Sufisme Asia Selatan Dalam Musik Qawwali

Saat ini banyak larangan untuk bermain musik dengan alasan yang sangat banyak sekali, yang mana hal tersebut membuat Islam dianggap sebagai agama yang tidak luwes alias kaku. Hal inipun seketika terpatahkan oleh keindahan lantunan lagu yang dimiliki Muslim Sufis Asia Selatan, mereka menyebut keindahan ini dengan sebutan music Qawwali, sebuah musik yang khas dan dapat membuat banyak orang terkagum dengannya. Begitu pula dengan diri ini yang terpana pada lagu Qawwali dari Nusrat Fateh Ali Khan yang berjudul “Allah Hoo” dan “Shaahbaz Qalandar”. Qawwali hanyalah musik yang sederhana dan berbekal alat musik berupa Tabla, Harmonium, Dholak dan tak lupa dengan iringan tepuk tangan oleh pemainnya sebagai tambahan.

Musik Qawwali ini tak hanya dendang lagu saja namun Qawwali mengandung artian religi yang sangat dalam bagi banyak orang yang mengetahuinya, terlebih lagi dalam permasalahan sufisme—yang mana berarti ada satu kecintaan penuh antara hamba dan tuhannya. Hal ini setidaknya memiliki keterkaitan yang benar-benar erat antar keduanya. Maka setidaknya pembahasan ini tidak akan cukup jika berbicara terpisah antar keduanya. Maka dari itu saya mencoba menjelaskan hal tersebut dengan detil.

Apa itu Qawwali

Hal ini  harus dijelaskan sebab banyak dari pembaca tulisan ini tidak tahu tentang Qawwali, dan mungkin juga ingin tahu tentangnya. Qawwali berasal dari Bahasa Arab yaitu Qawl yang berarti “Ucapan (sang Nabi)”. Qawwali adalah satu perwujudan dari tradisi sufisme keagamaan Asia Selatan yang fisiknya berbentuk musik, dan yang terkandung di dalamnya adalah hal yang  kuat, puitis dan bersifat transendental, tidak hanya itu, ritme dan melodi yang mengagukan Tuhan sangatlah menghipnotis bagi mereka yang mendengarkan, antara cinta dan lagu bersatu di dalam Qawwali.

Qawwali awalnya dipertunjukkan pada saat Mehfil-e Sama, yaitu sebuah pertemuan untuk mendengarkan hal Spiritual. Pertemuan ini terjadi di acara Sufi pada hari peringatan wafatnya orang suci yang terkait dengan hal tersebut. Mehfil-e Sama ini biasanya diadakan sepanjang tahun pada hari kamis, ketika orang Islam memperingati almarhum orang suci tersebut, ataupun pertunjukan Qawwali ini dapat diadakan saat ada perjamuan  spiritual ataupun pada acara khusus lainnya.

Secara historis sendiri, Qawwali memiliki sejarah yang sangat panjang di dalamnya, Qawwali ini diciptakan oleh seorang komposer dan penyair berbahasa Persia yaitu Amir Khosrow (1253-1325), yang karyanya membentuk dasar dari repertoar Qawwali  tradisional. Hal ini digunakan untuk memperingati hubungan spiritual dengan gurunya, Nizamuddin Auliya—seorang pemimpin dari tarekat tasawuf Chistiyyah.

Qawwali tradisional ini awalnya dilarang menggunakan alat musik, sesuai dengan ucapan Nizamuddin Auliya yang secara blak-blakan bahwasanya alat musik diharamkan, namun hal ini beriringan zaman, yang mana lambat laun berganti penafsiran, yang mana akhirnya lagu-lagu Qawwali diiringi musik, menurut Ahmad Sirhindi (1564–1624), yang dianggap sebagai salah satu tokoh Sufi terbesar dan pembaru tradisi Islam di Anak Benua India selama periode Mughal. Dia menganalisis secara rinci peran musik bagi para pencari sufi di berbagai tingkatan untuk kenaikan spiritual. Menurut tulisan Sirhindi dan metodologi Sufi, hati dianggap sebagai poros yang orientasinya duniawi atau spiritual. Hati pencari pemula berorientasi pada ego mereka, hati pencari perantara berputar, dan hati pencari yang ulung berorientasi pada spiritual. Dia menunjuk perantara atau “Stasiun Hati”,  dan pada tahap ini, menurut Sirhindi, musik berfungsi sebagai media untuk membantu praktisi menjauh dari ego.

Di era modern ini, musik Qawwali seperti yang saya ucap di awal, bahwasanya musik ini sangat sederhana, dimana alat musik yang digunakan hanyalah Harmonium,Tabla, Dholak, serta ditambahi dengan tepukan tangan sebagai periang suasana. Tak hanya itu, musik Qawwali pada awalnya hanyalah beranggotakan laki-laki saja—bukan bermaksud bahwa laki-laki yang mendominasi, namun hal ini bermaksud sebagai pencegahan atas tindakan tak bermoral antara laki-laki dan perempuan, namun modern ini, Qawwali berubah, laki-laki dan perempuan menjadi satu ataupun terpisah.

Qawwali dan Seisinya     

Qawwali tidak hanya sebatas berisi lirik dan pengiring saja, namun Qawwali memiliki bagian-bagiannya sendiri dan memiliki klasifikasinya tersendiri di tiap-tiapnya. Hal inilah yang membuat Qawwali menjadi sangat menarik untuk dibahas lebih dalam, sebab kita juga akan dibawa hingga ke alam spiritual kita sendiri.

Sebelum itu, Qawwali juga mencakup akulturasi budaya Islam dan Hindustan, sebut saja dalam penyampaiannya. Hal ini ditarik dari kumpulan kerangka melodi (raga) dan pola metrik (talas) yang sama dengan musik klasik, dan menggunakan struktur formal yang mirip dengan musik klasik, genre lagu khayal . Seperti khayal ,pertunjukan qawwali menampilkan campuran refrain metrik yang serba sama dan improvisasi vokal solo yang fleksibel secara ritmis, yang menggunakan melisma secara ekstensif (nyanyian lebih dari satu nada ke satu suku kata). Selain itu, sebagian besar dari setiap pertunjukan dibangun darisuku kata solmization tradisional(suku kata yang ditetapkan untuk nada atau suara tertentu) dan vokal lainnya (suku kata tanpa arti linguistik). Itu terjadi selama bagian improvisasi — terutama dalam bagian-bagian bertempo cepat yang disebut tarana — bahwa qawwal memimpin terlibat dengan dan menanggapi para pendengar, mengangkat mereka ke keadaan ekstasi spiritual melalui pengulangan frase yang sangat menggugah dan terus meningkat . Interaksi antara penyanyi utama dan penonton ini adalah inti dari kesuksesan pertunjukan qawwali .

Pembagian struktur musik Qawwali pun juga memiliki keunikan, berikut struktur musiknya:

Mereka memulainya dengan iringan Harmonium,  Tabla, Dholak dan tepuk tangan sebagai intro mereka.

Munculnya Alap—sebuah improvisasi dari musik klasik India, sebuah melodi improvisasi  yang bernada panjang dimana penyanyinya melantunkan nada yang berbeda, dalam raga yang mereka mainkan.

Penyanyi utama mulai menyanyikan beberapa bait pertama, yang juga diimprovisasi dengan raga, hal ini hanya diiringi oleh Harmonium saja, setelah sang penyanyi utama selesai menyanyikan bait tersebut, maka setelah itu diikuti penyanyi samping mengulangi bait tersebut dengan improvisasinya sendiri.

Saat lagu utama dimulai, tabla, dholak, dan tepuk tangan dimulai. Semua anggota bergabung dalam menyanyikan ayat-ayat yang merupakan refrain tersebut. Lirik dari ayat utama tidak pernah diimprovisasi. Namun, nada-nada itu diimprovisasi secara halus dalam kerangka melodi utama. Saat lagu berlanjut, penyanyi utama atau salah satu penyanyi sampingan mungkin mengeluarkan alap.

Hal ini sangat terlihat dalam musik Qawwali yang dibawakan oleh Nusrat Fateh Ali Khan berjudul Allah Hoo, dimana keempat unsur tersebut masuk ke dalam lagu Allah Hoo tersebut.

Setelah berbicara tentang struktur Qawwali, disini akan dijelaskan klasifikasi lagu Qawwali yang beragam, 1) Hamd yang berarti pujian pada Allah 2) Na’at yang berarti nyanyian untuk nabi Muhammad 3) Manqabat yang berarti pujian pada imam Ali atau tokoh sufi lainnya 4) Marsiya yang berarti meratapi orang mati adalah ratapan atas kematian Sebagian besar keluarga Imam Hussain yang mati dalam pertempuran Karbala 5) Ghazal yang berarti lagu Cinta. 6) Kafi adalah puisi Punjabi, Seraiki atau Sindhi 7) Munajaat yang berarti doa atau percakapan malam, adalah sebuah lagu dimana penyanyi menyampaikan terima kasih pada Allah.

Antara Tradisional dan Modern

Permasalahan yang sama pada setiap budaya adalah terbelenggunya tradisi dan terlihatnya modern di pelupuk mata, hal ini selalu menjadi fokus penting dalam setiap budaya, terlebih pada Qawwali itu sendiri. Qawwali saat ini berada di ambang antara mempertahankan tradisi atau mengimprovisasinya menuju modern.

Misi awal dari Qawwali ini adalah sebagai penghubung antara kehidupan spiritual dengan jalan duniawi, namun seiring zaman terlebih abad 20 ini telah membawa banyak perubahan dalam Qawwali, dimana adanya permasalahan lebih baik tetap pada tradisi atau perlahan mengikuti arus modern.

Secara tradisi, Qawwali harus dibawakan dalam kesucian, tanpa ada niatan yang jelek dan membuat kemunafikan, Aqlaynah meringkas perspektif Islam tradisional menurut Imam al-Dhahabi tentang dibolehkannya menyanyi dan musik: “kami telah menemukan bahwa mereka yang mengecilkan hati jenis musik tertentu […] telah menghubungkan penilaian mereka dengan tujuannya; jika tujuannya tercemar maka sarana untuk itu tercemar. “, oleh karena itu Qawwali boleh diperdengarkan pada orang awam dengan syarat tujuan tidak berada dalam tujuan yang maksiat dan tidak tercampur dengan hal yang berbau tak bermoral.

Karena Qawwali sendiri memiliki niatan yang murni, kita harus membandingkannya dengan filmi  atau terkadang disebut ‘Bollywoodzation’, walaupun hal ini tidak bertentangan namun hal ini telah menyimpang dari ajaran awal. Akibatnya, analisis lintasan media ini dari jamaah Qawwali tradisional ke Qawwali pop modern harus dilakukan sesuai dengan prinsip dan tujuan yang ditetapkan oleh para penemu dan mereka yang terlibat dan berpengetahuan luas tentang tradisi Sufi. Musik Qawwali baru memiliki tujuan dan pengaruh baru bagi pendengarnya yang sangat berbeda dengan leluhurnya. Qawwali modern mengeksploitasi puisi-puisi suci leluhurnya dan kemampuannya untuk membangkitkan kegembiraan spiritual untuk membentuknya menjadi pengerjaan ulang kesenangan dan keinginan. Tidak diragukan lagi, “filmi” Qawwali modern mengisyaratkan fantasi hedonistik yang sangat bertentangan dengan bentuk asli Qawwali.

Qawwali Berarti Pluralisme

“Hanya Engkau, Hanya Engkau… Datang ke dalam dunia ini, aku melihat jalan ini dan dimana pun aku melihat, aku  hanya melihat DiriMu… Hindu melihat-Mu dalam dewa-dewa mereka, Muslim melihat-Mu di Ka’bah, mereka hanya memiliki pandangan terbatas, aku hanya percaya pada satu hal, hanya Engkau, Engkau dan hanya Engkau, tak ada yang bisa menyangkal… Dalam Masjid, Kuil dan Gurdwara, Kamu-lah yang satu-satunya mereka sembah, Diri-Mu, Diri-Mu dan tidak ada yang lain… di Kuil maupun di  Ka’bah, di Surga ataupun di Bumi ini, untuk setiap pencari Anda berada di sana, sejauh yang dia bisa jangkau… jika masing-masing menyembah NamaMu, lantas kenapa Hindu dan Muslim bertengkar…” sepenggal lirik dari Allah Hoo yang dibawakan oleh Ustad Nusrat Fateh Ali Khan

            Penggalan lirik tersebut berarti mengisyaratkan perdamaian antara Islam dan Hindu yang telah bertengkar  sepanjang ini, hanya karena berbeda apa yang mereka sembah. Di sini peran Qawwali nampak sebagai  hal yang universal, tidak hanya dalam narasi bendera Islam saja. Qawwali boleh diperdengarkan pada semua kalangan baik itu seorang Muslim maupun Non-Muslim. Seiring dengan konteks baru di mana media tersebut digunakan, Qawwali telah memperoleh kualitas dan karakteristik baru sebagai hasil dari tujuan dan dampaknya yang berbeda pada penggunanya. Saat ini, Qawwali mengungkapkan budaya yang sehat yang menghidupkan kembali ingatan musik Punjab pra-partisi dan memiliki kapasitas untuk menumbangkan persaingan agama, nasionalistik dan teritorial. Dengan melepaskan sebagian dari elemen religiusnya, ia memasukkan cakupan identifikasi etnis yang lebih luas.

Shahenshah-e-Qawwali: Ustad Nusrat Fateh Ali Khan

Kala itu saya diberi tahu tentang satu lagu berjudul Allah Hoo oleh satu kawanku, hal yang memukau bagi saya sendiri, dimana saya mendengar satu lagu yang lama namun tak menjemukan, arti yang sangat dalam dari lagu tersebut membuat saya terpukau. Akhirnya saya mencoba mengikuti nama besar beliau dan memujinya.

Nusrat Fateh Ali Khan lahir di Lyallpur (Falsalabad), provinsi Punjab, Pakistan pada tanggal 13 Oktober 1948. Nusrat lahir dari keturunan yang mendalami Qawwali. Ayahnya, Fateh Ali Khan dan kedua pamannya, Salamat dan Mubarak Ali Khan, merupakan penyanyi Qawwali yang memiliki nama besar.

Penampilan perdana Nusrat memainkan musik qawwali tidak terjadi di panggung pementasan, melainkan ketika pemakaman ayahnya yang berlangsung pada 1964, di usianya yang masih menginjak 16 tahun. Dalam sebuah wawancara tahun 1996, keputusan Nusrat melantunkan qawwali di upacara kematian ayahnya didorong oleh mimpinya bersama sang ayah. Di mimpi tersebut, sang ayah meletakkan tangannya di tenggorokan Nusrat dan kemudian membangkitkan suaranya. “Aku bermimpi saat ayahku mengajak pergi ke suatu tempat dan memintaku bernyanyi bersamanya,” ujar Nusrat dalam film dokumenter Nusrat Fateh Ali Khan, the last prophet (1996).

Dalam kariernya yang terbentang panjang itu, sekitar 1980an dianggap jadi masa keemasan Nusrat. Pada masa ini, tepatnya pada 1985, ia mulai merambah pasar Eropa yang diawali dengan tampil di WOMAD (World of Music, Arts and Dance) Festival sebelum akhirnya berkelana hingga Perancis serta melangsungkan tur Amerika pada 1989. Penampilan-penampilan dengan intensitas cukup masif tersebut menuntun Nusrat pada dua agenda: dikontrak Real Worlds Records dan OSA Birmingham yang dikenal sebagai label yang fokus pada musik-musik non-Barat (dan world music) serta bekerjasama dengan musisi dunia dalam beberapa proyek.

Lagunya sudah tidak  dibatasi oleh negara maupun agama, lagunya menjadi universal, bahkan lagunya pun didengarkan oleh banyak orang India, yang kala itu telah memanas pertentangan antara India dan Pakistan, dengan lantang pun beliau mengatakan bahwa “Seniman tidak memiliki musuh”. Hingga kini Ustad Nusrat Fateh Ali Khan menjadi ikonik dan dijuluki sebagai Shahenshah-e-Qawwali atau berarti raja dari raja Qawwali.

Penutup

Pembicaraan Qawwali ini tidaklah singkat, dimana hal ini memiliki banyak arti dan tantangan zaman, bukan hanya Qawwali saja namun semua kesenian di dunia ini memiliki arti dan tantangan tersendiri. Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin menjelaskan mengapa saya menulis ini? Karena Qawwali memiliki arti yang sangat dalam bagi yang mendengarkannya, dan hal ini terjadi pada saya, saya rasa ada dentuman spiritualitas yang akhirnya Qawwali dijuluki sebagai Suara dari Mistisme. Hal inilah yang membuat saya menuliskan hal ini lebih lanjut, terlebih lagi sedikitnya sumber dalam Bahasa Indonesia adalah salah satu latar belakang dari tulisan ini terbentuk.


Daftar Pustaka

The Yale Review of International Studies. 2018. Qawwali as Media from its Traditional to its Modern Form

Gorlinski, Virginia. “Qawwali”. Encyclopedia Britannica, 5 Jun. 2018, https://www.britannica.com/art/qawwali. Accessed 15 April 2021.

James Richard Newell. 2007. EXPERIENCING QAWWALI: SOUND AS SPIRITUAL POWER IN SUFI INDIA. Disertasi Vanderbilt University

Sher Khan/Creative Essa Malik/Jamile Naqi. 2013. Nusrat Fateh Ali Khan: The singing Buddha. The Tribune Express

M. Faisal.2018.Nusrat Fateh Ali Khan: Pakistan Juga Berarti Keindahan. Tirto.id

Regula Burckhardt Qureshi. 1999. His Master’s Voice? Exploring Qawwali and ‘Gramophone Culture’ In South Asia. Journal Popular Music Vol. 18, No. 1. Cambridge University Press

Buku Langgar Shop