Dewasa ini, banyak masyarakat yang salah kaprah dalam hal menilai eksistensi tradisi-tradisi kebudayaan yang masih bertahan. Kalau dicermati, penilaian itu umumnya bersifat sangat parsial, tidak dilandasi argumentasi yang cukup baik. Wajar saja, karena penilaian itu umumnya berasal dari komitas di luar komunitas pendukung tradisi budaya tersebut. Lalu bagaimana mungkin, mereka yang berada di luar bisa lebih memahami tradisi yang tidak pernah mereka lakukan?

Satu kali saya berksempatan mengikuti acara nyiwak (baca: tradisi tahlilan kematian  di malam ke-9) di Dusun Bangket Tengak, Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.

Dari awal sampai akhir acara, semua berjalan seperti biasa. Hingga selang 10-15 menit, setelah jamaah tahlilan, bubar. Dua lelaki dewasa menggotong (memindahkan) kayu batangan ke halaman depan rumah, ke sekitar tempat kami melaksanakan zikiran, sebelumnya. Sepertinya, kayu tersebut merupakan kayu bekas tiang rumah yang sudah tidak terpakai lagi. Panjangnya kira-kira 2,5 meter.

Tidak lama setelah kayu itu di letakkan memubujur, kemudian datang beberapa orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, mengelilingi kayu tersebut. Masing-masing dari mereka, membawa tongkat (kayu lain dengan ukuran lebih kecil), yang akan mereka pergunakan untuk memukul kayu batangan itu.

Beberapa saat kemudian mereka mulai mukul-memukul kayu itu. Layaknya seperti penabuh genderang atau kentungan secara bersamaan, mereka terlihat berusaha saling mengimbangi atau mengatur ritme ketukan agar menghasilkan bunyi yang harmonis.

Kegiatan itu mereka namai ngerantok. Ini adalah kali pertama bagi saya menyaksikan langsung tradisi ngerantok. Karena sebelumnya, saya hanya mendengar cerita tentang keberadaanya dari orang lain saja.

Terdesak oleh keiginan untuk mengetahui lebih jauh, di sela-sela menikmati bunyi-bunyian kayu yang dipukul, saya menyempatkan diri mengajukan beberapa pertanyaan mendasar kepada tokoh masyarakat setempat yang kebetulan duduk di samping saya. Adalah Haji Bahtiar, tokoh masyarakat berusia 50-an tahun yang bersedia menceritakannya kepada saya.

Menurut keterangannya, tradisi ngerantok untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh De Side Wali (sebutan penghormatan atas keutamaan Waliyullah) yang datang menyebarkan Islam ke Pulau Lombok. Dan seperti pada umumnya di tempat lain, De Side Wali memanfaatkan pendekatan kultural sebagai medium penyampaian dakwahnya.

Hingga saat ini ngerantok masih dijalankan oleh komunitas kecil, masyarakat Suku Sasak di wilayah Sukarara atau Kecamatan Jonggat saja. Ngerantok hanya diselenggarakan manakala ada warga masyarakat setempat yang meninggal. Tepatnya di malam ke-9 atau malam terakhir usai acara tahlilan di rumah duka. Ngerantok diselenggarakan berkali-kali dengan durasi yang disesuaikan. Batas waktu pelaksanaannya hingga menjelang pagi hari.

Seperti pesan kematian, makna esensial dari tradisi ngerantok yang diperkenalkan oleh De Side Wali memiliki tujuan didaktis, untuk mengingatkan masyarakat yang masih hidup, dengan cara mengilustrasikan kembali asal usul, arah dan tujuan hidup manusia di dunia ini.

Namun, tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya ini, dalam tiga atau empat dasawarsa terakhir, tata pelaksnaanya telah mengalami evolusi yang cukup “radikal”.

Jika pada mulanya tradisi ngerantok yang diajarkan oleh De Side Wali, berupa aktivitas menumbuk beras, menggunakan alu dan lesung (alat penumbuk padi). Maka dewasa ini tradisi ngerantok hanya cukup diwakili dengan memukul-mukul kayu batangan saja, seperti yang saya saksikan.

Menurut keterangan Haji Bahtiar, metamorfosis ini merupakan salah satu bentuk atau upaya masyarakat pendukung tradisi ngerantok mempertahankan warisan De Side Wali yang bernilai luhur agar tidak punah seperti di tempat-tempat lain.

Di sisi lain, perubahan ini merupakan pengembangan yang diupayakan oleh masyarakat pendukung tradisi keagamaan atas pergeseran zaman, yang secara tidak langsung menuntut mereka meninggalkan tatanan sosial, berbasis kebudayaan.

Dengan kata lain, hal ini semacam bentuk adaptasi baru dari konversi besar-besaran yang memaksa mereka meninggakan alat-alat produksi konvensional, penunjang aktivitas keseharian mereka yang harus digantikan dengan mesin modern berteknologi mutakhir.

Sayangnya, “moderentitas” yang konon menjanjikan efisiensi dan efektivitas seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional ini kurang inklusif. Mesin-mesin itu, tidak mampu menyelamatkan vitalitas kearifan lokal yang menjadi sendi-sendi kehidupan masyarakat tradisional sepenuhnya.

Oleh karenanya, tidak heran jika manifestasi dari tradisi ngerantok dewasa ini, yang dilaksanakan dengan cara memukul kayu batangan, sepintas nampak tidak memiliki pertalian dengan prakti tradisi ngerantok di zaman De Side Wali yang menggunakan alat penumbuk padi.

Kata Haji Bahtiar, ngerantok zaman dahulu dan zaman sekarang, pada prinsipnya hanya dihubungkan dengan penanda berupa “bunyi-bunyian”. Bunyi memukul kayu batangan diasumsikan ekuivalen dengan bunyi menumbuk beras menggunakan alat konvensional dalam tradisi ngerantok di era sebelumnya.

Makna filosofis Tradisi Ngerantok.

Erni Budiwanti, Peneliti LIPI yang consern mengkaji budaya Suku Sasak menilai bahwa, gerak ontologis yang dipahami oleh masyarakat Suku Sasak, cenderung mengacu pada konsep kosmologi atau pokok ajaran yang diterima dari De Side Wali, berupa konsep “oposisi biner” atau dua entitas yang berlawanan namun berpasangan satu sama lainnya (AICIS: 2013).

Paling mudah, ilustrasi konsep oposisi biner ini dapat dicermati dari dua jenis bubur yang populer di kalangan masyarakat tradisonal Suku Sasak, yakni bubur putih dan bubur merah. Dimana “bubur putih” diasumsikan sebagai representasi dari sperma laki-laki, sedangkan “bubur merah” adalah representasi darah haid perempuan (menstrual blood). Putih dan merah dalam konteks ini mengilustrasikan konsep oposisi biner, yang semakna dengan istilah: lahiriah-batiniah (raga-jiwa), Adam-Hawa, awal-akhir, kelahiran dan kematian.

Dalam tradisi ngerantok yang lebih awal, baik alat maupun bahan yang dipergunakan mengandung makna filosofis yang linier dengan konsep oposisi biner tersebut.

Seperti keterangan Haji Bahtiar, tradisi ngerantok memiliki pesan untuk masyarakat Suku Sasak yang masih hidup, agar senantiasa mengingat asal usul kejadian, arah dan tujuan hidup mereka di tengah-tengah musibah, kematian.

Karena dengan demikian, masyarakat yang benar-benar menghayati pesan terpenting dari penyelenggaraan tradisi ngerantok akan selalu ingat kodratnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang lemah. Dan sudah sepatutnya manusia yang lahir dari jalan “Rahman dan Rahim Tuhan”, maka lewat jalan itulah ia pantas kembali.

Kiranya poin ini, layak disejajarkan dengan konsep Sangken Paraning Dumadi dalam Tradisi Jawa. Atau Innalillahi Wainna Ilaihirojiun dalam Ajaran Islam.

Di kalangan masyarakat Suku Sasak, ajaran tentang asal usul manusia, secara simplisitis dapat diilustrasikan lewat peristiwa penumbukan beras dengan alat konvensional.

 

Sederhananya, “lesung” dan “alu” menyimbolkan kelamin laki-laki dan perempuan. Sedang prinsip kerja dari menumbuk beras menjadi tepung adalah simbol dari persenggamaan yang menghasilkan sperma laki-laki. Kemudian “tepung” yang dihasilkan ini nantinya dimaknai sebagai simbol, bahan baku untuk membuat bubur putih dan bubur merah.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, “bubur putih” dan “bubur merah” merupakan pengandaian untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang sejajar maknanya dengan konsep oposisi biner “kelahiran” dan “kamtian”.

Begitu sederhananya konsep kosmologi, oposisi biner yang terkandung dalam tradisi ngerantok, sehingga membuka peluang untuk perumpamaan “alu” sebagai simbol kelamin laki-laki dan “lesung” sebagai simbol kelamin perempuan ini. Ditafsirkan, oleh kalangan akademisi, sejajar maknanya dengan istilah “lingga” dan “yoni” dalam tradisi Singkretisme Hindu-Budha.

Saya pribadi tidak akan mempersoalkan atau melakukan penyangkalan terhadap anggapan tersebut. Hanya saja saya menilai bahwa pokok-pokok ajaran agama memang cenderung bersifat universal. Sehingga ada banyak entitas yang berpasang-pasangan, bisa dijadikan sebagai rujukan untuk “konsep oposisi biner” ini. Walaupun, seumpama, permisalan itu tidak datang dari ajaran agama tertentu. Seperti, keris dan warangka, misalnya.

Bagi saya cukuplah tradisi keagamaan, warisan De Side Wali ini sebagai bukti (kontribusi) Agama Islam dengan nilai universal yang dibawanya, dapat dengan mudah menyatu bersama tradisi Suku Sasak yang bersifat partikular.

Barangkali hal ini juga sejalan seperti yang telah disinggung oleh Gus Dur, bahwa ajaran “Ma Lima” yang berkembang di kalangan, kelompok Islam “abangan” Jawa, kemudian dijalankan juga oleh kelompok Islam di lingkungan pesantren. Bukan dengan alasan agama tetapi sangat mungkin karena alasan budaya, misalnya ketaatan kepada kiai atau orang tua. (Abdurrahman Wahid, 109:2001). Wallahualam.