“Pulau ini banyak memberikan pelajaran berarti bagiku yang sudah jauh, bagaimana seharusnya Aku menjadi Muslim.”

Pulau Poteran terletak di sebelah timur Pulau Madura. Bagian selatan adalah Laut Jawa, sebelah utara menuju Pulau Kalimantan, dan di tenggara adalah Pulau Dewata Bali. Pulau Poteran terdiri dari delapan desa dengan satu kecamatan, yakni Talango.

Untuk sampai ke sana, dari kota Sumenep kita menuju pelabuhan Kalianget. Selanjutnya kita harus menaiki perahu kayu menuju pelabuhan Talango, dengan ongkos yang cukup murah, 3.000 Rupiah, dengan jarak tempuh 5 menit.

Dalam wicara Keraton Sumenep, pulau ini pada mulanya disebut dengan pulau Nirwana, tempat para mahluk halus menghuni. Citra itu kemudian perlahan bergeser ketika ditemukan tapak tilas makam Maulana Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, raja Islam Sumenep.

Seiring dengan perjalanan waktu, pulau ini sekarang lebih dikenal dengan julukan  pulau seribu santri. Hal itu diperkuat dari generasi mudanya dari zaman dulu sampai sekarang dipastikan 90% adalah santri dengan tradisi sarungan dan peci.

Walaupun di pulau ini tidak ada pesantren yang besar, hanya kiai kampung dengan modal Langgar yang ikhlas mengajari ilmu Agama, tetapi tradisi merantau ke pesantren-pesantren sangat tinggi, baik di pondok Pulau Madura dan Pulau Jawa.

Secara demografis, rata-rata mereka adalah anak nelayan, sisanya guru dan pedagang ikan. Adapun pertanian bisa dikatakan bukan sebagai pekerjaan utama. Pertanian di pulau ini hanya semusim di saat hujan tiba. Adapun hasil pertaniannya berupa Jagung dan biji-bijian, seperti kacang tanah, kacang jalar, umbi-umbian yang disajikan dalam satu ladang.

Islam tumbuh dengan pesatnya di pulau ini, dengan budaya lokal yang kuat, hingga saat ini aneka ragam budaya tetap terawat. Tentu, perkembangan Islam di pulau ini tidak lepas dari peran santri yang memang memegang kendali setiap lini, baik pemerintahan maupun non pemerintahan.

Kiprah santri sebenarnya sudah mulai terlihat dari sejak ia masih di pesantren, dengan adanya organisasi santri dari setiap pondok masing-masing yang terlibat langsung dengan kegiatan kemasyarakatan. Ada IKSAT (Ikantan Santri Annuqayah Talago), ISNATA (Ikatan Santri Nasyathul Muta’allimin Talango), IKSMAT: (Ikatan Santri Mathali’ul Anwar Talango),IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Al- Amin), dan IKSAS: Ikatan Salafiyah Syafi’iyah (Sukerejo).Organisasi induk mereka bernama FORSAT (Forum  Santri Talango).

Di pulau inilah saya dilahirkan, dengan tidak fanatik dengan budaya lokal, peranan santri dalam pendekatan keagamaan lebih menekankan pendekatan fiqih daripada langsung kepada kitab suci. Itu sebabnya 100 % pulau ini berpenduduk Muslim.

Di pulau ini, sulit ditemukan orang yang bisa menghafal Al-Qur’an 30 Juz. Dari sejak kecil metode mengaji dari kiai langgar hanya sebatas lancar membaca dan teknik tajwid yang benar, selebihnya budi pekerti dan akhlak yang baik menjadi hal yang utama.

Saya ingat betul bagaimana kiai langgar mendidik kami dengan filosofi dasar moral dengan kalimat sederhana tapi selalu mengiang di kepala kami, “Kejarlah pahala, sebelum piala, Nak!” Tutur kiai saya berulang kali di banyak waktu.

Pesona Tahlil Masyarakat Poteran

Sebagai lulusan pesantren yang mengutamakan ilmu fiqh sebagai dasar hukum sosial, sekaligus menyandang status penganut organisasi NU, maka masyarakat Poteran menjadikan tahlilan sebagai suatu “kewajiban” yang harus dilakukan khususnya ketika ada yang berduka karena anggota keluarga meninggal dunia, meski kadang tahlilan juga dilaksanakan dalam banyak kegiatan lainnya.

Tahlilan di pulau ini juga turut membangun kearifan lokal, seperti tradisi lama di dalam setiap kegiatan keagamaan yang harus ada. Sebut saja sesajen, atau hiburan-hiburan seperti main domino untuk menghibur yang sedang berduka sampai 7 malam.

Suatu ketika saya pernah bertanya pada pemuka agama tentang haramnya main kartu, apakah tetap  termasuk judi? Pemuka agama menjelaskan, “selama itu tidak ada barang taruhan, dan hanya sebatas untuk menghibur yang sedang berduka, hal itu tidak masalah.”

Begitupun sesajen di malam ketujuh tahlilan. Ada tradisi membakar kemenyan, kemudian terus dihidangkan sesajen  yang berupa tempat berbentuk perahu kecil yang di dalamnya terdapat makanan lengkap dengan porsi kecil, ada juga pakain lengkap (sarung, peci, dan baju koko), ada juga uang, serta hasil bumi, yang diletakkan di depan pemimpin tahlil. Setelah tahlilan selesai, sesajen itu dihanyutkan ke laut, yang sedikit jauh dari laut biasanya cukup di parit. Menurut keyakinan orang Pulau Poteran, perahu itu bertujuan mengantar mendiang menuju Yang Satu dengan segala bekal yang cukup.

Ada pesan moral yang sangat sederhana yang saya tangkap dari kegiatan yang seperti ini yaitu amal itu tidak hanya di dunia saja melainkan juga saat mati. Oleh sebab itu, berbuat baiklah selama di dunia. Hal itu sudah diajarkan pula oleh Islam perihal ajaran amal jariyah.

Rokat Laut: Persembahan Hasil Laut untuk Tuhan dan Hiburan Rakyat

Pulau Poteran menyandang mayoritas penduduk muslim yang di domisili oleh kalangan santri, sekaligus menyandang sebagai predikat pemburu laut yang tangguh dan gigih, tentu pengalaman pengetahuan mereka dibentuk dari laut.

Rokat laut kemudian menjadi salah satu bukti dari budaya masyarakat pesisir pulau Poteran yang menjadi kebanggaan. Rokat Laut bertujuan memberikan puji syukur kepada tuhan atas rizki yang diberikan kepada nelayan, yang dikemas dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, dan juga seni lokal seperti ketoprak, Saronin, dan lain sebagainya.

Terakhir, tulisan ini hanya sebatas info, bahwa pulau ini yang di domisili oleh mayoritas santri Islamnya bukan dengan penaklukkan pedang, tidak ada pertumpahan dara di pulau ini untuk menjadi pulau muslim mayoritas. Di Poteran, Islam datang sebagai penyempurna dengan melengkapi kekurangannya.