Akar Sejarah “Jawa Islam” Desa Tambaknegara –Banyumas

Dari kejauhan, desa Tambaknegara, Banyumas tampak layaknya desa di Jawa lainnya, dikelilingi oleh rimbun pepohonan dan hamparan persawahan. Perbukitan berundak hijau mengapit desa bagai zamrud khatulistiwa. Jika orang melihat lebih dekat, niscaya mereka terpesona. Begitulah saya ketika tiba di Desa Tambaknegara, lebih tepatnya Grumbul Kalitanjung, pada tengah hari, tatkala jalanan beraspal dan kuik elang mengepak selurus surya. Desa Tambaknegara berada di Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Di sini, tinggal seorang “Jawa Islam”, Muharto namanya. Ia berumur, kurang lebih, 75 tahun. Saya berkenalan dengan Mbah Muharto setelah terlebih dulu membaca artikel dari langgar.co berjudul “Menziarahi Muharto, Sosok ‘Jawa Islam’ dari Kasepuhan Kalitanjung”. Darinya, saya tergoda untuk sowan ke rumahnya.

Tak sulit mencari tempat tinggalnya, karena Mbah Muharto sangat dikenal oleh masyarakat. Bagian depan rumah Mbah Muharto disesaki oleh jemur olahan singkong. Begitu saya mengucap salam, terdengar suara lelaki dengan nada berat berujar salam. Berbarengan dengan itu, pemilik suara muncul di ambang pintu dengan iket kepala berkilau diselimuti sinar matahari. Keriput di wajahnya tersepuh cahaya: ia tampak sumringah.

“Apa betul ini rumahnya Mbah Muharto”. Saya bertanya setengah bingung.

Saya bersalaman dan memperkenalkan diri lebih lanjut.

Mbah Muharto tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia semacam mengerti maksud kedatangan saya, sebab ia terbilang sering didatangi orang dengan tujuan sama: ngangsu kawruh (menimba ilmu/pengetahuan). Ia mempersilahkan saya duduk di risban menghadap meja tua. Ia pun duduk di depan saya sembari meracik rokok.

“Saya sedang sakit dari kemarin. Mau tidur, tapi batal. Ini sudah agak mendingan. Pertanda ada tamu, eh, ternyata sampean.” Ia berujar dengan riang seolah dirinya dalam keadaan sehat.

Mbah Muharto merupakan sosok kasepuhan “Jawa Islam” (Kejawen) yang berada di Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara. Kepada saya, Mbah Muharto bercerita perihal “Jawa Islam”.

Menurutnya, kejawen yang ia anut merupakan corak keberislaman yang disebarkan oleh Raden Watiswara (Sunan Panggung).

Sunan Panggung merupakan anak Sunan Kalijaga, sekaligus saudara kembar Dewi Wretiswari (Ibu dari Jaka Tingkir). Berbagai kajian menyatakan bahwa Ia merupakan penyuluh agama Islam cum penyuluh ajaran tasawuf bersifat heterodoks. Ia tak jauh berbeda dari gurunya, Syekh Siti Jenar, yang mengajarkan tasawuf dengan unsur-unsur sinkretik antara Islam dengan spiritual Jawa, utamanya tentang Manunggaling Kawula Gusti yang pantheistic: yakni perilaku tasawuf yang hanya mementingkan aspek batin atau kebatinan saja, mengutamakan hakekat dan mengabaikan syariat, ajarannya lebih mengutamakan karomah dan kesaktian dengan melupakan tata cara sembah yang benar, sebagaimana ditetapkan oleh syariat.

Sunan Panggung (Malang Sumirang)

Ajaran tasawuf dari Sunan Panggung tentunya vis a vis dengan para wali di kerajaan Demak. Ia kemudian mendapat pertentangan dari kerajaan Demak yang menyebarkan tasawuf ortodoks, yakni tasawuf yang dekat dengan syariat Islam, berupa karya sastra suluk bercorak pemikiran tasawuf di pusat Islam. Kata ortodoks berasal dari bahasa Inggris “orthodox” yang artinya “sesuai dengan aturan yang baku; dipraktekan lebih ketat” (Abdul Munir M, 1999). Sunan Panggung bernasib seperti gurunya. Ia mendapat hukuman dari kerajaan Demak sebagaimana dikisahkan dalam Babad Jaka Tingkir. Dikisahkan, Sunan Panggung, tatkala usia 17 tahun, telah memperoleh “Ilmu Sejati” dari Sunan Giri Prapen. Sampai-sampai ia mendapat ‘wahyu’ dan sama-sama sekehendak dengan Yang Maha Mengetahui. Dalam babad, tertulis: Sinung wahyu dinulur sakapti/ denira Hyang Manon.

Sungguh pun begitu, dalam baris kemudian, eulogi Sunan Panggung diinterupsi dengan gambaran yang berbeda. Ia dicandrakan sebagai sosok heresi berjuluk “Malang Sumirang”, yang berarti hanya mengikuti kemauan sendiri (ngungu karepe dhewe). Perilakunya berseberangan dengan syariat, seperti: tak mau sembahyang di masjid. Ia congkak dan provokatif. Ia juga memelihara dua ekor anjing bernama Iman dan Tokid. Hal ini mengingatkan saya akan sosok Kiai Mutamakin, Kajen yang juga memelihara anjing, binatang yang dianggap najis oleh kebanyakan muslim di Jawa. Perilaku Malang Sumirang tentu saja mengusik para petinggi agama di Demak. Sunan Kudus lantas memberi nasihat agar ia berada di jalan syariat. Tak berhasil, akhirnya dewan para wali bersepakat, Malang Sumirang harus menerima hukuman mati.

Syahdan, tiba saatnya di suatu hari yang cerah, Malang Sumirang diarak ke alun-alun Demak. Ia hendak dihukum bakar. Tak disangka, saat cerita sampai pada hukum bakar, hati saya bergumam. Nama lain seketika bangkit, menyeruak di ruang kepala: Ibrahim di Babylonia dan Mansur Al-Hallaj. Dalam Babad Jaka Tingkir, Malang Sumirang digambarkan sosok yang tak gentar dihukum bakar:

Malang Sumirang wus prapti 

           Millya lenggah anggene wali sosoran

Sonane alit binekta,

            Ngadhep ing ngayunireki,                        

            Malang Sumirang ayem neggih

Malang Sumirang tiba

Lalu duduk di tempat wali rendahan

Ia membawa juga anjing kecilnya

Yang menghadap di depannya,

Rona wajahnya cerah,

Benar-benar tenang

Sunan Kudus, sang eksekutor Syekh Siti Jenar dan Ki Pengging, kembali diutus Raja untuk membakar Malang Sumirang. Disaksikan oleh Sunan Drajat, beserta para ulama dan wali, adipati dan punggawa lain duduk berkeliling untuk menyaksikan eksekusi itu. Tak ayal, Sunan Kudus pun menyalakan api, setelah mengatakan bahwa tindakannya bersanding hukum syariat. Ia berujar: ‘ijma’ dan qiyas’ telah pasti, tak boleh bergeming walau se-rambut. Mendengar ini Malang Sumirang menjawab: “Sebelum aku dibakar, berilah aku kertas serta tinta”. Rupanya ia ingin menulis wasiat. Permintaan pun dipenuhi. Dan api unggun berkobar sebagaiamana digambarkan:

Melanda minyak dan reranting

Menjilat-jilat mengerikan

Api membumbung ke angkasa

Menggeram suaranya

Yang menyaksikan pun merinding

Tapi Si Malang Sumirang bergegas

Pamit sambil memberi salam.

Ia segera naikKe atas unggun di utara beringin kurung.

.

Tak ketinggalan anjingnya

Yang ikut di belakangnya

Setiba di atas unggun

Ia terjun ke dalam api

Dan sesampainya di tengah nyala

Ki Seh duduk bersila

Si anjing menghadap di depan

Tak terjemah oleh api

Lalu Ki Seh memerintahkan anjingnya.

.

Supaya kembali mengambil

Kertas, pena, dan tinta

Yang ditinggalkan di tempat duduknya

Yang akan ia gunakan untuk menulis.

Si anjing pun degan cekatan kembali

Tiba di tempat semula

Lalu mengambil kertas

Serta pena, tinta, yang ketinggalanDan masuk kembali ke julangan api.

Malang Sumirang pun segera

Mulai menulis

Ditengah-tengah kobaran api.

Sungguh pun begitu, Malang Sumirang tak termakan api. Ia seperti Ibrahim dilemparkan ke dapur api, tetapi diselamatkan oleh malaikat Jibril dan api pun berubah jadi taman mawar. Di tengah kobaran api, ia muncul dan menghasilkan karya tulis (suluk). Diiringi anjingnya yang membawa karya tulisnya, ia kembali duduk dalam majlis. Si anjing juga duduk, menjunjung tulisan tuannya bersama tinta dan pena. Karya tulis Sunan Panggung itu kelak bernama “Suluk Malang Sumirang”. Suluk itu kemudian dibacakan oleh seorang ‘juru pamaca’ yang disuruh Raja untuk mengumandangkannya ke publik hari itu juga. Sedangkan Malang Sumirang lantas meninggalkan alun-alun, pergi meninggalkan kraton, para wali, dan puak yang membakarnya. Ia beruzlah ke hutan lebat kalampiasan, tempat yang wingit, sepi, asing dari manusia.

Suluk Malang Sumirang

“Kisah Malang Sumirang memuat banyak pasemon ujar Mbah Muharto sembari mengepulkan asap kretek. Sejenak saya terpikir akan makna pasemon, lebih tepatnya sinonim berupa “metafor”. Kata ‘semu’ berarti ‘perlambang’, atau alegori. Maka salah benar bila metafor diterima sebagai konsep. Kisah Malang Sumirang yang dihukum bakar oleh Sunan Kudus (atas perintah Raja Demak) merupakan preseden benturan dalam kehidupan agama yang pada akhirnya membentuk dikotomi klasik: di satu sisi, penegak syari’at sebagai penyangga kekuatan iman, di sebrangnya, mereka yang lebih cenderung ke tasawuf sebagai praktis ketulusan iman. Adapun Sunan Kudus, ia merupakan orang yang berpikir legalistis, menegaskan hidup keagamaan sebagai arsitektur sosial, dengan aturan yang pasti, dengan kepemimpinan yang jelas, dan dengan semangat untuk mengukuhkan konsolidasi secara kontinyu.

Bagi Sunan Kudus, sosok Sunan Panggung tak ubahnya sebagai pendosa yang “melembek-kan” Islam. Sunan Kudus adalah seorang yang hendak menegakkan agama sebagai komunitas yang kukuh, seorang yang mendukung tata sosial dan politik yang mengayomi Kerajaan Demak. Mau tak mau, penolakan dari Sunan Panggung untuk mengukuhkan komunitas itu, dipersepsikan Sunan Kudus sebagai sikap yang anarki dan membangkang. Ia layak dilumat dalam api. Dalam hal ini, api dan altar Malang Sumirang dalam menulis suluk adalah pasemon (metafor). Api dapat bermakna sebagai energi destruktif, namun bisa juga bersifat menggerakan. Pasemon (metafor) api menurut Mbah Muharto: Api itu An-nar (panas) atau An-Nuur (cahaya). Saya mengamini perkataan Mbah Muharto. Api merupakan metafor yang kuat, dengan arah yang beragam.

Api adalah terang, dan terang itu bisa menyingkirkan nuansa. Batas antara hitam dan putih jadi terlampau tegas. Panas bisa menjadi sekutu dari hitam, dan terang bisa menjadi sekutu dari putih, yang memberi kekuatan untuk menguasai sepenuhnya ruang yang ada. Dengan kata lain, api adalah pasemon (metafor) dengan dinamikanya sendiri, mulai dari Ibrahim, Mansur Al-Hallaj hingga Sunan Panggung. Sungguh, sejarah berkali-kali mencatat pembinasaan atas keyakinan, (atau karya: sastra; suluk) hanyalah sia-sia belaka, kata Goenawan Mohamad. Pemusnahan justru menjadi pemicu munculnya daya yang lain, daya baru, dari dalamnya. Tak jarang sang korban; tokoh; ajaran; karya sastra jadi bercahaya. Ia menarik perhatian dan memberi “pencerahan”.

Anjing peliharaan Malang Sumirang juga berlaku sebagai pasemon (metafor). Sunan Panggung atau Malang Sumirang, dikisahkan menyuruh anjingnya ikut menyiapkan dan membawa Suluk Malang Sumirang. Tampak di sini bahwa Sunan Panggung agaknya memposisikan karya suluknya bukan sebagai karya yang adiluhung. Karyanya bergerak di bawah, di lapisan yang dihinakan, bukan majelis orang-orang di atas. Walaupun begitu, preseden tersebut memunculkan sebuah metamorfosis. Sang anjing cenderung menjunjung karya suluk itu sebagai lambang kebesaran. Kejadian ini terjadi pasca Malang Sumirang, tuannya, keluar dari api dengan sambutan bagaikan Rin Tin-Tin. 

Sang anjing pun duduk sembari membawa laiknya tanda kebesaran: Tulisan, tinta, dan pena. Di momen itu, Suluk Malangsumirang  sebagai karya sastra yang bersifat ‘subversif’ berada di ambang perubahan ‘sastra agung’, di mana mereka yang rendah di bawah hanya ikut ngampil-ampil. Tapi untunglah, kisah tak berhenti di sini. Pembacaan suluk itu dihentikan, dan kemudian Malang Sumirang menjelang ke dalam hutan Kalampiasan yang wingit. Hutan Kalampiasan menjadi pasemon terakhir. Dalam hutan itulah, ia sendirian, yang singular, yang tak dihimpit oleh desakan merayakan komunitasnya.

Penceritaan Mbah Muharto semakin seru. Ia menyodorkan kepada saya perihal Kitab Menyuri. Kata menyuri merupakan akronim dari me: menuju dan  nyuri: sunyo ruri (kematian). Kitab tersebut memuat berbagai kumpulan suluk, diantaranya:  Suluk Syekh Abdus Salam, Suluk Linglung, Suluk Kentrung, Suluk Rancang, dan Suluk Malang Sumirang. Kitab ini menjadi semacam pedoman bagi para penganut “Jawa Islam” desa Tambaknegara. Kitab Menyuri bertuliskan aksara Jawa, dan saya tak dapat membacanya. Kitab itu dipegang teguh oleh para “Jawa Islam” dan sesekali dibaca sebagai rapalan untuk hadiah orang yang sudah meninggal.

Dalam pada itu, terbesit pertanyaan besar menggantung: siapakah gerangan penyebar “Jawa Islam” di Desa Tambaknegara? Di tahun berapakah penyebaran itu berlangsung? Mbah Muharto lantas menjelaskan bahwa sosok penyebar “Jawa Islam” Desa Tambaknegara yakni “Mbah Agung”.  Perihal nama Mbah Agung, lengkapnya adalah sebuah nama yang tak boleh dijelaskan pastinya. Hal ini menjadi pamali jika ada orang yang membeberkan identitas dari sosok Mbah Agung. Ia menjadi tokoh sakral dalam penganut “Islam Jawa” Desa Tambaknegara. Pengisahan Mbah Muharto, jika ada yang membeberkan identitas dari Mbah Agung, orang tersebut bisa mengalami hal irasional, semacam didatangi ruh dari Mbah Agung. Ihwal kedatangan Mbah Agung, belum diketahui secara pasti, karena tak ada sumber catatan sejarah. Namun, menurut Mbah Muharto, sosok Mbah Agung datang sekira paruh abad-15. Uniknya, sosok Mbah Agung tak sendiri. Ada 3 makam sosok Mbah Agung di desa ini yang karib disebut: Mbah Agung Wetan, Tengah, Kilen (ngulon).

Mungkin, salah satu cara mengetahui ihwal sosok “Mbah Agung” dapat menggunakan cara pendekatan tipe-tipe makam atau pendekatan antropologi.  Sehingga dari tipe makam Mbah Agung dapat diidentifikasikan mulai dari tipe batu nisan, prasastinya, dan sebagainya. Sampai di situ cerita saya dengan Mbah Muharto hari itu, dan kami berjanji akan melanjutkan kesempatan lain hari. Saya meminta jika Mbah Muharto sudah sehat, ajaklah saya pergi ke makam “Mbah Agung”. Semoga. 

Chubbi Syauqi
lahir di Banyumas, 1 Maret 2000. Dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto. Dia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan (HMJ MPI), dan tergabung dalam anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta terdaftar sebagai anggota Sastra Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto.