Seratusan sahabat dan relasi komposer Erros Djarot semalam (12/1) berkumpul di rumahnya di kompleks Deplu Jakarta Selatan untuk menyaksikan eksperimennya: menggelar pertunjukan musik karya-karyanya secara “resmi”.

Ruang tengah rumahnya yang cukup luas diubah menjadi panggung yang mengesankan, dengan kualitas akustik yang patut dipuji, dan tata panggung minimalis yang elegan, dengan latar hitam dan logotipe namanya yang didesain dengan baik.

Kualitas musik pengiring yang ditampilkan pun pantas: sebuah orkestra kecil, dengan beberapa biola dan cello, dengan music director Anwar Fauzi (cukup disayangkan “kehalusan” musik banyak ditindih oleh kelantangan suara vokal; berlawanan dengan kecenderungan umum musik pop kita: vokalis selalu ditindas habis oleh gemuruh drum, gitar listrik dan lain-lain, yang dimainkan tanpa sensitifitas musikal).

Itu adalah show pertama, dari rangkaian yang direncanakan dihelat dua minggu sekali, tapi akan diselingi oleh kegiatan-kegiatan lain (mungkin pembacaan cerpen; kelas pelatihan akting, pelatihan penyutradaraan, dll — semuanya masih tentatif). Semuanya dihadirkan sebagai live streaming dan diunggah ke YouTube.

Jika pertunjukan semalam dijadikan indikator tentang peluang sukses eksperimen yang perlu waktu cukup panjang ini, maka kita belum berani meramalkannya. Dua belas karya Erros dimainkan, sebagian besar karya pasca album “Badai Pasti Berlalu” yang, bagi saya, merupakan album musik pop terbaik dalam sejarah musik Indonesia.

Dan pilihan tentang lagu-lagu “non-BPB” itu tepat. Betapapun bagusnya album berusia 40an tahun itu, Erros patut dipuji karena berani “melupakannya” dan menyuguhkan karya-karyanya yang lebih baru — meski ada juga ciptaan dari masa 25 tahunan silam.

Jika kau terus menonjolkan prestasi masa silammu, itu artinya apa yang kau kerjakan hari ini tidak penting, tidak layak disajikan, tidak bermutu — begitulah kalau ucapan Mikhail Gorbachev kita tangkap maknanya.

Tanpa saya ingat judul-judulnya, yang sangat terasa adalah: sepuluh lagu pertama bercorak sama, baik melodi mapun lirik-liriknya. “Bayang”, “bayangan” dan “bayang-bayang” rasanya muncul di beberapa lagu, memberi kesan bahwa lirik-lirik yang semuanya “bertutur” itu (meski tak sampai menjadi balada) memerlukan pengayaan ungkapan, daya ucap dan diksi yang lebih mendekati kesegaran ekspresi (sekali lagi: ini cuma kesan yang mungkin keliru; saya tak sempat mencermati teks lirik-lirik itu).

Lagu ke-11, dibawakan dengan baik oleh Dira Sugandhi, mengubah seluruh irama pertunjukan dengan cukup kuat. Beat lagu itu, juga idiom musikal yang keluar dari “pakem” kesepuluh lagu sebelumnya, lebih dinamis — Erros the composer boleh mengeksplorasi tendensi ini dalam karya-karya dia berikutnya.

***

Erros juga layak dipuji untuk kejeliannya meraba bakat para penyanyi tak dikenal, yang ternyata kemudian terbukti mereka selayaknya mendapat perhatian lebih besar daripada sebelumnya.

Fryda Lucyana, misalnya, yang diperkenalkan Erros lebih dari dua puluh tahun silam, terbukti tangguh. Semalam ia membawakan beberapa lagu dengan baik, seperti biasa. Tiga penyanyi lain, Shri Yogi, Ratu Sikumbang, Gabriel Harvianto) juga hanya membuktikan bahwa Erros adalah pembidik bakat yang tajam.

Tapi ada elemen yang kehadirannya di semua pertunjukan musik domestik nyaris membuat saya putus asa: kegemaran para penampil untuk ngomong.

Malam itu panggung omongan dikuasai penuh oleh Erros Djarot; ini masih bisa ditoleransi bukan hanya karena dia yang punya hajat, tapi karena ini adalah show pertama yang diasumsikan membingkai seluruh rangkaian program yang mungkin berlangsung hingga beberapa bulan atau tahun mendatang.

Tapi para penyanyi sungguh-sungguh perlu menyadari bahwa orang-orang datang dari tempat-tempat yang jauh adalah untuk melihat mereka menyanyi, bukan untuk mendengar mereka bercerita tentang asal mula berkenalan dengan karya si Anu atau berdebar-debar waktu diuji kemampuan menembangnya, dst. dsb. dll.

Syukur alhamdulillah malam itu sebagian besar penampil cukup bisa menahan diri — kecuali Gabriel, yang bertutur tentang hal-hal yang dia anggap penting dan pantas diceritakan, dan merasa yakin penonton pun memiliki perasaan yang sama.

Hemat saya: pertunjukan sekecil apapun memerlukan seorang stage director yang tegas, yang menyodorkan daftar “jangan dan boleh” dilakukan di panggung (the do’s and the don’t’s) bagi para penampil. Jika tidak, “penyakit” kronis yang diidap oleh hampir semua pertunjukan musik kita tak akan tersembuhkan — saya sudah menunggu kesembuhan ini sedikitnya 40 tahun.

Seandainya mereka pernah menonton show Sting, Rod Stewart, Diana Ross, Taylor Swift, Adelle, Rihana, Elton John, Eric Clapton, Rolling Stones, Pink Floyd — saya masih bisa menyebut ratusan lainnya secara acak — mereka pasti insaf bahwa penyanyi/grup-grup global itu benar-benar sadar bahwa orang datang bukan untuk mendengar pidato mereka, yang sudah pasti kalah penting dan menarik dibanding pidato politisi atau ceramah ilmuwan.

(Di Salihara, pernah seorang gitaris tenar tampil dalam acara tahunan yang serius, dan dia cerita panjang-lebar tentang perjumpaannya dengan piringan-piringan hitam sambil menunjukkan vinil-vinil itu, lalu tanpa malu mengumumkan: “Saya sengaja banyak bicara seperti ini supaya main musiknya sedikit saja” — kaum penonton yang aneh malah tertawa, bukan tersinggung, dan dada saya kontan sesak tapi bersyukur karena tidak sampai pingsan).

***

Bagaimanapun, saya gembira dan menghargai eksperimen panggung-rumah Erros Djarot ini. Sepanjang yang saya kenal, bakat terbesar Erros adalah di bidang musik, sinema dan mungkin bidang-bidang kreatif lainnya.

Dengan mengoptimalkan bakat terbesarnya itu dan menyajikannya kepada publik, ia jauh lebih mungkin berkontribusi besar pada Indonesia.

Nasionalismenya yang berkobar-kobar dan pantas kita puji boleh ia wujudkan melalui saluran kreatif, yang tak kalah penting dibanding saluran politik; meski spirit besar itu tak harus muncul harfiah dan nominal dalam lirik lagu-lagunya, seperti misalnya pada lagu penutup di acara malam itu.

Siapa tahu pertunjukan perdana yang meriah ini, dihadiri oleh Menkopolhukan Moh. Mahfud MD dan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki sampai usai, menjadi titik-awal Erros Djarot untuk kembali ke khittah sebagai seniman yang pernah melahirkan karya-karya cemerlang.

Hamid Basyaib
Former Director of Program pada Freedom Institute, Former Executive Director pada SPIN (Strategic Political Intelligence).