Merayakan Maulid di Mesir: Antara Cinta, Agama, dan Budaya

 

“Bagaimana mungkin engkau bisa menyembunyikan perasaan cinta, sedangkan dua saksi yang adil berupa deraian air mata dan rasa sakit karena rindu telah menyaksikannya?”(Burdah al-Madih, bait 6).

Demikianlah salah satu petikan syair tentang kecintaan terhadap Rasulullah, yang termaktub dalam kitab Burdah al-Madih, karya Imam Syarofuddin Abi‘Abdillah Muhammad al-Bushiri (W. 696 H./1296 M) salah satu ulama masyhur Mesir keturunan Maroko yang wafat dan dimakamkan di Alexandria, Mesir. Qasidah masyhur ini selalu menggema di seluruh penjuru Kairo, menjelang 12 Rabiul Awwal, maulid nabi Muhammad sholawatullah alaih.

Sejarah Islam mencatat bahwa orang pertama yang mengadakan peringatan maulid secara besar-besaran adalah seorang penguasa Irbil dari dinasti Ayyubiyyah yang bernama Mudhoffar Abu Said Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau memperingati maulid nabi dengan merujuk pada sunah nabi, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW ditanya, mengapa beliau berpuasa pada hari Senin. Maka nabi pun menjawab; “Ini adalah hari dimana aku dilahirkan.” (HR. Muslim).

Raja Mudhoffar Abu Said Kukburi sendiri dikenal sebagai seorang raja yang adil berdasarkan komentar-komentar dari ulama besar seperti Imam Suyuthi dan Ibnu Katsir; “Dia (Raja Mudhoffar) adalah salah seorang raja bijaksana, dermawan, dan ulama yang adil.”

Maulid nabi di Irbil pada masa itu sangat meriah. Dua hari sebelum hari puncak maulid nabi pada bulan Rabiul Awwal, unta, sapi dan kambing diarak menuju alun-alun kota diiringi dengan sholawat dan pujian kepada nabi, untuk disembelih dan dimasak bersama. Uang dan manisan dibagikan kepada seluruh masyarakat. Dikatakan, uangnya mencapai 300.000 dinar. Hingga kini, manisan (halwa/halawiyyat) menjadi unsur yang tak bisa terpisahkan dari tradisi maulid nabi di Timur Tengah.

Uang dan manisan dibagikan kepada seluruh masyarakat. Dikatakan, uangnya mencapai 300.000 dinar. Hingga kini, manisan (halwa/halawiyyat) menjadi unsur yang tak bisa terpisahkan dari tradisi maulid nabi di Timur Tengah.

Pada masanya, seorang ulama dari Maroko datang ke Syam dan Irak. Beliau adalah Abu al Khattab ibnu Dahiyyah. Ketika memasuki Irbil, beliau melihat raja Mudhoffar adalah orang yang senang memperingati maulid nabi. Maka pada saat itu, beliau menulis kitab tentang maulid nabi yang berjudul at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir. Beliau lalu menghadiahi kitab tersebut langsung kepada raja Mudhoffar. Setelah selesai membacanya, Raja Mudhoffar menghadiahi beliau sebanyak seribu dinar, atas karya tulis yang beliau berikan. Hal demikian tidak dilakukan kecuali karena kecintaannya terhadap Nabi Muhammad SAW.

Namun, Istilah maulid menurut masyarakat Mesir sendiri memiliki definisi yang sedikit berbeda dengan masyarakat Nusantara. Jika kita di Indonesia lebih kerap memperingati maulid khusus untuk baginda Nabi, berbeda halnya dengan masyarakat Mesir yang memaknainya lebih umum.  Maka, peringatan maulid di Mesir tidak hanya memperingati kelahiran baginda nabi saja, tapi juga memperingati maulid Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili, dan aulia yang lain, meskipun tentu saja maulid Nabi Muhammad adalah yang terbesar. Masyarakat di sini juga tidak memperingati haul sebagaimana tradisi yang biasa kita lakukan di Indonesia.

Perayaan maulid Nabi di mesir memang seramai hari raya, yang dimulai sekitar sebulan sebelum hari puncak. Ditandai dengan halawiyyat (manisan) khas mesir yang mulai dijual di swalayan, pusat perbelanjaan, dan kios-kios yang didirikan di pinggir jalan. Halawiyyat maulid merupakan makanan limited edition yang hanya dijual menjelang maulid saja. Halawiyyat ini dijual dalam kemasan kotak dan sudah ada bermacam-macam halawiyyat yang umumnya terbuat dari gula dan kacang.

Kecintaan masyarakat Mesir terhadap Nabi Muhammad memang cukup beralasan.   Masyarakat Mesir secara umum meyakini bahwa mereka memiliki hubungan nasab dengan Siti Hajar, istri Khalilullah Sayyidina Ibrahim AS, yang menjadikan mereka merasa memiliki hubungan kerabat dengan Sayyidina Muhammad SAW. Rasa cinta ini juga disebabkan fakta sejarah, karena di masa lampau, Mesir merupakan negeri pilihan ahlul bayt sebagai tempat yang relatif aman dari gangguan dinasti Umayyah yang pada saat itu tidak terlalu baik hubungannya dengan keturunan baginda nabi. Sayyidah Zaenab, putri Sayyidah Fatimah adalah ahlul bayt pertama yang menetap di Mesir. Abdullah bin Abbas, sepupu baginda Nabi adalah orang yang mengarahkan agar Sayyidah Zainab mengamankan diri di Mesir. “Pergilah menuju negeri Mesir, di sana engkau akan menemukan orang-orang yang akan melindungimu dan keturunanmu.”

Dengan dijadikannya Mesir sebagai tempat pilihan ahyul bayt untuk menetap hingga tutup usia, dan banyaknya ahlul bayt yang dimakamkan di Mesir menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Mesir dan menumbuhkan kecintaan di hati mereka terhadap baginda nabi dan keturunannya. Betapa baginda nabi serta keturunannya begitu menghiasi kehidupan mereka. Begitu dekatnya kehidupan masyarakat Mesir dengan kecintaan pada kekasih-Nya, hingga jika anda sedang berjalan di pemukiman padat sekalipun, anda akan menemukan kalimat-kalimat shalawat di sudut gang-gang sempit. Bahkan, dalam ungkapan sehari-hari pun, shalawat menjadi semacam idiom yang digunakan orang-orang Mesir, seperti contoh, jika ada orang marah, maka pasti akan diucapkan kalimat, ‘shallu ‘ala-n-nabi!’. Hal ini tidak lain supaya orang yang marah tersebut menurunkan emosinya dan menurunkan suaranya, karena dalam al-Qur’an disebutkan bahwa;

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi..” (QS. al-Hujurat: 2).

Hal lain yang menjadi alasan mengapa masyarakat Mesir sangat mencintai Nabi dan ahlul bayt adalah kuatnya ajaran Sunni di Mesir itu sendiri. Ulama-ulama besar seperti Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Imam Ibrahim ad-Dasuqi, dan Ibrahim al-Baijuri mengajarkan ajaran ahlussunnah wal jamaah hingga pengaruhnya terasa hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadikannya termasuk negara yang mengadakan peringatan Maulid Nabi besar-besaran, karena kebanyakan dari ulama Nusantara pun mengkaji karya-karya ulama Sunni tersebut.

Suasana Maulid di Kairo 

Menjelang maulid, masjid-masjid besar seperti Jami’ al-Azhar mengadakan khataman kitab sirah nabawiyyah (sejarah perjalanan hidup nabi), syamail muhammadiyyah (sifat-sifat mulia baginda nabi) dan menyenandungkan syair-syair kecintaan terhadap baginda nabi. Pada maulid tahun lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi Masjid Dzahir Beybers, masjid tua nan bersejarah di bilangan Abbasiyyah untuk menghadiri majelis maulid dan pembacaan kitab sirah nabawiyah secara ringkas.

Pada maulid tahun lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi Masjid Dzahir Beybers, masjid tua nan bersejarah di bilangan Abbasiyyah untuk menghadiri majelis maulid dan pembacaan kitab sirah nabawiyah secara ringkas.

Majelis diawali dengan pembacaan Shalawat Burdah yang di sela-selanya, diselingi pembacaan kitab an-Nuur-al-Maushul syarh Bidayah as-Suul fi Tafdili ar-Rasul, karya sulthan ulama Izzuddin Abi Muhammad Abdul Aziz bin Abdissalam ibnu Abi Qasim as-Salami (w. 660 H/1260 M), dan diakhiri dengan pemberian ijazah ammah (ijazah umum) untuk mengamalkan isi kitab tersebut. Bedanya dengan perayaan maulid di Indonesia, selain diberi makanan, kami juga diberi kitab gratis. Sebuah berkatan yang sangat berharga untuk para pelajar di negeri kinanah ini.

Pada malam puncak maulid, Masjid Sayyidina Husain yang terletak tepat di seberang jami’ al-Azhar penuh sesak oleh pengunjung, baik dari dalam maupun luar kota. Orang-orang yang berasal dari luar kota Kairo datang berhari-hari sebelum perayaan puncak maulid dimulai. Mereka mendirikan tenda-tenda yang sebenarnya cukup unik untuk diamati karena mereka menghias tendanya dengan lampu-lampu.

Pada malam puncak ini, majelis shalawat diadakan dan dihadiri pula oleh ulama-ulama serta habaib. Tahun lalu, majelis ini dihadiri oleh Maulana Habib Ali al Jufri, yang namanya sudah masyhur di kalangan jamaah ahlussunnah wal jamaah di Nusantara. Shalawat didendangkan oleh Mustafa Atef dan juga kelompok nasyid dari Indonesia.

Uniknya, pada maulid tahun ini, kementerian kebudayaan mesir menggelar acara el Mahrajan Sama’ ad-Dauli li-l-Insyad wa-l-Musiqa al-Ruhaniyyah, yaitu sebuah festival musik rohani yang menembus batas negara, bahasa dan agama. Acara ini memang ditujukan khusus sebagai penghormatan untuk maulid baginda nabi. Para grup musik yang berasal dari berbagai negara seperti Mesir, Libanon, Suriah, Sudan, dan Indonesia membuat acara ini sangat sayang jika dilewatkan. Agama, ras dan budaya menyatu dalam satu panggung membentuk keharmonisan yang padu.

Pada acara ini, muslim dan non-muslim—yang diwakili oleh kristen ortodoks koptik—, mendendangkan puji-pujian terhadap baginda nabi, bershalawat penuh cinta, dan menyampaikan pesan perdamaian. Sebuah pemandangan unik bagi saya khususnya, orang-orang Kristen Koptik yang ikut tampil pada saat itu tidak ragu untuk ikut mendendangkan shalawat. Pastur yang hadir pada saat itu juga ikut mengucapkan selamat atas perayaan maulid nabi.

Habib Ali al Jufri pernah berpendapat bahwa mengucapkan selamat atas suatu acara keagamaan itu bukan berarti percaya (ikrar) atas kepercayaan itu. Seorang pastur yang mengucapkan selamat atas peringatan maulid Baginda Nabi tak ubahnya merupakan sebuah perilaku baik sesama manusia yang semestinya dilakukan dan tidak membuatnya menjadi masuk Islam, begitupun sebaliknya.

Seorang pastur yang mengucapkan selamat atas peringatan maulid Baginda Nabi tak ubahnya merupakan sebuah perilaku baik sesama manusia yang semestinya dilakukan dan tidak membuatnya menjadi masuk Islam, begitupun sebaliknya.

Maulid di Negara-Negara Afrika

Maulid di negara-negara Afrika umumnya memiliki tradisi yang sama dengan negara-negara muslim lainnya, seperti melantunkan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, baik dalam bahasa Arab maupun dengan bahasa mereka sendiri. Ada beberapa hal yang berbeda, seperti makanan yang disajikan, dan kebiasaan yang dilakukan ketika maulid. Artinya, secara substansi, maulid tetap mencakup kegembiraan dan rasa syukur atas kelahiran nabi dan kecintaan terhadap beliau, meskipun cara mengekspresikannya berbeda-beda.

Seperti yang dituturkan oleh kawan saya, Hamidou Ousman Diallo yang berasal dari Nawkichoot, Mauritania, tradisi maulid nabi tidak dirayakan yang semeriah di Indonesia ataupun di Mesir, karena kelompok-kelompok yang tidak menganjurkan maulid cukup banyak. Hanya sebagian daerah saja yang mengadakan ihtifal maulid (peringatan maulid) dengan cukup meriah, yang mana sebagian besar dari orang-orang yang merayakan itu adalah pengikut tariqah sufiyyah (mayoritas jamaah tariqah di sana adalah tariqah tijaniyyah).

Masyarakat Mauritania umumnya merayakan maulid sehari sebelum 12 Rabiul Awal, tepatnya di sore hari. Anak-anak dan pemuda berkumpul di masjid-masjid besar dan bersama-sama melantunkan qasidah Burdah atau nadham al-Urjuzah al-Mi’iyyah fi Dzikri Hali Asyrafi-l-Bariyyah karangan Ibnu Abi al-‘Izz al-Hanafi. Mereka melantunkannya hingga maghrib menjelang. Setelah maghrib, pengajian tentang sirah nabawiyyah, syamail muhammadiyyah, dan segala yang berkaitan dengan nabi berlangsung semalam suntuk hingga fajar menyingsing.

Mereka melantunkannya hingga maghrib menjelang. Setelah maghrib, pengajian tentang sirah nabawiyyah, syamail muhammadiyyah, dan segala yang berkaitan dengan nabi berlangsung semalam suntuk hingga fajar menyingsing.

Pada bulan Rabiul Awal ini masyarakat Mauritania memiliki tradisi yang sama seperti kita di bulan Syawal, yaitu memakai baju baru, silaturrahmi ke tetangga dan makan bersama. Menu utama di bulan Maulid ini adalah daging yang dimasak dengan bawang, dan dimakan bersama makaroni, atau couscous (dalam bahasa Berber), atau Maftoul (dalam Bahasa Yordania), yaitu sebuah makanan khas negara Afrika Barat yang terbuat dari gandum durum. Biasanya dimakan dengan daging, salmon, dan lauk lainnya.

Lain halnya dengan di Maroko. Kendati sama-sama terletak di bagian Afrika Barat, tradisi maulid di sana agak berbeda dengan Mauritania. Seperti yang diceritakan kawan saya, Zainal Arifin, yang sedang kuliah di sana, tradisi maulid di kota-kota besar sudah tergerus dan mulai hilang walaupun euforianya masih terasa. Masyarakat kota besar merayakannya hanya di tempat-tempat tertentu seperti kediaman syaikh, ataupun majelis-majelis yang mengadakan kajian keislaman. Masyarakat juga umumnya hanya sekedar merayakannya dengan makan-makan di rumah masing-masing.

Namun di pedesaan Maroko, tradisi Maulid masih terasa kental. Memasuki bulan Rabiul Awal, pengajian yang biasanya membahas fiqh, tafsir, dan ilmu-ilmu lainnya, diganti dengan kajian tentang sirah nabawiyyah dan syamail muhammadiyah. Kecintaan terhadap nabi benar-benar dibangun. Pagi yang dimulai dengan sarapan roti, keju dan manisan, lalu dilanjutkan dengan puji-pujian kepada Baginda Nabi. Setiap setelah salat, burdah dan syair Banat Su’ad karya Ka’b bin Zuhair RA dilantunkan. Suasana maulid benar-benar hidup dan meriah.

Perayaan dimulai dari tanggal 1 Rabiul Awal hingga 11 Rabiul Awal malam, dan pada hari ke 12 Rabiul Awal, justru suasana tidak seramai hari-hari sebelumnya. Seakan-akan, mereka mengisyaratkan bahwa pada hari kelahiran Nabi Agung ini, mereka ingin menyendiri dan mengekspresikan mahabbahnya kepada sang Rasul.

Sebagaimana ungkapan yang telah masyhur kita dengar ketika maulid menjelang: “Maulid tidak butuh dalil dari hadis sahih. Maulid hanya membutuhkan hati yang bersih.” Kita perlu membersihkan hati kita untuk selalu membaca kembali kisah-kisah dan perjuangan Rasulullah SAW.  Terlepas dari banyaknya qaul yang berbicara tentang hukum merayakan maulid, tetap saja, kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang mencintainya, tentu saja bergembira dengan kehadiran beliau di dunia ini. Dan sudah selayaknya kita bersyukur, karena dengan adanya Nabi Muhammad SAW, kita bisa mendapat anugerah nikmatnya Iman dan Islam.

Maulid Nabi besar Muhammad Shallallahu ’alayhi wa sallam merupakan kelahiran cinta, perdamaian dan kasih sayang yang menembus batas ruang dan waktu, bahasa, agama dan budaya. Adalah tugas kita sebagai penerus estafet untuk selalu melanggengkan apa yang diharapkan oleh Baginda nabi: Islam rahmatan lil’alamin.

Kairo, Rabiul Awal 1442 H.
Muhammad Khairuman Wahhada
Penulis adalah Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir, Fakultas Ushuluddin. Penyuka seni, sastra, filsafat dan kopi. Bisa bersua di instagramnya, @khoirumen