Nama itu puitis. Kita sedang mengurusi nama untuk undang-undang. Pilihan diksi agak berselera puitis: cipta kerja. Konon, penamaan sempat menjadi polemik. Dulu, orang-orang mengetahui penamaan “cipta lapangan kerja”. Pada suatu hari, tersia dua kata: cipta dan kerja. Kita sembrono saja menjadikan dua kata itu masalah kebahasaan, tak terlalu berpusing dengan masalah pasal-pasal. Semula, kita sudah mengenali sekian pengertian: “mengheningkan cipta”, “ciptaan”, “hak cipta”, dan lain-lain. Kini, “cipta” itu masalah. “Kerja” pun semakin bermasalah. Penamaan undang-undang terasa puitis tapi malah menjadi ironis.

Di Jawa, orang bekerja menganut ajaran-ajaran suci dalam agama dan mendapat penguatan dari wejangan para leluhur. Petuah-petuah tentang manusia, kerja, dunia, bahagia, kemakmuran, berbagi, dan nasib telah sekian abad dipelajari dan diamalkan. Pada abad XXI, undang-undang memaksa orang memiliki pengertian dan tata cara berbeda. Dulu, orang-orang di Jawa masih mungkin menemukan ajaran bijak dalam anggerangger. Masa itu berlalu. Hidup di Indonesia mulai bergelimang undang-undang. Pada undang-undang, orang sulit menemukan ajaran atau kebijakan seperti pernah disampaikan para leluhur.

Dulu, orang-orang di Jawa masih mungkin menemukan ajaran bijak dalam anggerangger. Masa itu berlalu. Hidup di Indonesia mulai bergelimang undang-undang. Pada undang-undang, orang sulit menemukan ajaran atau kebijakan seperti pernah disampaikan para leluhur.

Anggerangger mirip undang-undang atau hukum mutakhir tapi berbeda dalam pembahasaan dan resepsi publik. Dulu, orang-orang Jawa memiliki peraturan-peraturan tercantum dalam Serat Angger-Anggeran Jawi (1844). Kita masih bisa membaca dalam edisi bahasa Jawa dan Indonesia, setelah buku susunan T Roorda itu diterbitkan lagi oleh Kepel, 2002. Di situ, ada masalah bagi hasil sawah. Kita mengutip: “Jika ada pejabat bebekel desa, sawah miliknya dibagihasilkan kepada lurahnya, maka bebekel tadi harus patuh pada aturan sawah yang dibagi dua (diparo) itu. Kalau terjadi perkara sampai kepada pemerintah, maka bekel yang tidak patuh tadi dikenakan denda dengan dihitung sawah satu jung empat reyal, kalau tidak membayar denda, orang itu dipecat.”

Sejak abad XIX, beragam pekerjaan lama dan baru menjadikan tatanan hidup di Jawa memerlukan aturan. Serat Angger-Anggeran Jawi memuat ratusan masalah, terbaca secara apik dan santun dalam bahasa Jawa. Sekian kalimat terasa puitis. Tradisi orang membahasakan hukum memang pernah condong terbaca sebagai teks sastra. Di khazanah sastra Melayu, undang-undang pada masa lalu gara-gara bobot bahasa dan kandungan makna pun memungkinkan masuk dalam pengertian sastra. Kini, kita belum sibuk dalam masalah kesastraan tapi sejenak mengartikan kerja bagi orang Jawa setelah mendapatkan sekian peraturan atau undang-undang, dari masa ke masa.

Bekerja menjadikan manusia bermartabat. Kerja itu kewajiban, kebahagiaan, kepantasan, kehormatan, kebahagian, kemanusiaan, dan lain-lain. Orang Jawa bekerja mencari nafkah, mengikutkan misi-misi: dari religius sampai penghiburan. Pekerjaan memerlukan ilmu, doa, kemahiran, kesabaran, kesopanan, dan lain-lain. Hasil dari bekerja memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Rezeki pun bisa digunakan untuk beragam hal dalam urusan sekolah, hiburan, pelesiran, dan lain-lain. Pemaknaan kerja di Jawa perlahan bergantung tata politik-ekonomi-sosial mengacu kebijakan pemerintah, undang-undang, dan situasi pasar global. Anutan-anutan dalam bekerja mulai berubah.

Pada masa lalu, bekerja mengisahkan manusia dan mata pencaharian dalam pelbagai predikat. Orang bekerja sebagai petani, pedagang, pegawai, guru, dan lain-lain. Kita ingin mengingat dalam masalah religius melalui mantra (doa) biasa di-rapal-kan orang-orang Jawa. Sapardi Djoko Damono menulis ulang mantra-mantra di Jawa dalam buku berjudul Mantra Orang Jawa (2005). Kita mengutip “Doa Agar Mata Pencaharian Lancar, 1” untuk mengetahui maksud dan pengharapan dalam bekerja: Bismillahir-rakhman-nirakhim/ nyala datullah/ keluar menyala/ Allah bergerak dalam tarikan nafas/ Allah bergerak dalam hati/ ya rasa, ya Rasul, ya rasa Pangeran/ Gusti Allah Mahakuasa/ yang sebenar-benar berkuasa/ hamba mohon diingatkan/ mohon keselamatan/ mohon pengampunan/ mohon agar lancar mencari sandang-pangan/ siang dan malam/ selama hamba hidup/ dalam segala hal berikan kemudahan/ kemudahan inti kemudahan/ atas kehendak Allah. Orang bekerja menginginkan keselamatan, pengampunan, kelancaran, dan kemudahan. Mantra itu terbaca aneh bila disandingkan dengan pasal-pasal dalam undang-undang memiliki nama puitis. Undang-undang sedang dilawan oleh kaum buruh dan orang-orang bekerja tapi rawan menanggungkan nasib buruk.

Bismillahir-rakhman-nirakhim/ nyala datullah/ keluar menyala/ Allah bergerak dalam tarikan nafas/ Allah bergerak dalam hati/ ya rasa, ya Rasul, ya rasa Pangeran/ Gusti Allah Mahakuasa/ yang sebenar-benar berkuasa/ hamba mohon diingatkan/ mohon keselamatan/ mohon pengampunan/ mohon agar lancar mencari sandang-pangan/ siang dan malam/ selama hamba hidup/ dalam segala hal berikan kemudahan/ kemudahan inti kemudahan/ atas kehendak Allah.

Pada abad XX dan XXI, kerja telah didefinisikan penguasa, kaum pemodal, institusi pendidikan, dan lain-lain. Pekerjaan-pekerjaan tanpa bergantung tradisi leluhur. Ef Schumacher dalam buku Kerja Bermartabat (2008) menjelaskan: “Mengingat begitu pentingnya kerja dalam kehidupan manusia, orang boleh berharap bahwa setiap buku pelajaran di bidang ekonomi, sosiologi, politik, dan topik-topik terkait akan menyajikan suatu teori kerja sebagai salah satu batu fondasi yang sangat diperlukan untuk semua penjelasan terperinci selanjutnya.” Pekerjaan sudah dirumitkan oleh kemajuan ilmu-pengetahuan, nalar politik, dan tatanan ekonomi global. Sejak orang di sekolah, ide-imajinasi pekerjaan sudah (terlalu) bermasalah. Pada saat orang lulus dan memiliki ijazah, pekerjaan terlalu rumit dipahami dan dialami. Pembuatan undang-undang bisa pula menambahi rumit atau keapesan dalam hidup.

Kita berlanjut mengutip “Doa Agar Mata Pencaharian Lancar, 2”. Dulu, orang merapalkan dengan kesungguhan. Kita membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia: Bapa Adam/ Ibu Hawa/ hamba mohon sandang/ mohon pangan/ siang hari/ malam hari/ gampang gampang gampang/ semua atas kehendak Allah/ ya hu Allah/ ya hu Allah. Bekerja atas restu Tuhan. Bekerja bukan melulu perhitungan dimiliki kaum majikan atau pemodal menggunakan rumus-rumus modern.

Bekerja dengan ketulusan dan tanggung jawab berubah menjadi pemenuhan aturan-aturan “baru” bergantung dari selera penguasa dan kaum pemodal. Kebingungan mengartikan diri, kerja, dan dunia terus membesar berbarengan segala kisruh dalam hidup. Kita tentu tak mengajukan mantra-mantra untuk turut mengartikan dampak Undang-Undang Cipta Kerja masih diributkan di Indonesia. Kita ingin mengenang saja dalam pengertian dan latar Jawa masa lalu agar insaf bahwa pekerjaan dipaksa berubah makna pada abad XXI. Begitu.

 

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).