alan naik menuju Makam Girilaya itu memang mendaki. Hampir 70 atau 80 derajat. Kaki saya yang kecil-kecil kethawil-kethawil menaikinya satu demi satu. Sambil merem ngeden menahan pegalnya kedua lutut. Duh Gusti, beginikah pralambang berjalan menuju pulang ke haribaan-Mu? Ke dalam rengkuhan asih Sang Nabi SAW. Bahkan harus menyengaja ngaso, rehat, mengendorkan nafas, serta melemaskan kaki. Mendongak, memandang julangan tinggi daun-daun, pohon-pohon tak produktif, bangunan tak guna. Randu Alas, Mindi, Gayam, Nagasari, dan lain sebagainya. Tapi justru menjengkelkan para perambah kayu bangunan. Pasalnya pohon-pohon keramat begituan tak mahal jual. Malah banyak yang ketakutan dan menolak membelinya. 

Di Tegalganda, dekat Kotapradja, pohon Randu Alas keramat penyangga adat dan agama Islam di sana juga sekarang tumbang. Buruh-buruh gergajinya banyak yang mati. Atau mungkin juga sudah keluyuran di kotapradja, tempat para petinggi di sana pada linglung dan hilang pikir. Padahal mereka, para pejabat itu yang nyuruh berantas pikiran-pikiran penggiat agama-tanpa-adat. Pohon raksasa ratusan tahun tumbang; teronggok diam ketakutan. Penggergajinya juga bertumbangan. Mati tanpa upah. Meninggalkan anak-anak terlantar dan berceceran. Bahkan pimpinan-pimpinan negeri tumbang. Mati kuwalat terkapar, ketakutan. Tak satupun warga berani menghormat. Padahal di podium mereka pernah songar (sesumbar), “Nanti aku yang nanggung kualatnya!”

Eh….

Ada juga guru Londo (baca: Belanda) yang mencak-mencak menghina, merendahkan adat Jawa Nuswantara yang memang kurang entertein. Pidatonya garang di bale desa. Menuding-nuding seakan hendak menumpas keburukan. Meringkik jumawa seperti hendak mem-flushing tinja tengik di depan orang Nuswantara. Di atas lempengan tanah Jawa. Di tengah kerumunan bangsa lelembut Nuswantara yang hanya diam menahan luka dada. Di hamparan penuh berkah para arwah ngulama waliyullah, dan perlindungan Allah, serta Kangjeng Nabi SAW.

Habis sesongaran (baca: sesumbar) di bale desa, guru Londo itu belum lama ini rebah di atas dipan sejuk pegunungan. Meregang nyawa, melenguh, kemudian kaku. Matanya membelalak. Padahal guru Londo tadi punya sekolah perdukunan dan padepokan mistisisme di negaranya sana. Weh nganti tekan semono….

Juga Yang-Kung (baca: Eyang Kakung) pernah cerita tentang Rapeles (Raffles). Londo Inggris. Bikin seratan (baca: serat) yang aeng-aeng, aneh-aneh yang menyalahi embun-embun keramat selimut Nuswantara. Begitu pamitan, di London England sana kena pasal hukum. Harus mengembalikan seluruh biaya selama di Jawa di Nuswantara. Rapeles bingung silul. Otaknya kram, jiwanya keseleo, jatuh dari lantai dua rumahnya yang segera disita. Belulangnya retak-retak. Matanya itu lho! Sudah mati saja masih membelalak. Ada juga guru Londo yang lain. Ngajar di Tumasik. Ulah lagi ngarang babad Nuswantara Tanpajaya Tanparaharja. Terus didiktekan kepada guru-guru Jawa, lurah-lurah padepokan. Pak Carik saja nggak boleh hadir, karena bukan pekerja lulusan Holland Bakery: pabrik roti paling enak. Gandumnya itu lho. Biyuh digiling pakai kincir angin. Angin barat. Barat tempat kawah pendidikan para buto ilmu Baju-Barat. Saya saja ngeri kalau lihat wayang buto Baju-Barat. Bicaranya di-londo-londo-kan, kulitnya di-bule-bule-kan. Malah hidung cilik sedhengan, ikut dimancung-mancungkan. Katanya takut disebut Barat sebagai A-nose-ah, alias bangsa tak berhidung.

Wkwkwkwk…

Banyak Baju-Barat yang pikirannya dilumuri pemutih. Whitening. Semacam ramuan skala nano hi-tech pembentuk metodologi. Kalau sudah putih tinggal berpakaian Baju-Barat. Seketika saja jadi detya, jadi bangsa urakan; merasa jadi raksasa. Buto. Menghina leluhur. Menista tatakrama. Mencak-mencak, jumawa. Cekikikan, melecehkan. Kalau kalah argumen terus mengolok-olok adat Nuswantara. Katanya mengolok-olok itu ilmiyah. Weh, saat Pak Carik mengajak mengkritik metode-metode Dewa Barat, menggempur teorema-teorema sasar, mendadak para Baju-Barat terdiam. Malah ada yang nglimpe mundur terus kabur. Eh, kenapa ki sanak? Kurang sajen katanya. Nggak berdaya, mendadak telmi. Para detya Baju-Barat nglumpruk tak berdaya. Terus ajak-ajak ngobrol nyelamur. “Wheeeheh!” “Atu ola wani atu…” “atu pelo…” “atu ola ico celak”. Seketika cadel.

Guru Tumasik aja sekarang sakit aneh. Kalau kata Dewa-Barat kena cancer. Kalau kata Yang-Kung ya kena sapu-dhendha. Tersambar wewalat-nya adat luhur di Nuswantara. Karena masyarakat bersendi adat, dan adat bersendikan syara, syara’ bersendikan kitabolah. Gimana enggak penuh walat, wewalat, memalat, malati, alias membuat kualat. Pralambangnya saja bunga melati; kuncup suci mekar mewangi. Indah lembut menebari makam-makam, guwa-guwa, dan masjid-masjid keramat memalat Nuswantara maharaharja, lokajaya. Ditebari kabut lembut walat keramat karena penuh karomah, penuh karimun, rokimun….

Orang kampungan seperti Yang-Kung itu pasalnya nggak entertain. Tidak layak display. Tapi lembut, malati, harum mewangi, suci berbinar, asih Ilahi. 
Ya Allah, Ya Rosulallah, di makam keramat Girilaya bersemayam jasad-jasad suci para waliyullah Mataram. Ada Panembahan atau Sayyid Juminah, ada Sultan Cirebon eyang Panembahan Girilaya, ada eyang Panembahan Wirabrata. Juga ada waliyullah perempuan pengasih Mataram: Kangjeng Ibu Ratumas Hadi, ibunda Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma. Waliyullah perempuan pe-yasa batik motif Parang. Demi kemuliaan lam-alif kembar. Nafi lan isbat.

Peta Makam Girilaya, Yogyakarta. Dok: Herman Sinung Janutama
Peta Makam Girilaya, Yogyakarta. Dok: Herman Sinung Janutama

Ada batu keramat pemberian Kangjeng Sunan Kalijaga. Seperti hajar aswad di baitolah ka’bah. Nila rindu, Sinuhun Hanyakrakusuma hanya memeluk sembari bergumam, “Barokallah…” “Subekhanallah…” ribuan kali. Airmata beliau menetes. Menggenangi jirat makam ibunda. Menggenangi Sekaran sepi makam beliau sendiri sebagai Waliyullah, yang tak pernah berkenan dibangunkan sebuah cungkup. Tetes air mata beliau Hanyakrakusuma menggenangi keramat makam Girilaya. Menggenangi dan membasahi hati orang Jawa. Untuk setia kepada Gusti Allah, setia kepada Kangjeng Nabi SAW.

Laailahaillalwoh
Mukamat rosululwoh
Laailahaillalwoh
Ibrokim kolilulwoh
Laailahaillalwoh
Musa kalamuloh
Laailahaillalwoh
Adam sapiyuloh
Laailahaillalwoh
Ngisa rukuloh…..[]