Celeng!

Pada 28 Maret 2019, Romo Sindhunata (pengelola majalah Basis) dan Mirna Yulistianti (editor Gramedia Pustaka Utama) mampir ke Bilik Literasi (Solo). Obrolan menjelang malam. Kami tak lagi sempat mengurusi tema politik dan korupsi terlalu menjengkelkan jelang hari coblosan, 17 April 2019. Kita mengobrolkan buku-buku dan masa lalu. Obrolan ringan bermaksud memberi penghormatan pada kerja menulis dan kemauan orang-orang jadi pembaca di hari-hari selalu sibuk. Kita mungkin keterlaluan melulu berpikiran buku.

Selama obrolan, wajah Romo Sindhunata semringah. Ia masih memberi pengertian-pengertian bergelimang harapan untuk hidup di abad XXI. Segala marah dan dendam pada politik amburadul dan wabah korupsi tak harus menimbulkan rusak, kehancuran, atau petaka tambahan. Situasi itu diladeni dengan renungan-renungan dihamparkan di halaman-halaman sekian buku.

Pada 2019, tiga buku Romo Sindhunata diterbitkan lagi oleh Gramedia Pustaka Utama, tak bermisi gamblang memberi sindiran kesemrawutan politik 2019. Tiga buku mengajak ke renungan-renungan mengurangi marah dan gerah: Aburing Kupu-Kupu Kuning, Menyusu Celeng, dan Air Kata Kata. Buku masih mungkin mendokumentasikan zaman, kelak bakal jadi referensi ingatan atas Indonesia.

Kedatangan Romo Sindhunata, Mirna Yuliastianti, dan teman-teman ke Solo untuk menghadiri pentas tari di Taman Budaya Jawa Tengah. Pentas diilhami dari buku berjudul Aburing Kupu-Kupu Kuning. Buku itu berhak mengingatkan kita pada pelbagai tema, tokoh, dan peristiwa dari masa lalu untuk terpikirkan di masa sekarang. Kita tak perlu terlalu sibuk mengurusi politik membikin sewot dan senewen. Pilihan merenungi hidup dan zaman dengan buku-buku membuat kita di tak gampang terbakar marah atau mengumbar benci ke segala penjuru.

Dua buku garapan Romo Sindhunata memiliki pemaknaan erat dengan situasi 2019 adalah Menyusu Celeng dan Air Kata Kata. Sekian hari, sebelum obrolan di Bilik Literasi dan acara peluncuran buku Menyusu Celeng di Bentara Budaya Yogyakarta, 30 Maret 2019, kita mendapat deretan berita mencengangkan dari KPK. Korupsi masih merajalela. Ketua umum partai politik, pejabat BUMN, dan anggota DPR ditangkap KPK dengan dugaan melakukan korupsi. Koran-koran menampilkan wajah mereka dan tumpukan duit. Kaum serakah duit masih ada di Indonesia berlagak mau memajukan dan memuliakan demokrasi. Mereka menodai demokrasi dan khianat pada jutaan orang.

Manusia bersorak/ celeng dhegleng sudah modar!/ Tapi langit masih kelabu/ dari sana terdengar teriak tersembunyi/ belum, celeng dhegleng belum mati/ Lihatlah!/ Nafsu ketamakannya masih sedalam laut/ Kelobannya setinggi langit/ Kekuasaannya seluas bumi.

Romo Sindhunata menjuluki koruptor dan politikus kotor adalah celeng. Kita mulai menanggapi situasi buruk dengan membaca buku-buku bercerita celeng berlatar Indonesia: masa lalu dan sekarang. Romo Sindhunata dalam puisi berjudul “Celeng Dhegleng” mengingatkan situasi politik 1998-1999 berdampak sampai sekarang. Indonesia diceritakan dengan celeng: Manusia bersorak/ celeng dhegleng sudah modar!/ Tapi langit masih kelabu/ dari sana terdengar teriak tersembunyi/ belum, celeng dhegleng belum mati/ Lihatlah!/ Nafsu ketamakannya masih sedalam laut/ Kelobannya setinggi langit/ Kekuasaannya seluas bumi. Keberakhiran rezim Orde Baru belum berarti ketamatan kaum koruptor dan politikus kotor. Indonesia masih dinodai orang-orang serakah duit dan menebar seribu muslihat. Daftar koruptor selalu bertambah. Buku tebal aib semakin tebal.

Nafsu korupsi terus membesar dan mewabah. Hukuman-hukuman dan sinis dari publik belum bisa merampungi lakon korupsi. Mereka kebal malu dan dosa. Romo Sindhunata membahasakan dengan celeng, mengartikan keserakahan dan kejahatan terus merusak Indonesia. Celeng itu berkeliaran dan beranak-pinak. Di puisi berjudul “Menguak Selendang Maya”, Romo Sindhunata menulis perihal celeng, bersumber dari lukisan Djoko Pekik: Tapi kenapa sejak celeng itu dilepas/ di atas kanvas/ di mana-mana malah berkeliaran/ celeng-celeng buas?/ Yang seharusnya bijak ternyata menceleng/ menipu dan berbohong lebih daripada dulu./ Yang dititipi kuasa malah menceleng/ menindas dan menggusur lebih daripada dulu./ Yang sudah berpunya makin menceleng/ mengeruk harta dan serakah lebih daripada dulu./ Yang seharusnya suci malah menceleng/ pura-pura murni dan makin munafik lebih daripada dulu. Puisi-puisi mungkin tak sempat terbaca oleh para tokoh di poster, spanduk, dan iklan sedang menginginkan doa dan dukungan berupa suara di hajatan demokrasi, 17 April 2019. Mereka itu sibuk, tak berwaktu cuma untuk membaca buku atau merenungi puisi.

Zaman celeng belum berakhir. Kita menanggung kutukan gara-gara celeng menghancurkan demokrasi dan pamer roman korupsi sepanjang masa. Kutukan demi kutukan jarang membuat kaum politik memiliki kehendak membenahi Indonesia. Omongan dan ulah mereka kadang semakin mengotori Indonesia. Debat-debat tak berkesudahan, saling fitnah, dan membuat pabrik kebencian menjadikan demokrasi jauh dari bijak dan kebahagiaan. Kita berhak marah dan mendendam tapi berkemungkinan membuat situasi bertambah amburadul. Kita bingung bersikap dan berkata gara-gara kutukan terlalu berat. Korupsi itu terlalu melukai dan menghinakan mufakat kita berbangsa-bernegara.

Tapi kenapa sejak celeng itu dilepas/ di atas kanvas/ di mana-mana malah berkeliaran/ celeng-celeng buas?/ Yang seharusnya bijak ternyata menceleng/ menipu dan berbohong lebih daripada dulu./ Yang dititipi kuasa malah menceleng/ menindas dan menggusur lebih daripada dulu./ Yang sudah berpunya makin menceleng/ mengeruk harta dan serakah lebih daripada dulu./ Yang seharusnya suci malah menceleng/ pura-pura murni dan makin munafik lebih daripada dulu.

Kita sampai ke novel Menyusu Celeng, novel untuk membuat perhitungan nasib Indonesia: sebelum dan setelah hari coblosan. Novel tak terlalu menghebohkan dibandingkan novel-novel gubahan Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Leila S Chudori, atau Eka Kurniawan. Di alur kesusastraan Indonesia, Romo Sindhunata masih sulit mendapatkan halaman pengakuan sebagai novelis meski teringat sebagai penulis buku laris Anak Bajang Menggiring Angin. Ia memang emoh sewot demi pengakuan dan pembesaran. Menyusu Celeng dikerjakan sebagai novel bertaburan puisi dan esai. Novel tak berpamrih minta pujian di puncak-puncak kesusastraan Indonesia abad XXI.

Novel bercerita kemunafikan, keserakahan, dendam, kebencian, dan nafsu berkaitan lakon-lakon politik, seni, sosial, dan ekonomi berlatar Indonesia, sejak 1965 sampai sekarang. Di novel, Sindhunata menulis: “Sebenarnya sudah tersedia kata atau istilah untuk para pelaku semacam itu, yakni koruptor dan politikus kotor. Sedang istilah untuk praktik mereka adalah korupsi dan politik uang. Namun rakyat kebanyakan menyebut mereka celeng. Mungkin karena bagi rakyat kebanyakan, sebutan celeng lebih mudaha ditangkap, dan lebih menggambarkan kejahatan dan keserakahan mereka daripada istilah koruptor atau politikus kotor.” Kita menanti para celeng dihukum dan bertobat. Penantian mungkin menghasilkan kecewa gara-gara celeng terlalu cepat beranak-pinak dan merajalela. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).