Rampo Urip: Sutradara Film Indonesia yang Terlupakan

Rempo Urip (10 Juli 1914-15 Januari 2001) adalah salah satu sutradara film Indonesia yang berkarier sezaman dengan Usmar Ismail. Nama Rempo Urip dikenal sebagai sutradara genre film-film hiburan,  di masanya bersaing dengan beberapa film kala itu yang diproduksi perusahaan semacam Warnasari, Tan & Wong Bros Film, juga PFN (Perusahaan Film Negara). Sosoknya tenggelam di belakang nama Djamaluddin Malik, rekan sekaligus pimpinan perusahaan tempatnya berkarier, Persari.

Data-data penting berupa karya-karya filmnya sendiri tercecer tak ketahuan rimbanya selain belum ada yang direstorasi. Kemudian data filmnya yang dibuatnya bersama Persari konon tak ada yang menyimpan meskipun ia juga berjasa sejak 1950 membesarkan Persari bersama pendirinya, Djamaluddin Malik.

Catatan tinjauan kritis atau minimal resensi filmnya juga tidak ada. Jika ada lebih pada sinopsis beberapa filmnya, seperti yang tercantum pada buku Apa dan Siapa Orang film Indonesia (Departemen Penerangan RI 1999) dan Katalog Film Indonesia 1926-2007 susunan J.B Kristanto (yang  kemudian dikembangkan menjadi data daring Filmindonesia.or.id). Data film yang untuk sementara ini terkumpulkan di arsip Sinematek dan Perpustakaan Nasional RI pun bukan dari produksi Persari lagi, misalnya film “Cobra” (1977), “Aku Mau Hidup” ( 1974) dan “Pendekar Sumur Tujuh” (1971).

Namun meskipun data yang ada belum sempurna, bukan tak mungkin di masa kini kita tak membicarakannya kembali. Selain ia dikenal cukup punya andil membesarkan Persari Film salah satu perusahaan film yang berdiri di tahun yang sama dengan Perfini-nya Usmar Ismail pada 1950, Urip adalah pembuat film berwarna pertama di Indonesia. Berbekal catatan tersebut Urip tetap layak dicatat dan dapat tempat meski sosoknya kurang diminati pengamat sejarah film Indonesia karena menghasilkan film-film komersil juga “berada di bawah bayang-bayang” Djamaluddin Malik, pemilik Persari.

Selain ia dikenal cukup punya andil membesarkan Persari Film salah satu perusahaan film yang berdiri di tahun yang sama dengan Perfini-nya Usmar Ismail pada 1950, Urip adalah pembuat film berwarna pertama di Indonesia.

Urip cukup lama berkarier bersama Persari yang kala itu ideologinya adalah menghasilkan film-film komersil, bukan film idealis seperti produksi Perfini-nya Usmar Ismail. Beberapa filmnya, hampir seluruhnya genre action (silat) dan drama percintaan dikarenakan sulit lepas dari pengaruh grup teater yang pernah diikutinya (Bintang Timur, Dardanela).

Tentu pendapat ini masih bisa kelak terbantahkan, karena Usmar juga pernah menghasilkan film komersil yang sangat laris yaitu Tiga Dara (1956) yang pernah diakui Usmar sendiri “saya kepingin bikin film musikal seperti film Hollywood” (buku “Usmar Mengupas Film”, Pustaka Sinar Harapan 1983).

Bedanya, beberapa film Usmar tergolong visioner alias berkembang melampaui zamannya, sedangkan Urip murni komersil. Sebutlah Lewat Djam Malam (1955) yang sudah berkisah tentang kehidupan sebagai warga sipil beberapa tentara setelah perang kemerdekaan yang diwarnai konflik serta korupsi. Sedangkan Urip di tahun yang sama menghasilkan Tjalon Duta (dibintangi aktris Netty Herawati) yang masih berkisah tentang drama kisah-kisah percintaan atau roman.

Sejumlah catatan lain yang menjadi pertimbangan kenapa nama Rempo Urip cenderung kurang dibicarakan adalah ia dikenal sebagai pembuat film komersil yang tampaknya satu ideologi yang sama dengan Djamaluddin Malik. Orang-orang yang pernah bekerja di Persari bisa mengisahkan betapa Djamaluddin Malik tak segan-segan meniru film-film impor dari Cina atau India yang tengah populer.

“Kalau penonton mau yang India, kita kasih yang India, biar sampai mereka bosan,” kata Rempo Urip pada 20 September 1976 kepada Salim Said yang termuat dalam buku Profil Dunia Film Indonesia (PT Pustakakarya Grafikatama, 1982).

Perkenalan pertama Rempo Urip dengan Djamaluddin Malik dalam kelompok sandiwara Bintang Timur pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia semakin membawanya masuk ke dunia perfilman hingga 1977. Film terakhirnya “Cobra” adalah film silat yang diangkat dari komik Ganes TH.  Rempo Urip mengawali kariernya sebagai pemain sandiwara Dardanella. Mulai terjun ke bidang penyutradaraan lewat film Djoela Djoeli Bintang Toedjoeh sebagai asisten sutradara.

Perkenalan pertama Rempo Urip dengan Djamaluddin Malik dalam kelompok sandiwara Bintang Timur pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia semakin membawanya masuk ke dunia perfilman hingga 1977. Film terakhirnya “Cobra” adalah film silat yang diangkat dari komik Ganes TH.  Rempo Urip mengawali kariernya sebagai pemain sandiwara Dardanella. Mulai terjun ke bidang penyutradaraan lewat film Djoela Djoeli Bintang Toedjoeh sebagai asisten sutradara.

Pada tahun 1934 Rempo meninggalkan Palembang, kota tempat dia dibesarkan, untuk mengikuti rombongan sandiwara Dardanella hingga keliling Asia Tenggara dan India. Dalam perkumpulan itu Urip menjadi pembuat poster dan pemain sepak bola. Ketika Dardanella pentas India tahun 1936, Rempo berperan sebagai figuran.

Setelah kembali ke Indonesia, dia menjadi pembantu umum perkumpulan sandiwara Bolero (19361937) dan Pagoda (1937 –1939). Setelah itu Urip bekerja di perusahaan film yang dibangun pebisnis keturunan Tionghoa, Oriental Film Co. sebagai chekker dan distributor. Ketika Oriental ditutup, dia masuk ke JIF dan mulai menyentuh bidang penyutradaraan. Waktu dia menjadi asisten sutradara untuk Djoela Djoeli Bintang Toedjoeh dan Noesa Peninda (1941).

Persari yang merupakan singkatan dari “Perseroan Artis Indonesia” memang didirikan untuk mengisi dunia hiburan karena Djamaluddin Malik sang pendiri dikenal sebagai pengusaha (pemilik perusahaan Djamaluddin Malik Concern, perusahaan ekspor-impor) dan juga politisi (anggota DPR dan Dewan Pertimbangan Agung, termasuk pendiri Lembaga Seniman Budayawan Muslimin bersama Asrul Sani untuk menandingi secara kreatif peran  Lembaga Kebudayaan Rakyat-Lekra.

Djamaluddin Malik, menurut Salim Said, bukannya tak mau membuat film bermutu, terbukti dengan usahanya menyekolahkan tenaga-tenaga Persari ke luar negeri. Cuma lantaran tenaga-tenaga yang disekolahkan itu telanjur besar di dunia tonil atau sandiwara keliling, termasuk Rempo Urip, sudah sulit bagi mereka untuk melepaskan diri dari keterpengaruhan sandiwara tersebut.  

Pada 1952 ketika Urip dikirim Djamaluddin Malik ke Manila, Rempo membuat “Rodrigo de Villa” film berwarna pertama Indonesia, kisah kepahlawanan berlatar kerajaan abad pertengahan di Spanyol dengan pemeran Raden Mochtar dan Netty Herawaty. Persari bekerjasama dengan LVN Pictures, Filipina menurut artikel yang ditulis peneliti Harlen Lookman di majalah Varia, Januari 1956 mengumumkan biaya produksinya sekitar 150.000 peso atau sekitar 1 juta rupiah pada saat itu yang berarti tiga kali lebih tinggi dibandingkan “Darah dan Doa” (1950) produksi Perfini, sutradara Usmar Ismail.  Film “Darah dan Doa” biaya produksinya 350.000 rupiah menurut catatan Usmar sendiri dalam bukunya “Usmar Mengupas Film”.

Mungkin karena film ini diproduksi di Manila, sayangnya hingga kini filmnya belum bisa didapatkan di sini (tidak termasuk dalam arsip Sinematek). Data yang tersedia masih berupa berita di koran dan majalah yang terbit saat itu, seperti “Aneka” dan “Varia”.

Semula sejarah film Indonesia mencatat film “Sembilan” (1967) karya Wim Umboh sebagai film berwarna pertama Indonesia. Penyebutan “Sembilan” sebagai film berwarna pertama Indonesia mungkin semula karena semua tenaga pekerja filmnya orang Indonesia meskipun proses pewarnaan dilakukan di laboratorium film Jepang. Namun berkat penemuan data ini, nampaknya lebih tepat “Rodrigo de Villa” karya Rempo Urip sebagai film berwarna pertama Indonesia.

            Selain “Rodrigo de Villa” di Manila, Rempo membuat film berwarna lainnya yaitu “Leilani” dan “Tabu” pada 1953, sebelum Persari tutup karena krisis ekonomi pada 1957. Persari waktu itu cukup berani bekerjasama dengan LVN perusahaan film Filipina yang kala itu juga termasuk memiliki laboratorium film berwarna terbaik di Asia Tenggara.

“Rodrigo de Villa” dibuat dua kali, yaitu versi Filipina sutradara Gregorio Fernandez dan versi Indonesia oleh Rempo Urip. Setelah Persari tutup, Rempo dikenal bekerjasama dengan berbagai produser film lain. Salah satunya yang paling sering bersama produser film Fred Young. *

Donny Anggoro
Donny Anggoro a.k.a DoRo pernah bergiat sebagai penyunting naskah, penulis, dan penerjemah lepas di berbagai media cetak/daring 1999-2011. 2012 penyunting di Lembaga Bhinneka Nusantara, Surabaya, 2016 penerjemah di The Borneo Institute,Palangkaraya. 2015 mendapat sponsor dari Galeri Indonesia Kaya sebagai penulis naskah lakon musikal "Gumam Gugat Gigit" produksi kelompok teater Gong Tiga. Ulasan filmnya untuk media Rumah Film masuk dalam buku "Tilas Kritik" penerbit Komite Film Dewan Kesenian Jakarta,2019. Bukunya yang sudah terbit "Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia" (Pelangi Sastra Malang,2021). Sejak 2011 mengelola toko buku dan musik online "Bakoel Didiet/Roundabout Music" di Jakarta.