TAGORE, DI SEBUAH GUBUK DI MUNDUK

CALCUTTA, lima ratus tahun sebelum Rabindranath Tagore menulis satu sajaknya yang manis, “Berhentilah berdendang, berhentilah bernyanyi, dan berhentilah menghitung lokan-lokan. Dan siapakah itu yang selalu memuja-muja di sudut kuil sunyi gelap, sedang pintu tertutup? Bukalah mata dan lihatlah, Tuhan tak ada di hadapan. Di mana petani meluku tanah keras, di mana pembuat jalan memukul batu, dan pakaiannya dilekati debu, di situlah Dia,” dalam Gitanjali, adalah kota lama.

Kereta kuda berkeliaran mengepulkan debu tipis, cambuk-cambuk rotan melecut punggung mereka yang kurus. Waktu itu belum ada trem, bus, serta mobil bagus. Para bangsawan, kaum brahmana, anak cucu keturunan raja, dan saudagar-saudagar kaya ke mana-mana menaiki tandu yang disepuh emas dan pergi mandi dalam air beraroma kayu gaharu.

Waktu itu, Calcutta belum jadi metropolis modern, tetapi desa yang nyaman dan hijau. Di mana hari-hari berlalu dengan santai, dengan hangat — belum ada beribu-ribu orang yang diburu-buru waktu kerja, cemas, berkeringat. Bisnis tak sesibuk, mahal dan kompleks, dan mengungkung seperti sekarang ini. Calcutta di abad ke-21 sudah jadi kota dagang raksasa yang tunggang-langgang, jorok, dan sarat beban. Ia tidak lagi indah. Tak lagi sehat. Meski masih sering dijumpai durwan membawa tongkat berbalut kuningan, merpati yang hinggap di atap-atap rumah, angin yang tak berhenti berhembus, dan daun-daun yang jatuh di gigir jalan. Calcutta tetap terlihat suram, kotor dan buruk, menyesakkan.

Meski masih sering dijumpai durwan membawa tongkat berbalut kuningan, merpati yang hinggap di atap-atap rumah, angin yang tak berhenti berhembus, dan daun-daun yang jatuh di gigir jalan. Calcutta tetap terlihat suram, kotor dan buruk, menyesakkan.

Mungkin karena itulah Tagore tak menyukai tiang-tiang besi yang dipernis, Calcutta dengan segala hiruk-pikuk dan gang-gangnya yang amis, dan ingin bertahan pada akar-akar wangi di luar tembok kota. Mungkin karena itu pula aroma kehidupan desa, langit yang merah dan lembah Kashmir yang indah, terlihat jelas dalam sajaknya.

Biarlah kubuat hidup sederhana

Lurus bagai suling gelagah

Supaya bisa Engkau isi

dengan nyanyi, dengan kasih

Alam adalah penjaganya yang lembut dan kudus.

Dan saya kira Parta Chaterjee benar ketika ia harus melukiskan pemikiran Tagore: duduk di atas debu, bermain dengan ranting patah sepanjang pagi, tapi sajaknya meneduhkan batin kita dari apa yang kasar dan yang keji.

Di Calcutta yang penuh orang papa, hina, dan melarat itulah kakinya terampu. Terikat buat selamanya. Ia melihat lelaki tua penarik rickshaw yang menghisap hokah dan sirih di siang yang terik. Anak-anak yang berlarian di lorong-lorong dengan kaki penuh koreng dan perut keroncongan. Anjing yang kurus kering. Seorang sadhu dengan jenggot lebatnya. Rumah-rumah jembel penderita kusta. Perempuan-perempuan yang membawa kendi berisi dadih dan lekas membalikkan punggung, menyembunyikan wajah dengan cadar kumalnya, bila bertemu lelaki yang belum dikenalnya.

Seorang sadhu dengan jenggot lebatnya. Rumah-rumah jembel penderita kusta. Perempuan-perempuan yang membawa kendi berisi dadih dan lekas membalikkan punggung, menyembunyikan wajah dengan cadar kumalnya, bila bertemu lelaki yang belum dikenalnya.

Tapi di zamannya, orang tak perlu terlanjur akrab untuk diterima sebagai tamu, selalu ada ranjang tersedia dan sepiring nasi dan seketel teh bagi siapa pun yang kebetulan datang berkunjung. Dan waktu itu para pembunuh macan Benggali masih banyak, mereka suka menyempatkan diri buat bertamu, dan amat dikagumi penduduk.

Di rumah leluhur yang besar, kuno dan agak tertutup, yang dindingnya dipasangi pedang dan perisai yang sudah karatan, dengan kebun yang luas dan deretan gentong tempat air, Tagore lahir. Di sanalah, ia mengulang-ulang sloka dalam Upanisad, ia mulai mendaras Ramayana dan Mahabharata, kitabnya, lagunya, semuanya — namun ia bukan Naradmuni yang bisa hafal semua sloka Ramayana. Ia juga membaca drama-drama Shakespeare dan tulisan Walter Scott dengan hati gembira. Kemudian hari, ia begitu menyukai karya-karya Kalidasa, ia mulai menerjemahkan Macbeth, dan mulai menulis puisi-puisi kerinduan.

Dan ia memang menjadi penyair. Tagore kecil, anak seorang kaya itu, yang selalu punya keinginan kuat untuk bolos sekolah, yang sering berbaring di atas atap rumahnya, benar-benar mabuk “anggur puisi”. Ia menikmati kesendiriannya, di sudut rumah, di sembarang tempat, dan sejak itulah buku catatannya berisi sajak. Di sekolah ia mulai membaca puisi-puisinya di hadapan teman-teman sekelasnya. Di musim semi, waktu air Sungai Gangga jernih, ia akan pergi ke sana mengambil air banyak-banyak dalam tempayan kuningan dan setelahnya akan menulis sajak. Saya masih ingat sajak bagus yang ditulisnya tentang itu. “Sekarang telah tiba waktu bagiku buat pergi ke sungai, mengisi kendi. Di semak-semak sunyi, ketika tak ada lagi orang berjalan, angin menaik, dan di sana, di rakit bambu, dalam sampan kecil itu, seorang bermain dengan serulingnya,” tulis Tagore.

Bagaimana Tagore bisa menaruh hati dengan alam, dengan lampu-lampu minyak jarak di setiap ruangan, dan lebih menyukai menyiram pohon apel kesayangannya di pot daripada mengikuti pelajaran berhitung, saya tidak tahu. Apakah ia kesepian? Saya juga tidak bisa menjawab. Apakah dia geram dengan sekolah yang merampas kemerdekaannya? Entah. Tak begitu jelas. Saya tak tahu apa yang dipikirkannya.

Saya hanya sedikit mengerti: atap tanpa pagar di kamar-kamar luar rumahnya itu adalah bilik kesukaannya. Ia akan naik diam-diam. Ia habiskan banyak hari dalam kecamuk perasaan dan pikiran di sana. Ia memerhatikan ayahnya yang sedang duduk di beranda, orang yang lalu-lalang di jalan, penjual gelang, dan penjaja es kulpi kesukaannya, yang meneriakkan dagangan sepanjang hari, burung dara yang naik ke angkasa dan menjerit. Mungkin juga dilihatnya para dewa dan didengarnya sesekali bel sepeda dari sana dan sebuah kapal yang akan membawanya berlayar melintasi Teluk Benggala. Menyeberangi lautan dan benua. Menembus arus hidup yang luas.

“Aku menyukai tempat ini lebih dari banyak sudut lainnya di rumah,” katanya. Tempat itu lengang. Tak ada deru mobil yang keras. Hanya suara angin, udara yang bergetar dalam panas. “Di sini ada kegembiraan kecil,” kata Tagore pula. Dan setidaknya bisa menghibur diri sambil makan kembang gula berlapis wijen yang suka dibelinya dari pasar.

Tapi tentu tak semua orang seperti Tagore. Menyukai atap, dikerumuni semut hitam, dan tahan dengan kesepian. Hidup enak, hidup bahagia, dunia yang asyik dan tidak membikin kecewa, bisa makan nasi kari ikan dan semur telur puyuh dengan kenyang, tentu tak hanya berpusar di sana, duduk di atap, kita pun tahu itu. Tagore juga tahu itu.

Ia toh, ketika lelah, ketika sore hampir gelap, akan masuk ke dalam dapur. Melihat para pembantunya yang duduk takzim dengan panci-panci penuh pasta dan bulatan kedelai. Wanita yang mengangkat pakaian dari tali jemuran serta meja yang sesak oleh basung-basung berisi camilan goreng. Ia juga melihat kerabat perempuannya yang mengiris-iris mangga hijau yang akan dibikin asinan dan acar. Ia sendiri suka mengiris buah pinang dengan sangat tipis. Kadang ia bertolak ke Gazipur, duduk di bawah pohon tua, sekadar mendengar bunyi air yang mengalir ke dalam taman.

Ia juga melihat kerabat perempuannya yang mengiris-iris mangga hijau yang akan dibikin asinan dan acar. Ia sendiri suka mengiris buah pinang dengan sangat tipis. Kadang ia bertolak ke Gazipur, duduk di bawah pohon tua, sekadar mendengar bunyi air yang mengalir ke dalam taman.

Ketika bola-bola manisan dibuat, ketika para pelayan duduk petang hari memilin sumbu-sumbu minyak pada paha mereka, dan terdengar suara menumbuk di dalam rumah, dan mereka membawa keranjang berisi bunga Marigold ke dalam kuil keluarga. Bunyi tambur tukang sulap. Seorang pawang yang bermain dengan ularnya. Anak-anak yang mengusir gagak. Jangkrik disemak yang mengerik. Itulah hal-hal kecil di bawah atap yang disukai Tagore.

“Penyair tak hidup dengan berpuluh-puluh pamflet, berpuluh-puluh rasa takut dan curiga, dan sejarah kehidupan saya tak penting buat dicatat”. Itu kata-kata Tagore kepada Mohan Neogi 10 Agustus 1904 lalu. Adakah itu berarti Tagore hidup dan menulis dalam lingkungan di mana seni dan pengalaman mengenai yang indah, yang lembut, dan yang membuat hati tergetar sepanjang jalan, diletakkan di atas segalanya.

Saya kira begitulah. Tapi juga ada masa ketika ia harus bicara mengenai “bangsa yang saling ketakutan, intai mengintai, seperti binatang buas malam hari,” nasionalisme barbar yang menebar benih rasa ngeri, rakus, dan curiga.

Dan toh kita tahu Tagore tak bisa menolak, ia dikagumi, dan hidup pribadinya akan selalu disoroti, dan menarik banyak orang. Salah satunya Suniti Kumar Chatterji, dosen muda di Universitas Calcutta itu, mengisahkan Tagore dalam bukunya yang menarik The National Flag (1944). Di sana ada berpucuk-pucuk surat Tagore yang ditulis dari geladak kapal. Apa isi surat itu? Bukan laut biru langit biru, bukan pula malam sebelum badai, musim semi, dan suara cemara yang dirindukannya.

Ia menulis negeri yang tidak pernah dilihat sebelumnya, desa-desa nun di seberang India: Buleleng, Bangli, Karangasem, Gianyar, Badung. Dan di sana, di kebun istana, di sebuah gubuk, paviliun, jamuan makan malam, dan hari terakhir upacara pemakaman, ngaben, ia lihat “jejak-jejak retak” Hinduisme yang kehilangan asal-usul, tenggelam dalam jarak, dan terhalang bentang laut, tebing sungai dan ujung pesisir. Pada akhirnya ia saksikan India yang lupa wilayah miliknya dan tetek-bengeknya di luar kastil-kastil merahnya di Rajput.

Sejarah kemudian bercerita, waktu Tagore ke Bali — dan diabadikan oleh Arnold Bake — itu bukan perjalanan pertamanya ke luar India. Ia pernah pergi ke Inggris, di usia 17 tahun. Melawat ke Burma, Sri Lanka, Cina, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, dan banyak negara di Timur Tengah, Eropa, Amerika, naik kapal dari Madras, sesaat setelah diganjar Nobel Sastra. Dan beberapa orang berhimpun di dekatnya, Surendranath Kar, Dhirendra Krishna Dev Barman, Aryanayakam, Suniti Kumar Chatterji dan Arnold Bake.

Di Bali, yang waktu itu masih penuh belukar, yang hanya sebentar disinggahinya, selama dua minggu, ia menyapa para raja, pandita, dan teman-teman barunya, Samuel Koperberg dari Institut Jawa, Walter Spies, pelukis terkemuka, R. Goris, seorang ahli budaya Bali. Ia bicara tentang zaman purana dan mantra gayatri dan membandingkan ngaben dan sraddha. Dan yang pasti: mencari dana amal Gedung Visma-Bharati dan mengisahkan Santiniketan.

Tagore mungkin contoh dari pribadi yang tahu mana yang jadi haknya dan mana yang bukan, yang tak berpikir menjaga kastanya, dengan kukuh, dan ingin lekas menghindar dari dunia luar yang kotor. Saat ia masih kecil, saat ia begitu benci dengan bangku dan meja sekolah yang kaku sesak, ia keluar dari sekolah. Tapi, di masa tuanya, ia membayarnya dengan mendirikan “Ashram” Santiniketan.

26 Agustus 1927, Tagore tiba di pelabuhan Buleleng. Seorang asing, Samuel Koperberg, telah lama menunggunya di bandar, lalu membawanya ke Bangli dan Karangasem. Pada hari itu, Buleleng, Bangli, Karangasem belum banyak dilapisi beton keras dan asap mesin yang membumbung tinggi ke langit. Tetapi matahari yang hangat masih menyinari kolam dan daun-daun hutan di kejauhan yang dihela angin. Tagore di samping berdiskusi dan berfoto dengan seorang aristokrat, Agung Gusti Bagus Jelantik, dan bermalam di Istana Tampaksiring dan berkeliling Gunung Kawi, ia juga melihat perempuan menari Legong dan para purohita tantris yang ingin belajar mantra gayatri  darinya dan juga membacakan doa veda untuk mereka. Dan tentu saja memenuhi undangan keluarga Puri Ubud: Melihat mayat dibakar.

Tapi, setelah melihat arak-arakan besar itu dari dekat, ia begitu kaget, ia kemudian tahu bahwa ngaben di Bali merupakan gabungan antara dua tradisi berbeda: Cina dan India. Dalam surat yang ditulisnya di Gianyar, 31 Agustus 1927, seolah ia ingin mengukuhkan kenyataan itu: Festival besar ini, dengan dekorasi berlimpah, musik yang bertalu-talu, dan bernampan-nampan makanan enak, lebih mirip Cina. Cuma mantra-mantra yang terucap dari mulut yang khas Hindu. Benar bahwa orang Bali mengambil tradisi bakar mayat dari Hindu, tapi tampaknya tidak sepenuh hati. Mereka berpikir soal jiwa yang melampaui dan berbeda dari tubuh, setelah kematiannya, dan ingin mencapai kebebasan dari segala keterikatan akhir dengan membuatnya jadi abu di satu sisi, dan, di sisi lain mereka kerap mengubur mayat tanpa dikremasi selama bertahun-tahun.

Dan, 8 September 1927, di sebuah gubuk di Munduk dengan patung Ganesha dan lukisan desa yang menggambarkan Dewi Kali, di hari terakhir Tagore di Bali, tidak ada yang lebih memasygulkannya ketimbang itu. Dan ia mengisahkan ngaben. Ia ceritakan “abad datang, abad lalu, dan selalu ada hati buat diisi”. Di Munduk, dan sehabis makan manggis, penyair itu merasa tidak berdaya, ia renungkan segalanya, entah apa dan siapa, lewat kata, kata, kata… yang setidaknya bikin saya limbung.

Jika Engkau tak berkata

akan kuisi hati dengan keluh-Mu dan menanggungnya

Aku akan diam

dan menanti seperti malam

dan suaramu akan melanda langit

jatuh ke dalam arus emas dan parit-parit

Kata-katamu akan membubumbung

sebagai nyanyian, sebagai kidung agung

dari segala burungku

Dan nyanyian-Mu

akan terbuka seperti bunga

dari segala ngarai hutanku dan sungai bening di bawahnya

Agus Rois
Agus Rois Lahir 26 Januari 1983 di Cirebon, Jawa Barat. Pernah kuliah di Universitas Sebelas Maret, Universitas Padjadjaran, STF Driyarkara, tapi tak sampai tamat. Lalu, 2003, melanjutkan pendidikannya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, lulus tahun 2012. Ketika masih kuliah di Yogyakarta, ia sempat aktif di badan penerbitan pers mahasiswa Balairung. Di samping menulis esai, kadang ia menulis puisi. Kini, setelah menamatkan studinya, ia menjadi penulis lepas, terkadang melakukan reportase kala senggang, sembari "ngebolang" ke pusat-pusat sejarah silam.