Anak-anak dan Langgar Yang dirindukan

Membicarakan soal anak-anak dan persentuhannya dengan lingkungan sekitarnya, membuat saya ingin sedikit bercerita terkait persinggungan saya dengan Langgar. Berkaitan dengan Langgar yang selalu saya rindukan, ternyata memuat cerita dan pembelajaran yang bisa jadi tidak kita temukan hari ini. Dari sanalah saya ingin memulai cerita sederhana ini.

Lihatlah, sekarang ini persentase jumlah Masjid yang berdiri bisa dibilang jauh lebih banyak dari persentase semangat anak-anak yang mau datang mengunjunginya. Saya sendiri sebenarnya tidak begitu heran dengan fenomena demikian, pasalnya memang masjid tidaklah dibuat untuk anak-anak. Masjid-masjid kini dibuat lebih—mohon maaf—untuk ajang pamer kemegahan serta mubazir tenaga dan modal. Tak hanya itu, masjid kini tak longgar lagi ruangnya, meskipun betapa besar bangunannya. Fungsinya juga amat sempit, tidak luwes, bahkan cenderung kosong isinya—setidaknya dalam rangka kemaslahatan umat.

Pandangilah, masjid-masjid kini harus dikunci dan orang dilarang sesuka hati memasukinya dengan dalih takut maling. Maka, masjid sekarang ini benar-benar kehilangan ruh-nya sebagaimana artiannya—dalam kaidah bahasa—sebagai tempat sujud. Memang secara fisik-lahiriah masjid banyak sekali yang berhasil didirikan sampai berceceran dimana-mana, tetapi keberadaannya amat sepi dan sunyi dari hiruk-pikuk kecintaan manusia yang rindu akan hakikat dirinya.

Memang demikianlah kenyataannya, pasalnya masjid kini jauh lebih ditampilkan dalam bentuk dan bahasa ke-“modern”-an. Yakni, bahasa kapitalistik yang hanya memuat tujuan kelompok tertentu. Sering kali bukan lagi dengan bahasa keagamaan, bahasa kemanusiaan, lebih jauh bahasa budaya yang mengakar dari peradaban Nusantara.

Oleh karena itu, secara kultural khususnya, sosok penggebrak yang diharapkan menjadi tonggak kehidupan justru lahir tidak dari didikan masjid, melainkan dari didikan Langgar. Orang Minang menyebutnya Surau. Meskipun secara bangunan fisik Langgar lebih kecil dan sempit ketimbang masjid, tetapi esensi keberadaan dan kenyataannya justru sangatlah longgar. Maka, benarlah, sesuatu itu hanya akan berarti dan benar-benar mengena dalam hati ketika yang dijadikan acuan nilai bukanlah ukuran kuantitatif-materiil, melainkan ukuran kualitatif-ruhiah yang bisa jadi sangat ruhani perkenaannya.

Kalau kita mau meneliti secara budaya, yakni mengenai hubungan jiwa spiritualitas anak-anak dengan Langgar. Saya yakin kecenderungan hasil daripada penelitian itu akan banyak memperlihatkan kekariban, keakraban dan kemesraan jiwa anak-anak dengan tempat bernama Langgar tersebut. Kenyataan demikian, sebenarnya adalah tarikan alamiah dalam diri seorang anak itu sendiri yang sedang mengekspresikan kerinduan serta kekariban badan jasadiahnya dengan jiwa ruhaniahnya. Betapa Langgar adalah simbol berputarnya keaktifan jiwa spiritualitas dari anak-anak yang sedang dinantikan oleh masa depannya.

Betapa Langgar adalah simbol berputarnya keaktifan jiwa spiritualitas dari anak-anak yang sedang dinantikan oleh masa depannya.

Pun, saya sendiri pernah mengalami masa di mana hati dan segenap jiwa saya ini tak pernah terlepas dari tempat berjuluk Langgar tersebut. Memang, rumah milik orang tua saya berada tak jauh dari Langgar berdiri. Tidak ada 20 langkah jarak rumah orang tua saya dari tempat berdirinya Langgar, sehingga hal itu membuat saya setiap harinya tak pernah untuk tak pergi ke Langgar. Akan tetapi, hal demikian tidaklah terjadi hanya pada saya saja. Teman-teman saya yang rumahnya berada lebih jauh jaraknya juga demikian adanya. Pada masa kanak-kanak saya, kekariban dan keakraban saya beserta teman-teman dengan Langgar begitu nampak mesra, di mana Langgar menjadi satu-satunya tempat yang enak, nyaman dan aman untuk “bermain”. Salahkah dengan kata “bermain”? Apalagi pada saat itu, kami tak lebih hanyalah sekumpulan anak-anak yang memang senang bermain. Tetapi meskipun begitu, tidak lantas membuat kami lupa pada kewajiban sembahyang dan nderes qur’an maupun sekadar baca Iqra’. Bermainnya kami tentulah kami lakukan di luar waktu-waktu yang telah dilarang oleh bapak-bapak kami untuk bermain. Kami banyak bermain di Langgar, misalnya, pada waktu setelah Ashar menjelang Maghrib, waktu rehat antara Maghrib dan Isya’ serta waktu setelah Isya’.

Selain itu, arsitektur Langgar yang memang didesain dengan teras cukup luas dan longgar, menjadikannya tempat yang multiguna untuk kami jadikan sebagai medan tempat berlangsungnya beberapa permainan klasik. Diantaranya, kami bisa bermain bola bekel di situ, gatheng, bermain gangsingan, adu balap Tamiya, bermain congklak, dam-damancublak-cublak suweng, ABC-nan, main karet, main umbul dan masih banyak lagi yang saya sudah lupa nama permainannya. Tetapi yang paling mengasyikan dari seluruh permainan yang ada adalah bermain cilkup setelah selesai ngaji sambil menunggu adzan Isya’. Pernah, sekali saya harus kehilangan gigi saya hanya karena bermain cilkup, tetapi justru itu menjadi kenangan membahagiakan yang sering kali saya rindukan.

Di situlah pusat kami menempa diri, tempat bagi kami anak-anak kecil bermain dan mem-budaya, sebagaimana kami dilabeli: anak-anak Langgar. Apalagi di saat bulan Ramadhan, seperti benar-benar tak ada lagi jarak antara kami dan Langgar. Siang, sore, malam selalu berada di Langgar, sebab kalau di Langgar rasa lapar maupun haus itu seoalah hilang tak terasa. Dan sering kali, bahkan selalu malamnya kami tidur di Langgar tersebut. Langgar sudah seperti rumah kedua yang sering kami kunjungi dan tinggali.

Saya ingin mengatakan kepada anak-anak milenial, bahwasannya di Langgar itulah pusat kebudayaan yang senantiasa kami geluti sekaligus tempat kebahagiaan bermain kami guna menghabiskan waktu sebagai anak-anak. Hingga seperti tak ada yang lebih indah dari aktivitas-aktivitas yang kami lakukan, melebihi kenikmatan sibuk beraktivitas di lingkungan Langgar.

Saya ingin mengatakan kepada anak-anak milenial, bahwasannya di Langgar itulah pusat kebudayaan yang senantiasa kami geluti sekaligus tempat kebahagiaan bermain kami guna menghabiskan waktu sebagai anak-anak.

Tetapi, sekarang zaman sudah berubah, kenyataan budaya semacam itu sudah semakin usang dan mungkin cenderung mengarah ke nilai “mubazir” jika tetap harus dilakukan, melihat kini zaman sudah semakin canggihnya, bukan? Tetapi tentunya, silahkan, dan monggo-monggo saja Anda-anda sekalian mau berlaku dan hendak mensifati bagaimana. Saya sendiri juga memaklumi, bahwasannya zaman sudah sama sekali lain. Kini adalah era digital, manusia harus kompatibel dengan hal-hal canggih semacam itu. Supaya nantinya tak sampai ketinggalan dan tetap dapat mengikuti arah lokomotif zaman berjalan ke arah masa depan.

Hanya saja, apakah Anda akan mengatakan hal demikian sebagai suatu bencana, ketika prime time yang seharusnya digunakan anak-anak untuk mendidik jiwa dan karakternya malah direbut oleh TV nasional maupun swasta yang tayangannya justru sama sekali tidak mendidik? Yakni, waktu-waktu antara jam 4 sore sampai sehabis Isya’, yang merupakan saat-saat urgen untuk mendidik jiwa anak-anak dengan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Sedang tayangan TV di-setting sedemikian menggiurkan pada waktu-waktu tersebut.

Sekarang ini, saya terkadang merasa sedih tetapi tetap mata saya harus terus saya paksa untuk memandang jauh ke arah harapan di masa depan. Kesedihan saya adalah karena kini anak-anak tak lagi karib dan justru semakin jauh dengan budaya Langgar. Saya mendapati amat sepi dan begitu sunyinya suasana keindahan Langgar yang pernah mendidik diri saya dahulu. Entahlah, kalau hendak dicari siapa yang salah; apakah anak-anak itu sendiri yang tak cukup terampil memilih dan memilah? Atau apakah karena memang fokus orang tua yang sudah membias dan tak bisa lagi menjadi teladan? Atau justru lantaran suatu sistem yang diberlakukan dengan dalih mencerdaskan kehidupan bangsa justru berlaku sebaliknya, yakni membodohi anak-anak milenial? Mungkin perlu riset panjang untuk bisa mengurai dan menjawab masalah tersebut dan pasti akan memakan banyak waktu yang digunakan supaya dapat benar-benar persoalannya dapat dirumuskan, baik sebab-musababnya maupun solusinya.

Namun di sisi lain, saya sendiri yakin bahwasannya hidup ini bergerak sangat dinamis, sehingga pada suatu saat nanti apa yang sejati akan benar-benar mendominasi dan menampakkan wajahnya.

Terakhir sekali, saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya pendidikan karakter bangsa di mana anak-anaklah sasaran utamanya supaya kelak anak-anak bisa benar-benar menjadi penerus bangsa yang dapat dijadikan tonggak ke mana nantinya peradaban harus diarahkan. Adalah dengan mengembalikan nilai dan pelestarian budaya Langgar bagi anak-anak. Saya mengatakan demikian, karena saya meyakini bahwasannya hal tersebut tentu ada contoh konkretnya, terutama bagi masyarakat desa. Anda pasti tahu dua sosok fenomenal asal Jombang, Gus Dur dan Cak Nur (Nurcholis Madjid), bukan? Keduanya adalah sosok yang pada masa kanak-kanaknya dididik pula oleh budaya Langgar.

Wallahu a’lam bis-shawab. []

Buku Langgar Shop