Monolog Saridin: Cerita dan Pergulatan Rendra Bagus Pamungkas

Awal pertemuan saya dengan Mas Rendra, begitu saya ingin menyebutnya, kira-kira sekitar satu bulan yang lalu. Di siang yang remang, awalnya ia datang sendirian ke tempat kami, kantor Langgar.co. Setelah berkenalan, beberapa saat kemudian dua temannya menyusul. Kedatangan mereka terasa begitu hangat, ditambah dengan suguhan sederhana dari kami, berupa kopi hitam yang pekat mengawali obrolan kami, siang hingga matahari sore tenggelam.

Setelah beberapa saat, kita saling memperkenalkan diri, lalu tak berselang lama obrolan kami semakin dalam, Rendra dan temannya tiba-tiba mengeluarkan speaker aktif. Ia ingin menunjukan karya terbarunya yang ia buat bersama teman-temannya kepada kami. Setelah tombol on dipencet, ruangan semua tiba-tiba hening, hanyut dalam lantunan repertoar semacam drama suara yang diperdengarkan kepada kami. Pada menit pertama, saat mendengarkan karya yang ia beri judul Saridin Menunggang Kerbau ke Suralaya ini, kami sudah merasakan bahwa karya ini tidak diciptakan dengan sembarangan, tetapi seperti ada pesan yang ingin disampaikan. Entah apa itu, kami mencernanya hingga selesai.

Dari pertemuan pertama tersebut, saya sendiri merasa penasaran dengan sosok Mas Rendra yang awalnya tidak pernah tahu siapa orang ini. Kemudian rasa penasaran tersebut mengarahkan saya pada salah satu film yang beberapa bulan yang lalu saya tonton. Iya, film “Lampor”. Saya baru ingat bahwa sepertinya saya pernah melihat sosok Mas Rendra hadir di film tersebut. Dari sana kemudian saya cek google, ternyata dugaan saya benar, Rendra adalah seorang yang pernah saya lihat wajahnya di layar bioskop. Ia adalah aktor film, dari penjelasan google ia pernah juga menjadi pemeran utama dalam film “Wage” (WR. Soepratman). Namun sayang saya baru menyadarinya setelah mereka pamit pulang.

Selang bebarapa hari kemudian, tidak tahu kenapa saya rasanya ingin sekali bertemu lagi dengan Mas Rendra. Mungkin karena rasa penasaran saya terhadap karya terbarunya ini belum terjawab semuanya, sehingga saya merasa masih perlu untuk menggalinya lebih dalam lagi. Apalagi melihat konteks Rendra dengan latar profesinya, karya yang terbarunya ini suatu yang unik, dalam, dan bagi beberapa orang, karya ini di luar kesadaran formal yang ada di hari ini.

Dari hal itulah setelah mendengar kabar Saridin Menunggang Kerbau ke Suralaya benar-benar di-launching oleh mas Rendra dengan teman-teman Damar Murup. Saya, mewakili perwakilan redaksi Langgar.co, kemudian bergegas menghubunginya untuk meminta jadwal bertemu guna menggali lebih jauh proses penggarapan karyanya ini, terkait ide dasar gagasan yang mendasari karya tersebut bisa muncul.

Sabtu (19/03), akhirnya saya bertemu dengan Mas Rendra di salah satu rumah di daerah Krapyak. Sebuah sanggar yang biasa digunakan oleh Mas Rendra dan teman-temanya untuk berkarya. Saya disambut dengan hangat oleh Mas Rendra dan teman-temannya. Kebetulan sore itu berbarengan jadwal latihan untuk menyiapkan pertunjukan musik sholawat. Sambil menunggu latihan selesai, saya menikmati suguhan musik yang sedang diolah oleh teman-teman Damar Murup. Hingga akhirnya tiba, latihan selesai, di sore yang semakin tenggelam akhirnya saya dapat mengobrol lebih jauh dengan Mas Rendra dengan segala cerita bermaknanya.

Dan beginilah kira-kira obrolan saya sore itu, sebagai suguhan reportase dari redaksi Langgar.co

Bisa Anda ceritakan proses awal penggarapan sampai launching karya ini?

Sebenarnya karya ini terhitung sudah lama, hampir dua tahunan proses penggarapannya. Ya tentu dalam rentang dua tahun itu juga, banyak hal yang saya lakukan. Tetapi memang dalam kurun waktu tersebut, konsentrasi saya banyak menyita waktu hanya untuk munculnya karya “Saridin” ini. Mungkin bagi banyak orang, tokoh Saridin ini bukan siapa-siapa, tapi bagi saya sendiri sesuatu banget.

Tapi sebelum ke sana, saya itu awalnya kan belajar nulis, dan proses berkesenian saya itu mulai naik panggung sejak tahun ‘96. Pada tahun 2002 mulai kukuh naik panggung dan saya mulai belajar teater secara akademik. Hingga pada akhirnya beberapa teks saya mainkan terus menerus. Jadi jika kita memainkan teks itu biasanya bedah karakter, secara tidak langsung semacam menemukan tools untuk membaca diri kita sendiri. Jadi nyinauni wong liya (mempelajari orang lain) untuk mengerti awake dewe (diri sendiri).

Terus pada suatu kesempatan, saya mulai berpikir, kok saya selalu menyuarakan teks orang lain. “Kapan ya suaraku dewe dirungoke wong liya” (Kapan ya suaraku sendiri didengerin orang lain). Dari hal itulah pada akhirnya saya berusaha memainkan teks saya sendiri dan membuat satu kelompok kolektif dengan nama “Sudah Pekak Sakit Lagi”. Jadi kolektif yang kami buat ini ceritanya berbasis pada semua anggota kolektif yang terlibat. Hampir seperti teater theuraphetic begitulah. Jadi bagaimana teater itu dapat digunakan untuk mengartikulasikan dirinya sendiri. Jadi setelah itu orang yang diartikulasikan tersebut dapat melihat dirinya dari sudut yang berbeda. Sehingga ia dapat mengambil catatan atau nilai dari apa yang sudah dipertunjukan. Kerja kolektif tersebut akhirnya berjalan sampai 7 tahun. Sampai pada akhirnya teks-teks yang dimainkan basisnya dari pengalaman dan perjalanan anggota masing-masing. Ada kasus dimana saya mulai punya konsen pada spritualitas. Nah di situlah kolektifan berhenti, karena teks yang saya tuliskan dianggap tidak masuk akal, tidak mengartikulasikan orang-orang. Saya memahami ini kan sangat personal, jadi saat itu konflik saya dianggap tidak sama dengan apa yang dianggap oleh teman-teman. Jadi memang ingin membicarakan di panggung itu agak susah. Kita tahu sendiri, biasanya panggung teater itu merdeka banget, kita bisa memberi ruang orang dengan kecenderungan yang bermacam-macam, sehingga orang dapat dengan bebas membicarakan apapun yang dia rasakan dari perspektif mereka, jadi memang hampir tidak ada batas di sana.

Nah waktu itu, karya pertama yang saya tulis judulnya “Pasir Angin”, satu teks sebelum saya menemukan teks “Saridin” yang menceritakan perjalanan hidup saya, yang mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak masuk akal.

Ini lucu-lucuan aja ya saya ceritakan. Waktu itu saya sholat dhuha di Masjid Agung Kasunanan Surakarta, setelah saya mengucapkan salam, di sebelah kanan saya tiba-tiba ada dua harimau kecil dan sebelah kiri saya ada harimau besar. Aneh itu bukan karena apa ya, tapi aneh di sini juga bukan delusi, tetapi fenomena tersebut nyata tapi juga tidak tertangkap oleh pengindraan kita. Jadi fenomena ini ada di alam antara, tidak ada dan ada. Sehingga kasus itu membawa saya pada sebuah perjalanan ke daerah Jampang Kulon, Sukabumi. Dan di sana saya mengalami kejadian-kejadian aneh. Dan teks “Pasir Angin” lahir di sana sekitar dua tahun yang lalu.

Jadi memang fenomena semacam bertemu harimau, spritualitas, narasi-narasi nasionalisme dan dunia-dunia lintas batas semakin kuat menghampiri saya. Dari kasus-kasus itulah saya merasa perjalanan itu menarik untuk dituliskan. Sehingga munculah “Pasir Angin” yang saya tawarkan pada teman-teman kolektif, dan ternyata mereka mundur semua. Mereka menganggap hal tersebut tidak masuk akal, gak masuk nalar dan tidak bisa diterima karena hal ini mereka anggap di luar teks. Dan teks ini tidak bisa dimainkan. Oke sudahlah, kalau tidak bisa dimainkan tidak masalah.

Tetapi yang membuat pikiran saya terganggu adalah ketika saya berusaha mendokumentasikan perjalanan saya tersebut, dalam waktu bersamaan saya juga sebagai subyek yang berada dalam posisi itu. Hal tersebut merupakan posisi spiritual yang masuk ke dalam dunia-dunia yang sangat privat, ketika saya zikir misalnya. Dari sanalah sehingga pada akhirnya mewujud dalam sebuah karya “Saridin” ini.

Awalnya teks “Saridin” juga mengalami hal yang sama, beberapa teman-teman juga memperdebatkan, “Saridin” yang saya maksud ini yang mana, mereka menggugat. Karena tokoh Saridin yang kita kenal ini ada yang berasal dari Pati dan Kulonprogo Yogya, lalu ini Saridin yang mana? Pertanyaan mereka. Dari sana jujur, saya juga bingung. Kalaupun saya merujuk di Pati saya gak punya referensi, begitupun yang ada di Yogya. Sehingga akhirnya saya putuskan ketika teks ini sudah setengah jadi, dan saya juga sudah merasa mentok, akhirnya saya melakukan perjalanan ke makam Saridin (Syekh Jangkung) yang ada di Kulonprogo karena menurut cerita Mataraman Saridin itu ada di sana. Dari situlah akhirnya saya punya gambaran yang lain, yang membuat semakin hari itu bukan semakin jelas, tapi malah semakin susah dan gak cetha arahnya ke mana. Hingga akhirnya saya bertekad dan saya putuskan ingin keluar dari pekerjaan, yang waktu itu saya sebagai pengajar/mentor di salah satu sekolah akting di Yogyakarta. Karena waktu itu saya pikir Saridin ini butuh konsentrasi dan energi khusus.

Apakah tokoh Saridin ini berangkat dari cerita rakyat yang ada di tengah masyarakat yang dikenal kewaliannya tersebut, atau muncul begitu saja di benak anda?

Jadi memang saat mengunakan nama tokoh Saridin, saya pikir sepertinya enak saja menggunakan kata tersebut. Jadi memang kadang suatu hal itu tidak butuh alasan juga. Tetapi sejujurnya berdasar dari pengalaman spiritual tersebut, seperti yang dilakukan Gus Mus dalam sebuah cerpenya yang berjudul Gus Jakfar dan Kiai Tawakal, hal tersebut saya alami. Jadi saat mendengar kisah itu hal tersebut seperti tamparan buat saya. Edan karya tersebut seperti tamparan bagi saya terus-menerus. Sehingga waktu dalam perjalanan dari Tasikmalaya ke Cirebon, saya mendengarkan cerita itu terus-menerus walaupun sebelumnya saya sudah mendengarkan karya tersebut. Makanya setelah teks ini jadi, salah seorang teman saya bilang, “Lho kok ini nafasnya kayak karyanya Gus Mus”, tentu saya akan senang banget, jika hal tersebut memang benar. Tapi pada kenyataanya kan memang tidak. Walaupun pada akhirya ada pengaruh dari hasil pengalaman mendengarkan, ataupun konteks yang dibicarakan dengan karya Gus Mus mungkin iya. Tetapi karya ini jelas berbeda.

Hingga waktu terus berjalan, saya mencoba terus untuk menulis tetapi terus-menerus gagal. Hingga akhirnya di suatu amalan dawam zikir yang saya baca, saya dapat isyarah. Saya ditemui oleh seorang, yang inti dari kalimat seorang itu adalah, “kowe gelem gak ngasorke awakmu dewe” (kamu mau gak merendahkan dirimu sendiri). Ngasorke di sini bukan merendahkan diri ya, itu kurang tepat, tetapi lebih pada “kamu mau gak, meluruhkan dirimu”. Dari sana sebagai suatu isyarah, saya jawab pertanyaan itu dengan mengatakan “mau, melakukan hal tersebut dengan segala konsekuensi yang akan saya terima.”

Saya ditemui oleh seorang, yang inti dari kalimat seorang itu adalah, “kowe gelem gak ngasorke awakmu dewe” (mau ngga kamu merendahkan dirimu sendiri).

Pada perjalannya juga saya sendiri mengalami banyak kesulitan terutama di hal-hal teknis. Bahwa karya tersebut membutuhkan uang. Sedangkan waktu itu, jujur saya sedang benar-benar tidak punya uang. Hingga akhirnya, saya memberanikan diri untuk menghubungi Mas Mawlana Jawi. Sebelumnya saya sudah mengenal beliau dan karya-karyanya melalui Damar Murup. Sebuah pertemuan yang juga cukup unik, di mana hampir satu jam kita hanya saling berpandangan saja tidak bertutur kata. Tapi pada akhirnya Mas Mawlana bersedia membantu saya untuk mewujudkan karya ini. Yang menarik proses perekaman karya ini bersama Mas Mul juga sangat unik, hal ini belum pernah saya temui di proses-proses saya sebelumnya. Jadi proses perekaman karya bersama Mas Mul, sebagian berada di out-door, sementara saat saya ngobrol sama Mas Mul sebenarnya saya sendiri tidak sampai, karena perekaman ini tidak hanya seperti perekaman biasa tetapi juga ada treatment khusus di mana semuanya harus terukur, mulai dari tempat dan waktu yang spesifik dengan frekuensi alam yang cukup detail dan jlimet. Tidak hanya itu pelibatan unsur-unsur energi alam juga dibutuhkan dalam perekaman ini, sebagai bentuk upaya menarik energi semesta. Kira-kira begitulah, detailnya Tanya Mas Mawlana, heheh

Karya anda ini begitu lekat dengan dorongan spiritual. Seberapa kuat dorongan itu sehingga karya ini harus muncul di publik?

Saya tidak tahu ya, apakah jawaban ini relevan untuk menjawab pertanyaan di atas. Tetapi yang membuat saya untuk bersegera mewujudkan karya ini adalah, bahwa ada suara yang menurut saya sudah saatnya disuarakan. “Saridin” mungkin tidak mewakili dari seratus persen suara-suara itu, tetapi Saridin ini hanya sebagai starting point untuk membicarakan teks-teks selanjutnya yang lebih besar. Dan muaranya pada pengalaman personal.

Okelah saya bukan santri, tidak pernah mondok, paling banter hanya pesantren kilat yang hanya beberapa hari. Saya mendengar cerita-cerita yang ada di karya tersebut dari bapak saya, yang menurut penuturanya, bahwa kakek saya dulu pernah punya pondok dan santrinya banyak. Termasuk cerita yang ada di dalam karya ini di mana ada seorang kiai yang waktu sholat jamaah malah tidur di bawah beduk masjid. Dan cerita-cerita yang unik, yang sebagian saya masukkan dalam cerita Saridin ini.

Terus kenapa saya masukkan cerita-cerita unik ini, awalnya saya merasa teman-teman yang saya temui banyak mengalami krisis spiritualitas. Dalam kondisi seperti sekarang banyak orang mencela dan mencaci, bukan banyak sih, tapi sebagian orang banyak yang tidak peduli dengan orang lain, hanya memikirkan kepentinganya pribadi. Situasinya jelas pandemi. Banyak orang di-PHK dan banyak orang tidak punya pekerjaan, nyambut gawe sa anane. Ketika semua orang mengirimkan doa buruk untuk kondisi seperti sekarang ini, itu jadi energi, bisa jadi asupan makanan bagi pandemi untuk semakin gede. Oke lah jika ada orang mengatakan bahwa itu hanya narasi, tapi menurut saya itu semua adalah energi. Saya menyakini bahwa kata itu doa, sehingga harus berhati-hati di dunia lintas bataspun. Makanya aksara, ukara, tembung, tembang itu harus hati-hati. Saya pikir kenapa kita tidak membicarakan hal-hal yang baik sajalah. Kalau karya saya sebelumnya selalu ngomongin personal, kemerdekaan, bisa membicarakan situasi politik yang kacau. Tapi dalam karya saya yang satu ini, saya tidak mengatakan itu lagi.

Dalam titik ini juga menghantarkan saya pada pandangan, bahwa ya wis nek kowe dudu santri ora papa. Tapi sinauna (Ya sudah kalau kamu bukan santri gak mengapa. Tapi belajarlah) yakni belajarlah pada kultur pesantren atau orang-orang yang belajar spiritualitas. Dan itu sepertinya menarik dibicarakan. Sehingga saya jadi ingat, ketika masih kecil ada suluk, ada tembang-tembang, macapatan dan pujian-pujian ketika habis tarawih dan banyak lagi yang sering kita dengar di langgar-langgar di kampung dulu. Dan hal itu justru mengobati kerinduan saya yang dulu di mana saya “ngontemporer”. Tapi ketika seperti itu saya seperti tidak menginjak tanah, saya tidak mempunyai kesadaran yang ke dalam, dan hal itu saya lihat seperti akrobatik, pengetahuan yang juga gak valid, paling hanya mediokerlah tingkatnya.

Semenjak itu saya mengumpulkan lagi kenangan-kenangan dan cerita-cerita yang dulu terpendam. Seperti cerita ketika simbah saat jumatan malah tidur di bawah bedhug masjid, terus diingatkan oleh seorang santrinya. “Simbah Yai, Jenengan niku gadah santri lho, kok malah ga jumatan. Ga maringi contho buat santri-santinya. Simbah saya hanya mendel mawon.” (Simbah Yai, Anda ini punya santri, kok malah tidak jumatan. Gak memberi contoh buat santri-santrinya. Kakek saya hanya diam saja ). Tapi anehya, ketika ada orang pulang dari Makkah naik haji, ia ketemu simbah saya di sana, padahal simbah saya ada di situ. Kisah-kisah semacam itu banyak dan lazim, walaupun hal ini sifatnya obrolan tetapi hal tersebut sekaligus memupuk iman kita pada keyakinan yang kita pilih. Dari sanalah momen itu kayaknya kok asik ya sebagai alternatif suara, supaya teman-teman di seni pertunjukan itu mempunyai perspektif yang minimal berakar dari tradisinya. Ya semua mempunyai akar tradisi, seni modern juga ada, tetapi bukan itu yang saya maksud. Di sini kita tidak bicara soal frame tetapi value, soal nilai, yang kemudian nilailah yang kita bagikan. Kalau kesenian hanya untuk akrobatik, “njuk terus go ngapa, wis ra wayahe”. Tapi nilai yang seperti apa nantinya yang akan direpetisi ya. Karena saya berangkat dalam kultur muslim, yang saya menyakini, setiap statement yang kita keluarkan dalam karya kita itu pasti ada pertanggungjawaban di mana ketika kita telah mati itu pasti ditagih lho.

Dari hal itulah saya merasa, Saridin ini seperti line yang sudah saya garis tebal tanda merah dengan mengatakan bahwa “saya muslim dan saya bangga dengan kemusliman saya”. Saya berkarya seni tapi saya juga harus bangga mengatakan “La ilaha illallah dalam karya saya. Dan itu bagi saya butuh keberanian. Saya sendiri menunggu sekian tahun untuk berani mengatakan hal tersebut. Karena kegilaan lebih menarik dari pada membicarakan Tuhan. Seolah-olah hari ini ketika ngomongin Tuhan dalam pengkaryaan itu seperti bal-balan yang lucu, bisa mempermainkannya. Jujur saya tidak masalah dengan hal tersebut. Tapi hati kecil saya selalu mengatakan bahwa saya tidak terima ketika Gusti dibuat permainan. Lha terus buat apa saya ber-majelis dengan orang-orang yang mempermainkan Gusti. Saya tidak peduli dengan omongan orang kok. Tapi setidaknya saya bisa mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, bahwa saya telah membuat “Saridin” dan ke depannya insyaallah, likalimatillah. Saya akan membuat karya serupa, hanya untuk meluhurkan asma dalem Gusti Allah.

Dari hal itulah saya merasa, Saridin ini seperti line yang sudah saya garis tebal tanda merah dengan mengatakan bahwa “saya muslim dan saya bangga dengan kemusliman saya”. Saya berkarya seni tapi saya juga harus bangga mengatakan “La ilaha illallah dalam karya saya.

Anda juga melakukan auto kritik terhadap kesenian kontemporer hari ini. Bisakah anda jelaskan kontradiksi-kontradiksi yang menurut anda kurang pas?

Saya jelek-jelek gini kan Muslim ya, walaupun saya juga bukan Muslim yang taat dan teguh. Tetapi saya hidup dalam nilai-nilai yang banyak orang sebut itu dogmatis yaitu tradisi muslim tradisional. Ya udah tidak papa, terserah. Tetapi hal itulah yang malah membuat saya harus menerjemahkan atau mengaplikasikan. Istilahnya, bahwa kita itu harus menyuarakan asma dalem Gusti dan hidup ini punya tatanan, hubungan manusia dengan manusia punya tatanan. Artinya saya sebagai seniman saat ini berusaha ngaji lagi terkait hal tersebut. Karena saya merasa waktu dulu saya ngaji itu asal. Padahal waktu itu kultur keluarga saya adalah Nahdhiyyin yang kuat terutama bapak saya. Walaupun seperti itu keluarga saya memberi kebebasan pada anak-anaknya untuk memilih. Dan kebetulan perjalanan spiritual saya mengarahkan saya untuk bertemu dengan tokoh-tokoh Nahdhiyyin. Ada cerita unik ketika saya berada di Bangkalan, di mana saat itu saya hanya kepingin baju Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia, lembaga NU), kemudian ditemui oleh keturunan Mbah Khalil dari sana, saya semacam mendapat isyarah untuk melakukan tugas-tugas ini dengan kapasitas saya sebagai seniman.  

Terkait kesenian kontemporer dan seni tradisi, bagaimana anda mengkombinasikan kedua hal tersebut?

Kalau saya kembali sih. Okelah pendidikan Barat yang saya dapat istilahnya merupakan rautan untuk membuka cakrawala pengetahuan di bidang kesenian yang saya geluti selama ini. Tetapi bapak saya itu pemain ludruk, sedangkan ibu saya penari, dan saya besar dari kultur tradisi. Jadi ketika saya ingin mementaskan Saridin, saya tidak ingin mempertunjukkan itu dalam versi Barat. Dan saya hanya ingin mempertunjukkan itu lewat Ludruk garingan yang tidak memakai instrumen, one man show, itu ada di masyarakat kita tetapi memang selama ini tidak punya tempat. Jadi jika saya dikatakan lahir dari teater modern ya tidak, tetap basic saya tetap tradisi. Pengetahuan saya tradisi. Namun karena saya belajar di Intitusi kesenian, seolah-olah titik pijak saya ditandai dari sana. Jadi kalau boleh dikatakan, iya benar saya anak teater tetapi yang mempunyai spirit tradisi.

Sedangkan untuk mengkombinasikan keduanya, menurut saya sangat memungkinkan. Wong mereka proses penulisannya juga sama kok. Konon, sekelas Antonin Artaud saja saat ia menulis teorinya setelah ia lama di Bali dan menonton drama Gong. Kemudian ia menuliskan teorinya, lalu ia menuliskannya dalam versi dia sendiri. Mungkin itu soal tradisi kita yang berbeda dengan mereka sehingga kita tidak menuliskan hal itu. Atau memang ada semacam politik pengetahuan sehingga kita banyak diputus dengan literatur kita yang dulu.

Dari hal tersebut seperti menginterogasi diri saya sendiri. Seperti halnya dalam kasus saya berada di posisi yang mana, dan saya mesti seperti apa? Ya udah akhirnya saya sendiri tidak ingin terjebak pada ruang, karena hampir tujuh tahun ini yang saya alami, saya menggarap Site specific theater, bentuk-bentuk teater yang tidak lazim dipentaskan. Dari hal itu, saya sebenarnya lebih bangga dikatakan sebagai orang Nusantara saja lah, di mana saya sedikit mempunyai referensi terhadap teater Barat seperti itu.

Soal lain, memang hari ini banyak teman-teman yang akrobatik soal gagasan pengkaryaan. Mohon maaf ya, misalnya banyak teman-teman SMA sekarang ia ngomong konsep TA (tugas akhir)-nya itu seperti laku telu, memayu hayuning bawana, tunggu dulu, pertanyaanya kemudian terus bagaimana laku keseharian kalian, related gak dengan aktifitas kalian seperti itu.    

Bagaimana anda melihat agama dan kebudayaan/kesenian itu dalam pergulatan di dunia kesenimanan Anda 17 tahun ini?

Agama itu ageman yaitu pegangan. Sederhananya adalah alat. Bagi saya kesenian juga sama dengan tools, secara nilai juga. Dia adalah salah satu alat untuk memproduksi nilai lewat bahasa kesenian estetika. Dan ketika agama itu sudah mbalung sumsum otomatis apa yang diperbuat nanti juga related dengan apa yang dialami. Jujur saya merasa kecewa tokoh nasional kita, yang secara hidup dan karyanya beda. Karyanya berbicara soal nilai, norma, soal tingginya ilmu. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai itu bertolak belakang, jadi tidak nyambung. Kita tahu lah dunia kesenian memang seperti itu. Dan saya sendiri tidak ingin berada dalam lingkungan seperti itu terus-menerus dengan kondisi yang seperti itu. Terus kemerdekaan mana yang mau dikejar dan Tuhan mana yang mau dipermainkan. Ibarat saya jika tidak berkesenian juga akan tetap macul, asah-asah piring dan merawat anak. Dan itu related dengan nilai-nilai agama yang saya yakini selama ini. Dari hal itu juga kesenian itu alat dari apa yang saya alami dan rasakan ya udah berarti harus nyambung tho. Iya sih saya berani mengatakan secara gamblang baru di karya ini, sebelumnya banyak lapisan untuk mengatakan itu.

Agama itu ageman yaitu pegangan. Sederhananya adalah alat. Bagi saya kesenian juga sama dengan tools, secara nilai juga. Dia adalah salah satu alat untuk memproduksi nilai lewat bahasa kesenian estetika.

Terkait dengan banyak karya Anda yang sering membicarakan nasionalisme, apakah hal itu ada hubunganya dengan perjalanan spiritual Anda?

Iya ini agak susah membicarakan. Tetapi agaknya apa yang saya alami, terutama pengalaman spiritual ini bukan untuk saya sendiri. Justru dari dawuh Kiai saya, Fadli Bajuri, di majlis zikir Tjakraboeana Djatiraga Bandung. Jadi saya kalau ngaji ke sana, saya selo hehe. Di rumah beliaulah, Soekarno, Sahrir, dan beberapa tokoh nasional yang dulu membuat embrio berdirinya negara Indonesia itu di dalem-nya (rumah) beliau itu. Yang notabene waktu itu dulu masih warung namanya Madrawi (sebuah warung Madura). Dan beliau itu dari Bangkalan, masih ada hubunganya dengan trah Bangkalan. Beliaulah guru kami yang selalu menekankan pada kami untuk terus menjaga dan mencintai NKRI.

Terus kemudian sikap nasionalisme itu harus terwujud melalui apa. Suatu pertanyaan dalam diri saya. Tanamkan jiwa nasionalisme pada anak-anak. Dengan memberi wawasan pada anak-anak untuk memayu hayuning bawana, mencintai tanah air yang telah kita pijak selama kita hidup ini dengan cara kita masing-masing sesuai bidang kita sendiri-sendiri. Tetapi jangan pernah lupa untuk menarasikan nasionalisme dalam setiap tarikan nafas kita. Saya sendiri juga baru ngerti, dulunya sih wagu. Tapi sekarang berusaha sebisa mungkin untuk bersama dengan teman-teman menyuarakan narasi nasionalisme ini. Jika kita tidak suka dengan negara kita sendiri, kita hanya mencetak haters. Oke lah itu hanya untuk urusan dunia, tetapi urusan akhirat terus bagaimana kita bertanggung jawab. Bisa jadi kita itu sangat zalim dengan tanah yang selama ini kita pijak, terutama saya sendiri lah, tidak usah orang lain, di mana tanah yang setiap hari kita kencingi, kalau kita tidak mencintai tanah negeri ini. Terus mau siapa lagi. Jadi inilah yang berusaha saya lakukan dan tancapkan di mana spiritualitas dalam bingkai nasionalisme harus terus kita gaungkan.


Bagi yang ingin mendengarkan karya “Saridin Menunggang Kerbau ke Suralaya” silakan mengunduh di tautan di bawah ini.

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.artmusic.monologsaridin

Buku Langgar Shop
Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96