Pengalaman Bersama Khidr, Tiga Gelincir Dalam Kesatuan Cerita

Kisah Khidr merupakan cerita klasik Islam yang selalu memikat untuk diceritakan kembali, terutama bagi para petualang pencari “kebenaran” dan jati diri insani. Bersumber dari kitab suci surah al-Kahfi, tentang seorang lelaki hamba Allah “yang telah Kami beri rahmat kepadanya (berupa ilmu laduni)” (QS. Al-Kahfi: 65). Ya, “ilmu di sisi kami” (min ladunna ‘ilma), suatu pengetahuan gaib (di sisi Tuhan) yang mampu menghapus dahaga para pencari kebenaran sejati. Maka, kisah ini kemudian terus direproduksi secara lisan maupun lewat teks-teks keagamaan, juga kisah-kisah para sufi.

Para sufi sememangnya adalah para pencari, pejalan rohani (salik), yang kemudian mendapatkan rahmat (ma’rifah atau pengetahuan) dan menyebarkan berkah ilahi (dimaksudkan sebagai al-barakah al-Muhammadiyah, sebagaimana dijelaskan Seyyed Hossein Nasr dalam buku Spiritualitas dan Seni Islam), kepada para salik berikutnya (mutashawwifun, orang yang ingin membersihkan jiwanya). Para sufi pula yang apresiatif terhadap bentuk-bentuk ekspresi kesenian yang beragam, dari sastra hingga seni rupa. Pandangan mereka tentang Keindahan Ilahi (Jamal) kemudian berimbas pula pada cara pandang mereka dalam mengapresiasi keindahan semesta ciptaan dan hasil-hasil kreasi manusia, yang selalu bertautan dengan Keindahan hakiki. Konsep keindahan semacam ini lazim dikenal sebagai ‘estetika sufi’.

Cerita pendek (cerpen) dalam tradisi sastrawi adalah bentuk yang mengemukakan alur, penokohan, setting atau latar cerita, yang dikemas secara ringkas dan langsung menohok pada “pengalaman” p(/m)embaca. Cerpen-cerpen mutakhir dalam pencarian bentuknya kemudian melahirkan eksplorasi bentuk cerita dalam plot (alur cerita) yang tidak biasa; pengarakteran tokoh yang kuat, jelas atau sebaliknya penuh misteri; cerita dan bentuk dialog yang padat, tidak bertele-tele, dan langsung mengungkap makna yang jelas atau sebaliknya abstrak penuh filosofi.

 Demikianlah, kisah “Tiga Gelincir Bersama Khidr” karya Norham Abdul Wahab (dalam buku kumcernya Faqih yang Kesepian, Tarebooks, 2022) dimulai dari suatu retorika filosofis tentang sosok yang ditunggu-tunggu.

“Aku menunggu Khidr. Ia akan datang sebentar lagi. Ia akan membawaku berjalan-jalan ke sebuah taman. Di sana penuh bunga, warna-warni indah mempesona. Entah taman apa namanya, dan entah di mana. Ia tak menyebutkannya. Kamu tahu taman itu? Ah, tentu saja tidak. Sebab ia memang tak akan pernah mengatakannya kepada siapa pun jua. Juga padaku.”

                                                                                                            ***          

CERITA sepanjang 12 halaman ini oleh pengarangnya dibagi dalam tiga fragmen yang dipertalikan oleh sosok yang “diduga” adalah (Nabi) Khidr dalam tradisi Islam. Diduga, karena tokoh ini sendiri dalam cerpen Norham tidak menyebut dirinya secara langsung sebagai manusia “abadi” itu. Sosoknya hanya diduga, atau setidaknya “dikenali”, oleh lawan bicaranya, bahkan dengan setengah memaksa, sebagai Khidr.

Aku bukan Khidr. Sudah kukatakan berulang kali. Aku Abdul Shaleh.” “Ya, dikaulah hamba shalih itu. Maka, ajarilah aku…. Ahahai… Sahlah sudah: dikaulah Khidr. Akhirnya kita bertemu.” “Itukah lelaki yang kami cari? Ia menggamit tangan Amien, mengajak berjalan ke rimbun pepohonan…. Di sanalah kami duduk, serasa berada di taman bunga.

 “Tapi aku tak tahu, ke mana sampan itu akan menuju. Lalu, di tengah lautan, kala tak setitik pun dapat kulihat bayang daratan, ia membocorkan perahu itu.” Membocorkan perahu, persis seperti itulah kisah dalam al-Quran menjelaskan sosok yang dibersamai (Nabi) Musa itu “melubangi perahu”.

Tapi aku tak tahu, ke mana sampan itu akan menuju. Lalu, di tengah lautan, kala tak setitik pun dapat kulihat bayang daratan, ia membocorkan perahu itu.

Namun pengarang cerpen ini tentulah sudah akrab dengan kisah itu, sehingga kemudian ia mencoba menyiasati kisahnya agar tak menjadi klise (ekspresi atau gagasan yang terlalu sering digunakan sehingga menjadi tak bermakna baru lagi) dengan membuat tokoh Abdul, meski sempat kalang kabut, tak ingin melanjutkan bertanya. Sedemikian sehingga, membuat sosok itu pun tersenyum, alih-alih seperti menghardik Musa dalam QS. Al-Kahfi (ayat 72): “Bukankah aku katakan, sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.

Ketiga fragmen dalam cerpen ini tidak langsung berkaitan, kecuali melalui pembayangan sosok Khidr. Fragmen kesatu dalam kisah ini menceritakan seorang yang menunggu Khidr (seperti digambarkan dalam paragraf pertama hingga ketiga). Ia kemudian merasa bertemu dengan yang dicarinya, ketika seorang laki-laki lain muncul dari balik punggungnya dan bertanya, “Betul dikaukah yang menunggu Khidr?” Seperti telah dikutip di atas, laki-laki itu menyanggah dirinya adalah Khidr, namun yang menunggu tetap bersikeras bahwa ia adalah Khidr. Si lelaki kedua yang tak ingin memperpanjang perdebatan ini lalu mengajaknya ke sebuah kedai lalu memesan dua gelas kopi tanak saring yang dibubuhi sedikit cengkeh giling.

Percakapan filosofis keduanya menyeret pembaca pada (justru) kemisteriusan sosok pertama, yang oleh sosok kedua diperkirakan berusia ribuan tahun (dengan penjumlahan kelipatan amalnya). Ia rupanya menyadari dirinya akan mati tak lama lagi, dan karena itulah ingin bertemu Khidr untuk mengajarinya. Mengajarinya apa? Tak jelas di sini arahnya ke mana, malah kemudian ditindih dialog-dialog berikutnya, yang kemudian menegaskan namanya sebagai Kalam—ini menambah lagi kemisteriusan siapa sebenarnya sosok pertama yang menunggu Khidr itu. Fragmen ini ditutup dengan kegusaran sosok kedua atas berondongan tanya sosok pertama, yang membuatnya berkemas dan pergi bergegas. Tidak terlalu jelas pula, apakah kemudian ia diikuti oleh sosok pertama yang sejak awal menunggu dan ingin dibawa ke taman penuh bunga (?).

Fragmen kedua dimulai dari kisah serupa penceritaan al-Quran tentang alamat (tanda-tanda) tempat kehadiran Khidr. Kecuali tentang sosok Khidr yang dipertegas dan “disiasati”, cerita kedua ini tampaknya tidak berkaitan dengan cerita pertama. Tokohnya telah alih-figur ke tokoh Amien (yang menjadi sentral penceritaan) dan ‘Aku’ (dipanggil Amien sebagai Domora) yang lebih memilih memotret interaksi Amien bersama sosok laki-laki berjubah lusuh berwarna hijau payau.

“Tatapannya tajam, pandangannya tak lepas dari laut yang bergelombang, membuat punggungnya disengat terik matahari yang merejam…. Amien menegur menyapanya;…. Amien menyalaminya;…. Amien memeluk tubuhnya yang udzur;…. Mereka tertawa lepas, tak sungkan…. Itukah lelaki yang kami cari?”

Berbeda dengan fragmen satu, dan juga nanti yang ketiga yang sama membuat sosok yang dianggap Khidr gusar, kisah ini diakhiri rasa puas. Mereka bertiga duduk di rumah panggung, serasa berada di taman bunga, berbincang, makan minum hingga senja, menjelang malam menyelungkup seantero dunia. Sampai di sini perlu dijelaskan, bahwa nama Khidr, seperti dijelaskan Ibnu Hajar Asqalani dalam Az-Zahru an-Nadhir fi Naba’i al-Khadhir, diambil dari kata khadhra’ yang berarti (berwarna) hijau. Demikian kita dapat memahami, kenapa sosok misterius dalam fragmen dua ini digambarkan memakai jubah berwarna hijau.

Sampai di sini perlu dijelaskan, bahwa nama Khidr, seperti dijelaskan Ibnu Hajar Asqalani dalam Az-Zahru an-Nadhir fi Naba’i al-Khadhir, diambil dari kata khadhra’ yang berarti (berwarna) hijau.

Fragmen tiga dalam cerpen ini dan menceritakan ulang kisah al-Quran tentang tiga fragmen Khidr-Musa dengan penyiasatan sebagaimana diungkapkan sebelumnya. Tokoh-tokohnya bukan lagi Khidr, Amien dan Wahab, tapi alih-figur ke Khidr, Wahab, dan Abdul sebagai “Aku”. Ia memotret Khidr membocorkan perahu, menikam seorang remaja dengan sebilah pisau, dan turut membantu menegakkan kembali sebidang dinding dari gubuk yang hampir roboh. Seperti halnya Musa, meski ia sempat menahan diri hingga peristiwa ketiga, tokoh Aku tak dapat menahan tanya lebih lanjut dan malah membuat antiklimaks, “Akan ke mana lagi kita ini, Buya?” Cukuplah pungkasan ini mengakhiri cerita, membuat yang ditanya menghentikan langkah dan memandang dengan raut wajah marah. “Aku tersentak (tampaknya ia menyadari siasatnya yang sudah bagus di muka telah berbelok arah), dan sangat menyesal.”

                                                                                                            ***

KOSMOLOGI sufi yang mengandaikan hubungan berkesinambungan antara mahkluq (makhluk, yang dicipta) dengan Khaliq (Pencipta)-nya, meniscayakan suatu dunia imajinal (alam al-khayyal) yang memerantarai “jarak” keduanya. Khaliq adalah zat yang tak terbayangkan dan melampaui imajinasi makhluk bagaimanapun ia dapat membayangkannya. Hanya di dunia antara, barzakh, pengalaman-pengalaman ilahiah dapat dirasakan untuk diceritakan atau diekspresikan kembali dalam seni manusia. Tuhan ingin “dikenal” dan ia menciptakan makhluk, demikian awal penciptaan sebagaimana dipahami para sufi dari sebuah Hadits Qudsy.

Manifestasi Tuhan (tajalli) yang “ingin dikenal” inilah yang membawa imajinasi (kehadiran hamba di sisi-Nya dengan taraqqi) ke alam antara (barzakh) yang juga disebut Sufi Ibnu ‘Arabi alam al-khayyal (dunia imajinal, yang tentu bertentangan dengan konsep imajinasi positivistik yang sejak awal menegasikan konsep ketuhanan/keagamaan).

Dari sinilah dapat dimaklumi “imajinasi” yang menjadi inspirasi bagi kisah-kisah sufistik, semacam “idea” Platonik yang dipantulkan kembali oleh cermin barakah (al-Muhammadiyah) melalui al-kainat (bentuk-bentuk ciptaan). Kisah-kisah itu sendiri, sebagaimana ditegaskan Nasr bukan sekadar “rekaan khayali” manusia, malahan sebenarnya ditimba dari dunia kearifan (ma’rifah) yang bentuk-bentuk hingga “warna”nya serupa dihadirkan kembali dalam simbolik-simbolik bahasa (cerita).

Dari sinilah dapat dimaklumi “imajinasi” yang menjadi inspirasi bagi kisah-kisah sufistik, semacam “idea” Platonik yang dipantulkan kembali oleh cermin barakah (al-Muhammadiyah) melalui al-kainat (bentuk-bentuk ciptaan). Kisah-kisah itu sendiri, sebagaimana ditegaskan Nasr bukan sekadar “rekaan khayali” manusia, malahan sebenarnya ditimba dari dunia kearifan (ma’rifah) yang bentuk-bentuk hingga “warna”nya serupa dihadirkan kembali dalam simbolik-simbolik bahasa (cerita).

Adapun tujuan-tujuan dari kisah atau cerita itu sendiri kemudian tidak ditujukan semata untuk inderawi manusia, sehingga tak perlu dijelaskan secara detail dalam kaitan spasial-temporal “sejarah” manusia. Ia adalah hikmah, agar manusia dapat mengambil ibroh (pelajaran) untuk dirinya yang terus diuji agar diketahui siapa yang lebih baik amalnya di sisi Allah, Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluakum ayyukum ahsanu ‘amala (Dia-lah Tuhan yang menjadi kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalnya).

Lalu, ibroh nyata apa yang dapat kita petik dari tiga fragmen ketergelinciran di atas?

Dunia pengalaman begitu ditekankan, seperti juga melalui seni, dalam kesatuan pandangan sufistik. Dunia pengalaman menjadi beragam mengingat latar belakang “pembaca”, namun hal ini niscaya dapat disepahami dalam pembacaan yang kritis, lebih-lebih bagi para sufi. Salah satu cara “memahami” para sufi itu adalah syuhudul wahdah fil katsrah wa syuhudul katsrah fil wahdah, yang berarti menyaksikan “Yang Satu di dalam yang banyak dan (sebaliknya) menyaksikan yang banyak dalam Kesatuan”. Jadi, bagaimanapun jumlah atau bilangan beserta paradoksnya, pada hakikatnya Yang Satu itu jualah yang kemudian dilihat Nyata.

Ada tiga pengalaman yang ada pada tiga fragmen kisah bersama Khidr di atas. Pengalaman pertama melalui tokoh Kalam yang sok tahu tentang Khidr, sehingga membuat yang diduga kemudian menjadi marah dan pergi bergegas. Pengalaman kedua yang melenakan dan membuat cukup puas tokoh Amien dan Wahab yang berasa telah sampai di taman bunga. Pengalaman ketiga melalui siasat tokoh Abdul namun pada akhirnya tak sanggup pula menahan tanya, mengakibatkan sosok yang diduga Khidr menjadi kesal dan membuatnya (Abdul) menyesal.

Ketiga bentuk pengalaman ini bisa saja membawa pemahaman pembaca lebih “tinggi”, seperti disebut Abdul Hadi W.M. dalam “Islam, Estetika, dan Seni”, yaitu pengalaman akan Keindahan, Keagungan dan Kesempurnaan (Jamal, Jalal, Kamal) Allah. Dengan menyadari bahwa setiap pengalaman bisa saja merupakan ketergelinciran dari pemahaman personalnya, setiap pencari (salik) akan sampai memahami bahwa kesempurnaan (baca juga Kesatuan, Keutuhan) tentu hanya milik Sang Pencipta. Inilah hikmah yang selalu diangankan dalam musyahadah (penyaksian) sufi, dan yang demikian bisa saja kita alami setelah membaca cerpen ini.

Hajriansyah
Hajriansyah, lahir dan menetap di Banjarmasin. Ia menulis puisi, cerpen dan esai, dan sudah terbit dalam sejumlah buku. Selain itu ia juga melukis, sesekali jadi kurator, dan berpameran di sejumlah tempat. Sekarang, sambil merampungkan disertasinya tentang dunia sufi, ia mengelola Kampung Buku (Kambuk) di kota kelahirannya, dan menjadi Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin.