Wonokromo: Pusaran, Pesantren, dan Tradisi Rebo Wekasan

Wonokromo terletak tidak jauh dari Kota Yogyakarta, masuk dalam Kabupaten Bantul. Sejak dulu, desa ini dikenal sebagai desa religius yang mengembangkan lembaga pendidikan agama Islam bernama pesantren, Warga Wonokromo sering bertutur terkait sosok yang dipertuahkan ketika era kerajaan Mataram Islam, sebut saja namanya Kiai Abdullah Faqih atau yang sering dikenal sebagai “Kiai Welit”. Kiai Faqih dikenal sebagai ulama kos yang memiliki kekuatan supranatural sekaligus sebagai tabib yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit terutama pageblug.

Mendengar karomah dan keahlian  Kiai Welit, penguasa Mataram Islam pada saat itu Sultan Agung langsung memberikan hadiah berupa hutan Awar-awar, seketika hutan itu disulap menjadi perkampungan santri yang begitu religius. Masjid menjadi simbol peradaban perkampungan pada saat itu, dalam pembangunnya Kiai Welit dibantu oleh kedua pengikutnya yaitu Kiai Pet dan Kiai Sokopuro selama proses pembangunan masjid. Masjid itu kemudian diberi nama Wa Anna Karoma, sekaligus menjadi pondok pesantren bagi semua warga sekitar alas awar-awar. (sumber KH. Muhammad Wakhid). Karena pelafalan orang Jawa sulit mengucapkan Wa Anna Karoma, maka dengan konsonan Wa Anna Karoma diganti dengan Wonokromo (Web Kalurahan Wonokromo, 2014).

Wonokromo begitu lekat dengan Masjid Pathok Negoro. Masjid Pathok Negoro merupakan masjid kagungan dalem di wilayah Nagaragung (Abror, 2016). Naragung adalah wilayah kekuasaan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sejak dulu hingga saat ini. Masjid Pathok Negoro bukanlah bangunan biasa yang hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, namun, dari arsitekturnya bertabur simbol- simbol yang penuh makna. Makna simbol tersebut sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menjadi rahasia bagi segelintir orang, justru makna ini dijadikan sebagai pepeling (signifier) bagi masyarakat umum, terutama umat Islam. Oleh karena itu, masjid Pathok Negara termasuk kategori simbol denotatif. Ketika simbol berfungsi secara denotatif, maka simbol tersebut akan banyak memberi manfaat bagi lingkungan sosial (Abror, 2016).

Masjid Pathok Negara dan Kraton Yogyakarta memiliki perang penting pada  peradaban Islam Jawa. Menurut Arief Aulia Rachman (2014) menjelaskan Keraton Yogyakarta merupakan simbol pertemuan antara kesalehan normatif dan doktrin mistik. Keberadaan keraton sebagai pusat peradaban di Yogyakarta sangat lengkap dengan misteri-misteri kepercayaan kraton. Rahman menjelaskan realitas itu makin menegaskan keberadaan Keraton  Yogyakarta  sebagai  pusat  peradaban  Islam  Jawa,  yang  sekaligus mempunyai relevansi kuat dengan sistem pemerintahan yang dibentuk di dalamnya. Pihak Keraton Yogyakarta dalam hal ini menjadi pemimpin budaya dan pemimpin pemerintahan bagi masyarakat Yogyakarta.

Pesantren dan Amaliah Rebo Wekasan di Wonokromo

Sentral Masjid Pathok Negoro di Wonokromo menjadi cikal bakal berkembangnya pesantren-pesantren di daerah tersebut. Pesantren berdiri di atas tanah yang memiliki jalur kekerbatan dengan tokoh yang melakukan “babat alas” di wilayah Wonokromo dan sekitarnya. Masyarakat pesantren yang berada di sana menjadi arus utama dalam penyebaran ilmu-ilmu keislaman. Pesantren sendiri menjadi lembaga pendidikan formal  tertua yang bersifat genuin milik Indonesia.

Dalam buku Tradisi Pesantren yang ditulis oleh Zamakhsyari Dhofier menandaskan  bahwa pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri. Professor Jhons berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Sedang C.C. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci Agama Hindu.

Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Dari asal-usul kata santri pula banyak sarjana berpendapat bahwa lembaga pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan keagamaan bangsa Indonesia pada masa menganut agama Hindu-Buddha yang bernama “mandala” yang diislamkan oleh para kiai.

Pesantren memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan masyarakat Wonokromo untuk membina sesuai kaidah-kaidah sosial keagamaan terutama Islam. Peran ini menjadi konstruksi di dalam keyakian masyarakat mengenai tradisi agama. Rebo Wekasan merupakan istilah di kalangan santri di Jawa untuk memperingati hari Rabu terakhir di Bulan Sapar. Rebo Wekasan  merupakan  fenomena  yang  terjadi  di  lingkaran masyarakat  karena faktor akulturasi budaya Jawa dengan Islam secara intensif. Menurut Ahmad Nurozi, Islam di wilayah Jawa memiliki karakter tersendiri karena banyak prosesi ritual  keagamaan  yang  merupakan  perpaduan  dari  nilai-nilai  Islam  dengan animisme dan dinamisme. Meskipun banyak kalangan yang menganggap ritual Rebo Wekasan hanya sebagai mitos, namun juga tidak sedikit yang masih terus melestarikannya hingga sekarang (Farida, 2019).

Istilah  Rebo  Wekasan, tradisi  masyarakat Jawa,  memiliki ragam variasi dan pemaknaan   dalam   penyebutannya. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan istilah Rebo Wekasan, Rebo berarti hari Rabu  dan  wekasan  yang  berarti  pesanan.  Berdasarkan  makna tersebut,  maka  istilah  Rebo  Wekasan  berarti  hari  Rebo  yang  spesial tidak  seperti  hari-hari  Rabu  yang  lain.  Seperti  barang  pesanan  yang dibikin   secara   khusus   dan   tidak   dijual   kepada   semua   orang. Kesimpulan  ini  bisa  dipahami karena  Rebo  Wekasan  memang hanya  terjadi  sekali  dalam  setahun  dimana  para  sesepuh  berpesan (wekas/manti-manti)   agar   berhati-hati   pada   hari   itu   (Zakaria Anshor, 2010 :2 dalam Dzofir, 2017).

Pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan di beberapa daerah memiliki ciri khas masing-masing. Seperti halnya di Wonokromo, tradisi Rebo Wekasan memiliki pelaksanaan berbeda dengan yang lain. Upacara Rebo  Pungkasan dilakukan  oleh  masyarakat  Wonokromo  secara umum seperti halnya umat Islam di Jawa dan tidak  ada  syarat-syarat  khusus  untuk  mengikuti  jalannya  upacara tersebut.  Berdasarkan  hasil  wawancara.  ketika  akan  mengikuti  serangkaian acara Rebo  Pungkasan terdapat  rangkaian  acara  yang  merupakan  tradisi  pemerintah  desa  setempat  yaitu:  1)  pasar  malam  dan  kesenian  2)  pengajian akbar  dan  doa  bersama,  3)  kirab  atau  mengarak  lemper  raksasa  dan  4) pemotongan lemper raksasa (Zunaroh dan Salamah, 2019).

Wonokromo sendiri dalam riwayatnya mengenai tradisi Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan tidak terlepas dari ajaran Sultan Agung. Pada tahun 1600, Kerajaan Mataram Islam dilanda wabah penyakit yang membuat rakyat Mataram pada saat itu banyak terkena dampak dari penyakit itu hingga meninggal. Pemerintahan pada saat itu merasakan kebingungan yang luar biasa. Sultan Agung sebagai pimpinan kerajaan mencarikan solusi supaya pagebluk atau orang Jawa biasa meenyebutkan sebagi wabah penyakit segera berhenti.

Wonokromo sendiri dalam riwayatnya mengenai tradisi Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan tidak terlepas dari ajaran Sultan Agung. Pada tahun 1600, Kerajaan Mataram Islam dilanda wabah penyakit yang membuat rakyat Mataram pada saat itu banyak terkena dampak dari penyakit itu hingga meninggal.

Konon ceritanya, Sultan Agung melakukan tirakat untuk mendapatkan ilham sebagai solusi mengatasi wabah. Singkat cerita, Sultan Agung memanggil Kiai Abdullah Faqih yang bertempat tinggal di Desa Wonokromo untuk melaksanakan pembuatan tolak bala tersebut. Setelah itu, Kiai Abdullah Faqih atau dikenal dengan nama Kiai Welit karena sudah mendengar keampuhannya itu. Setelah itu Kyai Welit melaksanakan dawuh dari Sunuwun untuk membuat tolak bala yang berwujud rajah dengan tulisan arab Bismillahi Rahmanir Rakhim sebanyak 124 baris.

Tulisan yang berwujud rajah itu kemudian dibungkus dengan kain mori putih. Selanjutnya, rajah diserahkan kepada Sultan Agung serta memohon supaya rajah tersebut dimasukkan kedalam air. Air azimat itu kemudian diminumkan kepada orang sakit dan menyembuhkan. Mulai saat itu kabarnya tersebar sampai desa-desa dan menyebabkan orang sakit lalu berbondong bondong datang untuk mendapatkan air dari azimat tersebut.

Dengan banyak penduduk yang berdatangan untuk minta air ajimat, dikuatirkan air tersebut tidak mencukupi. Akhirnya Sultan Agung memerintahkan kepada Kiai Abdullah Faqih agar air azimat yang masih tersisa dalam bokor kencana dituangkan di tempuran kali Opak dan Gajah wong, dengan maksud supaya siapa saja yang membutuhkan cukup mandi di tempat tersebut. Berita itu cepat beredar luas ke masyarakat, wargi Mataram akhirnya mandi atau sekedar mencuci muka tempuran tersebut dengan harapan segala penyakit yang diderita segera terangkat (Jogjaprov, 2012).

Akhirnya Sultan Agung memerintahkan kepada Kiai Abdullah Faqih agar air azimat yang masih tersisa dalam bokor kencana dituangkan di tempuran kali Opak dan Gajah wong, dengan maksud supaya siapa saja yang membutuhkan cukup mandi di tempat tersebut.

Tahun 1990 tradisi Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan sudah dikoordinir oleh panitia. Pada waktu itu sebagai puncak acara adalah kirab lemper raksasa, yaitu sebuah tiruan lemper yang berukuran tinggi 2,5 meter dengan diamter 45 cm. Lemper tersebut kemudian diarak dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km. Dalam kirab lemper ini diawali dengan barisan prajurit Kraton Ngayogyakarta, menyusul kemudian lemper raksasa tiruan yang diusung oleh empat orang, dan diikuti lemper yang berukuran sepanjang 40 cm dan 15 cm. Selanjutnya yang di belakangnya lagi adalah beberapa kelompok kesenian  setempat  seperti  Shalawatan, Kubrosiswo,  Rodat, dan  sebagainya yang ikut memeriahkan Upacara Rebo Wekasan (Jogjaprov, 2012).

Tradisi Rebo Wekasan dalam Pusaran zaman

Tradisi Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Wonokromo. Tradisi tersebut langgeng dilaksanakan karena masyarakat Wonokromo masih mempercayai tradisi yang dilakukan oleh para leluhur mereka. Tradisi yang bersifat religi termasuk bagian unsur kebudayaan yang oleh Prof. Koentjaraningrat sebagai konsep religius.

Konsep  religi  mengandung  berbagai  unsur  seperti  keyakinan,  ritual, upacara, sikap dan pola tingkah laku, serta alam pikiran dan perasaan para penganutnya. Berbagai aktifitas seperti berdo’a, bersujud, bersaji, berkorban, slametan, makan bersama, menari dan menyanyi, berprosesi, berseni drama suci,  berpuasa,  bertapa,  bersemedi,  mengucapkan  mantra,  mempraktikan magis, mempercayai mahluk-mahluk halus (gaib), menyediakan sesajen dan lain sebagainya merupakan bagian dari aktifitas religi (Koentjaraningrat, 1980 dalam Humaeni, 2015).

Menurut Prof.  Dr.  M.  Driyarkara,  S.J.  mengatakan  bahwa  kata  agama  kami  ganti  dengan  kata  religi,  karena  kata  religi  lebih  luas,  menganai  gejala-gejala  dalam  lingkungan  hidup  dan  prinsip.  Istilah  religi  menurut  kata  asalnya  berarti  ikatan  atau  pengikatan  diri.  Oleh  sebab  itu,  religi  tidak  hanya  untuk  kini  atau  nanti  melainkan  untuk  selama  hidup.  Dalam  religi  manusia  melihat  dirinya  dalam  keadaan  yang  membutuhkan,  membutuhkan  keselamatan  dan  membutuhkan  secara  menyeluruh (Firmansyah dan Putrissari, 2017).

Oleh karena itu Kebudayaan bersifat dinamis. Hal ini tentu saja menjadi pikiran menggelitik yang perlu dikulik lebih jauh lagi. Pada awal tradisi Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan di Wonokromo memiliki sarat makna religi yang mendalam. Kemagisan tradisi yang termasuk bagian kearifan lokal ini pada eranya sangat diyakini bahkan menjadi konstruksi keyakinan masyarakat Wonokromo ala pesantren. Namun, pergeseran permaknaan bisa terjadi pada perubahannya waktu. Pergeseran makna terjadi dikarenakan adanya globalisasi yang mengkontruksi kebudayaan pada umumnya,

Walaupun ada  usaha untuk  mewariskan  kearifan  lokal  dari  generasi  kegenerasi,  hal  ini tidak menjamin  bahwa  kearifan  lokal  itu  tetap  kukuh  dan  terjaga  dalam menghadapi situasi globalisasi yang sekarang ini. Sebab, globalisasi menawarkan sebuah gaya hidup yang semakin praktis dan komunikatif. Secara fakta, hal   ini dapat dilihat dari cara kearifan lokal yang menyimbolkan kebijakan  dan  filosofi  hidup  nyaris  tidak  terimplementasikan  dalam  praktik hidup. Pergeseran akibat globalisasi ini memungkinkan kearifan lokal bertransformasi secara lintas  budaya  yang  pada  akhirnya  melahirkan  sebuah nilai budaya (Pratiwi, 2018).

Pergeseran pemaknaan akibat globalisasi terlihat pada tradisi yang dikomersilkan sehingga nilai kesakralan menjadi terkikis. Sebagai contoh, pelaksanaan Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan di Wonokromo menjadi potensi wisata. Tradisi kesakralan yang dikomersilkan ini perlahan-lahan menjadi nilai materialisme. Materialisme merupakan antinomi spiritualisme atau idealisme, yang merupakan suatu ajaran  di mana  pokok-pokoknya  adalah  sebagai berikut :

Pertama, hanya   benda (matter)yang   merupakan kenyataan  atau  hal  yang  eksisten.  Benda merupakan unsur primordial atau fundamental alam semesta. Kedua, semuanya   dapat   dijelaskan   atas   dasar benda-benda  yang  begerak  dari  energi, sehingga semua perbedaan kualitatif dapat dikualifikasi. Yang dapat  menjadi  objek penelitian ilmu pengetahuan hanyalah hal-hal yang bersifat fisik atau materiil. Ketiga, nilai tertinggi yang harus dianuti manusia adalah  kenyataan,  kepuasaan  badaniyah, dan  kenikmatan  fisik.(Runes, Dagobert D.   Dictionary   of   Philosophy,   Totawa, New   Jersey:   Littlefield,   Adam   &   Co., 1975), (Kurnisar, 2015).

Tradisi Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan di Wonokromo sebagai potensi wisata menjadi sebuah tontonan bukan sebuah tuntunan. Sebab, masyarakat Wonokromo generasi saat ini memiliki pergeseran konstruksi keyakinan akibat globalisasi sebagai perubahan zaman. Kritik ini juga disampaikan oleh Karti (2016) menjelaskan bahwa ketika kita menonton atau meneliti banyak upacara, jangan heran bila kita kemudian merasa seperti sedang menonton teater atau seni pertunjukan. Ada sosok yang berperan seolah-olah ia adalah seseorang yang paling pantas berkuasa, sosok yang seolah-olah dikuasai, dan sosok yang melawan atau beriktiar untuk merebut kekuasaan dari yang lain. Akan tetapi semua itu cuma peran “seolah-olah” dan tidak harus sesuai dengan realita. Semua itu hanya pertunjukan yang simbolik (Lastoro, 2007:93). Artinya bahwa, dalam ritual sebuah estetika juga tetap dibutuhkan. Wujud sebuah upacara tidak lah lepas dari pencitraan.

Tradisi Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan di Wonokromo sebagai potensi wisata menjadi sebuah tontonan bukan sebuah tuntunan. Sebab, masyarakat Wonokromo generasi saat ini memiliki pergeseran konstruksi keyakinan akibat globalisasi sebagai perubahan zaman.

Kritik yang disampaikan oleh Karti memiliki kata kunci “Pencitraan”. Kata kunci dapat menjadi multitafsir sehingga kata kunci tersebut harus dilihat secara mendetail pada peristiwanya. Tradisi Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan sebagai potensi wisata ini bisa dikategorikan sebagai pencitraan sehingga keramaian tradisi tersebut hanya dilihat sebagai hiburan rakyat dan adanya pasar murah, sehingga masyarakat yang berdatangan memiliki motif mencari kesenangan dan memperbelanjakan jajanan yang ada di sekitar sebagai kepuasan dirinya.

 Hal ini seleras penjelasannya Kurnisar pada poin ketiga, yakni nilai tertinggi yang harus dianuti manusia adalah kenyataan, kepuasaan badaniyah, dan kenikmatan. Pemaknaan berkaitan spiritual itu dilandasi di dalam konstruksi keyakinan akal mauapun batin yang bersumber pada ajaran agama. Sebab, seperti dikatakan Kurrnisar dalam poin ketiga itu konstruksi akal yang bersifat materialisme sehingga hanya bisa merasakan bersifat material-material yang dirasakan oleh indera.

Inilah penyebab menjauhnya manusia dari urusan agama sebagai kepercayaan serta menjadi kebingungan antara ilmiah yang didominasi kerangka rasional dan agama sebagai kepercayaan yang didominasi irasional menjadi tidak singkron. Kebingungan ini juga dikarenakan materialisme yang membatasi keberadaan Tuhan dan mengamati dengan kacamata ilmiah terhenti pada kekuataan alam yang mengeksistensi. Seperti halnya matahari menyinari bumi dari terbit hingga tenggelam. Pergerakan matahari yang melihat dari siklus kemudian banyak menyimpulkan matahari tergerakan oleh kekuatan alam.

Tradisi Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan adalah tradisi di mana masyarakat pesantren yang dibawah otoritas para ulama mencari keselamatan dalam kehidupan sehari-hari dengan menyimbolkan sedekahan dan rangkaian tradisi yang dilandasi nilai-nilai keislaman yang diajarkan para ulama. Tergerusnya tradisi dengan adanya globalisasi menimbulkan pergeseran makna pada generasi selanjutnya. Meski begitu, tradisi sebagai bagian kebudayaan tidak begitu saja lepas pada daerah yang kekuasaannya pada pemerintah yang dulunya menjadi pusat kebudayaan di Jawa, yakni Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Kelestarian tradisi yang terlaksana tergantung bagaimana masyarakat meregenerasi anak cucunya sebagai pewaris dan pelestari desa Wonokromo.

Buku Langgar Shop
Iksan Aji Pamungkas
Mahasiswa Antropologi Budaya Universitas Gajah Mada (UGM)