Psikoanalisa ke Kawruh Jiwa: Sebuah Catatan

 Catatan Perjalanan

Saya tentu akan menggelengkan kepala jika ditanya dari mana dan bagaimana seharusnya seseorang mengenal Freud. Maksudnya, haruskah dari ceramah dosen pada mata kuliah pengantar psikologi di awal semester perkuliahan, atau dari seminar-seminar psikologi praktis yang sedikit banyak menyinggung Freud, atau justru dari obrolan-diskusi-ringan di warung kopi bersama mahasiswa psikologi? Karena nyatanya saya mengenal Freud secara tidak sengaja, diantarkan oleh buku, “Psikologi Sufi” Robert Frager. Pun bukan sebagai seorang penggagas awal psikologi modern, tapi sebagai seseorang yang, maaf, pembual.

Frager memang tidak secara terang menyebut nama Freud, tapi saya makin penasaran ketika Frager seperti sedang melakukan kritik terhadap pemikiran-pemikiran psikologi modern. Lantas saya telisik, tentang siapa semua itu. Dari situ saya baru berkenaan dengan Freud, beserta pemikirannya mengenai psikoanalisa. Namun sayang, bukannya sepakat dengan Frager, justru saya jatuh cinta dengan pemikiran Freud.

Agresivitas Freud

Secara kronologis, pada dasarnya saya mengenal Freud sebelum memulai kuliah di fakultas psikologi. Sedikit banyak informasi mengenai Freud saya dapatkan dari buku-buku psikologi populer. Saat mulai kuliah, barulah saya mendapatkan formula pemikiran Freud yang cukup banyak (untuk tidak mengatakannya hatam).

Patut diakui meski pemikiran Freud memang cenderung agresif dan terkesan “urakan”, sebagian besarnya mengandung kebenaran. Sedikitnya bagi diri saya sendiri. Salah satu yang paling saya sukai adalah cara pandangnya terhadap eksistensi manusia. Kesadaran eksistensi tersebut, daku Freud, memunculkan banyak ketegangan di dalam hidup manusia itu sendiri. Sepanjang hidup kita selayaknya seperti mengais pengakuan, dari mana saja dan bagaimanapun caranya, sangat patut kita tempuh betapapun jalan terjal di depan kita.

Satu di antara banyak pemikirannya, seperti pembahasan defense mechanism (mekanisme pertahanan diri) yang tidak kurang dari sepuluh sub bab itu, yang cukup menarik bagi saya selama gandrung dengan psikoanalisa. Kata Freud, obsesi manusia paling besar adalah mengejar kesempurnaan ideal. Mekanisme pertahanan diri di atas merupakan bentuk pasif seorang manusia untuk mempertahankan eksistensinya agar tak tergores, apalagi cacat. Padahal kalau kita lekas menyadari, obsesi yang dimaksud Freud seperti utopia paling tak masuk akal ketika mengingat bahwa sampai kita mati, kita seperti belum merasa dekat dengan kesempurnaan ideal tersebut.

Lantas semua itu menjadi segumpal pertanyaan dalam benak saya: apakah semasa hidup, manusia hanya disetir dengan obsesi yang tak masuk akal itu? Bagaimana cara mengendalikannya? Pertanyaan tersebut sama sekali tidak saya temukan pula di kandungan pemikiran-pemikiran Freud yang lain. Saya mulai gelisah saat itu.

Kawruh Jiwa

Hampir tiga tahun saya menggandrungi Freud dan psikoanalisanya, dengan masih tetap mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya gelisah itu. Sejenak kemudian, saya berkenaan dengan mas Afthonul Afif, barangkali dari sinilah titik balik saya mengenai lokus psikologi yang saya tekuni. Mula-mula kami berkenaan melalui Facebook, sampai pada akhirnya saya diperbolehkan bertamu di rumahnya, melakukan diskusi singkat, dan memboyong beberapa buku yang bertemakan Kawruh Jiwa.

Sebelum bertemu dengan Ki Ageng Suryomentaram beserta pemikirannya, pada dasarnya saya juga termasuk seseorang yang gandrung untuk belajar kejawaan. Buku-buku Prof. Suwardi Endaswara dan Mark R. Woodward merupakan salah dua dari beberapa yang pernah saya baca. Mungkin sebab itu saya merasakan “pethukan raos” ketika mempelajari Kawruh Jiwa.

Setelah banyak membaca dan banyak diskusi dengan beberapa guru, salah satunya adalah Ki Wagiman Dr selaku bangkokan Paguyuban Pelajar Kawruh Jiwa (PPKJ) Kab. Semarang, saya berkesimpulan bahwa pertanyaan yang muncul atas kegelisahan mengenai psikoanalisa, rupanya terjawab di kawruh jiwa. Saya cukup terperangah saat sedikitnya mulai memahami paradigma kawruh jiwa besutan Ki Ageng Suryomentaram ini.

saya berkesimpulan bahwa pertanyaan yang muncul atas kegelisahan mengenai psikoanalisa, rupanya terjawab di kawruh jiwa. Saya cukup terperangah saat sedikitnya mulai memahami paradigma kawruh jiwa besutan Ki Ageng Suryomentaram ini.

Psikoanalisa ke Kawruh Jiwa

Obsesi di psikoanalisa Freud berganti istilah menjadi karep (keinginan) di kawruh jiwa Suryomentaram. Meski keduanya mempunyai definisi dan batasan yang hampir identik, tapi terdapat perbedaan yang kontras apabila kita mau merunutnya dengan teliti, perbedaan tersebut yaitu terletak pada cara mengendalikannya. Freud hanya sebatas menyatakan bahwa manusia mempunyai obsesi untuk mengejar kesempurnaan ideal, sehingga setiap manusia mempunyai ketegangan sepanjang hidup. Sedangkan Suryomentaram tidak: meski adalah benar karep pada manusia tak pernah habis dan menjadi salah satu alasan manusia bergerak dan beraktivitas, tapi ada cara mengendalikan karep tersebut apabila sudah kebablasan atau dirasa sudah tidak realistis. Jadi, ketegangan yang dimaksud Freud dapat dianulir oleh Suryomentaram.

Sedangkan Suryomentaram tidak: meski adalah benar karep pada manusia tak pernah habis dan menjadi salah satu alasan manusia bergerak dan beraktivitas, tapi ada cara mengendalikan karep tersebut apabila sudah kebablasan atau dirasa sudah tidak realistis. Jadi, ketegangan yang dimaksud Freud dapat dianulir oleh Suryomentaram.

Pengendalian itu berupa menumbuhkan kesadaran rasional-reflektif terhadap karep apa saja yang berdatangan, dengan dilandasi prinsip Enem-Sa (Sabutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sabenere, Sapenake, Samestine). Setiap karep yang datang, perlu disaring prinsip tersebut agar benar-benar menjadi karep yang berdampingan dengan kebutuhan hidup. Karena pada nyatanya, kebutuhan belum cukup menggerakkan hidup manusia, sehingga butuh karep yang tidak terkena bias-bias selain untuk menunjang kebutuhan hidup itu sendiri.

Kita ambil beberapa contoh, seperti saat kita butuh makan karena lapar. Seseorang yang lapar membutuhkan makan agar kenyang, namun bagi beberapa orang yang menjalani program diet, barangkali akan lebih betah menahan lapar. Contoh lain adalah apabila ada seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas makalah yang akan dikumpulkan esok harinya, sehingga ia memutuskan untuk begadang semalaman, meskipun beberapa kali merasakan kantuk yang berat. Seseorang yang ngantuk seharusnya membutuhkan tidur agar bugar kembali, sedangkan tidak berlaku bagi seseorang seperti contoh di atas. Ya, kebutuhan harus berdampingan dengan karep agar menggerakkan manusia.

Namun, dalam kasus lain, karep pada manusia justru makin membesar tanpa kita sadari sepenuhnya. Seseorang yang lapar hanya butuh makan makanan yang dapat mengenyangkan, sehingga ketika lapar tapi tidak ada ayam goreng lantas ia tidak jadi makan, maka karep ini sudah terkena bias-bias yang membuatnya kebablasan. Seperti halnya seseorang yang sedang berkarya, hinaan pada karyanya sebisa mungkin diminimalisir sedemikian rupa, agar eksistensinya tetap mengudara seperti yang ia inginkan. Padahal laku hidup manusia tak terpisah antara pujian dan hinaan; suka dan tidak suka; enak dan tidak enak.

Pada dasarnya saya tidak menemukan pemikiran terperinci semacam itu yang melekat pada ciri khas pemikirannya Freud. Hal ini seperti menunjukkan bahwa Freud hanya berhenti pada tuduhan-tuduhan yang meski memang benar, namun ia tidak mengatakan bagaimana tuduhan itu terbentuk dan bagaimana cara menyelesaikan tuduhan tersebut. Freud hanya terlihat gagah di muka, namun menciut di belakang. Berbeda dengan pemikiran Suryomentaram yang secara paradigmatik cenderung lengkap, sejak dari hulu ke hilir.

Bukan Akhir Perjalanan

Saya tidak sedang mencoba membenturkan antara psikoanalisa dengan kawruh jiwa. Sama sekali saya tidak bermaksud demikian. Namun perbedaan yang ada di antara kedua kerangka berpikir tersebut perlu kita namakan agar lebih mudah memahami dan memilih jalan yang akan kita tempuh di lain waktu. Toh, lagipula ini juga sekadar catatan yang saya dokumentasikan sepanjang mempelajari bab-bab psikologi, sehingga ini bukanlah akhir dari perjalanan bagi saya, tapi sedikit beristirahat untuk melanjutkan perjalanan kembali.


ilustration: Chinese artist J.King Chou plays with different materials and textures to create interesting digital pieces.

Buku Langgar Shop
Kukuh S. Aji
Peminat kajian psikologi budaya dan lingkungan hidup. Pelajar Kawruh Jiwa. Menulis puisi, cerpen, dan kadangkala esai. Bermain paruh waktu di Madrasah Rasa Center.