Manuskrip Jawa Kuno dan Bali Perekam Wabah

Kehadiran wabah penyakit menular setidaknya terekam dalam manuskrip-manuskrip Jawa kuno dan Bali. Dari beberapa manuskrip-manuskrip tersebut Sugi Lanus dalam Bincang Naskah dengan tema “Protokol Penanganan Wabah dalam Manuskrip Bali dan Jawa Kuno” pada Kamis 23 April 2020 menggolongkannya ke dalam manuskrip-manuskrip berlatar zaman Kerajaan Kediri, manuskrip yang berasal dari zaman Kerajaan Majapahit, dan manuskrip era Kerajaan Gelgel abad 16 hingga abad 19 M.

Dalam bincang naskah yang dimoderatori oleh Aditia Gunawan, staf Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sekaligus mahasiswa S3 EPHE PSL Paris tersebut, disebutkan bahwa dari kelompok manuskrip berlatar zaman Kediri Babad Calonarang memuat berbagai jenis penyakit. Para penderitanya pagi hari terjangkit siang meninggal, sore terjangkit sore meninggal, dan seterusnya. Jumlah penderitanya juga berlipat mulai 2 orang, berlipat menjadi 4 orang, 6 orang, dan seterusnya.

Adapun dalam manuskrip lain yang masih berlatar Kediri, Keputusan Baradah, diceritakan telah terjadi wabah penyakit. Raja Airlangga, penguasa Kediri waktu itu, meminta pertimbangan penasehatnya Mpu Baradah. Mpu Baradah kemudian mengutus Mpu Bahula untuk ‘mengivestigasi’ apa yang sebenarnya terjadi. Diceritakan bahwa Mpu Bahula merupakan seorang yang teguh mengikuti jalan dharma. Di akhir ceirta disebutkan bahwa Dyah Nateng Dirah, seorang janda telah menyebabkan wabah penyakit lewat ilmu hitam yang disebut Calonarang. Mpu Bahula akhirnya menikah dengan Dyah Nateng Dirah untuk menghentikan wabah penyakit. Dalam naskah yang lain, masih berlatar Kediri, yaitu naskah Taru Permana, diceritakan Mpu Kuturan meninggalkan istrinya di suatu daerah di Jawa yang bernama Girah untuk melakukan tapa brata di Pulau Bali. Istri Mpu Kuturan yang menjadi janda ini kemudian menyebabkan wabah penyakit. Dalam persemadiannya, Mpu Kuturan yang gagal mengatasi penyakit kemudian terlibat percakapan dengan pepohonan. Diceritakan masing-masing pohon menyebutkan nama dan setiap bagian menjelaskan setiap bagian pohon dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit apa.

Ketiga naskah di atas, Babad Calonarang, Keputusan Baradah, dan Taru Permana, berlatar sama yaitu pada zaman Kerajaan Kediri sekitar 1042-1222 M. Pertanyaan selanjutnya apakah benar pada masa itu terjadi wabah penyakit? Hal ini yang perlu diverifikasi oleh sumber lain yang lebih valid. Jika benar terjadi wabah penyakit pada zaman tersebut maka, “adanya virus atau bakteri sebagai penyebab penyakit menular tidak terfahami oleh masyarakat masa lalu, maka janda yang menguasai ilmu hitam Calonarang-lah yang dipersalahkan dalam kasus ini,” tutur Sugi Lanus. Senada dengan hal tersebut, Ahmad Arif dalam wawancara di Kompas TV menjelaskan bawah nenek moyang kita mengingat bencana dalam bentuk yang lain misalnya mitos, legenda, dan seterusnya. Pada zaman sekarang mitos, legenda, dongeng tidak dapat dijadikan rujukan sebagai sumber sejarah yang menceritakan kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau sehingga terjadi keterputusan literasi zaman dahulu dengan zaman sekarang.

Jika benar terjadi wabah penyakit pada zaman tersebut maka, “adanya virus atau bakteri sebagai penyebab penyakit menular tidak terfahami oleh masyarakat masa lalu, maka janda yang menguasai ilmu hitam Calonarang-lah yang dipersalahkan dalam kasus ini,” tutur Sugi Lanus.

Kelompok kedua adalah naskah-naskah yang saat ini masih dipakai di Bali yang berasal dari Majapahit. Setidaknya dalam naskah-naskah ini terdapat kutipan yang berbunyi iti gegelaran sami kagelar ring Majapahit yang terjemahannya ‘ini penjelasan sama dengan yang dijelaskan di Majapahit’ atau manut ring Majapahit yang terjemahannya ‘mengikuti Majapahit’. Dalam naskah Roga Sanghara Gumi disebutkan berbagai upacara yang terkait dengan peristiwa alam, pralaya, kiamat kecil, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam suasana wabah. Berbagai macam upacara, doa pemujaan Batara Ganapati sebagai penguasa dunia bawah agar mendorong kembali semua pralaya, sanghara ke dalam dunia bawah. Yama Purwana Tattwa merupakan naskah berisi ritual kematian di Bali. Muatan naskah ini misalnya jika terjadi perang, wabah, kecelakaan, tertimpa pohon jasad harus segera dikubur. Khusus jasad penderita lepra (wabah lepra), jasad dikubur dan tidak boleh dikremasi dalam waktu 25 tahun. “Di Jawa naskah ini dipakai di Pasuruan dan Blambangan ketika wilayah itu masih beragama Siwa.” Pungkas Sugi Lanus. Selain kedua naskah di atas ada juga Puja Astawa yang berisi manual puja ketika terjadi bencana, hama padi, wabah ternak, hama tikus dan lain-lain. Puja Astawa ini merupakan pegangan umum para pandita.

Selain naskah-naskah di atas, ada beberapa naskah yang berasal dari zaman Kerajaan Gelgel, abad ke 16 hingga 19 Masehi, yang berisi berbagai hal tentang bencana wabah. Naskah-naskah tersebut di antaranya adalah Anda Kacacar, Usada Kacacar, Pamahayu Anda Kacacar, Usada Cukuldaki, Usada Gede, dan Usada Ila. Isi naskah-naskah ini menurut Sugi Lanus di antaranya adalah larangan sembahyang ke pura bagi desa-desa yang terkena wabah meskipun ada hari baik atau hari raya, pedoman ruwatan setelah suatu bencana telah lewat. Lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana ini menambahkan bahwa ruwatan masal yang melibatkan banyak orang pernah dilakukan di Bali setelah peristiwa bom Bali. Para pendeta memimpin doa upakara agar masyarakat kembali ke tatanan semula diselingi nasehat-nasehat agar para peserta sembahyang ruwatan tidak berlarut dalam bencana itu, merelakan hal (bencana) itu setulus-tulusnya kepada alam semesta, memaafkan, melepas dendam, kemarahan rasa pesimis, agar semesta yang mengatur. Upakara-upakara tersebut terbukti menyamankan masyarakat, membangun imunitas batiniyah, dan kerelaan hidup.

Di dalam Usada Gede terdapat perintah isolasi yang berbunyi “Jangan mau mengobati karena akan terkena kutuk orang yang mengobati (artinya tertular). Orang yang sakit ini (lepra) terkena kutukan dewa. Jika ada orang yang tertimpa penyakit ini harus diusir oleh penguasa, ditempatkan di pinggir pantai jauh dari desa, tidak boleh dilihat oleh masyarakat desa, jangan lama-lama di desa, jika dibiarkan lama-lama orang ini di desa akibatnya dewa-dewa akan pergi dan semua masyarakat akan terkena gering gede (penyakit akan mewabah).”

Dalam Usada Ila disebutkan bahwa jika yang sakit mandi dengan air yang dipakai mengaliri sawah mangakibatkan sawah itu terserang hama, segala yang ditanam rusak, air ini tidak boleh dipakai mandi atau dilewati orang. Apapun yang disentuh atau bahan yang-bahan yang dipakai itu tidak diperkenankan untuk dipakai untuk berangkat ke tempat sembahyang ramai. Jika ada orang berani menyembunyikan orang yang kena sakit ini dapat dikenai denda oleh raja, dendanya sebanyak 100 ribu 60 kepeng.

Berdasarkan penuturan lisan para saksi orang-orang tua di Bali, seperti yang diceritakan Sugi Lanus, didapatkan informasi bahwa Pantai Kuta dan Pantai Krobogan dahulu merupakan tempat isolasi para penderita penyakit menular. Mereka ditempatkan di sebuah gubug dan setiap hari keluarga dan masyarakat mengirim makanan, diletakkan di tempat yang agak jauh sehingga tidak perlu kontak dengan masyarakat dan keluarga. Mengapa pantai menjadi tempat isolasi penderita penyakit menular ini? Sugi Lanus menambahkan bahwa dahulu pantai-pantai ini merupakan tempat yang sepi, banyak sinar matahari, identik dengan konsep meruwat untuk melepas ‘residu batiniah’, dan berhubungan dengan konsep dunia atas-dunia bawah. Dunia atas terletak di gunung, dunia bawah terletak di laut, dan manusia hidup di antara keduanya. Dunia bawah adalah dunia di mana segala keburukan berasal, maka penyakit menular sebagai sebuah keburukan juga harus dikembalikan ke asalnya, dunia bawah, ke laut.

Konsep Wabah dalam Manuskrip Jawa Kuno dan Bali

Setidaknya ada tiga konsep wabah dalam naskah-naskah ini yaitu wabah sebagai kutukan atau karma, pemberian para dewa, dan wabah sebagai sesuatu yang lumrah. Wabah sebagai kutukan atau karma berhubungan dengan ketidakseimbangan antara bhuana alit dengan bhuana agung. Ketika bhuana alit, dunia manusia, terus menerus memproduksi kebencian, pertikaian, dendam, maka bhuana agung meresponnya dengan memantulkan kembali energi-energi negatif tersebut menjadi penyakit yang menjangkit manusia. Hal ini terdapat dalam Roga Sanghara Gumi. Wabah sebagai pemberian para Dewa mengandung arti ketika terjadi wabah para Dewa sedang melepas kala, hal ini sengaja dilakukan agar manusia menepi sejenak, menghentikan aktifitas di luar memasuki dirinya sendiri, memasuki periode hening, melakukan perenungan mendalam, melakukan perekatan dengan dirinya sendiri dengan tapa brata, puasa, doa. Wabah sebagai pemberian para Dewa ini dimaksudkan untuk kebaikan manusia. Wabah sebagai sesuatu yang lumrah terjadi, secara filosofis terdapat dalam Keputusan Baradah. Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa penciptaan bumi diikuti oleh bayang-bayang penyakit, dalam perspektifnya manusia dengan penyakit ibarat tubuh dengan bayang-bayangnya.

Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa penciptaan bumi diikuti oleh bayang-bayang penyakit, dalam perspektifnya manusia dengan penyakit ibarat tubuh dengan bayang-bayangnya.

Meskipun manuskrip-manuskrip ada yang berisi obat-obatan untuk mengobati berbagai penyakit, misalnya dalam Taru Permana, namun tidak semua hal dalam manuskrip-manuskrip ini dapat langsung diterima untuk diterapkan pada masa kini. Menurut Sugi Lanus manuskrip-manuskrip tersebut adalah rekam jejak peristiwa yang terjadi pada masa lalu kecuali yang menyangkut doa-doa dan yang menyangkut praktek penguburan yang diadakan oleh masyarakat yang agama dan keyakinan masih selaras dengan yang terdapat di dalam manuskrip. Para peneliti naskah yang berhubungan dengan pengobatan atau ramalan sepertinya sepakat dengan hal ini, bahwa semua yang terdapat dalam naskah masih perlu verifikasi dengan ilmu pengetahuan modern. Senada dengan hal tersebut Fransisca Tjandrasih Adji dalam simposium internasional kebudayaan Jawa dan naskah Kraton Yogyakarta pada Maret 2019 mengatakan bahwa sistem pengobatan tradisional dalam naskah (Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi) masih perlu diuji secara klinis. Lebih jauh lagi Mangestuti Agil dalam seminar pernaskahan nusantara 2017 mempresentasikan hasil uji klinis terhadap obat-obatan yang terdapat dalam Primbon Bental Jemur Adamakna. Uji-uji inilah mungkin yang dimaksud oleh Ahmad Arif sebagai tugas ilmu pengetahuan modern untuk meresponnya dengan menterjemahkan kembali hal-hal itu lalu mentransformasikan ke dalam pola kehidupan modern.

Diplomasi Menghadapi Bencana

Wabah merupakan peristiwa bencana kesehatan. “Bencana merupakan peristiwa alam, tetapi dampaknya merupakan peristiwa sosial. Bagaimana kita meresponnya akan menentukan sedikit atau banyak korban. Bencana merupakan natural disaster tetapi responnya merupakan proses kebudayaan. Untuk itu yang paling penting mengubah cara pikir melihat negara ini. Pada masa lalu nenek moyang kita mencoba merespon dengan mengantisipasi. Pengetahuan ini kemudian terputus, mungkin karena proses panjang kolonialisasi, lalu proses literasi kebencanaan.” Pungkas Ahmad Arif dalam wawancara Kompas TV.

Hari ini kita melihat bencana dari kacamata barat di mana bencana dimaknai sebagai suatu mala petaka, sesuatu yang membawa celaka, pembawa kematian, kehancuran, dan tangis penderitaan, maka dia perlu dihindari kalau tidak dapat diantisipasi. Secara umum bagaimana pandangan kebudayaan lokal mengghadapi bencana-bencana tersebut? Dikutip dari balipost.com Sugi Lanus menjelaskan bahwa melalui berbagai ajaran lisan dan tertulis, berbagai upakara dan mantra Bhuta Yadnya, leluhur Bali telah mewariskan cara tangguh dalam menyikapi wabah: memilih kejernihan, dibandingkan kegaduhan hati, memilih hening diri dan upakara suci, dibandingkan berkata-kata kasar dan prilaku gusar. Begitulah, para leluhur mengajari kita untuk senantiasa degdeg (jernih) dan teguh menjaga relasi batiniah dengan alam, terlebih-lebih ketika sedang dilanda wabah. Sebagi contoh dalam menghadapi hama tikus leluhur Bali mengajarkan agar manusia ‘menyapa’ hama tikus dengan dalam upakara. “Mekaon mekaon jro, mekaon jrone mekaon.” (Pergi pergilah tuan dan puan, pergi pergilah tuan dan puan). Diucapkan tanpa nada benci. Jauh dari perasaan bermusuhan atau dimusuhi. Diucapkan dalam suasana ritus suci penaklukan hama, Nangkluk Mrana. Bahkan tikus sebagai pembawa hama pertanian diberi gelar kehormatan “Jro Ketut”.  “Wabah (gering-mrana) tidak boleh diumpat –ten dados pisuh. Kalau diumpat mereka datang berlipat –yening pisuh medal ngeliuanang”. Dari kutipan di atas terlihat bahwa untuk menghadapi bencana dikedepankan rasa persahabatan, rasa hormat, rasa welas asih terhadap bencana.

Di Jawa teks Palilinḍon (Jawa kuno) atau Primbon Palindhon dalam versi Jawa baru kita diajari melihat suatu bencana tidak selalu berhubungan dengan kehancuran. Di dalam teks tertulis Yen lindhu Wulan Saban ngalamat kathah wong mati, wowohan suda, pangulune suker rare cili akeh mati, yen wengine kathah wong pahes manahe, beras pari murah terjemahannya adalah ‘Jika gempa pada Bulan Saban pertanda akan banyak orang mati, buah-buahan berkurang, penghulu kesusahan anak kecil banyak yang mati, jika (gempa terjadi pada) malam (hari) banyak orang bersolek hatinya, beras padi murah.’ Dari teks ini terlihat pandangan kultural masyarakat Jawa bahwa gempa yang identik dengan kehancuran, musibah ternyata juga bisa berarti pertanda kebaikan. Maka perasaan optimis harus dikedepankan.

Dari teks ini terlihat pandangan kultural masyarakat Jawa bahwa gempa yang identik dengan kehancuran, musibah ternyata juga bisa berarti pertanda kebaikan.

Ahmad Arif dalam presentasinya yang berjudul Disaster Journalism menyebutkan bahwa dalam konteks Gunung Agung dan Gunung Rinjani, gunung api bukan hanya permasalahan geologi dan geofisika, tetapi juga kebudayaan. “Di Gunung Agung kami ketemu dengan saksi mata yang selamat dari letusan Gunung Agung 1963, dia mengisahkan tentang ratusan orang dari dua desa yang sengaja menyambut datangnya awan panas. Bagi mereka meninggal karena awan panas bukanlah sebuah aib.”

Dari beberapa sumber di atas dapat disimpulkan bahwa ada ‘ruang diplomasi’ yang memberikan peluang kepada manusia ketika bencana melanda, baik bencana alam maupun bencana kesehatan seperti yang sedang terjadi saat ini. Dari sumber-sumber di atas seolah-olah para leluhur kita mengatakan “ada pilihan lain selain meratap, menghujat, mengutuki bencana yang datang, apalagi sampai mencari kambing hitam. Tetaplah bersahabat dengan keadaan, perlakukan bencana sebagai anugerah, sapalah dengan ramah. Bahwa selalu akan ada pelangi setelah hujan yang lebat.”

Rangda (randha ‘janda’) yang Menguasai Ilmu Hitam Calonarang Penyebab Wabah dalam Sebuah Tari. (Sumber: thenotsoinnocentsabroad.com)
Ilustrasi dalam Teks Primbon Palintangan Palindhon Pakedutan (Add 12311). (Sumber: blog british library)

 

 

Sumber

Bincang Naskah “Protokol Penanganan Wabah dalam Manuskrip Bali dan Jawa Kuno” (https://www.youtube.com/watch?v=7jeHpR8QzBk)

Jurnalisme Bencana (Disaster Journalism) : Ahmad Arif at TEDxUltima (https://www.youtube.com/watch?v=g2wNmTwVtE4&t=863s)

Shaking The Disaster Literacy Ground, Ahmad Arif, TEDxJakarta
(https://www.youtube.com/watch?v=0fhBEcJJP90)

Ajaran Leluhur Bali dalam Menyapa Wabah (http://www.balipost.com/news/2020/04/07/114161/Ajaran-Leluhur-Bali-dalam-Menyapa…html?fbclid=IwAR0Yz-MWa6-9GNB4x2p6odWx7gnCSbiTThhQH-XlKng-9wNkfnlX8f5pTIE)

Prosiding Simposium Internasional Budaya Jawa dan Naskah Kraton Yogyakarta 2019

Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara 2017