Wong Agung Gus Dur

Bolehlah dikatakan bahwa pikiran seseorang pasti berbeda dari pikiran orang lain. Kata “pikiran” di sini digunakan untuk menyebut bangunan yang dibangun oleh seluruh apa pun yang ada dalam dunia mental manusia: sistem semiotika, sistem diskursus, sistem ekonomi, sistem politik, sistem sosial, sistem pengetahuan, sistem permainan, sistem operasi yang menghubungkan semua sistem lain, sistem logika yang bisa mengobjektifikasi semua sistem lain.

Pikiran bekerja dengan memunculkan “lubang” dalam dirinya. Lubang itu biasa disebut pertanyaan, soal, persoalan, masalah, question, problema dst. Ketika muncul sebuah lubang, maka pikiran manusia akan bergerak mencari apa pun yang bisa menutup lubang itu. Pikiran berusaha melenyapkan pertanyaan itu dengan mencari atau membuat jawaban untuk pertanyaan itu. Ketika sebuah pertanyaan sudah punya jawaban, maka lubang itu sudah tertutup, sehingga lubang itu lenyap. Lubang yang tidak ada lagi itu adalah keadaan damai pikiran.

Sistem-sistem dalam pikiran itu juga dibangun dari banyak sekali pertanyaan beserta jawabannya masing-masing. Sistem-sistem itu solid, pada, kokoh, perkasa jika semua pertanyaan yang menyusun sistem itu sudah mendapatkan jawabannya. Jadi pikiran manusia yang kokoh bisa dibayangkan sebagai sebuah kampung yang di situ semua laki-laki sudah beristeri dan masing-masing pasangan saling mencintai: tidak ada jomblo, dan tidak ada janda, dan duda.

Semakin banyak sistem yang ada di pikiran manusia, semakin rumit sistem-sistem itu, maka semakin besar bangunan mental, semakin besar pikirannya, semakin kokoh pikiran itu. Jadi selain memiliki tubuh daging, manusia juga memiliki badan pikiran itu. Manusia berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ukuran dan kerumitan pikiran yang sama. Semakin sama ukurannya, semakin orang bisa saling memahami.

Pikiran yang besar memayungi orang yang pikirannya lebih kecil. Pikiran orang tua mengayomi pikiran anak-anak mereka. Pikiran paling besar melingkupi semua pikiran lain yang lebih kecil. Pikiran paling besar adalah pikiran yang memikirkan semua masalah yang dipikirkan oleh pikiran-pikiran yang lebih kecil.

Pikiran paling besar itu pun mengayomi yang lebih kecil. Idealnya seorang raja menjadi orang yang pikirannya paling besar se kerajaan, sehingga dia memikirkan semua masalah yang dipikirkan oleh orang-orang yang menjadi bawahannya.

Mungkin itulah sebabnya dulu raja Jawa disebut “Wong Agung”, bukan badannya yang besar, melainkan pikirannya yang memikirkan penderitaan semua pikiran lain di kerajaannya. Jika seorang raja hanya memikirkan urusannya sendiri, maka dia bukan Wong Agung, melainkan seorang yang tidak cocok untuk menjadi raja. Tubuh pikiran itulah yang lebih banyak dihidupi oleh Wong Agung. Sehingga logis saja, Wong Agung tidak merasa susah ketika tubuh fisiknya sakit atau menderita: dia merasa lebih menderita ketika tubuh dan pikiran orang-orang yang diayominya menderita. Sebab tubuh semua orang, masalah semua orang adalah tubuh dan pikirannya sendiri.

Salah satu Wong Agung yang dikenal banyak orang adalah Gus Dur. Dia Wong Agung karena seumur hidup apa yang diurusi Gus Dur adalah bagaimana negara dan bangsa Indonesia selamat, bagaimana dia mengusahakan agar jangan sampai negara Indonesia hancur, agar jangan sampai bangsa Indonesia menderita karena kehancuran itu. Gus Dur bertindak ramah kepada semua orang karena dia mengayomi semua orang: memikirkan keselamatan semua orang. Namun sepertinya apa yang diayomi Gus Dur bukan hanya Indonesia. Lambang Nahdlatul Ulama adalah bola dunia yang disatukan oleh tali yang dikawal oleh sembilan bintang: Gus Dur adalah cucu pendiri NU. Jadi logis saja bahwa Gus Dur harus memikirkan bukan saja Indonesia tetapi juga memikirkan seluruh dunia.

Gus Dur sudah beberapa lama tidak lagi ada di dunia manusia hidup sekarang. Hampir semua orang merasa kehilangan. Tetapi sebetulnya mereka kehilangan pengayom, seperti anak ayam kehilangan induknya. Sementara ini belum nampak orang yang mengayomi Indonesia. Barangkali beberapa orang adalah pengayom Indonesia, tetapi kita tidak kenal. Apa tandanya seseorang adalah Wong Agung? Ya itu tadi, semua orang merasa kehilangan pengayom ketika orang itu meninggal.

Entah siapa sekarang Wong Agung lain yang sedang menjalankan darma untuk mengayomi seluruh Indonesia dan seluruh dunia.