Bahasa Jawa: 1918, 1928, 1938

Pada 1918, para sarjana, pejabat kolonial, bangsawan, dan seniman berkumpul di Solo mengadakan kongres akbar mengurusi nasib bahasa, seni, dan peradaban Jawa. Kongres tak melulu menggunakan bahasa Jawa. Selama kongres, orang-orang terbiasa berbahasa Belanda ketimbang berbahasa Jawa. Dulu, bahasa Belanda dianggap penting dan “tertinggi” dalam laku intelektualitas. Pementingan semakin berlaku saat bahasa Belanda diajarkan di sekolah dan menjadi bahasa administrasi kolonial. Bahasa Jawa tak sirna dalam kongres tapi terkesan belum menjadi bahasa “teragung”. Di Jawa, bahasa Jawa telah bersaing dengan bahasa Belanda dan Melayu. Orang-orang telanjur bermimpi menapaki “kemadjoean” berbahasa Belanda. Mereka pun sudah tergoda menggunakan bahasa Melayu.

Pada 1928, bahasa Jawa sempat jadi sumber keributan bagi kaum muda di Jakarta. Mereka berbeda suku tapi berpikir Indonesia. Mereka gamang memilih bahasa untuk persatuan. Tiga bahasa diusulkan dalam memuliakan dan menguatkan kemauan membentuk Indonesia. Perdebatan sengit mengacu sejarah dan pengajuan argumentasi politik-kultural. Ingatan-ingatan masa lalu bermunculan. Pada awal abad XX, orang sempat mengenang impian Romo van Lith bahwa bahasa Jawa bakal digunakan sebagai bahasa terpenting di tanah jajahan. Pada 1916, Soewardji Soerjaningrat memberi pidato penting di Den Haag, Belanda. Pidato mengenai pendidikan-pengajaran bahasa di Hindia Belanda. Tokoh asal Pakualaman (Jogjakarta) dan penggerak politik radikal itu menerangkan perbedaan faedah bahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Soewardi Soerjaningrat mengusulkan agar dimulai pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah. Bahasa itu maju dan “dimufakati” dalam pergaulan besar di tanah jajahan ketimbang bahasa Belanda dan Jawa. Usul Soewardi Soerjaningrat seperti membantah ramalan Romo Van Lith.

Usulan tak bermaksud merendahkan peran bahasa Jawa meski digunakan oleh jutaan orang. Bahasa Melayu bermasa depan cerah dalam arus intelektualitas dan politik. Soewardi Soerjaningrat berargumentasi: “… bahasa Jawa tak memenuhi ketentuan-ketentuan utama sebagai bahasa pengantar populer, sulit sekali dipelajari dan terlalu berat berkaitan dengan keadaan adat dan kebiasaan setempat.” Usul itu belum berdampak politis pada kongres kaum muda di Jakarta, 1926. Situasi agak berubah saat laju gerakan politik kebangsaan dan keinsafan identitas Indonesia menguat pada 1928. Jejak pemikiran Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara dipertimbangkan dalam capaian bersumpah demi Indonesia. Bahasa Melayu memang terpilih tapi harus berganti sebutan menjadi bahasa Indonesia.

Peristiwa-peristiwa itu mendahului pembuatan sejarah penting di Indonesia, 28 Oktober 1928 (Leirissa, Sutjianingsih, dan Ohorela, Sejarah Pemikiran tentang Sumpah Pemuda, 1989). Bahasa Melayu dan Belanda bertarung sengit untuk dipilih sebagai bahasa persatuan. Bahasa Jawa perlahan “disingkirkan” dengan pelbagai pertimbangan politik-kultural dan lingusitik. Nasib “buruk” mendapat pembelaan dari Mohammad Roem, 1978: “… karena budi luhur dan pengorbanan orang Jawa, bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia.” Sejarah memang terus bergerak bersama bahasa Indonesia. Pada masa 1930-an, usaha membesarkan bahasa Indonesia dikerjakan oleh para sastrawan melalui penerbitan majalah Poedjangga Baroe, pengajaran di Perguruan Nasional Taman Siswa, dan gerakan politik kebangsaan.

Bahasa Indonesia mengalami perusakan akibat puja bahasa Inggris. Bahasa Jawa pun terasa jauh dari nalar-imajinasi orang-orang di Jawa.

Dampak dari peristiwa 1928 berlanjut ke Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, 1938 (Harimurti Kridalaksana, Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, 1991). Di kota bersejarah, bahasa Indonesia semakin penting dalam penentuan capaian kemerdekaan, titik sambung dari kongres bertahun 1918 dan 1928. Di Solo, kota berbahasa Jawa, orang-orang malah serius mengurusi bahasa Indonesia. Situasi itu tak mematikan bahasa Jawa dalam pendidikan, pers, dan sastra.

Kita sejenak mengingat buku pelajaran lawas. Pada 1928, terbit cetakan ulang kedua buku berjudul Basa Djawi. Semula, buku itu terbit pada 1921. Buku itu digunakan dalam pengajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah atas anjuran J. Kats, tokoh bahasa dan sastra Jawa. Buku untuk “sinaoe basa Djawi” itu teramat penting dalam kemajuan bahasa Jawa. Pada masa 1930-an, buku itu terus mengalami cetak ulang dan digunakan di sekolah-sekolah, tak sirna akibat pemajuan bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa juga tetap bertumbuh melalui penerbitan pelbagai majalah. Sejak 1926, majalah Kadjawen terbitan Bale Poestaka terus diminati pembaca di Jawa, bertahan sampai masa 1940-an. Pada masa lanjutan, pembaca berbahasa Jawa disuguhi majalah Panjebar Semangat, Mekar Sari, Djaja Baja, dan Waspada. Majalah berbahasa Jawa beraksara Latin perlahan memajukan peradaban dan turut dalam arus memuliakan Indonesia. Bahasa Jawa terbukti memajukan Indonesia, tak melulu demi peradaban Jawa. Pada masa 1950-an dan 1960-an, majalah-majalah berbahasa Jawa digemari pembaca meski perlahan surut pada masa 1970-an akibat politik bahasa nasional dan pembuatan kurikulum nasional, tak berpihak ke bahasa-bahasa daerah.

Kini, pertarungan bahasa tak lagi mengikutkan bahasa Belanda. Bahasa Indonesia mengalami perusakan akibat puja bahasa Inggris. Bahasa Jawa pun terasa jauh dari nalar-imajinasi orang-orang di Jawa. Di Solo, kota bersejarah bahasa Jawa dan Indonesia mulai digoda pesona bahasa Inggris. Pelbagai acara dan kebijakan mulai berjudul dan bertema menggunakan bahasa Inggris. Sejarah pun surut akibat orang-orang melupakan kejadian 1918, 1928, dan 1938. Bahasa Jawa terpuruk di bilik kusam sejarah peradaban Jawa. Bahasa Indonesia pun tersungkur di jalan becek tanpa janji bahagia. Kini, orang-orang mungkin telah menunaikan sumpah memuja bahasa Inggris sampai kiamat. Begitu.

 

Bandung Mawardi

Kuncen Bilik Literasi

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).