Kawedanan Prawoto; Saksi Bisu Kuatnya Perlawanan Pangeran Diponegoro

Pemandangan lawas sebuah pintu besar, khas selera orang-orang Eropa, jadi suguhan menarik bagi siapa pun yang baru pertama kali berkunjung. Memanjang tinggi, dan ikonik dengan gaya bangunan Belanda era kolonial yang di atasnya terdapat informasi tanggal pembuatan, yaitu 13 Oktober 1861. Dua unit bangunan rumah yang mirip joglo Jawa dengan bagian belakang dan depan saling disambungkan, kini disebut warga sebagai balai desa. Bangunan yang masih asli, tanpa sekalipun dipugar.

Rasdi, pria sepuh berusia 67 tahun yang telah menjaga bangunan sejak tahun 1994, saat ditemui penulis mengisahkan, “Dulunya memang Prawoto ini pusat pemerintahan (Kawedanan) dan pernah ditempati Wedana. Wedana, adalah seorang pejabat tinggi yang ada pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Selain saya, ada juga penjaga lain di sini. Ruangan bagian depan di sebelah kanan cukup angker, karena pernah dijadikan tempat bunuh diri istri Wedana,” tutur Rasdi.

Gestrik dibangun pada tahun 1861, tiga puluh satu tahun usai Perang Diponegoro berlangsung pada medio 1825 sampai 1830. De Java Oorlog atau Perang Jawa, menurut Peter Carey dalam “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1885),” menuliskan sebagai salah satu perang di tanah Jawa yang paling sengit, hingga merepotkan pihak Belanda selama masa keberadaannya di bumi Nusantara. Perlawanan penduduk Jawa dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro, putra tertua Sultan Hamengkubuwana III dari istri selir. Melawan pasukan Belanda yang dikomandoi Hendrik Markus de Kock. Perang Jawa menyebabkan pertumpahan darah dari pihak penduduk Jawa yang gugur sebanyak 200.000 jiwa, sedangkan di pihak de Kock, korban tewas berjumlah 8.000 jiwa serdadu Belanda dan kurang lebih ada 7.000 jiwa serdadu pribumi.

Ali Romdhoni, pengamat sejarah Prawoto sejak tahun 2001 yang juga pelajar di Heilongjiang University Harbin, China, menjelaskan, “Distrik ternyata bagian dari strategi benteng stelsel, benteng yang rencana utamanya dibangun untuk meredam pasukan Diponegoro. Setiap titik yang diduga menjadi pusat pertahanan pasukan Pengeran Diponegoro, dibangunkan bangunan khusus sebagai tempat konsentrasi pertahanan. Bangunan administratif semacam perkantoran, jalan, atau pusat untuk pertahanan kamp serdadu, termasuk gedung distrik di Prawoto.”

Setiap titik yang diduga menjadi pusat pertahanan pasukan Pengeran Diponegoro, dibangunkan bangunan khusus sebagai tempat konsentrasi pertahanan. Bangunan administratif semacam perkantoran, jalan, atau pusat untuk pertahanan kamp serdadu, termasuk gedung distrik di Prawoto.”

Dilihat dari fungsi dan tujuan adanya distrik. Tahun 1861 Gestrik di Prawoto baru dibangun, sementara Pangeran Diponegoro dijebak pada tahun 1830 menunjukkan indikasi adanya suatu masa tertentu; akan ketidakberdayaan Belanda saat perang melawan Pangeran Diponegoro. Gestrik dibangun sangat telat, hingga berselisih tiga puluh satu tahun sejak berakhirnya Perang Jawa. Hal ini juga sekaligus jadi sebuah penanda bahwa meskipun Pangeran Diponegoro telah wafat, perlawanan di Prawoto masih berlangsung.

“Kalau kita ikuti peta jalan raya pos Deandles tahun 1808, Prawoto ini masih pedalaman, harusnya kan ditutup. Tapi nyatanya ada bangunan distrik di sini. Kenapa masih diperhatikan? Saya membaca rute perang pasukan Diponegoro di bagian Pantura, ternyata melingkari Prawoto. Jadi dari Sragen, Purwodadi, ke utara melintasi Grobogan, kemudian Wirosari, Jaken, Jakenan, Juwana, ke barat terus sampai ke Demak,” tutur Ali Romdhoni, secara rinci.

“Strategi perang Diponegoro gerilya, dan itu tidak mungkin lewat jalan raya pos Deandles, bahkan bisa dikatakan basis pertahanannya kuat. Jalan raya pos tidak ada gua, dan yang ada gua adalah wilayah di sepanjang gunung Kendeng, salah satunya di Prawoto. Itulah mungkin salah satu alasan kenapa ada Gestrik di sini.” ujar Ali, melanjutkan.

Kecerdikan taktik Ontowiryo saat berperang, atau Pangeran Diponegoro, terlihat dari caranya memberi perlawanan kepada Belanda. Selepas terjadi penyerbuan di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro kemudian berkirim surat kepada Nyai Ageng Serang, biasa juga dikenal sebagai Putri Serang untuk menyusun sama-sama strategi perang. Meskipun pada nyatanya bangsawan dari Kasunanan Surakarta tersebut sudah berusia 73 tahun, namun kepekaan Nyai Ageng Serang terhadap kondisi yang tengah terjadi di tanah Jawa, ternyata amat dibutuhkan Pangeran Diponegoro.

Menurut Ali, Belanda sengaja menguatkan pusat daya militer di daerah Prawoto untuk menghalau laju pasukan Diponegoro. Pangeran Diponegoro, dikenal sebagai panglima perang yang ahli berkuda, juga ahli dalam ilmu sejarah. Oleh karena itu, Prawoto yang sudah sejak dari zaman konflik Sultan Hadiwijaya dengan Arya Penangsang dinilai punya kekuatan magis tertentu, jadi perhatian utama pada Perang Jawa.

Kemagisan daerah Prawoto juga tercatat pada sejarah perang Adipati Pragola Pati II yang menghindari kerajaan bala tentara Mataram. Ditulis de Graaf dalam “Awal Kebangkitan Mataram”. Adipati Pragola II luput dari kejaran orang-orang Mataram saat berlindung di Prawoto, kejadian tersebut berlangsung tahun 1627. Meski masih jadi tanda tanya besar, karena mirip kisah Adipati Pragola I saat pecah perang Kadipaten Pati melawan Mataram di dekat Prambanan tahun 1600 Masehi, tetapi Prawoto adalah salah satu kawasan inti yang dicatatkan dalam sejarah.

Meski masih jadi tanda tanya besar, karena mirip kisah Adipati Pragola I saat pecah perang Kadipaten Pati melawan Mataram di dekat Prambanan tahun 1600 Masehi, tetapi Prawoto adalah salah satu kawasan inti yang dicatatkan dalam sejarah.

Diambil dari nama putra mahkota trah Kesultanan Demak, putra sulung Sultan Trenggono yang dikenang jasanya karena bertempur mati-matian menghadapi bala tentara Portugis, desa Prawoto berada di sebelah barat daya Kabupaten Pati. Bila dilakukan perjalanan, bermula dari titik di pusat kota Kabupaten, Prawoto memerlukan jarak tempuh ke arah selatan sekitar kurang lebih 38 kilometer, melewati Kayen. Oleh masyarakat setempat, Prawoto disebut sebagai Bumi Telon karena secara geografis terletak di antara tiga wilayah yaitu Grobogan di sebelah selatan, Kudus di sebelah barat dan utara, serta Pati di sebelah timur laut.

Letak strategis Prawoto yang ada di paling barat pegunungan Kendeng, menyisakan bukti arkeologi berupa sisa-sisa bangunan istana kerajaan. Disinyalir bukti tersebut merupakan jejak peninggalan Kesultanan Demak Bintoro. Sejarah Prawoto ditulis secara lengkap dalam “Babad Tanah Djawi” dan “Serat Centhini”, catatan Suluk Tambangraras dan tinjauan sejarah Hermanus Johannes de Graaf dalam buku “Kerajaan Islam pertama di Jawa: tinjauan sejarah politik abad XV dan XVI” bersama Theodoor Gautier Thomas Pigeaud.

Hermanus de Graaf, yang datang ke Prawoto sekitar medio 1964 mencatat banyak masyarakat yang menceritakan – masa genting setelah Perang Jawa selesai — beberapa bangunan keraton di Prawoto sedikit demi sedikit musnah. Pada bukunya “Istana Prawoto” Ali Romdhoni berpendapat, perlu digaris-bawahi apa penyebab inti dari pemusnahan peninggalan bangunan keraton tersebut. Hancur secara kebetulan karena proses alam, atau memang sengaja dimusnahkan.

Kawedanan Prawoto pada masanya pernah menjadi induk dari daerah Undaan, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Kudus, untuk urusan administrasi kenegaraan. Sumber sejarah KUA Undaan Kudus, menuliskan bukti konkrit tentang daftar perkawinan warga Undaan tepatnya pada rentang waktu sebelum tahun 1938, bahwa buku catatan nikah warga Undaan ada di Ranting Prawoto, Kawedanan Prawoto, Karesidenan Pati. Setelah 1938, barulah administrasi KUA Kecamatan Undaan berdiri sendiri, namun secara riil masih tetap bergabung di Kawedanan Kota, dan pelaksanaan pernikahan bertempat di Krian, komplek Masjid Agung Kudus.

Resza Mustafa
Aktif menulis sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk tahun 2013. Sempat bergabung dengan Gatra.com pada 2019 untuk menulis isu-isu politik, perkotaan, sosial dan budaya. Bisa di sama melalui akun istagram @resza_mustafa