Hotel Khusus Perempuan

Jumat jam 8 pagi Bu Momon harus menuju ruang Bapak Rektor. Di sana sudah ada Bapak Kandar, utusan dari perusahaan yang menawarkan dana riset di bidang pemberdayaan perempuan.

Bu Momon adalah salah satu pemikir di bidang pemberdayaan yang begitu dikagumi di seantero kampus. Bukan saja karena kemampuan motorik risetnya, tetapi juga kelebihannya dalam berinteraksi. Mendengarkan. Membuat lawan bicara merasa begitu diperhatikan minatnya dan sebagainya. Yang jelas dia pandai merayu.

Sebab itulah Bapak Rektor memilih Bu Momon sebagai perwakilan kampus untuk memperjuangkan hibah riset tadi.

“Jadi, Ibu Momon. Kami ini akan menyediakan dana sebesar 100 Milyar. Saya ulangi ya Bu. Seratur Milyar. Buat kampus ini.” Bapak Kandar langsung menembak.

Bu Momon yang baru saja duduk di sampingnya dengan tas Burberry yang masih dikempit ketiaknya tidak kaget dengan ‘seratus milyar’ Bapak Kandar. Wajahnya santai. Sudah biasa menghadapi yang beginian barangkali.

“Oke, Bapak Kandar. Bagaimana perinciannya. Mungkin bisa dijelaskan. Ehm,” respons Bu Momon sambil membenahi posisi duduknya.

Sekarang posisi mereka lebih mirip berhadapan dengan meja cukup besar bersahaja di depan mereka. Posisi Bu Momon yang membelakangi jendela membuatnya bisa menatap wajah Bapak Kandar lebih jelas dibanding sebaliknya. Kaki Bu Momon disilangkan, meski persilangannya tidak sempurna akibat pahanya susah disituasikan. Ujung kaki kanannya, yang menumpang kaki kiri, menabrak meja di depannya. Tertambat di situ. Membuatnya lebih santai dengan kedua tangan diletakkan di lutut. Jam tangan bermerek Alexander Cristie menyembul dari lengan baju kanannya.

“Jadi, Bu. Begini. Tujuan program ini adalah untuk memberdayakan perempuan secara lebih liberal dan praktis cum praksis atau bahasa lainnya konkret. Jadi … Eh sebentar. Sebentar. Itu ada suara apa, Bu?”

****

Di depan gedung rektorat, tampak segerombol demonstran berkumpul dengan provokator tunggal yang menggoreng emosi jemaatnya.

Dua satpam, Pak Ibin dan Bu Karni, berupaya tampil segalak mungkin, menghadang mereka supaya tidak bisa masuk.

Beberapa dari demonstran membawa spanduk dengan beragam tulisan. Salah satunya berbunyi, Lebih baik jual kami dari pada jual kampus ini!

****

Pak Kandar menunda sejenak penjelasannya dan mengajak Bu Momon mendekat ke jendela agar bisa tahu apa yang sejatinya terjadi di kala pertemuan senilai 100 milyar ini sedang berlangsung.

Terdengar sayup-sayup, “… Mas-mas, Nbak-mbak. Pembangunan kampus tidak selalu berarti akan memberi kita suasana akademik yang lebih baik. Alih-alih begitu. Yang ada, coba kita tunggu saja, sebentar lagi pasti segalanya akan naik. Uang SPP. Uang wisuda. Uang loka karya dan bahkan ada juga nanti yang akan naik jabatan. Kita harus jeli dengan situasi seperti ini. Jangan sampai kampus ini diambil alih oleh elit tertentu. Oleh oknum berwajah bidadari. Kita harus kawal kampus tercinta ini, sahabat-sahabat!”

“Oalah. Itu mahasiswa-mahasiswa saya, Pak Kandar. Para aktivis. Biasalah. Rutinitas.”

“Bukan Bu.”

“Bukan?”

“Iya. Bukan! Itu bukan aktivis. Itu demonstran. Saya tak sudi menyebut mereka aktivis.”

“Oh iya. Bolehlah. Demonstran saja kalau begitu.” Wajah Bu Momon rada dilipatkan miring sambil nggremeng, hoaaammmps.

“Loh, ibu kok hoamps gitu. Tandanya apa? Jadi, bu, aktivis itu beda dengan demonstran. Aktivis itu pergerakannya dilandasi oleh pembacaan yang mateng…”

“Mapan, maksud pak Kandar?” Bu Momon menyela.

“Oh iya. Itulah pokoknya. Iya. Jadi, Bu, kalau aktivis begitu, sedangkan yang demonstran yang kayak mereka itu. Mereka itu tidak pernah membaca…”

“Membaca Pak. Hanya saja membaca status WA dosen-dosennya yang tidak kalah narsis dengan alfysaga,” Bu Momon nyeletuk lagi, menyela.

“Asembuh lah, Bu. Apa itu alfysaga? Yang jelas demonstran itu hanya bisa teriak-teriak. Seperti mereka itu. Jadinya. Jadi, mereka itu tidak bisa melihat masa depan. Pikirannya cupet. Kayak kutang. Eh maksud saya kayak kaus dalam. Andai mereka mau membaca, membayangkan, mereka pasti setuju dengan program ini. Program ini mencoba menggabungkan antara ranah riset kampus dengan praksis bisnis kemasyarakat, khususnya perempuan. Pun sifatnya long last effect kayak Pepsodent. Iya toh bu?”

“Aduh. Saya juga belum mengerti, Pak Kandar. Penjelasan bapak tersendat lo tadi.”

“Oh iya. Astagfirullah. Ini gara-gara demonstran junior itu. Maaf-maaf, bu. Ehm. Jadi begini, Bu. …”

“Iya, Pak Kandar. Saya menunggu.”
“Oh maaf-maaf, Bu. Sebentar.” Suara Pak Kandar rada gugup. Tampak dia mengeluarkan sepotong kertas dan pena warna merah dari kiri-dalam jas hitamnya yang ngepres, “Jadi, bu. Ini biar obrolan kita lebih bisa dipahami secara baik dan tidak salah, makanya saya butuh oret-oretan. Saya mulai Bu ya.”

“Iya.”

“Jadi, melanjutkan yang tadi, program ini akan menyasar dua sisi. Sisi suprastruktur dan infrastruktur.”

“Iya. Bagaimana itu, Bapak?”

“Sisi suprastruktur ini sisi risetnya, Bu. Jadi, nanti di bagian ini, kampus Ibu akan dibiayai untuk melakukan riset tentang bagaimana perempuan di negeri tercinta kita ini memang layak untuk diberdayakan. Jadi, sebisa mungkin Ibu menuju dan mempertahankan kesimpulan bahwa perempuan Indonesia itu lemah atau boleh juga dilemahkan, sehingga jalan satu-satunya adalah dengan memberikan mereka kesempatan yang lebih. Begitu Bu ya?”

“Oh iya pak. Ada lagi?”

“Kemudian, Bu. Itu Bu. Satu lagi. Jadi, nantinya juga, ibu dan tim riset Ibu harus sebisa mungkin memilih sampel atau subjek penelitian yang mendukung tujuan utama kami tadi. Hindari memilih lingkaran-lingkaran yang di situ perempuan-perempuannya sudah berdaya. Jangan sekali-kali, Bu. Itu nanti malah bisa menjadikan program kita gagal jendral. Untuk urusan teknis metodologi sekaligus perspektif itu kupikir Ibu sudah mengertilah ya harus memakai yang mana. Lagian, tujuan kita ini kan mulia, Bu. Membudidayakan perempuan! Iya kan? Toh pada faktanya, di Indonesia ini juga masih banyak perempuan yang dizalimi laki-laki. Persis dengan perempuan-perempuan Barat 5 abad kemarin. Iya toh Bu?”

“Memberdayakan, Pak Kandar. Bukan budidaya. Ah kayak lele dong.”

“Oh iya. Pokoknya ya itulah, Bu.”

“Terus, yang sisi kedua, Pak Kandar?”

“Terus, sisi keduanya. Sisi infrastruktur, di sini nanti kami akan menyediakan dana juga untuk membangunkan unit bisnis baru buat kampus Ibu. Unit bisnis ini nanti otomatis terhubung dengan semua hasil riset Ibu dan tim-tim Ibu.”

“Unit bisnis?”

“Betul. Hotel lebih tepatnya. Kami sudah memiliki nama untuk hotel itu. Hotel Femina. Bagaimana? Keren kan namanya? Artinya bisa ganda, Bu. Dari bahasa Arab berarti ‘mulut kita’ yang konotasinya pada wacana dan dari bahasa Inggris berarti perempuan. Nah loh. Keren toh: perempuan yang berwacana …”

Bu Momon menyela dengan mata masih menatap muka Bapak Kandar sembari sedikit menggoda, “Berarti cuma wacana doang dong, Pak? Hihihi.”

“Oh iya ya, Bu. Ah tapi tidak masalah lah, bu. Di era disrupsi seperti ini kan omongan itu lebih penting toh. Iya toh. Sekarang ini yang lebih penting kan main-main di medsos. Teman-temanku aja itu lo, bu, kalau mau merekrut asisten buat penelitian, mereka ngeceknya lewat beranda Facebook. Status-status WA dan semacamnya. Tidak ada tuh yang langsung mencoba mengenali mereka secara nyata. Eh Ibu ini. Kok jadi ke sini sih. Ini gara-gara Ibu. Jadi, Bu. Kembali ke pembahasan …”

“he he he he, ya biar tidak serius-serius, Bapak Kandar,” Bu Momon mengekeh.

“Jadi, Bu. Konsepnya, hotel ini nanti akan dibuat khusus perempuan, bu. Iya. Perempuan! Mulai dari bagian kebersihan sampai pelanggan, semuanya perempuan. Tidak menerima pelanggan laki-laki kecuali dia mau berpakaian perempuan sih he he he. Udah pokoknya begitu. Kalau kita bicara peluang bisnis, Bu. Masih jarang sekali di dunia ini ada hotel yang khusus-sus perempuan, bahkan tidak ada. Baru ini, Bu. Jadi, tentu ini akan menarik banyak kalangan. Termasuk akademisi dunia.”

“Akademisi?”

“Iya, Bu. Kan ini hotelnya dibangun oleh kampus Ibu. Kampus kan gudangnya akademisi. Relasinya pun menjalar ke kampus mana pun. Daaaan … Nantinya, bu. Sebagai promosi, kita bisa menyuruh mahasiswa untuk melakukan riset ke Hotel Femina dan kemudian memublikasikannya di jurnal-jurnal. Kalau bisa, dengan memakai dana di bagian suprastruktur tadi, kita bisa mengadakan konferensi begituan, Bu. Levelnya internasional. Dan fokusnya pada pemberdayaan perempuan dalam pembangunan nasional. Nah loh. Pasti anak-anak semangat itu, Bu.”

“Oh iya Pak Kandar. Bisa itu Bapak. Dan biar lebih meyakinkan, nanti pelaksana risetnya bisa itu kita fokuskan saja ke perempuan. Bagaimana itu bapak? Yang laki-laki, menurut saya jadi peripheral dulu lah, tidak apa-apa. Toh kita udah kelebihan peneliti dari jenis laki-laki. Dosen banyak laki-lakinya juga.”

“Ide bagus, Bu. Kalau bisa, konferensinya pun khusus perempuan jika demikian. Biar kayak Alquran-Alquran itu. Quran for women. Wheeee, ngeri kan, bu. Kan jadi sinkron semua. Kayak Gugel.”

“Ha ha ha, terus bapak, maksudnya tadi dibangun oleh kampus saya, itu bagaimana? Maksud saya soal pembagian dari 100 milyar itu?” Bu Momon menahan sedikit tertawanya. Pipi tirusnya agak melebar akibat deretan gigi atas dan bawahnya ia pertemukan.

“Oh iya. Soal itu begini Bu…” lanjut Pak Kandar sambil mengubah posisi duduknya dan bersiap-siap untuk menulis sesuatu.

Mendapatinya, Bu Momon seolah mendapatkan kode dan langsung mendekat ke Pak Kandar.

“Nanti, dari 100 milyar itu, 90% untuk pembangunan hotel dan 10% untuk riset. Ketentuan risetnya harus sesuai yang kita bahas tadi. Ingat toh ya? Dan ketentuan hotel, dari kami, dana 90% itu tidak termasuk tanah. Jadi, tanahnya dari kampus Ibu. Kenapa begitu? Sebab nanti income dari hotel juga masuk ke pihak kampus. Begitu, Bu ya.”

“Oh iya, iya, Pak. Jadi ini semacam kombinasi ya pak. Antara investasi bisnis dan riset?”

“Beeetul sekali, Bu. Bapak Rektor sudah menyetujui program ini. Jadi sekarang tinggal, Ibu. Ibu mau menandatangani kesepakatan ini?”

“Mohon maaf bapak sebelumnya. Kenapa bapak menanyakan itu? Kan jelas saya setuju sejak dalam hati. Ini kan demi pemberdayaan perempuan. Jenisku sendiri. He he he.”

“Ha ha ha ha, iya bu. Bener. Cuma tadi itu loh Bu. Ya siapa tahu ibu mau menimbang teriakan mahasiswa-mahasiswa itu dulu. Ya jadi kan. Mereka ada benernya. Kayak gini kan rentan privatisasi toh Bu. Jadi ah. Tapi tergantung niatan sih. Oh ya sudahlah, Bu. Jika begitu. Nanti tindak lanjutnya saya kabari lagi ya, Bu.”

“Siap bpk Kandar. Nanti saya akan menandatanganinya, he he he.”

“Bagus! Jika begitu saya tak pamit dulu, Bu. Sudah jam 10.”

****

Pak Kandar beranjak dari kursinya. Menarik sedikit kaos depannya, menyingsingkan lengan jasnya yang ngepres itu, mengembalikan selembar kertas dan pena merahnya ke saku dalam dan pergi menuju pintu.

Bu Momon masih bengong dengan bayangan 100 milyar yang tiba-tiba merasuki pikirannya. Ia mengikuti tamu dengan badan agak gendut dan tinggi itu dengan matanya sambil kepalanya sedikit mendongak ke atas.

“Oh iyaaaa … ,” pak Kandar tidak jadi membuka pintu dan malah membalik badan lagi, “Ada yang saya lupakan, Bu. Aduh.”

“Eh. Eh. Iya iya, Bapak Kandar. Apa itu jika saya boleh tahu?” Bu Momon terbangun dari bengongnya yang sedang menuju mapan itu.

“Itu. Program ini harus melibatkan mahasiswa. Biasalah. Permintaan dari pihak atasan begitu. Biar ada penyetaraan cum pelatihan. Pokoknya begitu-begitulah.”

“Oalah. Iya iya, Bapak. Perkara sederhana itu. Nanti biar kupanggil korlap aktivis-aktivis di bawah itu, eh demonstran maksud saya. He he he. Biar mereka udahan juga. Kasian pasti mereka capek teriak-teriak.”

“Ha ha ha, Ibu. Bisa saja. Okelah. Baik. Eh tapi, itu korlapnya laki-laki loh buk?”

“Oh iya ya. Itu suara laki-laki. Eh tapi gampanglah, Pak. Bisa diatur. Pasti dia punya pacar atau kalau tidak gebetan. Kan nanti bisa kita tawarkan ke gebetannya. Gebetan senang, dia kan juga senang. Bisalah. Mentok-mentoknya, pasti peserta demo itu ada beberapa yang perempuan. Ya meskipun mereka masih murni-murni, bisalah nanti dipermak. Hehe. Gampang Pak Kandar!”

“Wowowowo. Baik bu. Saya duluan Bu. Salam ke Bapak Rektor.”

****

Pak Kandar keluar gedung rektorat melalui pintu khusus yang memang sengaja dibuat sebagai antisipasi demo, erupsi gunung merapi, gangguan kebosanan, atau sekadar iseng, yang menghubungkan langsung ruang rektor dengan tempat parkir VIP. Para demonstran masih bernyanyi di depan gedung dengan tanpa mengetahui sama sekali jika iblis yang sedang mereka teriak-teriaki telah berlalu. Pak Ibin dan Bu Karni masih mengulur waktu. Membujuk mereka. Merayu dan kadang membual bahwa rektor pasti akan segera menemui mereka.

Sampai akhirnya, ibu dan bapak satpam itu tertolong oleh kemunculan Bu Momon dari ujung lorong yang ke situ untuk memanggil korlap-nya.

Singkat cerita, korlap demo berhasil diajak ke ruangan bu Momon. Negosiasi tentang dana hibah riset yang kata Bu Momon bernilai 10 juta—dan asisten riset yang harus perempuan—pecah.

Demo pun usai. Anak-anak balik ke warung kopi, nimbrung ke meja teman-temannya, mengambil ponsel, membuka Facebook, masuk ke bagian status, mencari foto-foto mereka yang heroik saat dorong-dorongan dengan satpam, menelusuri kutipan-kutipan perjuangan ala Soe Hok Gie atau siapa lah itu buat kepsyen, mengunggahnya, dan lantas lupa.