10 Tulisan Pilihan Redaksi Langgar 2021

Sebelumnya kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca setia, penulis, dan semua pihak tanpa terkecuali yang telah berkontribusi. Berkat daya dan upaya teman-teman semua, Langgar.co hari ini telah menjadi media alternatif  dalam mengurai khazanah pengetahuan berkebudayaan manusia Indonesia.

Kami selalu berusaha menyajikan konten tulisan dengan sudut pandang yang berbeda, reflektif, akademis, mendalam, dan tentu dekat dengan pembaca. Berusaha menjadi ruang untuk saling bertukar pengalaman menghayati proses laku menjadi manusia Indonesia yang erat dengan gagasan tradisi dan spiritualitas yang berakar pada nilai-nilai keagamaan dan ke-Indonesiaan.

Dari hal itulah, pada penghujung tahun 2021 ini, kami ingin memulai hal baru di media kami, untuk memilih 10 tulisan terbaik pilihan Redaksi Langgar.co. Tulisan-tulisan ini dipilih berdasarkan kedalaman gagasan, gaya pengungkapan tulisan yang reflektif, dekat, dan mendapat banyak apresiasi dari pembaca. Tulisan terpilih, kemudian akan kami bukukan sebagai bagian dari dokumentasi pengetahuan yang nanti dapat kita nikmati bersama melalui e-book dan sajian khusus kami.

Dan, kiranya inilah 10 tulisan pilihan Redaksi Langgar.co tahun 2021.

  1. Mengintip Indonesia Lewat Oetimu // Hairus Salim // 2021/01/11

Tulisan ini di tulis oleh Hairus Salim, seorang esais terkemuka di Indonesia tinggal di Yogyakarta. Hairus Salim mengulas sebuah novel yang berjudul Orang-Orang Oetimu (2019) karya Felix K. Nasi. Dalam tulisannya Hairus menceritakan panjang lebar novel ini, dengan detail, renyah, dan mendalam. Hampir tidak ada satu pun hal penting yang terlewat dari pengamatan Hairus Salim, yang dengan pelan tapi jelas ia sisir melalui tulisan yang mengalir.

Dalam uraian tulisannya, Hairus seolah menjadi juru bicara penulis Novel yang dengan jeli melihat bahwa novel Orang-orang Oetimu telah memberi gambaran daerah kecil bagian Timur Indonesia dengan segala persoalannya. Dengan analisis yang tajam, dari pengamatan yang ia lakukan, novel ini seperti hidup kembali dengan segudang pengetahuan dan pertanyaan setiap orang yang membaca uraian tulisannya. Tidak hanya itu, setiap pembaca rasanya juga ingin terlibat menjadi bagian dari cerita dan setidaknya membeli bukunya. Provokasi tulisan ini bisa membuat imajinasi pembaca melayang-layang.

Mengintip Indonesia Lewat Oetimu

2. Diperdaya Kopi: Mencecap Cita Rasa, Mengurai Kuasa // Okta Firmansah // 2021/01/16

Tulisan yang di tulis layaknya Jurnal, karena penuh dengan catatan kaki ini. Ditulis oleh mahasiswa pasca sarjana Sanata Dharma Yogyakarta bernama Okta Firmansah. Tulisan ini menjadi menarik, karena konten isunya jarang disentuh oleh banyak orang. Okta yang dengan lincah, membuat segudang pertanyaan untuk pembaca perihal kopi yang kita sesap hampir setiap hari.

Okta melakukan pembacaan secara kritis, lalu berusaha membongkar narasi umum terkait Industri kopi yang serat dengan kepentingan kolonial. Dengan pendekatan pascakolonial, ia menyatakan bahwa maraknya industri kopi hari ini tidak lepas dari hegemoni kepentingan para pemilik modal yang ada di belakangnya. Soal lain yang tidak kalah penting, bagaimana budaya kopi di Indonesia menjadi termarginalisasi di negeri sendiri, akibat politik wacana yang terus dilangengkan.

Diperdaya Kopi: Mencecap Cita Rasa, Mengurai Kuasa

3. Psikoanalisa ke Kawruh Jiwa: Sebuah Catatan // Kukuh Aji // 2021/01/29

Tulisan ini ditulis oleh Kukuh Aji. Seorang peIajar Kawruh Jiwa. Ia menceritakan proses persentuhannya dengan keilmuan psikologi, yang mana dalam masa pengembaraannya dengan gagasan psikologi Barat terutama ketika berkenalan dengan pemikiran Freud ia merasa jatuh cinta. Namun hal itu tidak bertahan lama, saat freud menerangkan psikoanalisa ternyata malam ia menemukan dengan lebih jelas pada pemikirannya kawruh jiwa Ki Ageng Suryometaram.

Setelah pertemuannya dengan pemikiran Ki Ageng, Kukuh Aji berusaha melakukan komparasi antara pemikirannya Ki Ageng dengan Freud. Walaupun tulisan ini mungkin hanya catatan, tapi bagaimanapun tulisan ini mampu menggambarkan ternyata pemikir kita tidak kalah dengan pemikir dari Barat yang sering kita puja.

Psikoanalisa ke Kawruh Jiwa: Sebuah Catatan

4. Kiai Sholeh Darat: Gerakan Pencerahan Bangsa Jawa // Taufiq Hakim // 2021/02/11

Tulisan panjang yang penuh data-data penting ini ditulis oleh Taufiq Hakim. Seorang pengkaji naskah lulusan kampus UGM Yogyakarta. Melalui tulisan ini, ia berusaha melacak peran Kiai Sholeh Darat dalam upaya melakukan perlawanan kultural dengan penjajah melalui karya kitab-kitabnya yang ditulis dengan aksara pegon.

Dalam tulisan ini, Taufiq berhasil memberi gambaran secara utuh peran Kiai Soleh Darat di tengah situasi sosial politik Jawa setelah kekalahan perang Diponegoro (1835). Begitu juga ia secara kritis membabar simpul-simpul perlawanan yang di organisir oleh Kiai Soleh Darat dalam melakukan perlawanan dengan pihak kolonial.

Kiai Sholeh Darat: Gerakan Pencerahan Bangsa Jawa

5. Perlukah Feminisme ala Nusantara // Umi Maisaroh // 2021/02/28

Tulisan ini di tulis oleh Umi Maisaroh seorang mahasiswa pasca sarjana di Freie Universitas Berlin. Tulisan ini berusaha menguliti gagasan feminisme ala Barat yang menurutnya tidak harus serta merta bisa diterapkan di Nusantara. Tidak hanya itu, ia juga berusaha melakukan perbandingan gagasan feminisme yang lahir di Barat dengan feminisme yang selama ini dipahami muncul setelah kasus RA Kartini. Dalam tulisannya, Umi berusaha melihat konteks RA Kartini sebagai obyek atau korban di masa penjajah. Sehingga persentuhan Kartini dengan tradisi literasi Barat membuat ia merasa perlu melakukan penolakan terhadap tradisi yang sudah menubuh di dalam keluarganya.

Bagaimanapun, tulisan ini telah memberi perspektif alternatif untuk melihat gagasan feminisme yang berkembang luas di Indonesia. Umi melalui tulisannya, yang di tulis dengan gaya santai, reflektif, tapi juga padat dengan data-data, berhasil menunjukkan kelemahan gagasan feminisme Barat secara teoritik. Lalu ia mempertanyakan pada pembaca, atau mungkin pada dirinya sendiri terkait perlukah gagasan feminisme ala Nusantara ada?

Perlukah Feminisme ala Nusantara?

6. Mengenang Prie GS dan Seni Menggebuk Hidup // Isma Swastiningrum // 2021/02/04

Tulisan ini di tulis oleh Isma Swastiningrum. Seorang pejalan yang penuh dengan nada kegelisahan yang dalam. Ia menulis obituari perihal kepergian seorang budayawan dari Semarang Prie GS. Dalam tulisannya, ia menceritakan sosok Prie GS yang ia sudah anggap seperti bapak sendiri. Dengan tangkas ia mengurai cerita-cerita reflektif tapi serat makna saat ia secara langsung bersentuhan dengan sosok yang sudah berpulang ini.

Ada nada haru, tapi Isma berusaha menyembunyikannya dengan cantik melalui tulisannya yang berlarat-larat ini. Sehingga secara tidak sadar membuat pembaca larut dalam satu episode cerita ke cerita lainnya. Dalam takaran tertentu, Isma berhasil membuat sosok Prie Gs seperti hidup kembali, yang siap kapan pun kita peras ajaran-ajarannya melalui tulisan ini.

Mengenang Prie GS dan Seni Menggebuk Hidup

7. Mencari Gorontalo // Susanto Polamolo // 2021/07/16

Tulisan ini di tulis oleh Susanto Palamolo seorang lulusan sarjana tingkat dua tinggal di Wangon Banyumas. Ia menceritakan pergulatan dirinya mencari identitas Gorontalo dalam tubuhnya yang lama terpendam sebagai seorang perantauan di Jawa. Dalam ceritanya ia melacak identitasnya hampir 10 tahun. Dengan pengalaman pengetahuannya, ia menyisir mulai dari ingatan melalui cerita orang tuanya, genealogi marga, cerita rakyat, hingga data-data penelitian yang terserak terkait Gorontalo.

Hingga akhirnya, dengan gaya tulisan Susanto yang personal dan ringan kita diajak masuk dalam kompleksitas upayanya mencari identitas dirinya. Sehingga tulisan ini berhasil memberi prespektif lain pada pembaca, untuk memahami bagaimana diri ini kita definisikan.

Mencari Gorontalo

8. Islam Nusantara: Kritik Diri // Irfan Afifi //2021/07/26

Tulisan ini ditulis oleh Irfan Afifi Budayawan muda yang tekun bergulat dengan khasanah pengetahuan Nusantara. Berdasarkan pengakuannya, tulisan ini dipantik oleh pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Ulil Abshar Abdalla mengenai kenapa gagasan Islam Nusantara tidak terlalu diterima di kawasan Melayu.

Kita tahu, Irfan Afifi menguraikan segudang jawaban dengan gaya khasnya berangkat dari pengalaman personal dengan subyek “saya” yang begitu kuat. Gaya penulisannya yang mengalir, tetapi juga kuat dalam analisis. Pemahaman kita sebelumnya terkait Islam Nusantara seperti dibongkar habis-habisan. Kita disodorkan fakta-fakta baru, dengan kata kunci yang mungkin jarang tersentuh sebagai metrum untuk melihat lebih jauh bahwa gagasan Islam Nusantara sebenarnya luas dan tersimpan dalam akar pengetahuan kita. Jadi, ia menyatakan bahwa gagasan Islam Nusantara bukan milik golongan tertentu, tapi milik setiap orang Indonesia yang mau menggali kembali pengetahuan yang lama di kubur dengan dominasi pengetahuan kolonial.

Islam Nusantara: Kritik Diri

9. Nusantara Berkaca: Priyayi, Mandarin, dan Samurai // Taufiq Ahmad // 2021/10/26

Tulisan ini ditulis oleh Taufiq Ahmad seorang penulis lepas yang tinggal di pinggiran Yogyakarta. Tulisan dengan nada provokatif ini, memberi gambaran kita untuk melihat lebih jauh pergolakan panjang sejarah nasional yang ternyata menyisakan kegetiran melalui polarisasi yang dibentuk oleh kolonial. Hingga Taufiq melihat bahwa hasil dari polarisasi yang dilakukan oleh kolonial yang kemudian dilembagakan, mengakibatkan keterputusan secara epistemik dari gagasan keilmuan Nusantara pada para diri priyayi.

Tidak berhenti di sana, Taufiq melakukan perbandingan lalu melacak lebih jauh dari sejarah dari bangsa lain. Golongan Mandarin dari Tiongkok dan Samurai dari Jepang menjadi objek analisis historis yang dilakukan secara kritis dan mendalam. Hingga melalui tulisan ini, kita bisa mendapat gambaran lebih utuh kenapa ketertinggalan kita sebagai bangsa terjadi hingga hari ini.

Nusantara Berkaca: Priyayi, Mandarin dan Samurai

10. Mengasah sambil Mengasuh // Akhmad Faozi // 2021/12/18

Tulisan ini ditulis oleh Akhmad Faozi seorang ayah dari satu anak yang mendarmakan dirinya melalui tulisan yang ia buat. Ia menuliskan perjalanannya menjadi penulis sekaligus menjadi seorang ayah. Bagi Faozi penulis adalah penyaksi resmi dari kehidupan. Sehingga dalam tulisannya ini, ia berusaha merekam perjalanannya melalui tulisan dalam pergulatannya dalam dunia kepenulisan.

Dengan sangat jujur, Faozi ingin menunjukkan bahwa proses menulis bukan hanya soal merangkai bahasa. Tetapi lebih jauh dari hal itu adalah ruang aktualisasi diri yang telah menjadi laku hidup yang ia pilih. Sembari mengasuh seorang anak, menulis menjadi bagian tumbuh kembangnya keluarga kecil yang ia bina bersama istrinya.

Mengasah Sambil Mengasuh