Paku Buwana VI, Babad Jaka Tingkir dan Simbol Perlawanan Kaum Pinggiran

Sebagai wangsa Mataram Islam, PB VI yang bernama lengkap Raden Mas Sapardan (1807-1849 M) terlahir dari pasangan Susuhunan Pakubuwana V dan istrinya KRAy. Sasrakusuma banyak mengalami problematika kehidupan. Dinaikkan ke tahta dalam usia muda pada saat itu usia enam belas tahun, dikenal sebagai raja yang mbalelo sekaligus cerdas. Ke-mbalelo-annya ini dikarena sebagai wangsa Mataram ia selalu berpergian dengan menggunakan busana Walandi atau Belanda. Namun, sang raja dalam memerintah dinasti Mataram tidak lama hanya sekitar tujuh tahun saja dari tahun 1827-1830 M.

Pada masa susuhan memimpin  sedang terjadi perang Jawa (1825-1830 M). Perang Jawa ini yang membuat pihak Belanda mengalami kerugian yang begitu besar dan tentunya imbasnya kembali ke Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Sekaligus mencopot PB VI sebagai raja dikarenakan ia dianggap membangkang dan bersekutu dengan kaum pinggiran untuk memberontak kepada kolonial pada masa itu. Pakubuwana yang berusia pada dua puluh tiga tahun ditangkap pada bulan Juni 1830 di Pantai Selatan Jawa ketika sang raja sedang menjalin hubungan dengan Ratu Pantai Selatan, dan kemudian sang raja muda diturunkan dari tahta sebagai raja Mataram Surakarta dan dibuang ke pulau terpencil di Ambon (M.C Ricklefs, 2005:257)

Akhir Abad XVIII, gerak raja Jawa selalu dibatasi oleh pihak Belanda. Mereka (kolonial) sangat mengintervensi raja dalam masalah-masalah keraton. Maka keraton Surakarta pada masa itu mengalih-fokuskan ke dalam kerajaan, ke dalam kegiatan-kegiatan keraton dan etika pribadi raja sendiri (John Pemberton, 2018:88) Di balik dinding keraton ritual-ritual yang diistimewakan dilakukan di muka umum sebagai pelestarian budaya Jawa dari para leluhur yang harus dilestarikan. Karena di samping sebagai penjaga tradisi leluhur, seorang raja juga harus memiliki hubungan yang erat dengan rakyatnya dengan cara melestarikan kebudayaan Jawa.

Karena di samping sebagai penjaga tradisi leluhur, seorang raja juga harus memiliki hubungan yang erat dengan rakyatnya dengan cara melestarikan kebudayaan Jawa.

Seorang penguasa mutlak muslim (Muhammedaansch despot), kalaulah ia ingin dihormati oleh rakyatnya harus keluar sedikit dari Keratonnya. Tampaknya ini bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh pihak kolonial. Bagi pihak Belanda raja harus tetap diam di Keratonnya supaya rakyat stabil tidak ada pemberontakan kepada Belanda. Sebagai seorang Mohammedaansch despot yang gemar membaca, khususnya sejarah tradisional Jawa dan rupanya ia seorang penulis yang cukup ulung dengan kepiawaiannya dalam menulis (Nancy K. Florida, 2020:75). Kepiawaiannya PB VI dalam menulis sastra yang membuat ia sangat dimusuhi oleh De Kock sebagai Gubernur Jenderal pada saat itu. Sebagai seorang raja yang gemar menulis banyak karya yang telah ia guaratkan salah satunya mengenai Babad Jaka Tingkir.

Babad Jaka Tingkir ditulis dengan bahasa dan ungkapan puitis sejarah, dengan tradisi kepenulisan di Surakarta dan Keraton Surakarta. Gayanya, gaya tulisan yang sekarang bisa dianggap sebagai “renaisans Surakarta” yakni penulisan dari Surakarta Abad XVIII-XIX. Penulisan babad ini ditulis dengan jumlah yang banyak dan panjang bahkan di akhir-akhir isinya sangat sesuai dengan sejarah yang ada di istana-istana kerajaan Surakarta.

Babad Jaka Tingkir memuat adegan keraton sebagaimana terjadi di istana kerajaan kuno yakni Majapahit dan Demak. Namun demikian, istana yang dipaparkan pasti berkaitan dengan Keraton Surakarta. Syair ini selalu memetakan Keraton Surakarta tetapi ada juga memetakan di tempat yang lain. Bahkan sang penulis selalu menceritakan Keraton Surakarta sampai hal-hal yang bersifat khusus di dalam Keraton Surakarta seperti halnya Keputren yang ada di istana Keraton Surakarta. Dengan melihat hal ini kita bisa mengetahui bagaimana babad ini ditulis di dalam lingkungan kerajaan Keraton Surakarta dan sang penulis tidak lain dan tidak bukan adalah Sinuhun sendiri.

Babad Jaka Tingkir ini ingin memberikan informasi terhadap raja yang besar raja yang agung raja segala raja pada masanya. Sesuai judul babad ini, Babad Jaka Tingkir ingin mengungkapkan kisah sang Raja Agung dari Pajang yakni Pangeran Hadiwijaya namun dalam babad ini tidak mengisahkan sejarah raja agung tersebut. Babad ini hanya mengisahkan asal muasal raja agung tersebut, silsilah keluarga, dan daerah yang menopang kerajaan Pajang. Tidak menceritakan secara eksplisit mengenai sang raja sendiri. Babad ini ingin memberikan edukasi kepada kita sebagai orang Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya, bahwasanya masa lalu bisa dijadikan pijakan untuk menatap masa depan, karena orang yang bisa mengetahui masa lalunya dia akan mengetahui masa depannya.

Ki Ageng Pengging Sebagai Simbol Perlawanan

Sebagai ayah Jaka Tingkir yang menjadi nama babad ini ia adalah cucu dari Brawijaya V dan anak dari Handayaningrat. Sebagai keturunan darah biru, Ki Ageng yang harusnya melanjutkan tampuk kepemimpinan dari sang ayahandanya malah mengubah haluan menjadi seorang kiai desa yang sederhana dan disegani oleh para santri-santrinya. Ki Ageng menjadi simbol perlawanan kaum pinggiran kepada pusat kerajaan di Demak Bintoro karena ke-mbalelo-annya yang tidak mau menghadap kepada raja Demak.

Sebagai keturunan darah biru, Ki Ageng yang harusnya melanjutkan tampuk kepemimpinan dari sang ayahandanya malah mengubah haluan menjadi seorang kiai desa yang sederhana dan disegani oleh para santri-santrinya.

Sebagai bapak dari Jaka Tingkir Ki Ageng mengajarkan Islam di daerah pedalaman Jawa dengan bercorak tasawuf falsafi sesuai dengan apa yang diajarkan oleh gurunya yakni Syech Lemah Abang atau Syech Siti Jenar. Ajaran Islam yang mereka amalkan ini menurut anggapan para wali Sembilan dan para fuqaha kerajaan Demak membahayakan umat Islam dan akan membawa masyarakat awam ke dalam sifat panteisme. Dengan salah satunya dalih inilah Ki Ageng dipanggil beberapa kali untuk menghadap sang Raja Demak Bintoro. Dan juga sang Raja Demak mencurigai Ki Ageng memberontak dirinya sebagai penguasa kerajaan Islam dalam tuturnya “ Ing Pengging tila kabupaten, sarta kapernah Santana dening Sultan Demak, bokmenawi amikir sumeja jumeneng ratu” yang artinya Pengging bekas kabupaten, lagipula ia masih kerabatan Sultan Demak mungkin ia berpikir ingin menjadi raja. (De Graff dan PIgeaud, 2019:358)

Dengan asumsi inilah sang Raja Demak mengutus bawahannya memanggil Ki Ageng sampai tiga kali berturut-turut untuk menghadap sang raja, walaupun nanti hasilnya nihil Ki Ageng tidak pernah menghadap ke Demak. Dalam panggilannya yang ketiga oleh sang Raja dengan dikepalai oleh Sunan Kudus Ki Ageng ditantang untuk menentukan pilihan yang terakhir kalinya. Pilihan yang diberikan oleh penguasa pusat untuknya adalah antara di luar atau di dalam artinya Ki Ageng disuruh memilih di antara pilihan politis versus kekuasaan rohaniah dan praktik lahir muslim taat versus kesadaran batin sufi, yang di atas atau di bawah, di kuasai atau menguasai dan sebagainya. Maka Ki Ageng Pengging Menjawab:

Yen miliya jero mapan sisip / yen miliya ing jaba pan asar / semang-semang pangidhepe / yen miliya ing luhur / pan kemandhang dipun ulati / lamun miliya ngarsa / yaketi sasar usur / sasare pithung medhahab / ngisor dhuwur kiwa tengen duwek mami / orane duwek ing awing / (BJT XXIX: 15)

Yang artinya: Kalau memilih yang dalam salah / kalau memilih yang luar tersesat / Bimbanglah dalam kepercayaan / Kalaulah memilih yang atas / Bagai memburu gema / kalaulah memilih depan / sungguh kesasar tersesat / Kesasar Tujuh madzhab / Atas, bawah, kiri, kanan, milikku / tak ada yang kumiliki/ (BJT XXIX: 15)

Penolakan Ki Ageng Pengging ini dianggap sebagai musuh negara dan karenanya menandatangani kematiannya. Dan lawan bicaranya secara langsung mengeksekusi hukuman mati tersebut kepada Ki Ageng. Namun, hanya dengan kehendak ki Ageng sendirilah Sunan Kudus bisa menusukkan kerisnya di sikunya yang membawa kematian bagi Ki Ageng sendiri. Bahkan dengan kematiannya pun junjungan Pengging ini tidak dapat ditentukan keberadaannya.

Setelah keberhasilan Sunan Kudus mebunuh Ki Ageng Pengging kembalilah dia ke Demak bak pahlawan yang habis memenangkan peperangan yang besar, ia diseruapakan dengan kera putih utusan Prabu Rama, raja legendaris yang amat terekenal itu. Sang pangeran datang melaporkan kesusesannya tiu untuk membunuh Ki Ageng Pengging. Laporan ini juga dituliskan dalam Babad Jaka Tingkir sendiri yang berbunyi:

Ananging sanget lenggona / sumiwing ngarsa nerpati / tan rumaos yen kebawah / akiyas kedah ngengkoki / tan arsa nampik milih / sedayane pan winengku / (BJT XXXII : 7)

Yang artinya: / Namun kukuh menolak / Menghadap sang raja / Tak merasa kalau di bawah / Berdalih memaksa mengaku / Tak hendak menolak memilih / semuanya diliputinya / (BJT XXXII : 7)

Babad Jaka Tingkir berhenti pada pupuh Sinom ini yang menandakan bahwasanya kisah sang Pangeran Pajang terhenti dalam kisah sang ayahandanya yang bersikukuh tidak mau menghadap sang Raja Demak sehingga menemukan ajalnya. Yang perlu diketahui bagi penguasa pusat adalah jangan meremehkan orang-orang pinggiran yang kapan saja bisa memberontak ketika hak dan kewajibannya terabaikan.

 

Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.