Siang ini, lelaki itu menjadwalkan dirinya untuk bertemu dengan dosen pembimbing tugas akhirnya. Ini adalah yang pertama kali dia akan bertemu dengan beliau, meski sebelumnya dia sudah banyak tahu tentang beliau dari teman-temannya, terutama yang perempuan.

Dia terlihat riang ketika pergi ke kampus. Dadanya rada dibusungkan. Hentakan kakinya penuh kepercayaan diri. Dosen-dosen yang dia temui di sepanjang lobi kampus menuju ruangan dospem, dia lempari senyuman. Dia yakin, mengetahui beliau ini adalah Bu Momon, kaprodinya sendiri, proposalnya akan diterima begitu saja dan lantas lelaki itu bisa meneruskan bab II. Apalagi, lelaki itu tahu sendiri betapa dosen proposalnya sudah memberinya banyak masukan brilian.

“Masuk. Ada kepentingan apa?”
“Ini Buk.”
“Apa?”
“Proposal tugas akhir.”
“Nama?”
“Santo.”
“Lengkap?”
“Santo Loya.”
“Jurusan?”
“Sudah ada di situ, Buk.”
“Saya nanya sama kamu. Bukan membaca yang tertulis di sini.”
“Emmm. LAMTARA.”
“Tapi di sini tertulis SSL. Bagaimana sih.”
“Sama saja, buk. Itu fakultasnya.”
“Beda. LAMTARA spesifik. SSL umum!”
“Saya cuma mau minta persetujuan proposal riset saya: bisa dilanjutkah atau bagaimana. Tolonglah, Buk. Saya sudah ingin segera selesai, kerja, dan menikah.”
“Yang menentukan bukan kamu. Sudah publikasi jurnal?”
“Sudah, Buk.”
“Berapa?”
“Emmm. Sembilan, Buk.”
“Kenapa pakai emmm, ragu dengan artikelmu sendiri? Yang tegas dong. Laki-laki kok begitu.”
“….”
“Apa judulnya?”
“Yang mana Buk?”
“Artikelmu-lah. Kok malah nanya balik.”
“Relasi laki-laki dan perempuan dalam doa-doa salat, buk.”
“Ini artikel yang ke berapa?”
“…”
“Kenapa diam? Jawab dong.”
“Yang pertama, Buk.”
“Kok bisa yang pertama judulnya itu?”
“Bisa buk.”
“Iya kenapa kok bisa begitu. Laki-laki kok suka ribet sih. Heran!”
“Aduh, buk. Ini tidak ada hubungannya sama proposal saya.”
“Saya yang menentukan. Kamu tidak dengar tadi?”
“…..”
“Kamu tadi bilang mau menikah kan. Umur berapa calon istrimu itu?”
“Maaf buk. Apa ini ada hubungannya dengan proposal saya.”

Laki-laki itu kaget tak tertolong. Kedua matanya goyang. Entah menahan takut atau bingung. Dia kembali memikirkan, apakah ada yang salah dengan judul proposalnya sehingga Bu Momon sebegitu rupa padanya. Kalau pun salah, kenapa tidak dikritik saja dan lantas selesai. Dia kebingungan dalam diam dengan hanya menyisakan satu kejelasan: dia dikhianati harapannya sendiri. Semua gambaran yang selama ini dia rawat dalam benaknya tentang bu Momon atau bahkan kampus hancur mumur tepat siang ini.

“Bagaimana sih. Bagaimana saya bisa percaya pada proposalmu kalau begini saja kamu tidak bisa tahu kaitannya.”
“Dua puluh tiga tahun, Buk.”
“Kenapa dia mau?”
“Maaf Buk?”
“Kamu bantah?”
“Cuma tidak habis pikir Buk.”
“Ini namanya bantah.”
“…..”
“Kamu eksploitasi namanya. Perempuan itu m i n i m a l nikah umur 27 tahun. Kalau kamu begini, kamu sama dengan tidak mendukung program mulia pemerintah untuk menaikkam derajat perempuan. Paham?”
“….”
“Diem lagi. Jawab!”
“Iya buk. Saya mohon pamit buk. Ada kelas.”
“Eh apa? Saya ini kaprodi. Duduk lagi.”
“Ffffhhhhh…”
“Kamu mengeluh?”
“…..”
“Ini kenapa ttd acc dosen proposal warna merah?”
“Ibu Sinik-nya lupa bawa pulpen hitam Buk?”
“Kenapa tidak protes?”
“Sudah, Buk.”
“Kenapa masih salah?”
“Dosen-dosen kan suka begitu, Buk.”
“Jangan menyalahkan orang lain. Apalagi itu dosen. Kalau kamu protes baik-baik, kan diperbaiki.”
“Sudah, Buk. Tapi kenyataannya begitu. Ibuk Sinik bilang kalau itu cuma formalitas. Jadi tidak penting.”
“Kenapa tidak dijelaskan baik-baik?”
“Sampun, buk. Tapi tetap saja Bu Sinik tidak mau mengubah.”
“Kamu jangan membantah terus.”
“Tidak, buk. Kenyataannya memang begitu.”
“Kamu mau menang sendiri?
mboten, buk.”
“Kok kamu ngotot?”

Laki-laki itu mengambil nafas dalam-dalam. Jika nafas panjang yang pertama tadi untuk penghormatan, maka kali ini untuk kekecewaan. Dia tidak bisa berpikir jernih. Pertama, kenapa secepat ini harapan mempermainkan perasaannya. Kedua, bagaimana bisa seorang doktor bisa sebegitunya dalam tidak menghargai orang lain. Kalau toh benar proposalnya tidak layak, kenapa menolaknya harus dengan bahasa yg begitu. Pikirannya panas. Intuisinya menjalar kemana-mana, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Di kampus ini. Di hati para pemegang kebijakan. Di relung Kaprodinya.

Apalagi persis kemarin, dia baru mendengar cerita bahwa beberapa teman perempuannya, yang acc proposalnya juga dengan tinta merah, dengan begitu rianya mendapatkan persetujuan untuk lanjut bab II. Malah ada yang cerita bahwa dua dari mereka, teman-teman perempuan lelaki itu, disuruh secara langsung oleh bu Momon untuk mempresentasikan risetnya, meski baru berupa proposal, di Zimbabwe. Ini pasti ada yang tidak beres. Bangsat! Asu! Laki-laki itu mengerang dalam hati.

“Ibuk inginnya bagaimana?”
“Malah nanya saya. Siapa yang punya kepentingan?”
“Saya, Buk.”
“Itu tahu. Malah nanya saya. Tugas saya hanya acc.”
“Jadi Buk?”
“Apanya yang jadi?”
“Tidak, buk. Saya buat proposal lagi saja Buk.”
“Iya. Bikin lagi saja. Ini bukan penelitian namanya. Dari judulnya saja, kamu itu sok. Kayak nulis berita. Kayak mau ceramah.”
“Isinya menampilkan data, Buk. Mungkin bisa dilihat sekilas.”
“Kamu nyuruh saya? Saya ini sudah 15 tahun baca riset-riset kayak ini. Mending saya sudah menemui Anda ya.”

Laki-laki itu merasa ada yang patah tiba-tiba dalam benaknya. Dia tidak tahu apakah begini rasanya menangis tapi tak keluar air mata. Tiga bulan dia berjibaku dengan data dan buku. Satu bulan mendiskusikan ide dengan teman-temannya: meminta masukan. Satu setengah tahun dia bergelut dengan waktu membagi antara buat kerja dan mempelajari teori. Antara tetap bisa makan dan belajar. Tapi, hari ini, siang ini, dientahkan sama sekali. Bahkan untuk sebatas membuka proposalnya. Oleh orang yang selama ini dia hargai karena cerita teman-teman perempuannya.

Laki-laki itu menutup pintu perlahan. Laki-laki itu merunduk. Laki-laki itu putus asa. Laki-laki itu menyerah. Dan laki-laki itu keluar kampus hanya sebagai laki-laki, menatap langit nan jauh tanpa sekecil pun harapan karena laki-laki itu hanya laki-laki.