Krenah Kelawan Grenah: Petani Di Zaman Edan

https://id.pinterest.com/pin/457889487083789380/

Tanggal 7-11 Oktober 1879 kongres pertanian perdana yang diadakan di Hindia Belanda yang bertempat di depan Kraton Surakarta. Kongres yang didaku sebagai pertemuan ilmiah pertama terkait produksi pertanian ini menghadirkan para elit Pribumi dan elit Eropa. Pengumpulan para elit penting itu tak lain untuk memperbincangkan praktik-praktik pertanian modern guna meningkatkan hasil produksi pertanian di tanah jajahan. Begitulah catatan terkait bidang pertanian yang tercatat di koran berbahasa Jawa pertama. Di tempat itulah R.Ng.Ranggawarsita III pernah menjadi editornya.

Mengambil pahit-getirnya istilah zaman edan yang masyhur dengan sang Pujangga R.Ng. Ranggawarsita III, patut dijadikan frasa berasa penggambaran di masa geger nasib kaum Tani ditengah gempuran raksasa maha kuat bernama industrialisasi.

Menengok Masa Lalu

Dalam catatan Walhi selama kurun waktu 2011-2018 terdapat 764 konflik agraria. Benar-salahnya angka ini pasti sebuah kemungkinan. Tapi semua itu tetaplah gesekan yang lambat-laun, jika dibiarkan akan semakin memanas dan menuju titik didihnya.

Begitu pula konflik kaum tani yang terjadi di tahun 1880-an. Petani Banten melakukan perlawan dengan kaum kolonial dan semua orang yang mengagung-agungkan para kaum kolonial. Tekanan zaman membuat para petani di masa itu mudah tersulut. Apalagi dogma agama yang menjadi landasan pergerakannya. Para haji sangat mudah mempropaganda gerak dari para petani Banten di masa itu.

Gejolak yang terjadi di Banten pun menyulut beberapa pemberontakan di daerah lain. Sartono Kartodirjo mencatat beberapa haji di daerah lain pernah bersinggungan dengan para haji di Banten. Salah satunya para haji yang ada di Ponorogo. Meskipun tak begitu detail disebut, pergolakan petani di daerah Patik Pulung seolah-olah sejalan dengan apa yang terjadi di Banten.

Pemberontakan Patik Pulung dalam riset Ong Hok Ham dijelaskan, selain masalah politis para priyayi Ponorogo, latar persoalan tanah, kerja rodi dan tingginya pajak menjadi landasan permasalahan berikutnya. Berawal dari penolakan pengadaan sistem tanah komunal bagi para pemilik tanah di desa, merembet sampai gaung Ratu Adil yang sangat marak di masa itu.

Di dekade berikutnya (tahun 1907) gerakan Saminisme masuk ke Madiun. Samin Surosentiko menolak sistem yang diterapkan oleh Kolonial atas tanah yang dimiliki masyarakat. Di Madiun, gerakan ini dibawa oleh Wongsoredjo ke daerah Jiwan. Sedulur siikep yang populer dan melekat dengan saminisme sebenarnya terminologi bagi para petani yang berdikari hanya mengolah tanah milik mereka sendiri, tanpa adanya tuan dalam konsep kerja mereka.

Samin Surosentiko dan para pengikutnya sangatlah terbebani dengan beban yang ditimpakan oleh kolonial. Mereka menyebut segala aturan yang diterapkan kolonial sebagai Krenah Kelawan Grenah (Hal buruk yang ditampilkan sebagai hal berguna).

Sejalan dengan tanggapan Ong Hok Ham, mungkin dasar cultural (kebudayaan) menimbulkan gesekan bagi para petani. Konsep raja ala kolonial bahwa Raja-lah pemilik semua tanah dan rakyat wajib membayar pajak tak cocok dengan cultur masyarakat.

Lalu bagaimana budaya tani orang Jawa?

Kearifan Budaya Tani

Bukan sebuah kemutlakan mengingat delusi masa lalu. Prihal ilmu Tani, salah satu media massa lokal pernah menjadikannya fokus yaitu kalawarti (koran/majalah) bernama Candrakanta, yang terbit di Surakarta. Candrakanta Paheman Radya Pustaka merupakan kalawarti  yang pernah tembit di masa abad-20 awal, dengan editor Wirapustaka atau yang lebih dikenal dengan nama Padmasusastra (pelopor sastra Jawa modern). Kalawarti berbahasa Jawa ini secara khusus memuat pembahasan prihal ngelmu tani (ilmu menanam). Dalam cetakan edisi 14 Oktober 1901, R. Jayaatmaja (Abdi dalêm juru Taman Sriwadari Surakarta) menuliskan pandangannya terkait cara menanam padi dari memilih bibit hingga cara memanen.

Bagian yang menarik untuk ditelisik adalah cara yang ditawarkan R. Jayaatma menyikapi (syarat) saat tanaman terserang hama. Ketika padi terserang pucuk sulam (pucuk pohon dari memutih) syarat-nya diberikan abu. Jika tanaman padi terserang ulat syarat-nya diasapi dengan Walirang (belerang) di sekitar tanaman Padi. Begitu pula dengan Walang (Belalang) yang menyerang tanaman.

Jika tanaman padi terserang ulat syarat-nya diasapi dengan Walirang (belerang) di sekitar tanaman Padi. Begitu pula dengan Walang (Belalang) yang menyerang tanaman

Entah karena di zaman itu teknologi pertanian tak secanggih di masa masifnya penggunaan bahan kimia seperti sekarang ini, hal ini perlu kita jadikan perhatian khusus. Diakui atau tidak, Petani di masa kini tak bisa lepas dari ketergantungannya dengan bahan kimia. Jika Bumi terus tersuntiki bahan kimia, apa yang terjadi dengan alam kita nanti?

Carl Gustav Jung, seorang psikolog yang pemikiranya berpengaruh di bidang antropologi, arkeologi, filsafat, sastra dan studi agama dari Swiss mengungkapkan konsepsi global bahwa Bumi adalah ibu. Ritus agama dinonisian pun demikian. Bagi para penganutnya, dewa-dewa mereka terlahir dari bumi yang mereka pijak. Bumi adalah Ibu para dewa di Yunani. Sama halnya di budaya Jawa.

Pasti kita masih ingat ketika ada slametan (hajatan) ungkapan “Ibu bumi, bapa angkasa” tak pernah lepas dari rapalan para imam. Dewi Sri yang sangat melekat dengan konsepsi masa lalu para petani juga bergender perempuan. Konsep itu pula yang di bawa oleh Saminisme dalam melihat bumi, pantang bagi mereka menyakiti Ibunya.

Wujud terimakasih kepada Ibu “bumi” pun selalu dijalankan oleh orang Jawa pasca panen. Konsepsi itu tertanam dalam budaya sedekah bumi yang hampir ada di setiap tempat. Ada istilah petik pari, apitan  di Grobogan, penti di Flores, naik dango di Dayak dan lain-lain. Tanah dianggap memiiki energi, yang ketika dirawat dengan baik akan memberikan timbal-balik yang baik pula.

Konsepsi Jawa sendiri mengenal Memayu Hayuning Buwana sebagai bentuk menjaga keseimbangan alam. Ada kehidupan mikro kosmos “jagad alit” sebagai pandangan untuk individu dan makro kosmos “jagad ageng” sebagai langkah memandang kehidupan individu dengan alam semesta. Konsepsi itu merupakan wujud keselarasan hidup manusia dengan alam. Sama halnya dengan filsafat Stoisisme, sebuah aliran filsafat Yunani-Romawi Purba.

Ada kehidupan mikro kosmos “jagad alit” sebagai pandangan untuk individu dan makro kosmos “jagad ageng” sebagai langkah memandang kehidupan individu dengan alam semesta. Konsepsi itu merupakan wujud keselarasan hidup manusia dengan alam. Sama halnya dengan filsafat Stoisisme, sebuah aliran filsafat Yunani-Romawi Purba.

Pandangan keselarasan alam mungkin saat ini perlu dihayati kembali. Mengingat alam yang kita huni pelan tapi pasti kerusakannya semakin bertambah. Kerakusan manusia yang matrialistik, menimbun kacamata spiritualistiknya manusia. Bumi hanya dipandang sebagai materi yang seenaknya di eksploitasi dan mementingkan keuntungan ketimbang kemaslahatan.

Memandang permasalahan Petani pun tak sesederhana ini. Hanya sampai pada tataran proses penggarapan sawah mereka. Di luar proses yang bersentuhan langsung dengan Petani, ada berbagai macam hal yang mencekik mereka. Coba kita bayangkan jika delusi masa lalu mengenai tanaman Padi non-bahan kimia (organik) diterapkan, berapa Petani yang mampu menjalankan? Paling-paling hanya bos-nya para buruh Tani. Bukan petani thulen atau petani sikep yang hanya mengandalkan hasil tanamnya.

Tahun-tahun ini saja para petani begitu limbung jika tak menanam padi.  Sawah tak lagi digulirkan untuk  menanam tanaman selain padi. Akibatnya, dari tahun ke tahun konsumsi pupuk naik. Belum lagi kelangkaan pupuk yang acap kali terjadi. Hama pun lambat laun semakin variatif dan sulit dibasmi. Mungkin hama padi sudah semakin kebal dengan obat-obatan, seperti halnya bebalnya manusia yang terus “memperkosa” Ibu kita.

Butuh kesepaktan kolektif untuk kembali mencuatkan keselarasan alam dengan manusia. Pemerintah, Petani dan para pengusaha harus berkumpul dengan membawa kebijaksanaannya, melepas ke-ego-an dari masing-masing mereka. Mungkin, para pertapa juga kita tuntut untuk kembali bertapa di hutan-hutan, gunung-gunung dan sumber-sumber air agar nuansa mistik kembali menggaung.

Sistem pranata mangsa pun dianggap tak relevan lagi. Petani yang dulu butuh masa tanam 180 hari, sekrangan 120 hari sudah bisa panen. Pastinya, sistem pranata mangsa yang dulu digunakan sebagai pedoman petani ikut tersingkirkan. Faktor lainnya, karena telah muncul teknologi-teknologi lebih canggih untuk memprediksi cuaca.

Sangat tak mungkin kita kembali ke masa lalu. Menerapkan segala tradisi yang pernah adanya ada di masa lalu. Kehidupan kita sebagai manusia telah berubah, yang harus ada adalah kesadaran kita saat ini dan bagaimana kita merancang masa depan. Perlu diingat bahwa peradaban selalu berkembang termasuk kebudayaan yang pastinya akan terus bergerak maju. Walaupun pada suatu ketika kerinduan masa lalu akan menghinggapi pikiran. Pastinya masa lalu itu akan dibawa dengan cara dan masa di mana manusia itu hidup.

Teringat analisis Ian Person, seorang futurologi yang memprediksi kehidupan manusia. Katanya, Manusia saat ini telah mengalami gangguan endokrin, yaitu penyakit yang terkait dengan kelenjar penghasil hormon. Gangguan ini merupakan sinyal kimia yang dikeluarkan melalui aliran darah. Gangguan ini menyebabkan pria dewasa akan berubah menjadi wanita (tumbuhnya payudara, kurangnya produksi sperma dan peningkatan kanker testis). Seperti halnya hewan (seranggga, ikan, amfibi, burung, reptil dan mamalia) yang mengalami feminisasi. Khusus pada hewan, semisal kolam ikan, terlihat jelas bahwa kolam yang terkena paparan zat kimia tersebut keseluruhan gender ikan menjadi betina.

Bahan kimia penyebab gangguan ini adalah phthalate. Bahan kimia yang umum digunakan dalam barang-barang keseharian, pembersih rumah tangga, produk parfum, plastik, mainan anak-anak, mobil dan peralatan medis. Untuk manusia mungkin memang perlu penelitian lebih lanjut. Kita tunggu saja!

Zat Kimia yang berlebih tentunya menjadi hal yang tidak baik bagi manusia. Namun kecanduan manusia dengan hal ini nyatanya sangatlah sulit diretas. Kesadaran satu individu pun tak cukup untuk menangani permasalahan yang ujung-ujungnya berdampak pada kaum petani.

Mungkin, benar kata Yuvah Noah Harari, bahwa bahasa mitos adalah bahasa yang paling universal untuk mennyuarakan permasalahan ekologi. Karena sebegitu sulitnya mencari solusi dari permasalahan alam yang barang tentu berdampak pada petani, kiranya mitos perlu kita bangkitkan dari tidur panjangnya. Banyak-banyak buat konten-konten mitos dan misteri. Entah siapapun segera membuat lembaga propaganda mitos nusantara dan menentukan langkah kerja yang paling masif, selain lewat buzzer dan influencer bayaran. Agar alam kita selamat, Pak Tani bisa obong-obong (membakar) ketela dipematang sawah, menyaksikan nyanyian burung Blekok (Bangau) yang telah lama tak menghiasi punggung si Kerbau.

Frengki Nur Fariya
Sekarang sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Susastra di Universitas Diponegoro Semarang. Bergelut Komunitas pengkaji manuskrip kuno bernama Sraddha Institute, Komunitas sastra Jawa “Sastra Serat” di surakarta, Komunitas Sastra Langit Malam Ponorogo dan Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Ponorogo.