Menjemput Kematianku yang Kesekian

“Orang-orang silih berganti datang menjemput luka. Sementara aku memilih pergi menjemput hening. Dalam keheningan semua telah aku miliki, lewat keheningan semua telah aku capai”

~~~

Pernahkah kalian mati? Aku pernah, tak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Semacam kesialan, harusnya sekali mati aku tak pernah lagi mengenal apa itu kembali. Hidup ini serupa tawanan dunia, dan yang aku kenal hanya mengulang luka. Aku kembali hidup setelah nyawaku melayang tanpa harap, aku kembali hidup saat lamat-lamat sadar namaku disebut.

“Saudari, Murni. Syukurlah saudari sudah sadar.”, ucap dokter piket dengan seragam putih yang ia kenakan.

Mataku terbelalak memandang ruang rawat Puskesmas, seorang dokter piket dan perawat nampak baru selesai memeriksa selang infus di pergelangan tanganku. Di samping ranjang Puskesmas, berdiri ibuku dengan raut wajah cemas, pun dua anak perempuanku yang beranjak remaja dengan kekhawatiran yang sama.

Aku tersadar dari pingsan beberapa saat lalu, dan lamat-lamat sadar mataku menjadi basah karena air mata. Memandang ketiganya dengan wajah penuh harap membuat aku lega karena masih bisa menemani mereka meniti hari-hari lagi. Namun aku tetap merasa menyesal kenapa aku harus kembali hidup di dunia ini.

***

Tangan kasar sopir antar provinsi yang biasa disebut bapak oleh kedua anakku, kerap mendarat di pipi. Alasannya sederhana, aku perempuan bodoh yang tidak menghasilkan apa-apa, tak terampil berdandan pun hanya menjadi tukang masak harian dengan bergantung pada nafkah pemberian.

Kebodohanku seperti kebanyakan perempuan, aku memilih merawat anak, rumah dan tubuh suamiku yang lelah sepulang dari kerja. Menjadi ibu rumah tangga bukannya tanpa pekerjaan, aku hanya tidak mendapat gaji dari apa yang aku kerjakan. Tapi bukankah tenagaku merawat rumah dan tubuhnya sebagai laki-laki jika dirupakan gaji lebih berharga dari uang harian yang kadang harus terpotong untuk uang kopi dan rokok suami?

Dan kali ini aku ditampar untuk kesekian kali. Aku menangis kembali. Hanya tamparan tentu tidaklah menyakitkan, aku teramat sadar bahwa tubuh perempuan adalah hal lain bahkan kematian pasca melahirkan adalah taruhan. Tapi aku menangis, aku menangis karena ditampar. Bagi mereka yang mendewakan cinta tamparan tak lebih dari bahasa tubuh laki-laki atas luka yang coba dia tanam dalam hati perempuan. Dan seperti biasa, psikologi korban selalu memainkan peran, kepercayaan diriku sebagai perempuan hilang, pun trauma kekerasan selalu menjadi bayang. Kau sebut ini dunia? Ini nerakanya dunia.

Semula aku melayaninya seperti biasa, menyediakan kopi, menyiapkannya makan siang, tak lupa memijit punggungnya yang kecapekan. Lalu dia mulai meminta ini itu, obrolan lain mengarah pada ketidakmampuanku menyediakan pelayanan yang dia harapkan. Lalu aku bilang, jangan menuntut makan enak jika uang untuk memasak tidak banyak. Lalu penghinaan membuatku berani berucap, jangan meminta istri berpenampilan menawan jika kelelahan bekerja tidak diperhatikan, pun uang dandan tidak pernah menjadi daftar rutinan.

Aku salah? Iya aku memang salah. Serupa tidak menghargai kerja-kerjanya aku mulai menyuarakan kelelahanku sebagai makhluk kelas dua.

Aku salah? Iya aku memang salah. Serupa tidak menghargai kerja-kerjanya aku mulai menyuarakan kelelahanku sebagai makhluk kelas dua. Tapi andai kau tahu, sebenarnya aku tidak ingin mengajukan persetujuan atas kata-kataku, aku hanya menyampaikan kegelisahanku. Suara tetangga mau tidak mau telah sampai pada telinga bebalku, mereka sibuk megunjing atas kelakuan suamiku sebagai sopir yang suka main enak di luar dengan selingkuhan. Mereka mengada-ada? mereka tahu. Diperolehnya berita dari  beberapa kuli angkut barang saat antar jemput barang antar provinsi yang tak lain adalah tetangga desa. Aku tidak mungkin akan menuduh kau akan menikahi perempuan itu? Karena tidak ada perempuan bodoh macam aku yang hanya mau menjadi babu rumahan dan budak ranjang saat kau tak punya uang.

Pernah dulu aku mengajukan diri untuk ikut membantunya bekerja, entah menjadi pekerja pabrik, pembantu di kota, ataupun menjadi tenaga migran agar memperbaiki ekonomi keluarga. Tapi dulu suamiku bilang, anak-anak membutuhkan peran ibu dalam merawat dan mendidiknya, aku menurut saja.

Lalu saat anak-anak tumbuh dengan kemandirian mampu mengerjakan keperluan rumah, aku merengek lagi meminta ijin bekerja. Pertengkaran terjadi, aku dibilang perempuan kurang bersyukur atas pemberian suami dan bermaksud cari-cari alasan meninggalkan keluarga. Katanya juga, perempuan yang mampu mencari uang adalah potensi kurang ajar pada suami. Lelaki egois ini sedang berkaca atau bagaimana? Buktinya dia yang bekerja dengan penghidupan keluarga yang biasa, ketersediaanku melayani justru dihianati.

Tak menjadi soal sebenarnya hidup berkalang kekurangan finansial, asal keberadaanku sebagai bagian hidup dipertimbangkan.

Tak menjadi soal sebenarnya hidup berkalang kekurangan finansial, asal keberadaanku sebagai bagian hidup dipertimbangkan. Sejak lama suaraku tidak pernah dihitung sebagai bahan pertimbangan dalam berbagai keputuannya sebagai pasangan. Mulai dari anggapan perempuan urusannya cuma di belakang, perkataan kasar dan main tangan.

Jika pertengkaran terjadi, istri adalah alasan kesalahan bahkan uang belanja yang tak semestinya diberikan masih-lah menjadi kesalahanku karena tidak mampu mengelola. Dia sibuk mengalang kesenangan, memuji kecantikan visual di luar tapi tak sedikitpun istrinya dibelikan perlengkapan dandan, uang sekolah anak yang kerap terlambat dan ketidaksiapan memenuhi hidup yang kerap dinilai sebagai jalan kehidupan. Lalu aku yang  bodoh, karena “perempuan bisanya cuma merepotkan”, itu katamu. Andai aku tahu bahwa hidup tidak pernah adil kepada perempuan, aku tidak ingin jadi perempuan. Aku memilih jalan takdir jadi pohon beringin yang dipuja, ataupun menjadi kapal pesiar yang berkeliling dunia. Kau kira kau lahir dari mana? Dari ibumu yang juga perempuan.

***

Namaku Murni, perempuan desa, miskin pengalaman dan tidak gemar berdandan ala artis sabun di televisi. Semula aku dua bersaudara dengan kakak lelakiku, ia memilih sekolah tinggi sambil bekerja di kota, sementara aku memilih menikah karena takut dikejar stigma perawan tua. Aku perempuan desa, sekolahku tidak perlu tinggi. Karena sebagaimana kebanyakan perempuan,  bahwa sepandai-pandainya perempuan dalam jenjang pendidikan mereka adalah “konco wingking” berkutat pada kasur, sumur, dan dapur. Aku menikah dengan pilihanku, aku menikah karena dukungan keluargaku. Pesta digelar, serupa pesta profan kebahagiaan sehari semalam. Karena kesulitan hidup di hari-hari selanjutnya adalah pekerjaan rumah yang mengharuskan pemikiran pelakunya. Tak ada masa depan yang kami rencanakan berdua kecuali cinta dan bahagia bersama.

Aku bahagia, tentu. Menikah dengan dicukupi sebagai istri dan karunia Tuhan sebagai ibu yang mewujud rupa dua anak yang mengisi kebahagiaan keluarga. Cinta adalah modal yang membahagiakan dalam keluarga, dan penerimaan adalah penangkal atas segala ketidakadilan yang ada. Sampai sini, tak ada yang lebih menggambarkan bahwa kami adalah manusia normal yang saling melengkapi dan mencintai.

***

Semula aku menangis karena kebiasaannya yang suka memakiku, perlakuannya yang sering berakhir pada tamparan di pipi, atau bahkan ketidakadaannya penghormatan diriku sebagai pasangan hidup. Tapi kini lebih, perselingkuhan tak lebih dari penghianatan atas janji dan komitmen hidup pasangan untuk saling melengkapi. Pertengkaran malam itu, ditengarai ketidakterimaannya sebagai lelaki dituntut penjelasan oleh perempuan bodoh yang nyatanya hanya numpang hidup dari penghasilannya. Tamparan lagi yang aku terima, setelah penghinaan yang menurutnya wajar aku peroleh. Selepas itu, ia membanting pintu memilih pergi dengan emosi.

“Perempuan bodoh, banyak menuntut”, ucapnya terdengar.

Jangan kalian tanya kemana perginya cinta. Cinta tak ubahnya keyakinan yang kau imani, kadarnya naik turun sebagaimana kebutuhan, harapan dan keadaan yang kau rawat. Jika di luar ada hal yang lebih menarik, tanpa modal tanggung jawab berjangka waktu lama, bukankah itu lebih mudah dijalani? Sementara aku? Lusuh tubuhku sebagai perempuan rumah tangga tanpa suplai kecukupan ekonomi, lusuh tubuhku sebagai perempuan tanpa perhatian dan penghormatan atas keputusan hidup. Cintanya sebagai suami telah lama hilang barangkali saat di luaran tanggungjawab tidak dibebankan, sementara berkeluarga artinya adalah komitmen yang dipertanggungjawabkan. Dan cintaku pudar barangkali karena sakit hati yang ditanamnya, lewat penghinaan maupun penghianatan. Tapi aku perempuan, beban batin bagi perempuan kerap selesai sendiri dalam diam. Ia memilih senyap karena mulai dibiasakan dan alasan klasik demi psikologi anak-anaknya.

Tapi kali ini aku tidak tahan. Tidak ada masa depan yang tergambar, tak ada rasa percaya diri untuk mengisi hari-hari, pun anak-anak tak lagi hidup dalam pemikiran luasku. Semua telah sirna oleh perlakuan dan kata-katanya. Dalam kondisi tertekan, penuh beban dan depresi, kutelan obat tidur beberapa biji. Kupikir dengan ini masalah selesai. Aku ambruk, menjemput kematianku yang kesekian kali [DM]/.//

Buku Langgar Shop