Mengenang Milad Buya Syafii dan Obituari Pancasila

Saya pertama mengenalnya di rubrik kolom koran Republika, catatan-catatan opininya selalu hadir setiap pekan, dan terpampang di mading koran pondok sekolah. Seperti santri pada umumnya, bacaan itu menjadi semacam oase selintasan di waktu senggang sore saya, setelah seharian disibukkan dengan tumpukan mata pelajaran dan kitab kuning di pondok sekolah. Sebelum akhirnya magrib datang, petanda untuk memulai kegiatan kembali, mengaji sorogan dan pengulangan pelajaran sekolah hingga pukul sepuluh malam.

Kebiasaan membaca kolom opini di koran Republika itu, masih berlangsung hingga saya melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Tepatnya, di kampus tempat Buya Syafii Maarif pernah mengajar. Ia sempat mengampu mata kuliah filsafat sejarah, dan bahasa Inggris. Meski saya belum sempat merasakan diampu olehnya secara langsung. Diakhir semester satu, saya mulai mengenalnya lewat pembacaan autobiografi yang ia tulis sendiri. Dari catatan itu, saya bisa menziarahi alam pemikirannya dari dekat. Mulai akar benih masa kanak dan remajanya di tanah Minang, keberangkatan ke Yogyakarta, pergulatan-aktivisme di pusaran Muhammadiyah, dan pertemuannya dengan Fazlur Rahman saat studi doktoral di Chicago, Amerika Serikat.

Autobiografi yang ditulisnya itu, ia dengan seksama menceritakan pengaruh kuat seorang Fazlur Rahman dalam membentuk kematangan iklim intelektualnya. Seperti pendahulunya, Buya Syafii Maarif turut mewarisi studi yang digeluti oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur) dalam studi pemikiran Islam, tepatnya Islam dan politik yang bermuara pada pencarian identitas kendonesiaan.     

Perkenalan pembacaan saya berlanjut pada studi akademik yang ia tulis berjudul “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (Sebuah Refleksi Sejarah)”. Tepat di awal memasuki semester dua, saya pertama membaca karya ini dari buku seorang teman yang saya pinjam, kebetulan ia menghadiri launcing buku yang dibedah oleh Buya Syafii langsung di kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Entah karena alasan dan latar belakang apa, saya merasa begitu antusias membacanya, bahkan teman yang meminjamkan buku itu sempat sedikit terheran, karena saya membacanya terhitung cepat.

Disela-sela itu semua, saya kemudian bertemu secara langsung dengan Buya Syafii Maarif di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Saat itu, penerbit Mizan menerbitkan karya monumental Fazlur Rahman yang berjudul “Islam; Sejarah Pemikiran dan Peradaban”. Lalu Buya Syafii Maarif dimintai langsung untuk membedah buku itu. Dari sana pula saya mengenal pemikir lain, yang juga seorang murid dari Fazlur Rahman, yaitu Muhammad Iqbal. Rahman dan Iqbal turut menjembatani arus besar modernitas dalam Islam di dunia Barat dan global.

Selang dua tahun berlalu, tepatnya pada bulan Maret tahun 2017, karya Buya Syafii Maarif kembali muncul. Kali ini hasil dari karya desertasi yang dibentuk menjadi sebuah buku utuh, “Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante)”. Karya ini menjadi pungkasan studi akademik dalam penelaahan masyarakat Islam di Indonesia. Selain mengurai Indonesia dalam spektrum kebinekaan yang terputus oleh rantai kolonial. Dalam konteks kenegaraan, karya ini menjadi pusaran telaah identitas politik umat Islam, ditengah bergejolaknya ideologi Islam politik yang sedang berkecamuk (bahkan porak-poranda) di negara-negara Islam Timur Tengah pasca reformasi di Indonesia.

Perjalanan dan pembacaan atas itu semua, tanpa saya sadari turut memengaruhi tema kajian yang kemudian menjadi karya tugas akhir skripsi saya di program studi ilmu sejarah. Saya menulis sosialisme Indonesia, ditelaah dari buah pergulatan pemikiran Soekarno, yaitu marhaenisme dari rentang tahun 1933 sampai 1945. Tahun 1933 diambil bermula pada pidato persidangan Soekarno di Bandung yang berjudul “Indonesia Menggugat”. Dan tahun 1945 sebagai muara bertemunya dasar-dasar kebinekaan hidup berkebudayaan Indonesia, yang kemudian termaktub dalam lima bulir Pancasila.

Marhaenisme merupakan satu bentuk penelusuran Soekarno pada sistem sosial, ekonomi, dan budaya yang menyeluruh. Dan penamaan marhaen pada seorang petani di Bandung adalah upaya peneguhan subjek diri Soekarno pada diri yang lain secara utuh. Dan disitulah awal mula terciptanya tatanan, yaitu bertemunya diri pribadi dalam diri masyarakat. Untuk mengurai dan menghubungkan itu, diperlukan kejernihan melihat aliran jejak langkah masa lalu, untuk kemudian dialirkan kejernihannya ke masa kini (Baca: Tradisi). Dan itulah yang dimaksud dengan aliran jernih sungai yang melahirkan peradaban-peradaban baru.   

Satu hal yang menjadi bongkahan peninggalan peradaban modern (Baca: Modernisme) dengan humanisme-universalnya, ialah sifatnya yang sekuler. Berbeda dengan akar karakteristik masyarakat Indonesia, sebagaimana penelusuran Soekarno dalam marhaenisme, yang berpangkal dan bermuara pada ketuhanan, ialah sosialisme religius, yaitu bertemunya kehidupan sosial yang imanen dengan religiusitas yang transenden. Jika religiusitas ketuhanannya bersifat sosialisme, maka ia tak akan lagi menyalahkan Tuhan dalam jalan religiusitas lain. Karena ia sudah tidak membedakan antara yang imanen dengan yang transenden. Dan corak dasar marhaenisme ialah, ia tidak kemudian meninggalkan kebinekaan yang sifatnya lokal sebagai word-view tempat bermulanya setiap subjek diri, dan disitulah akar dan pengenalan awal akan kepercayaan pada Tuhan tercipta.

Kemudian di tahun 1945, corak-corak kehidupan lokal itu menemukan posisinya dalam konteks kenegaraan (Baca: negara bangsa), setelah melalui perdebatan panjang dalam sidang konstituante yang dipimpin oleh Soekarno. Dari sana, maka lahirlah nilai dasar hidup (tatanan) yang termaktub dalam lima butir Pancasila.  Pun dengan termaktubnya lima butir Pancasila, perjalanan Pancasila diuji oleh arus politik zaman dalam setiap peralihan kekuasaan.

Dari sana, maka lahirlah nilai dasar hidup (tatanan) yang termaktub dalam lima butir Pancasila.  Pun dengan termaktubnya lima butir Pancasila, perjalanan Pancasila diuji oleh arus politik zaman dalam setiap peralihan kekuasaan.

Pancasila dari awal kemerdekaan hingga reformasi, posisinya selalu dibawah tekanan politik, atau istilah yang digunakan Buya Syafii Maarif “didudukan sebagai etalase politik”. Memang kenyataannya demikian, Pancasila nasibnya selalu digunakan sebagai tameng penguasa, dan kita masih menyaksikannya hingga hari ini. Dibalik diktum NKRI harga mati yang digelorakan, Buya Syafii Maarif menyoroti bergejolaknya disintegrasi dengan Papua, lengkap dengan isu HAM dan lingkungan yang melatarinya. Dalam berbagai kanal media, Buya Syafii Maarif membuka suara soal HAM yang merosot dalam dua dekade ini.

Satu topik dalam negeri yang menjadi perhatian Buya Syafii Maarif, adalah soal korupsi. Ia kerap lantang menengahi dan menyuarakan kisruh dalam KPK. Ditengah isu yang terus menerpa KPK, ditambah situasi pandemi yang membuat beban hidup semakin berat, ia kerap menyeruakan keresahan publik langsung pada penguasa. Dalam silang sejarah di Indonesia, korupsi menjadi isu abadi terhitung sejak zaman Diponegoro yang menampar patih Danurejo IV. Praktik korupsi sudah menjadi seni dan budaya bangsa Indonesia, demikian ungkapan Mohammad Hatta, hingga sekarang tidak banyak mengalami pencegahan dan pemberantasan yang signifikan. Jika ini dibiarkan, maka kebangkrutan dan keruntuhan bisa melanda Indonesia. Kita bisa belajar pada VOC yang kekayaannya melebihi minyak yang dimiliki oleh negara-negara di Timur Tengah, runtuh karena dirongrong korupsi di dalamnya.

Seperti yang ditulis Buya Syafii Maarif di harian kompas tanggal 31 Mei 2021 kemarin, tulisan ini mungkin terkesan bernada pesimistis. Tidak mampu dielak, pada realitas kehidupan bernegara hingga saat ini, Pancasila nyatanya dilumpuhkan dalam hidup keseharian masing-masing dari kita. Meminjam kalimat yang digunakan Buya, “Pancasila diagungkan dalam konstitusi, AD/ART partai politik, organisasi mahasiswa, dan di ruang-ruang seminar, namun dikhianati dalam perbuatan”. Sehingga, tidak aka ada penemuan makna kembali dari refleksi tahunan hari kesaktian Pancasila. Pun kini, ia dirayakan dengan upacara-upacara seperti halnya hari raya. Sebab kehidupan berbagsa dan bernegara kita, sudah terpisah dari penghayatan dan kehikmatan hidup dari nilai-nilai Pancasila.

Hilangnya penghayatan dan kehikmatan dalam kehidupan berbangsa merupakan implikasi dari kehidupan yang sekuler, yakni memisahkan yang imanen dengan yang transenden, sehingga religiusitas transendental itu tidak termanifetasi dalam imanenitas kehidupan sehari-hari. Kita bisa belajar kembali pada masyarakat adat dan aliran kepercayaan yang merayakan Pancasila dalam kegiatan hidup sehari-sehari, dengan segala ragam kebinekaan, ia tidak memisahkan dan membedakan dari kebinekaan yang ada dalam diri mereka. Karena pokok dasar dari bineka, adalah tunggal ika, yaitu ketunggalan akan tujuan hidup dan Tuhan yang satu. 

Dalam tajuk kencana di Ib Times.id yang dimuat dihari ulang tahunnya yang 86 kemarin, tertulis “Buya Syafii Maarif sebagai Mata-Air Keteladanan Bangsa”. Barangkali, keresahan yang dialirkan terus-menerus oleh kejernihan pikiran lewat kerja akademiknya, ia ingin mengalirkan sungai peradaban baru itu. Dan saya, ingin meneladani perbuatannya dengan menjadi anak sungai yang terhubung dengan aliran sungai dirinya.

Tabik

Buku Langgar Shop