidup melalui mengenal diri sendiri. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa tradisi dalam pengertian subtansialnya adalah “pembiasaan” manusia untuk mengenal hakikat kediriannya sebagai mahluk Tuhan di dunia. Dari hal itu juga, jika kita jeli melihat berbagai tradisi kita pasti di dalamnya tersirat makna, tuntunan, tatanan, dan tontonan. Hal tersebut jelas mengisyaratkan bahwa tradisi yang ada di tengah masyarakat memiliki fungsi sebagai medium pendidikan dan pengajaran manusia agar selalu berada dalam fitrahnya sebagai mahluk Tuhan. Dengan visi untuk membuat kebaikan dengan selalu menjaga hubungan sesama manusia, alam dan lingkungan, dan tentu hubungannya dengan Tuhan.

Sehingga kita bisa mengatakan bahwa tradisi dalam pengertian subtansialnya adalah “pembiasaan” manusia untuk mengenal hakikat kediriannya sebagai mahluk Tuhan di dunia.

Misalnya, saya sebagai keluarga yang lahir dalam tradisi Jawa mengalami berbagai kebiasaan-kebiasaan seperti acara slametan dalam prosesi lahirnya seorang anak di dunia, pernikahan, hingga peristiwa kematian. Hal tersebut seperti sudah menjadi agenda yang sulit ditinggalkan dalam tradisi dalam keluarga Jawa. Dalam kadar tertentu, tradisi tersebut bisa dibaca relevansinya sebagai bagian dari ungkapan doa, terlebih rasa syukur atas momen bahagia. Dan, meminta pertolongan agar diberi keselamatan. Lebih jauh dari itu, tradisi slametan merupakan ruang sosial masyarakat untuk menjaga kesadaran solidaritas dan kerukunan, yang selalu melibatkan unsur-unsur alam melalui makanan yang disuguhkan yang merupakan hasil bumi dan ungkapan-ungkapan doa kepada Tuhan.

Dalam tradisi Jawa sebagaimana diungkapkan Risa Permanadeli, berbagai ritus tradisi tersebut bukan semata ekspresi individual dari seorang yang masih terikat dengan struktur sosial di tengah masyarakat. Tetapi, lebih jauh, itu bagian dari representasi sosial untuk menjadi wong Jawa. Artinya, jika kamu ingin diakui dalam struktur masyarakat Jawa tradisi-tradisi tersebut menjadi sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan (Risa Permanadeli: 2016).

Dari hal tersebut sebenarnya bisa kita baca bahwa berbagai macam bentuk tradisi yang ada di tengah masyarakat kita sebenarnya memiliki peran untuk mengarahkan dan menjadi pandu manusia agar selalu selaras dengan kesejatian hidup dengan terus menebar kebaikan ke lingkungan sekitar.

Upaya Menemukan Diri

Menemukan diri melalui tradisi mungkin menjadi frase yang asing kita temui selama ini. Tapi entah kenapa saya percaya dengan kita mengenal tradisi yang membentuk diri kita, hal tersebut bisa membantu memahami diri kita sendiri. Karena dalam momen tertentu, sejauh kita berusaha meninggalkan tradisi yang telah membentuk diri kita, pada suatu saat nanti kita akan ditarik kembali untuk mengakrabi tradisi kita itu sendiri.

Hal ini yang sering kali membuat saya heran, karena begitu kuatnya berbagai ritus tradisi secara tidak sadar masuk ke dalam diri kita secara sublim dan mendalam. Hingga di momen-momen tertentu di saat kita terpuruk, bahkan ambruk, kalau kita jujur, tradisi seringkali menjadi rumah kembali yang mengisi kekeringan jiwa kita. Dari sanalah melalui kembali menghayati tradisi, ketenangan bahkan makna terdalam dari hidup ini mulai tergambar lebih jelas.

Hingga di momen-momen tertentu di saat kita terpuruk, bahkan ambruk, kalau kita jujur, tradisi seringkali menjadi rumah kembali yang mengisi kekeringan jiwa kita. Dari sanalah melalui kembali menghayati tradisi, ketenangan bahkan makna terdalam dari hidup ini mulai tergambar lebih jelas.

Selain itu, salah satu hal yang penting untuk memahami, lalu menemukan diri kita, adalah keberanian kita untuk jujur terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, jujur atas apa-apa yang telah kita lewati baik dan buruknya. Dalam konteks yang lebih luas, harus berani jujur mengakui dari mana kita lahir, keluarga yang seperti apa, kemudian tradisi yang seperti apa yang membentuk kita selama ini. Itu adalah upaya satu langkah untuk bisa memahami diri sendiri.

Pengalaman saya pribadi, mungkin beberapa tahun yang lalu, saya pernah berusaha meninggalkan apa-apa yang identik dengan tradisi. Hal tersebut malah membuat saya secara diri rapuh bahkan kehilangan arah. Yang terjadi pada saat itu adalah kebimbangan, antara menjadi “modern” yang secara sadar telah mendominasi kesadaran saya melalui proses sekolah, namun disisi lain, ketika moderitas telah banyak mengarahkan saya pada hidup yang serba rasionalistik individual dan materialistik, yang ada hanyalah kekhawatiran dan ketakutan atas hidup yang serba misteri ini. Sementara itu, kelelahan secara mental begitu kuat merangsek dalam hari-hari saya. Sehingga, di situlah saya mulai bertanya dalam diri saya sendiri; apakah ini yang saya cari ketika kedamaian tidak hadir dalam hari-hari saya. Dan perjalanan yang tentu belum seberapa ini, mempertemukan saya dengan segudang wacana tradisi yang ternyata hilang dalam diri saya selama ini.

Pengalaman saya pribadi, mungkin beberapa tahun yang lalu, saya pernah berusaha meninggalkan apa-apa yang identik dengan tradisi. Hal tersebut malah membuat saya secara diri rapuh bahkan kehilangan arah.

Dari hal itulah saya memahami bahwa dengan kita mengenal berbagai tradisi kita sendiri, kemudian ada tekad untuk menyelami, lalu mempelajari ulang, bisa jadi hal tersebut merupakan pintu masuk untuk mengenal diri kita. Karena bagaimanapun, kita sebagai orang Indonesia yang walaupun tidak melakukan praktik tradisi, namun kesadaran emosional kita secara tidak langsung masih terikat dengan berbagai khazanah tradisi yang mulai dari kecil membentuk diri kita. Hal ini tentu bukan muncul begitu saja. Proses sejarah bangsa kita sebenarnya bisa menjelaskan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Sederhananya, sebagai bangsa para leluhur kita telah mampu memberi pondasi yang cukup mengakar sehingga mampu menciptakan sistem sosial masyarakat melalui bentuk tatanan dan nilai-nilai tradisi yang di situ ternyata mampu menjadi tiang penyangga dari identitas dan karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa yang lainnya.

Sementara dalam takaran tertentu, kita sebagai orang nusantara sebenarnya juga tidak bisa benar-benar meninggalkan tradisi itu sendiri. Karena jika saya mengilustrasikan bahwa berbagai ritus tradisi kita sebenarnya diciptakan melalui teknologi spritual yang tinggi dan mempunyai visi sangat universal. Teknologi spritual ini, digali dari perjalanan rohani setapak demi setapak sehingga menciptakan daya ikat yang terus menarik kita untuk kembali kepada kesadaran lokal melalui berbagai ritus tradisi. Hal ini bisa kita rasakan, mulai dari yang sederhana misalnya konsep “berkah” yang selalu muncul dalam idiom keseharian kita selama ini.

Tentang keberkahan, serasional apapun masyarakat kita sebenarnya masih belum bisa benar-benar melepas gagasan yang diperas dari tradisi ini. Maka masih banyak kita dapati dan sudah menjadi pembicaraan umum, ketika ada momen politik Pemilu misalnya, masih banyak calon wakil rakyat datang pada kiai, dukun, bahkan ke kuburan dengan alasan mencari keberkahan. Hal itu sering juga terjadi di kalangan profesional, para wirausaha misalnya, banyak juga visi dari apa yang mereka lakukan bukan menumpuk kekayaan tapi mencari keberkahan hidup.

Jika dipikir-pikir, sungguh aneh. Dalam urusan pemilu, para calon peserta kontestasi politik, bukannya membuat program pembangunan yang bagus atau sekedar membuat analisis politik yang rasional agar bisa dilirik masyarakat, tetapi malah pergi ke dukun atau kiai. Beda halnya dengan para pengusaha kita yang lebih mengutamakan keberkahan dalam menjalankan usahanya dengan tetap berupaya menjaga nilai-nilai agar tetap secukupnya. Padahal, kalau kita menggunakan nalar kapitalisme, prinsip dasar menjadi penguasa adalah menguasai pasar untuk menjadi yang satu-satunya. Walaupun ini tentu tidak bisa dijadikan ukuran, tetapi setidaknya narasi terkait nalar tradisi yang terus hidup dan berkelidan dengan moderitas hari ini tidak bisa kita kesampingkan. Hal ini juga menunjukkan bahwa di tengah gempuran gagasan moderitas tradisi dengan kelenturannya mampu melihat celah untuk tetap eksis sampai hari ini.

Oleh sebab itu, saya kok mempunyai keyakinan bahwa kembali ke tradisi merupakan suatu jalan alternatif untuk menemukan kedirian kita. Dan, saya pikir itu tidak berlebihan. Karena bagaimanapun, di tengah percepatan arus perubahan teknologi informasi, kembali lagi membicarakan konsep “manusia” dengan segala tantangannya merupakan sedikit upaya agar kita tidak hanyut begitu saja digilas zaman yang berusaha mengkerdilkan kedirian kita. Seperti petuah dari Kajeng Sunan Kalijaga yaitu angklaras illining banyu angeli nanging ora keli (kita boleh ikut arus perubahan yang terjadi, tapi jangan sampai hanyut di dalamnya), bisa menjadi pegangan kita bersama mengarungi dinamika perubahan hari ini.

Dan, kembali ke tradisi bisa jadi jawaban yang tentu perlu terus diuji dan dikritisi agar tradisi mampu beroprasi sesuai dengan tantangan zaman hari ini. Bisa jadi, melalui kita mengenal tradisi dan mengilmui kembali tradisi kita bisa menemukan kedirian kita sendiri. Semoga.


Foto; Dokumentasi pribadi Pondok Kaliopak

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96