“Maskulinitas dan Femininitas” Masyarakat Suku Sasak

Suku Sasak merupakan penduduk asli dan merupakan etnik mayoritas yang mendiami pulau Lombok, Lombok Mirah atau Gumi Selaparang merupakan sebutan yang melekat untuk pulau Lombok. Sejarah orang Sasak merupakan sejarah kolonialisme, hegemoni atau paling tidak dominasi. Pemerintahan dari, oleh dan untuk orang Sasak belum pernah betul-betul terjadi, kecuali dalam waktu sekitar dua dasawarsa terakhir. Adapun, mengeni asal-usul etnik Sasak masih menjadi pembicaraan serius para ahli sejarah, sebab sampaisaat ini belum pernah dilakukan penelitian yang seksama. Berangkat dari bukt-bukti etnnografis yang sederhana dapat dikatakan bahwa etnik Sasak merupakan bagian dari penetrasi atau keturunan Suku Jawa yang menyebrang ke Pulau Balidan selanjutnya ke Pulau Lombok.

Jamaluddin, dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam Lombok Abad XVI –Abad XX. Menjelaskan bahwa, budaya Jawa sangat berpengaruh dalam membentuk budaya masyarakat Sasak Lombok yang disebabkan adanya hubungan politik dengan Majapahit. Kehadiran pembesar Majapahit ke Lombok adalah untuk tujuan penguasaan wilayah timur Nusantara, ekspedesi pertama Majapahit ke Lombok dipimpin oleh Patih Nala (Empu Nala), dan ekspedisi kedua langsung dipimpin oleh Gajahmada. Dengan kehadiran orang-orang Majapahit di Lombok, maka sangat mungkin Jawa sangat berpengaruh dalam masyarakat Sasak Lombok. Kedatangan Suku Jawa ke tanah Lombok dimulai sejak zaman Kerajaan Daha, Kelling (Kelingga), Singosari samapi [ada zaman Kerajaan Mataram Hindu pada abad ke 5-6 Masehi. Lebih-lebih setelah hampir runtuhnya Kerajaan Majapahit pada penghujung abad 15 atau tempatnya sekitar tahun 1518-1521 di saat memasuki era Islamisasi.

Keragaman tradisi, bahasa, budaya, dan Agama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tampaknya memiliki potensi yang sangat mendukung dalam merajut ke-Indonesiaan, terutama dengan melihat aset sosial dan budaya bangsa yang dimiliki oleh Indonesia dalam konteks masyarakat multibuday. Tradisi pernikahan adat di Indonesia sangatlah beragam adanya, adat pernikahan tradisional yang sering digunakan untuk mensakralkan suatu acara atau seremoni pernikahan, yang salah satunya seperti seremoni pernikahan dalam tradisi pernikahan masyarakat suku Sasak Lombok. Ditinjau dari perspektif sosial dan budaya, pernikahan di suatu masyarakat tidak hanya menjadi suatu urusan yang sangat penting setiap unit keluarga, pernikahan juga menjadi urusan penting bagi kerabat keluarga luas dan lingkungan sosialnya suatu masyarakat. Semua anggota keluarga mulai dari bapak, ibu, kakek-nenek, sampai kerabat dekat dan kerabat jauh akan ikut serta ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan pernikahan. Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang dipentingkan oleh kalangan masyarakat, begitu juga dengan masyarakat suku Sasak, menganggap perkawinan merupakan suatu peristiwa yang penting dalam porese keberlangsungan kehidupannya. Oleh sebab itulah, upacara perkawinan dirayakan dan dilaksanakan dengan penuh suka cinta. Kawin lari (merarik) sebagai sebuah praktek sosial dari kebanyakan suku Sasak, terdapat variasi yang besar tentang tata cara dilangsungkannya sebuah prosesi perkawinan.

Dalam tradisi perkawinan masyarakat suku Sasak, terdapat beberapa jenis model perkawinan dengan pola atau cara yang berbeda-beda, ialah sebagai berikut:Pertama, kawin lari (merarik).Secara etimologi kata Merarik diambil dari kata lari (berlari), Merarik’an berarti melaik’an (melarikan).

 Muhyidin Azmi

Dalam tradisi perkawinan masyarakat suku Sasak, terdapat beberapa jenis model perkawinan dengan pola atau cara yang berbeda-beda, ialah sebagai berikut:Pertama, kawin lari (merarik).Secara etimologi kata Merarik diambil dari kata lari (berlari), Merarik’an berarti melaik’an (melarikan). Sedangkan, secara terminologis, merarik mengandung dua arti. Pertama, lari. Lari merupakan arti yang sebenarnya dari merarik. Kedua, keseluruhan pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak. Kedua, kawin dengan cara menculik, lawan dari merarik yang telah sama-sama disetujui oleh kedua belah pihak untuk melakukan perkainan, namun dalam hal ini tidak ada proses saling mencintai sebelumnya. Laki-laki atau pemuda yang menginginkan melakukan kawin dengan cara menculik, melakukan suatu rencana yang tidak diketahui oleh pihak perempuan dan hal itu dilakukan dengan cara pemaksaan. Ketiga, kawin meminang (Melakok atau Ngendeng), jenis perkawinan ini tidak seperti pola yang diterapkan pada kawin dengan cara menculik, namun dengan cara atau pola meminang. Pola perkawinan ini  biasanya dilakukan oleh masyarakat adat Sasak yang berada di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan karena, pengaruh pendidikan dan budya yang saling mempengaruhi sehingga tampak ada pola atau cara yang lebih praktis dan lebih manusiawi. Keempat, kawin tadong (kawin gantung), perkawinan jenis ini dilakukan pada masa si anak masih kecil. Mereka saling dijodohkan dan pada masanya nanti akan dikawinkan secara sah. kawin tadong, oleh masyarakat suku Sasak diartikan sebagai penundaan perkawinan yang layak seperti perkawinan yang lain hingga salah satu atau kedua mempelai menginjak dewasa. Kelima, kawin ngiwet, perkawinan jenis ini merupakan perkawinan yang dilakukan dengan cara melarikan istri orang lain. Ngiwet artinya melarikan istri sah orang lain dengan maksud untuk dijadikan istri, perkawinan jenis ini dikenal pada masyarakat suku Sasak yang menganut ajaran Islam Wetu Telu.

Tradisi perkawinan masyarakat suka Sasak tergolong sebagai adat atau tradisi yang unik dan memiliki ciri yang khas, salah satu ciri yang paling menonjol dalam tradisi perkawinan masyarakat suku Sasak adalah tradisi kawin lari (merarik) atau yang oleh masyarakat Sasak disebut dengan Saleran. Merarik, sebagai suatu proses upacara perkawinan dalam tradisi masyarakat suku Sasak pada umumnya terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan menurut adat masing-masing sesuai dengan ketentuan mengenai waktu, tempat, pelaku, dan perlengkapan upacara. Dalam bentuknya yang paling sempurna, seremoni perkawinan masyarakat suku Sasak tradisional terdiri dari tiga tahap, ialah; Pembayun, Nyongkolan, dan Sorong Serah. Ritual pembayun menentukan dan menyatakan secara umum tingkat status pasangan dan keturunan mereka serta penetapan Gentiran (S) untuk setiap pelanggaran yang dilakukan oleh mempelai laki-laki dan atau oleh keluarganya. Dalam seremoni pernikahan masyarakat suku Sasak, terdapat satu seremoni yang disebut dengan nama Pembayun (S) yang dilakukan berbarengan dengan upacara atau seremonial Sorong Serah (S), yang dikarenakan saat prosesi atau seremonial Sorong Serah (S) dijadikan sebagai suatu upacara atau seremonial untuk membicarakan perihal maskawin. Maskawin merupakan sebuah kewajiban untuk setiap laki-laki muslim yang diharapkan untuk memenuhinya, pengantin laki-laki diwajibkan mencakupi masa depan istrinya dengan apapun maskawin yang diminta oleh pengantin perempuan.

Ritual pembayun menentukan dan menyatakan secara umum tingkat status pasangan dan keturunan mereka serta penetapan Gentiran (S) untuk setiap pelanggaran yang dilakukan oleh mempelai laki-laki dan atau oleh keluarganya.

 Muhyidin Azmi

Dalam tradisi pernikawinan masyarakat suku Sasak, calon atau pengantin laki-laki, selain harus membayar maskawin juga diharuskan untuk membayar Gentiran (S). Gentiran (S) merupakan sesuatu yang wajib dan harus ditunaikan oleh pihak pengantin laki-laki terhadap pengantin perempuan. Gentiran (S), selanjutnya dalam seremoni atau tradisi pernikahan masyarakat susku Sasak disebut sebagai uang tebusan, yang dianggap menjadi aspek paling mahal dalam seremonial perkawinan orang-orang Sasak. Gentiran (S), secara kasar berarti uang tebusan yang harus dikeluarkan oleh pihak pengantin laki-laki sebagai pertukaran yang berupa kekayaan atau materi, yang dalam hal ini adalah pengantin perempuan sebagai barang yang akan ditebus oleh pihak pengantin laki-laki, dan praktik ini mengindikasikan status sosial antar kedua belah pikah ialah pihak laki-laki dan pihak perempuan. Pada umumnya, jumlah nominal uang untuk membayar Gentiran (S) oleh orang-orang Sasak secara tipikal terdiri dari jumlah uang yang cukup dan bahkan kadang-kadang melebihi umumnya dari pendapatan keluarga. Bila pengantin laki-laki berasal dari keluarga yang memiliki pekerjaan yang bagus secara ekonomi, ia diharapkan membayar Gentiran (S) yang lebih banyak. Jadi, praktik Gentiran (S) dalam seremoni pernikahan masyarakat suku Sasak terlihat sekali membedakan kelas sosial dan status sosial antara laki-laki dan perempuan.

Merarik sebagai sebuah tradisi yang biasa berlaku di suku Sasak memiliki logikanya tersendiri yang tergolong unik. Bagi masyarakat Sasak, merarik bisa berarti sebagai mempertahankan harga diri dan menggambarkan sikap kejantanan seorang pria Sasak, karena ia berhasil mengambil (melarikan) seorang gadis pujaan hatinya. Dalam tradis kawin lari (melarik) suku Sasak, terdapat empat prinsip dasar yang terkandung dalam praktik kawin lari (merarik) di pulau Lombok; Pertama, prestasi keluarga perempuan. Kawin lari (merarik) dipahami dan diyakini sebagai bentuk penghormatan atas harkat dan martabat keluarga perempuan. Kedua, superioritas lelaki dan inferioritas perempuan. Satu hal yang tidak bisa dihindarkan dari sebuah praktek kawin lari (merarik) adalah seorang laki-laki terlihat sangat kuat, menguasai, dan mampu menjinakkan kondisi soisal psikologis calon istri. Ketiga, egalitarianisme. Terjadinya kawin lari (merarik) menimbulkan rasa kebersaman (egalitarian) di kalangan seluruh keluarga perempuan. Keempat, komersial. Terjadinya kawin lari (merarik) hampir selalu berlanjut ke proses tawar menawar pisuka (S). Proses negosiasi berkaitan dengan besaran pisuke (S) yang biasanya dilakukan dalam acara mbait wali, sangat kental dengan nuansa bisnis.

Maria Platt, dalam penelitannya yang berjudul “Sudah Terlanjur”: Perempuan dan Transisi Perkawinan di Lombok menyebutkan bahwa masyarakat suku Sasak sangat menghormati adat,  dengan meminjam istilah dari Hooker yang mengatakan bahwa adat bukanlah entitas yang terpisah dari Islam, dan bisa menyerap praktik Islam tetapi juga bisa menentangnya. Maria Platt, menggaris bawahi dari kisah yang terjadi pada Ira,  Reny, dan kisah Rayna bahwa praktik kawin lari suku Sasak Lombok menempatkan perempuan dalam zona di mana identitas sosial mereka menjadi ambigu, ambiguitas yang dapat menimbulkan kekhawatiran sosial dalam sebuah masyarakat di mana banyak penekanan diletakkan pada kepatutan seksual perempuan, ia (Maria Platt) menyimpulkan bahwa pada praktek kawin lari (merarik) yang dilakukan oleh suku Sasak Lombok, pihak perempuan dikatakan belum benar-benar siap. Namun, dalam penelitian yang dilakukan oleh Maria Platt, terdapat suatu celah yang tidak atau luput dari penelitiannya ialah penilain atau pandangan tentang pihak laki-lki yang melakuka praktik kawin lari (merarik), di mana masyarakat Lombok berpandangan bahwa laki-laki yang melakukan kawin lari (merarik) adalah laki-laki yang perkasa.

            Dalam praktek merarik yang dilakukan oleh suku Sasak, yang dimana jika dikaji dengan menggunakan teori gender dan teori sosial, terlihat bahwa terdapat konstruk maskulinitas dan peminimitas yang dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan Sasak yang melakukan praktek melarik (kawin lari). Dalam praktelnya, posisi laki-laki sangat diperkuat (maskulin), sedangkan posisi perempuan dipandang sebagai kaum yang lemah (feminim). Laki-laki dituntut sebagai penguat dalam menjalankan praktek kawin lari, dan perempuan dituntut atau digambarkan sebgai kaum yang lemah, yang secara status sosialnya dianggap sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kaum laki-laki. Selain hal tersebut, terdapat perbedaan status yang memisahkan kaum bangsawan dari orang biasa. Kaum bangsawan mencegah anak perempuan mereka agar tidak kawin dengan pria dari tingkat golongan dengan kasta yang lebih rendah. Seperti yang terjadi pada golongan bangsawan yang digelari dengan nama Lalu bagi laki-laki dan Baiq bagi perempuan. Kaum bangswan perempuan (Baik) harus menikah dengan sesama kaum bangsawan laki-laki (Lalu), hal tersebut diasumsikan supaya mereka dapat menjaga kemurnian garis keturunan mereka, dan jika hal tersebut terjadi maka kaum bangsawan akan kehilangan gelar kebangsawannya dan secara otomatis akan turun status sosialnya. Hal tersebut disebabkan karena hirarki sosial di pulau Lombok memisahkan kaum bangsawan dengan orang biasa secara historis diwarisi dari zaman kerajaan dan dipelihara secara turun-temurun. Kaum bangsawan mempertahankan diri sebagai golongan kelas atas yang memiliki status yang tinggi dan juga mereka merasa memiliki prestise dan hak-hak istimewa di atas orang kebanyakan.


Daftar Bacaan

Bartholomen Ryan John, Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001).

Budiwanti Erni, Islam Sasak Versus Waktu Lim, (Yogyakarta: Lkis, 2000).

Hak Syahril Hilman, dkk, Perkawinan Adat Merariq dan Tradisi Selebaran di Masyarakat Suku Sasak, Jurnal Perspektif, Vol. XXI, No. 3, 2016.

Institute Berugaq Team, Sasak; Siapa, Bagaimana, dan Mau Kemana?, (Yogyakarta: Berugaq Press, 2015).

Jamaluddin, Sejarah Islam Lombok: Abad XVI –Abad XX, (Yogyakarta: Ruas Media, 2018).

Platt Maria, “Sudah Terlanjur”: Perempuan dan Transisi ke Perkawinan di Lombok, The Asian Pacific Jourlan of Antropology, Vol. 13, No. 1, 2012.

Sumadi Suci Wayan, dkk, Tradisi Nyongkolan dan Eksistensinya di Pulau Lombok,(Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013).

Wahyudin Dedi, Identitas Orang Sasak: Studi Epistemologis Terhadap Mekanisme Produksi Pengetahuan Masyarakat Suku Sasak, Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 14, No. 1, 2018.

Buku Langgar Shop
Muhyidin Azmi
Mahasiswa asal Lombok sekarang menempuh jenjang kuliah Pascasarjana jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.