Sesajen; Kudapan Mistis

Di setiap pagelaran wayang, tidak mungkin diselenggarakan tanpa sesajen. Keberadaan sesajen ini penting sebagai bagian ritual yang bertujuan memohon keselamatan kepada penguasa semesta, agar pertunjukan yang akan berlangsung nantinya tidak mendapat celaka apapun. Maka, di sebelas malam pagelaran wayang Sunan Kalijaga pun diletakkan enam tampah (wadah) sesajen di atas panggung. Satu di antaranya diletakkan di dekat gong, lima lainnya di depan dekat layar, sebelah kanan tempat duduk dalang. Kendi air diletakkan pula di sisi lima tampah sesajen itu.

Dua tampah sesajen berisikan buah-buahan (dua sisir pisang, jambu, kedondong, dua butir kelapa), menyan, gula jawa, wadah kecil berisikan telur di atas beras, jajanan warung, kembang tujuh rupa, dan uang lima ribu yang diselipkan di dalam daun pisangnya, dll. Tampah besar lainnya mewadahi nasi tumpeng yang berjumlah tujuh: tumpeng di tengah, polos tidak berisikan apa-apa. Tumpeng tersebut dikelilingi oleh enam tumpeng lainnya: tumpeng yang di atasnya ditancapkan telur rebus; tumpeng yang ditancapkan cabe; tumpeng yang dililitkan kol; tumpeng yang dilingkari sumbu di ujungnya; tumpeng yang berisikan jeroan atau daging ayam; dan tumpeng yang berisikan sayuran.

Selain tujuh tumpeng besar, ada pula tumpeng-tumpeng kecil di tampah lain yang berukuran lebih kecil. Berbeda dengan tumpeng besar yang sebelumnya, tumpeng kecil ini hanya berjumlah lima. Namun peletakannya hampir serupa, yakni satu tumpeng dikelilingi oleh empat tumpeng lainnya. Tumpeng yang di tengah berwarna putih, sama, dengan tumpeng yang berada di sebelah kanan (timur)-nya; tumpeng di sebelah kiri (barat) diwarnai kuning; tumpeng di utara berwarna hitam; dan tumpeng di selatan berwarna merah. Kemudian selain tampah tumpeng, ada pula tampah yang berisikan satu ayam kampung utuh yang sudah direbus. Ayam ini dinamakan ingkung. Lalu ada pula wadah lainnya yang berisikan empat mangkok bubur. Bubur pertama disajikan polos berwarna putih. Bubur kedua disajikan berwarna merah, karena dicampur dengan gula merah. Bubur ketiga berwarna putih, namun di atasnya ditaburi irisan-irisan gula merah. Dan bubur keempat berwarna setengah putih, dan setengah merah.

Makna Simbolik Sesajen

Sesajen untuk wayang yang aku pikir sudah begitu banyak ragamnya, ternyata menurut Ibu Jumiati, istri dari dalang senior Ki Mas Lurah Cermo Sutedjo yang bertugas membuat semua sesajen untuk keperluan pertunjukan wayang sebelas malam, ini belum seberapa. Untuk ruwatan perkawinan atau kelahiran malah lebih banyak lagi jenisnya. Isi dari beraneka macam sesajen itu memiliki maknanya masing-masing.

Ayam ingkung itu disimbolkan seperti manusia yang telanjang. Manusia yang pada waktu lahir dari rahim ibunya berwujud ketelanjangan dan ketika meninggal pun dikuburkan dalam keadaan telanjang. Ketelanjangan ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki apapun di dalam kehidupan ini. Maka sudah sepantasnya kalau manusia harus selalu mengingat bahwa ia bukanlah siapa-siapa, dan apapun yang ia miliki hanyalah milik Tuhan, Sang Maha Pencipta yang menguasai langit dan bumi beserta isinya. Manusia harus terus eling (ingat), ia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Tuhan, sehingga perlu bersikap rendah hati dan bersyukur atas apa yang dinikmatinya di dunia. Selain itu, ketelanjangan juga bermakna kemurnian. Manusia perlu memiliki niat yang murni dan tulus atas segala tindak-tanduk dan perilakunya di dalam hidupnya, karena kemurnian dan ketulusan mengantarkan diri kita lebih dekat pada Tuhan.

Manusia harus terus eling (ingat), ia hanya bagian kecil dari ciptaan Tuhan, sehingga perlu bersikap rendah hati dan bersyukur atas apa yang dinikmatinya di dunia. Selain itu, ketelanjangan juga bermakna kemurnian. Manusia perlu memiliki niat yang murni dan tulus atas segala tindak-tanduk dan perilakunya di dalam hidupnya, karena kemurnian dan ketulusan mengantarkan diri kita lebih dekat pada Tuhan.

Tumpeng besar yang berjumlah tujuh, memiliki makna tertentu pula. Tujuh di sini menyimbolkan jumlah hari yang berjumlah tujuh. Tumpeng sendiri, yang berbentuk gunungan itu merupakan simbol dari gunung. Di bumi ini, tiada kehidupan yang akan tercipta bila tidak ada gunung. Kemunculannya yang megah di atas tanah, menandakan asal mula kehidupan. Bagaimana kemudian siklus kehidupan terbentuk dan makhluk hidup lahir sebagai pengisi ruang di semesta kecil ini. Maka tumpeng menggambarkan dirinya sebagai semesta kehidupan dalam wujud gunung.

Tumpeng yang berada di tengah, yang putih polos tidak diisi atau ditancapkan apapun di atasnya, memiliki makna kemurnian. Sama halnya dengan kemurnian pada ketelanjangan ayam ingkung, kemurnian di tumpeng ini pun mengajarkan pada manusia bahwa di dalam hati dan jiwa kita harus senantiasa murni dan tulus ketika melakukan suatu hal. Tidak bersikap buruk dan tercela, karena sikap yang buruk menandakan bahwa hati kita tidak bersih, tidak murni dalam beritikad. Hidup yang bijak yang disenangi Sang Pencipta adalah hidup yang selalu menjunjung tinggi kemurnian dan ketulusan di dalam niat. Dengan sendirinya aktualisasi perilaku pun tidak melenceng pada kekhilafan.

Tumpeng lain yang mencuat tegak di bagian tepi tumpeng polos, salah satunya adalah tumpeng yang di puncaknya ditancapkan sebutir telur rebus. Telur rebus itu masih dengan cangkangnya. Tumpeng jenis ini bermakna bahwa, niat atau tekad baik yang dimiliki manusia haruslah bulat. Niat dan tekad yang bulat menandakan kemantapan yang utuh. Manusia tidak akan sedikitpun berpaling dari niat yang bulat tersebut, karena begitu kuat, tak goyah diguncang pengaruh dari luar. Telur diibaratkan niat manusia. Putih menggambarkan kebersihan dari niat tersebut. Cangkangnya menyimbolkan kuatnya niat yang membungkus kemurnian itu. Bulat, merupakan wujud dari kebulatan dan keutuhan niat manusia. Jika itu semua dimiliki oleh manusia, tidak perlu ada keraguan dalam keluhuran pikiran dan perilakunya.

Telur diibaratkan niat manusia. Putih menggambarkan kebersihan dari niat tersebut. Cangkangnya menyimbolkan kuatnya niat yang membungkus kemurnian itu. Bulat, merupakan wujud dari kebulatan dan keutuhan niat manusia. Jika itu semua dimiliki oleh manusia, tidak perlu ada keraguan dalam keluhuran pikiran dan perilakunya.

Puncak tumpeng lain, yang ditancapkan cabe dan bawang, menggambarkan gunung berapi. Cabe-cabe itu diibaratkan lahar yang dimuntahkan dari dalam perut gunung berapi. Semua ini menyimbolkan bahwa gunung berapi, meskipun ia mengakibatkan banyak kerugian lewat muntahan api dan lahar yang meluluh-lantakan apapun yang diterjangnya, namun kesudahannya membawa banyak manfaat berupa tanah yang subur, juga pasir dan bebatuan yang melimpah bagi keperluan pembangunan infrastruktur (gedung, rumah, jalanan, dsb). Makna yang dapat kita tarik dari gunung berapi tersebut ialah bahwa setiap bencana dan kesusahan yang menimpa diri manusia, cepat atau lambat, sedikit atau banyak, tentulah membawa berkah tersendiri. Ada pelajaran berharga yang dapat dipetik agar manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan, baik atas nikmat yang dilimpahkan, maupun bencana yang diujikan padanya. Karena keduanya semata-mata sebagai cobaan yang diberikan Tuhan, cobaan yang mampu menempa kebijaksanaan dalam diri manusia. Dan hanya bagi orang-orang yang bertawakal lah, semua peristiwa yang dialami oleh setiap manusia ini dapat dipahami.

Di sisi lain, ada tumpeng yang di sekeliling puncaknya dilapisi dengan kol rebus. Ini menyimbolkan sesuatu yang harus saling melingkupi. Proses saling melingkupi atau memayungi (encompassment) akan semakin menguatkan satu dengan yang lainnya. Seperti misalkan manusia yang berniat untuk selalu berbuat baik atau mengamalkan kebajikan, niat akan kuat, tekadnya akan semakin bulat bila ia juga didukung oleh teman-teman atau orang-orang di sekelilingnya yang juga memiliki tujuan luhur yang sama. Mereka saling menopang, melindungi, dan merangkul satu sama lain, sehingga niat dan tujuan luhurnya tersebut dapat tercapai.

Tumpeng yang lainnya, dihiasi oleh sumbu. Sumbu itu terikat di kedua ujungnya, sehingga membentuk lingkaran. Karena berbentuk lingkaran itulah, ia dapat disematkan di bagian puncak tumpeng. Maknanya, sumbu itu sebagai ikatan yang kuat. Jika dikaitkan dalam pola hidup manusia, sumbu yang bermakna ikatan itu, harus dimiliki oleh manusia di dalam niatnya. Ikatan yang memperkuat niat, tentu berasal dari faktor-faktor tertentu yang dimiliki oleh si manusia sendiri. Mungkin di sini dapat diibaratkan sebagai tujuan dari niat itu sendiri. Misalkan, ketika seorang anak memiliki niat untuk menjadi pintar, maka hal yang menjadi pengikat agar niat itu tetap bulat dan kuat adalah berasal dari tujuannya. Tujuan dari anak itu untuk menjadi pintar, karena ingin membahagiakan orang tuanya. Maka tujuan untuk membahagiakan orang tuanya itulah yang berfungsi sebagai sumbu (ikatan) di dalam niatnya, sehingga jika ia terus-menerus mengingat tujuannya itu, niscaya apa yang dicita-citakannya akan

Doc Pesantren Kaliopak, foto bersama 11 dalang sebelum acara 500 tahun Sunan Kalijga dimulai

Selain tumpeng polos, tumpeng cabe, tumpeng telur rebus, tumpeng kol, tumpeng sumbu, ada pula tumpeng yang berisikan daging dan sayuran. Tumpeng yang berisikan daging (biasanya hanya berupa jeroan ayam atau sapi), bermakna hewan. Sebagai makhluk hidup, hewan menjadi bagian ciptaan Tuhan. Ia masuk ke dalam siklus kehidupan di bumi. Begitu pula dengan tumpeng yang berisikan sayuran. Sayuran ini menyimbolkan tumbuhan, yang juga merupakan ciptaan Tuhan dan turut menempati ruang-ruang bumi. Secara langsung maupun tidak, keberadaan keduanya menghadirkan manfaat yang begitu besar bagi manusia. Atas dasar itu, manusia selalu diingatkan, jika ia taat kepada Tuhan, maka sudah sepantasnya pula ia mempergunakan dan memperlakukan keduanya dengan bijak.

Mengenai tumpeng yang kecil-kecil, pun itu memiliki maknanya masing-masing. Tumpeng yang berada di tengah dan bagian timur, berwarna putih, maknanya kesucian. Tumpeng yang berada di barat berwarna kuning, bermakna kesetiaan. Tumpeng di bagian utara diwarnai hitam, menggambarkan keteguhan. Sedangkan tumpeng di bagian selatan diwarnai merah, menyimbolkan keberanian. Keempat warna ini dalam filosofi orang Jawa dimaknai sebagai darah manusia. Darah yang berasal dari cahaya. Cahaya di sekeliling kita, yang memancar dari raksasa matahari, secara kasat mata memang tak berwarna, namun pada dasarnya empat warna inilah yang menjadi bagian dirinya. Jika seorang ibu akan mengandung, cahaya yang menyentuh perutnya akan menembus ke dalam kulit, hingga kemudian berubah menjadi darah dan membentuk janin yang kemudian tumbuh membesar mewujud bayi. Bayi tersebut pada akhirnya akan lahir sebagai manusia baru. Mengapa darah disimbolkan oleh empat warna ini? Bagi orang Jawa, darah tidak semata-mata merah, seperti yang pada umumnya kita kenal. Ada pula darah berwarna kuning, yakni nanah; darah berwarna hitam, yakni luka (koreng); dan darah yang berwarna putih, yakni air mani. Darah putih yang bermakna kemurnian, darah hitam yang melambangkan keteguhan, darah merah yang melambangkan keberanian dan semangat, serta darah kuning yang menyimbolkan kesetiaan, itu semua menjadi bagian dari diri manusia. Mewujud dalam bentuk karakter manusia yang akan membimbingnya menjadi khalifah yang bijak di muka bumi ini. Tergantung bagaimana manusia itu sendiri membentuknya, dalam proses panjang kehidupan yang ia jalani selama masa hidupnya.

Mengenai tumpeng yang kecil-kecil, pun itu memiliki maknanya masing-masing. Tumpeng yang berada di tengah dan bagian timur, berwarna putih, maknanya kesucian. Tumpeng yang berada di barat berwarna kuning, bermakna kesetiaan. Tumpeng di bagian utara diwarnai hitam, menggambarkan keteguhan. Sedangkan tumpeng di bagian selatan diwarnai merah, menyimbolkan keberanian.

Makna-makna yang aku jelaskan di atas, tentunya terbatas pada ketidaklengkapan data dan interpretasi yang aku buat. Terlepas daripada itu, kita perlu menyepakati bahwa begitu lengkap dan rumitnya makna-makna yang tersembunyi dari beragam jenis sesajen untuk pertunjukan wayang tersebut. Namun demikian, itulah kekayaan filosofi yang dimiliki oleh orang Jawa. Mereka memiliki cara pandang yang unik dalam melihat dunia. Cara pandang yang membentuk pola budaya untuk memaknai kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Dan yang terpenting dari semuanya adalah bahwa orang-orang Jawa ini sungguh menciptakan semesta kehidupannya sendiri lewat pikiran dan tafsir mereka atas dunia.

Dari Asal, Kembali ke Asal

Kendi air yang diinapkan di atas panggung wayangan selama sebelas malam, telah mengukuhkan dirinya lebih sakral karena telah mengenyam berbagai ajaran dari lakon carangan Sunan Kalijaga. Di keesokan malamnya, panitia dari Pesantren Kaliopak, teman-teman mahasiswa Antropologi, dan para partisipan lainnya berkumpul di limasan Pesantren Kaliopak. Kami membaca tiga puluh juz Al-Quran yang dibagi-bagi per orang membaca satu-dua juz. Pembacaan Al-Quran ini kira-kira berlangsung selama hampir dua jam. Setelah itu, ketika waktu menunjukkan pukul dua belas tengah malam, kami bersiap-siap menuju lereng merapi untuk mengembalikan air yang telah kami pinjam empat belas malam sebelumnya dari Sendang Banyu Urip. Kami mengendarai beberapa mobil dan motor untuk menuju ke sana.

Sebelum menuju lereng Merapi, terlebih dahulu kami mengunjungi Pondok Pesantren Al-Qadir di daerah Cangkringan yang terletak di kaki gunung Merapi. Kami bertemu dengan Kiai Masrur[2], yang akan menjadi pemimpin doa di ritual terakhir dari peringatan 500th Sunan Kalijaga. Setelah mengobrol beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan ke lereng Merapi. Sesampainya kami di dataran lereng Merapi, kami menyiapkan kendi air dan alat pengusungnya untuk dipikul ke hulu sungai Kali Opak yang berada di lereng gunung tersebut. Suasananya begitu gulita. Angin gunung menggerogoti pori-pori kulit. Meskipun demikian, kami tetap berjalan dengan kelelahan yang hampir memuncak karena sudah menyelenggarakan ritual akbar dari peringatan 500th Sunan Kalijaga selama empat belas malam sebelumnya. Kaki kami terseok-seok menyandung batu-batu gunung sisa lahar Merapi yang membeku. Selain bintang-bintang yang kelipnya tidak terlalu terang malam itu, cahaya lampu dari senter dan ponsel membantu penerangan perjalanan kami. Kami menuruni bukit-bukit, hingga tiba di suatu tempat yang sekiranya adalah hulu sungai Kali Opak. Agak menyangsikan memang, karena di dalam cerukan itu tidak terdapat air sama sekali yang menandakan tempat itu adalah hulu sungai. Namun, Kiai Masrur mengatakan bahwa pada musim hujan, tempat tersebut menampung dan mengalirkan air, sehingga benar-benar membentuk hulu. Memang terjadi banyak perubahan geografis di tempat itu disebabkan letusan gunung Merapi yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Tempat kami berdiri saat itu adalah tempat yang mengalami kerusakan terparah diterjang oleh lahar Merapi.

Kaki kami terseok-seok menyandung batu-batu gunung sisa lahar Merapi yang membeku. Selain bintang-bintang yang kelipnya tidak terlalu terang malam itu, cahaya lampu dari senter dan ponsel membantu penerangan perjalanan kami. Kami menuruni bukit-bukit, hingga tiba di suatu tempat yang sekiranya adalah hulu sungai Kali Opak. Agak menyangsikan memang, karena di dalam cerukan itu tidak terdapat air sama sekali yang menandakan tempat itu adalah hulu sungai.

Upacara penutupan kegiatan peringatan 500th Sunan Kalijaga dimulai dengan ceramah singkat oleh Kiai Masrur, ia sekaligus memimpin doa untuk memulai ritual terakhir ini. Kami berterima kasih karena acara peringatan yang pada awalnya mengalami banyak kendala operasional, pada akhirnya dapat terselenggara dengan sukses. Ini semua berkat keluhuran niat, serta kemauan dan kerja yang keras dari semua pihak, tim pelaksana maupun tim pendukung, yang ingin mengembalikan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Sunan Kalijaga. Pak Kadi – seniman yang memiliki pengetahuan suluk-suluk warisan Sunan Kalijaga – menyanyikan suluk linglung untuk mengiringi pelepasan air dari dalam kendi ke atas cerukan hulu sungai Kali Opak yang dilakukan oleh Kiai Jadul Maula dibantu Kiai Masrur. Aliran air yang tumpah perlahan dari mulut kendi itu mengalirkan berbagai kebajikan dari ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga yang kami sematkan ke dalamnya melalui serangkaian acara peringatan 500th Sunan Kalijaga selama lima belas hari ini. Semoga air tersebut dapat terus memberikan manfaatnya bagi manusia, alam, dan makhluk Tuhan lainnya, sebagaimana pengetahuan dan ilmu yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga senantiasa bermanfaat bagi kehidupan manusia selama generasi demi generasi.

Air, dalam mata rantai alirannya di bumi, tidak pernah habis dan putus, meski berubah zat, bentuk, maupun tempatnya. Ketika menguap dari lautan dan menjadi mendung, ia terbawa ke pegunungan untuk turun kembali ke bumi dalam bentuk air hujan. Air hujan itu pun mengalir membentuk sungai, melewati berbagai dimensi tanah dan bebatuan, dimanfaatkan sebagian untuk keperluan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan. Hingga pada akhirnya ia akan tetap mengalir ke samudera, tempatnya berasal. Sirkulasinya tidak akan pernah berhenti, meski banyak melewati tahapan-tahapan, dari mengalir di sepanjang sungai; mengendap di tanah, pasir, lumpur; menggantung di awan, membeku di es; masuk ke dalam tubuh manusia, hewan, tumbuhan; dll, ia akan tetap berpulang ke samudera dan menjadi air kembali. Begitu pula pengetahuan dalam diri manusia, ia perlu melewati berbagai tingkat dan proses sebelum dapat terbentuk dengan mantap di dalam diri manusia. Sepanjang itu pula ia harus dialirkan (disebarkan) ke manusia-manusia lainnya. Karena pengetahuan tidak akan ada artinya jika ia tidak membawa manfaat bagi kehidupan dan manusia lainnya. Pengetahuan yang melimpah, yang telah dicari dan dipupuk sepanjang hidup manusia, pada akhirnya akan membawa manusia kembali kepada kesadaran akan asal-muasalnya, yakni penguasa semesta, Tuhan Yang Maha Esa. Seperti air yang pada akhirnya kembali ke samudera tempatnya bermula. Dalam hal ini, proses pencarian pengetahuan dan pendalaman spiritual, menjadi satu hal yang tidak dapat terpisahkan. Pengetahuan diperoleh dari pemahaman berbagai peristiwa hidup, dipertahankan lewat aktualisasi perilaku dan penyebaran cara pandang kepada manusia lainnya. Maka pengetahuan sebenarnya suatu proses tiada henti dari aktivitas kerja dan refleksi kesadaran manusia mengenai hal-hal lain di luar dirinya. Pengetahuan yang utuh adalah pengetahuan yang menyatu dalam perilaku manusianya, dan manusia yang utuh adalah manusia yang menyatu dengan sifat-sifat Tuhannya, yang dalam istilah Sunan Kalijaga: Manunggaling kawula gusti.

Karena pengetahuan tidak akan ada artinya jika ia tidak membawa manfaat bagi kehidupan dan manusia lainnya. Namun pengetahuan yang melimpah, yang telah dicari dan dipupuk sepanjang hidup manusia, pada akhirnya akan membawa manusia kembali kepada kesadaran akan asal-muasalnya, yakni penguasa semesta, Tuhan Yang Maha Esa. Seperti air yang pada akhirnya kembali ke samudera tempatnya bermula.

Diselimuti kegelapan, dibuai oleh angin malam, betapa khidmatnya malam itu. Kami mengharu-biru oleh suasana sakral yang tercipta karena nyanyian suluk Pak Kadi yang mengalun syahdu. Kami merefleksikan kembali apa yang telah kami lakukan selama 15 hari ini melalui kegiatan 500th Sunan Kalijaga. Semoga para partisipan, penonton, dan penikmat berbagai ritual dan kesenian yang kami hadirkan sebelumnya dapat memetik makna berkaitan dengan ingatan dan pemahaman mereka akan sosok Sunan Kalijaga dan air di dalam kendi yang hanya simbol dari kemegahan cita-cita luhur dari keseluruhan acara ini.

Pluralisme, Kebangsaan, dan Rekonstruksi Sejarah

Kali Opak dipilih menjadi bagian dari ritual 500th Sunan Kalijaga ini sebab ia merupakan satu-satunya sungai yang membelah satu wilayah Yogyakarta dari Gunung Merapi sampai berakhir ke laut pantai selatan. Sebagaimana saya ceritakan di bagian atas, hulu sungai ini berada lereng Merapi. Bagian sungai ini juga melewati Pesantren, yang santri-santrinya berinisiatif untuk menyelenggarakan kegiatan budaya ini, yakni Pesantren Budaya Kaliopak. Kali Opak mengalir di bagian kiri bangunan Pesantren. Jika tidak ada pabrik penambangan pasir di tepi sungai tersebut, kita masih dapat mendengar gemericik airnya di seluruh sudut pesantren itu.

Keberadaan kali yang alirannya benar-benar memotong wilayah Jogja dari bagian utara, Gunung Merapi sampai ke bagian selatan, yakni laut pantai selatan, dianggap dapat mewakili simbolisasi ajaran Sunan Kalijaga yang dapat mencakup ke semua lapisan masyarakat Jogja (bahkan Jawa) masa itu. Usaha penyebaran agama Islam yang ia lakukan dapat menembus ke pelosok wilayah. dari sudut terpencil desa, sampai Keraton Mataram. Selain itu juga konon sejarahnya pada waktu Sunan Kalijaga bertapa menunggu kedatangan gurunya – Sunan Bonang – sampai sulur-sulur tanaman melilit tubuhnya, ia melakukannya di tepi sungai Kali Opak[3].

Jadi apa yang menjadi bagian dari serangkaian ritual peringatan 500th Sunan Kalijaga memiliki kaitan historis dengan ajaran dan laku-laku Sunan Kalijaga. Dari sumber air yang berada di Sendang Banyu Urip, keterlibatannya di dalam Kupatan Jolosutro, jalur-jalur Lampah Ratri, kegiatan wayangan sebelas malam di alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta, hingga kemudian menutup ritualnya dengan mengembalikan air ke hulu sungai Kali Opak. Itu semua berhubungan satu sama lain di dalam kesejarahan masyarakat Jawa mengenai Sunan Kalijaga. Kemudian sejarah yang dikumpulkan, dan disusun ulang tersebut, dikaitkan dengan makna kebangsaan dalam simbol burung garuda (Pancasila) dan bendera merah-putih yang turut dibawa pada lampah ratri. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya visi yang dibangun tidak sekedar merekam ulang jejak sejarah Sunan Kalijaga, melainkan berusaha menempatkan nilai-nilai sejarah lokal tersebut pada permasalahan nasional masa kini, yakni kebangsaan yang tengah mengalami kegamangan.

Jadi apa yang menjadi bagian dari serangkaian ritual peringatan 500th Sunan Kalijaga memiliki kaitan historis dengan ajaran dan laku-laku Sunan Kalijaga. Dari sumber air yang berada di Sendang Banyu Urip, keterlibatannya di dalam Kupatan Jolosutro, jalur-jalur Lampah Ratri, kegiatan wayangan sebelas malam di alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta, hingga kemudian menutup ritualnya dengan mengembalikan air ke hulu sungai Kali Opak.

Kiai Jadul Maula, sebagai inisiator kebudayaan yang dibantu oleh santri-santrinya di Pesantren Budaya Kaliopak memang berusaha menggali, menyadarkan, dan merekonstruksi kembali ingatan akan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jogja saat ini. Oleh sebab, ajarannya sangat menekankan rasa toleransi dan kemanusiaan, ia mampu menanamkan nilai-nilai Islam pada setiap aspek kesenian dan kebudayaan orang Jawa, tanpa berusaha mengubah atau menghilangkan sedikit pun kebudayaan asli mereka – seperti halnya wayang carangan, hasil kreasinya. Sehingga, Islam yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pun menjadi Islam yang lentur; menghargai perbedaan dan keberagaman, serta dapat menyesuaikan dengan budaya masyarakat lokal. Maka penting gunanya, apabila ingatan akan nilai-nilai luhur tersebut dijaga keutuhannya secara konsisten, karena merupakan akar budaya yang bersumber dari kearifan lokal penduduk setempat. Kearifan lokal dapat berfungsi menjadi kekuatan pamungkas untuk melawan berbagai ancaman buruk globalisasi, yang prosesnya tidak dapat dihindari, namun bisa diakali melalui strategi budaya. Dan terutama pula untuk meredam kekuatan radikalisme agama yang sedang marak beberapa tahun terakhir ini di Indonesia.

Di tengah kekacauan sosial-budaya, politik, dan ekonomi republik ini, mungkin masyarakat Indonesia saat ini memang telah kehilangan jati diri bangsanya. Dihempas oleh serangan teori, ideologi, dan budaya asing yang tidak tersaring dengan baik. Kita terguncang-guncang, gamang, karena tidak lagi memiliki pegangan akan nilai-nilai luhur yang menjadi akar budaya kita. Kita menjadi bangsa pengekor yang hanya ikut mencicipi berbagai pola dan sistem dunia yang ditawarkan bangsa asing. Hingga kemudian kita berkaca, dan menyadari bahwa ini bukan wajah dari bangsa kita, bangsa Indonesia. Kita hidup dalam ilusi yang diciptakan oleh negara-negara lain, sehingga seringkali tersandung dan terjatuh karena tidak menyadari di mana kita berjalan. Terlalu mengagumi hal-hal yang di luar diri kita, ingin menjadi seperti mereka, hingga akhirnya tercerabut dari fondasi budaya kita sendiri.

Kiai Jadul Maula, berupaya untuk menarik permasalahan kebangsaan ini sampai ke dasarnya, yakni masalah akar budaya. Maka ia pun merekonstruksi budaya, dengan mengambil tokoh simboliknya Sunan Kalijaga, dan tema pengikatnya adalah air. Dengan itu, ia menggali kembali akar budaya dari masyarakat Jawa. Berusaha mengaitkan lokalitas itu hingga tingkat global. Angka 500th dari perayaan peringatan 500th Sunan Kalijaga bukanlah perayaan tahun lahir maupun tahun meninggalnya Sunan Kalijaga. Melainkan tahun, yang apabila tahun sekarang – 2011 – dikurangi angka 500, maka tahun yang muncul adalah 1511. Di tahun 1511 ini, pertama kalinya bangsa Portugis menjejakkan kakinya di tanah Jawa. Yang berarti ialah ini tahun dimana kolonialisme untuk kali pertama mulai menjangkiti nusantara. Keraton Mataram turun berperang melawan penjajah untuk melindungi segenap rakyat dari serangan kolonialisme dan imperialisme bangsa asing. Masyarakat Jawa yang pada waktu itu sebagian besar telah mengenyam agama Islam berkat perjuangan yang dilakukan Sunan Kalijaga dan para Wali lainnya dalam menyebarkan Islam, dihantam oleh kekuatan asing baru yang membawa pengaruh lain berupa agama baru, budaya baru, kehidupan sosial yang baru, dan tentunya pola ekonomi dan politik baru yang sangat merugikan kehidupan masyarakat Jawa. Di sinilah lokalitas budaya menghadapi tantangannya dari dunia luar. Bagaimana filosofi orang Jawa yang dibentuk oleh ajaran-ajaran Sunan Kalijaga ditantang oleh pengaruh budaya bangsa lain. Awalnya negara Portugis, kemudian muncul pula Spanyol, Inggris, Belanda, dan terakhir Jepang.

Dengan masuknya penjajah ke tanah Jawa, juga ke daerah-daerah lain di penjuru Nusantara, lalu bertempur dengan Kerajaan-kerajaan di Nusantara, ini menunjukkkan bahwa pergolakan dari ranah lokal, naik menjadi bergulat di ranah Nusantara. Kemudian ketika Nusantara telah terbebas dari penjajahan, dan munculnya sebuah negara baru – Indonesia, pergolakan naik kembali satu tingkat ke ranah kebangsaan atau keIndonesiaan. Waktu berjalan sekian tahun, Indonesia mengalami beberapa pergantian Pemerintahan, dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Negara kita berjalan dari bentuk pemerintahan yang anti Barat, pro Barat, sampai tidak sadar meniru Barat. Pergolakan pun melesat ke tingkat yang lebih atas, yaitu ranah global. Pergolakan di sini, bukan hanya masalah identitas, melainkan keseluruhan cara pandang, sistem politik-ekonomi, etos dan pola budaya sebagai bangsa yang berkepribadian. Oleh sebab itu, mencakup multidimensi dari bidang sosial, budaya, agama, ekonomi, politik, sampai geopolitik.

Apakah mungkin saat ini di tengah serbuan budaya asing, masyarakat Jawa masih melakonkan beragam petuah dan nilai-nilai luhur dari ajaran Sunan Kalijaga? Ingatan akan akar budaya tersebut begitu penting karena mengembalikan diri kita ke kesadaran lokalitas yang melahirkan kearifan-kearifan hidup. Kita dapat mengingat, menyadari asal-muasal diri kita, makna hidup kita, dan tujuannya yang semuanya terangkum dalam filosofi kehidupan moyang kita secara turun-temurun. Tentunya dengan mencari kaitan relevansi dengan situasi zaman saat ini. Seperti air yang akan selalu kembali ke samudera, dan seperti pengetahuan yang akan selalu mengembalikan kita pada Tuhan. Begitu pula dengan jati diri manusia, ia harus selalu kembali ke akar budaya darimana ia lahir dan tumbuh. Ada sebuah kisah saat Sunan Kalijaga bermaksud pergi ke Mekah, oleh Nabi Khidir – Kanjeng Syekh Mahyuningrat – diminta pulang lagi ke tanah Jawa karena tanpanya, orang-orang Jawa itu akan kembali kafir. Contoh kisah tersebut berupaya menyampaikan maksud yang sama dalam hal proses pencarian pengetahuan. Dalam proses ini, manusia dapat mencari ke sudut semesta manapun. Namun, memang pada akhirnya harus kembali ke tempat dirinya berasal karena di situlah ia menemukan dirinya sendiri dan makna pengetahuannya, lewat amalan-amalan yang dilakukan untuk orang-orang yang pernah hidup paling dekat dengan dirinya. Itu menjadi suatu hutang budi pada kemanusiaan.

Apakah mungkin saat ini di tengah serbuan budaya asing, masyarakat Jawa masih melakonkan beragam petuah dan nilai-nilai luhur dari ajaran Sunan Kalijaga? Ingatan akan akar budaya tersebut begitu penting karena mengembalikan diri kita ke pangakuan lokalitas yang melahirkan kearifan-kearifan hidup.

Ajaran ketuhanan, toleransi, dan kemanusiaan yang ada di dalam butir-butir Pancasila mengandung makna serupa ajaran-ajaran luhur Sunan Kalijaga. Sehingga, perjuangan sikap untuk tetap menjaga dan melakoni nilai-nilai luhur tersebut sesungguhnya membentuk kekuatan jati diri kita sebagai pribadi bangsa yang berkarakter. Bangsa yang tidak mudah dibayang-bayangi oleh pengaruh ideologi dan budaya asing yang pastinya tidak sesuai dengan kondisi kebangsaan Indonesia sendiri. Jika bangsa kita benar-benar mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang keluhuran isinya kurang-lebih sama dengan ajaran-ajaran universal Sunan Kalijaga, barangkali kegamangan kita sebagai sebuah bangsa tidak akan terjadi. Sebab individu-individu yang mengamalkan butir-butir kebajikan dari Sunan Kalijaga dan Pancasila, sudah tentu individu-invidu yang terus eling terhadap siapa dirinya, semesta, dan Pencipta-Nya. Maka penyelewengan perilaku semacam korupsi dapat terhindarkan. Melalui karakter kuat yang membentuk bangsa kita dari nilai-nilai luhur itu, kita dapat bersikap tegas dan cerdas dalam menyiasati raksasa kapitalisme. Sayangnya, kita belum kuat di wilayah karakter bangsa tersebut. Di sinilah upaya menerjemahkan sejarah ke dalam rekonstruksi budaya oleh Kiai Jadul Maula melalui ide ritual budaya 500th Sunan Kalijaga yang dibentuknya, memiliki relevansi menjawab tantangan kebangsaan saat ini. Baik dalam menghadapi pengaruh buruk globalisasi, seperti kapitalisme dan radikalisme yang semakin menjamur di negara ini. Penting bagi kita untuk mengingat kembali dan mengamalkan nilai-nilai Islam yang disebarkan Sunan Kalijaga. Agar bangsa Indonesia tidak terus-menerus menjadi bangsa yang linglung karena kehilangan jati dirinya sebagai negara besar yang plural.

 

Bogor, Agustus 2011


[2] Kyai Masrur merupakan guru spiritual Ahmad Dhani.

[3] Hasil wawancara dengan kyai Jadul Maula.

*Tulisan ini pernah dipublikasikan di kebunmakna.blogspot.com, sebagai hasil dari catatan etnografis Sarah Monica, dalam acara 500 tahun Sunan Kalijaga pada tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Pesantren Kaliopak, Lesbumi Yogya, dibantu Mahasiswa Jurusan Antropologi Universitas Indonesia. Tulisan ini dipublikasikan ulang oleh redaksi Langgar.co untuk mengingat peristiwa kebudayaan yang penting dan pernah terjadi di Yogyakarta, sebagai upaya memperteguh kembali khasanah pengetahuan Nusantara.

Selain itu tulisan ini dipublikasikan dalam dua seri.  baca artikel sebelumnya