Anak Muda: Inspirasi dan Tantangan Kebudayaan

Malam itu hujan gerimis masih turun tipis, setelah sebelumnya hujan turun begitu derasnya. Terdengar suara lantunan tahlil dan doa di lantai atas aula Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Piyungan, Bantul (29/12), yang nampak dipadati oleh beberapa orang sebagai peserta acara Haul Gus Dur dan sarasehan budaya dengan tema “Anak Muda Aspirasi dan Ispirasi Kebudayaanya”.

Setelah lantunan bacaan tahlil dengan rintik hujan yang masih turun pelan, acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan Kiai Jadul Maula, Selaku pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak. Kiai Jadul menyampaikan catatan reflektifnya mengenai sejarah berdirinya Pesantren Kaliopak pada tanggal 29 Desember 2009, tepat pada hari meninggalnya Bapak Bangsa, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh karena itu, setiap kali Pesantren Kaliopak menggelar acara Milad, selalu dirangkaikan dengan acara Haul Gus Dur.

Masih dalam sambutannya juga, Kiai Jadul menyampaikan bahwa Pesantren Kaliopak merupakan wujud dari gerakan kebudayaan yang sebenarnya diinisiasi oleh generasi muda pada saat itu.

“Harapanya memang pondok ini menjadi ruang alternatif yang dapat menampung kreativitas generasi muda, yang tidak hanya terikat bentuk formalitasnya,” tutur Kiai Jadul.

“Harapanya memang pondok ini menjadi ruang alternatif yang dapat menampung kreativitas generasi muda, yang tidak hanya terikat bentuk formalitasnya,” tutur Kiai Jadul.

Maka tak heran, jika seluruh kegiatan yang menyangkut anak muda__dalam rangka meningkatkan atau mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan__ seperti diskusi-diskusi sains, seni, agama, sejarah, ilmu sosial dan lainnya, selalu mendapat tempat di pesantren yang menjadikan gerakan kebudayaan sebagai basis nilai perjuangannya ini.

Itulah alasan mengapa kegiatan atau acara-acara budaya yang notabenenya “asing” bagi dunia pesantren dewasa ini,  seperti pementasan Wayang Suket, Wayang Golek, Wayang Es, Tari Bedayan maupun acara pameran lukisan, pernah diselenggarakan dan mungkin satu-satunya pesantren yang sering mengagendakan pentas seni ini.

Sedangkan dalam acara ini sendiri, sebenarnya Kiai Jadul awalnya berniat menyelenggarakan acara milad ponpes tahun ini dengan pementasan wayang kulit, lakon Sudamola. Hanya saja untuk pementasan wayang, membutuhkan waktu dan persiapan yang matang. Sehingga pementasan wayang kulit di tengah situasi Pandemi, tidak memungkinkan. Karena itu akhirnya ia hanya mengambil spirit dari lakon Sudomolo sebagai inspirasi penyelenggaraan acara sarasehan kebudayaan ini.

Dengan harapan spirit Lakon Sudomolo yang secara harfiah, berarti “anak muda yang berniat mengurangi kejahatan”, mengurangi potensi destruktif marabahaya ini bisa menjadi inspirasi bagi kalangan pemuda lainya. Dalam menyikapi wabah pandemi yang tengah melanda dunia saat ini.

Anak Muda Bicara Budaya Kita

Setelah sambutan yang disampaikan oleh Kiai Jadul maula, acara dilanjutkan dengan pemaparan refleksi kebudayaan dari enam pemuda yang menjadi narasumber yang datang pada malam itu. Dari pemaparan narasumber yang memiliki latar belakang berbeda-beda ini, seperti disampaikan oleh moderator Abdul Rohman Santri Kaliopak diharapkan akan ada semacam inspirasi-inspirasi baru, pembelajaran atau hikmah yang bisa dipetik sebagai catatan bersama, sebagai langkah awal untuk dapat berkolaborasi bersama untuk menyebarkan gagasan kebudayaan yang semestinya.

Kesempatan pertama diberikan kepada Lutfi Firdaus. Lutfi selaku lurah di Pesantren Kaliopak, lebih banyak merefleksiskan nilai-nilai keteladanan yang diajarkan oleh Gus Dur sebagai sosok inspirasi tentang ajaran-ajaran kemanusiaan. Nilai humanis yang diajarkan oleh Gus Dur, menurut Lutfi, tentunya terinspirasi oleh orang-orang besar terdahulu dan pada akhirnya bermuara pada sosok manusia paling utama di muka bumi ini yakni, Nabi Muhammad SAW. Lutfi menekankan pentingnya generasi muda, untuk tidak pernah lelah menggali tauladan atau inspirasi kepada sosok Rasulullah sebagai pedoman hidup tatkala menjalin Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hablumminal’alam hingga tercipta harmoni, seperti yang telah dicontohkan oleh leluhur orang Jawa.

Lutfi mengilustrasikan water pass dan benang sifat sebagai analogi untuk mengintervensi sisi kemanusiaannya, agar selalu berjalan sesuai dengan fitrah-nya, terutama ia sebagai orang Jawa dengan filosifi hidup yang digariskan yakni memayu hayuning bawana, mempercantik dunia agar semakin indah dengan prilaku.

Tidak kalah menarik pemantik kedua Madha Soentoro, selaku aktivis pegiat kebudayaan yang berfokus pada seni musik tradisional, Madha memiliki kegelisahan yang barangkali merupakan kegelisahan semua anak muda di Jogja. Ia menggelisahkan gelamor citra Jogjakarta sebagai kota pusat kebudayaan atau peradaban Jawa selama ini tidak sesuai dengan realitas yang sesungguhnya.

“Ironisnya, kesenjangan itu ternyata saya temukan di dalam kota Jogjakarta,“ tegas Madha yang juga mahasiswa etnomusikologi ISI Yogyakarta.

“Ironisnya, kesenjangan itu ternyata saya temukan di dalam kota Jogjakarta,“ tegas Madha yang juga mahasiswa etnomusikologi ISI Yogyakarta.

Waktu itu, Mada merasa ditampar mukanya, manakala ia mendapati kebudayaan Jawa yang dipandang sebagai sebuah kebudayaan yang luhur ternyata tidak dirasakan atau dialami oleh masyarakat kecil di pinggiran Kota Jogja. Darisana akhirnya ia sadar, bahwa ternyata kebudayaan Jawa yang katanya adilhung hanya dipandang sebagai atribut atau emblem artifisial yang dipergunakan untuk menyangga eksistensi sekelompok golongan tertentu saja. Dari titik inilah, untuk pertamakalinya ia merasakan hilangnya spirit kebudayaan Jawa yang ia pahami.

“Ternyata di luar tembok keraton yang berdiri megah dan kokoh, masih banyak masyarakat Yogjakarta yang wagu dengan budayanya sendiri,” tutur Madha yang selama ini tumbuh besar di Yogyakarta.

Hingga suatu waktu, bersama 10 orang pemuda yang menjadi dalam komunitas seni, Madha bermaksud terjun, melibatkan diri untuk melakukan kegiatan, semacam berdarma di bidang kebudayaan. Ia terjun ke salah satu desa yang dirasa paling asing dengan tradisi budaya Jawa. Ternyata di lapangan ia dan kawan-kawannya menemui kendala yang tidak mudah diatasi. Kendala pertama yang dihadapi adalah sikap acuh dan sentimentil warga yang menaruh curiga atas kehadriannya.

Namun Madha tetap teguh pendirian untuk berbuat sesuatu. Berbagai macam strategi diupayakan olehnya. Namun apa lacur, semuanya gagal total. Hingga suatu ketika Madha dan rekan-rekannya mendapati sebuah kali (sungai) kotor sebagai ritus penanda ingatan kolektif masyarakat desa tersebut.  Kali itu bernama Kali Wedok.

Kali Wedok pernah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kali Wedok juga pernah dimanfaatkan sebagai sentra kegiatan kebudayaan. Hanya saja dalam beberapa dasawarsa, Kali Wedok tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

Mula-mula, Madha dan rekan-rekannya melakukan pembersihan sungai dengan cara menyelenggarakan pawai budaya di atas Kali Wedok tersebut. Kemudian perlahan-lahan ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat membuat acara kirab budaya di sekitar sungai itu. Tidak hanya itu, ia juga membangkitkan ingatan masyarakat tentang kisah Ki Ageng Mangir yang sesungguhnya, tidak asing bagi masyarakat setempat. Hasilnya, hingga sampai tiga tahunan ini masyarakat masih menjaga tradisi yang dimulai oleh Madha dan kawan-kawannya.

Dari pengalaman itu, Madha akhirnya menyadari betul bahwa alternatif jawaban yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tradisi budaya yang ada di Jawa, khusunya Jogjakarta adalah masyarakat harus terkoneksi kembali dengan ritus dan keilmuan dari kebudayannya.

Dokumen Pribadi Pondok Kaliopak

Sementara lain halnya seperti diungkapkan oleh Rifqi Fairuz, sebagai salah satu aktor yang bekerja di balik layar, di dapur redaksi Islami.co, tempat ia berkhidmat saat ini. Ia menceritakan bahwa Islami.co berdiri pada tahun 2013. Awalnya Savik Ali dan beberapa kawan lainnya sebagai founder islami.co menggelisahkan nasib generasi muslim di Indonesia.

Dalam benak mereka menurut penuturan Fairuz, mereka tidak dapat mebayangkan akan menjadi seperti apa, generasi muslim di Indonesia, di tengah maraknya situs-situs atau akun media sosial yang isinya dipenuhi dengan provokasi dan sentimen kebencian, yang dapat menyulut konflik kekerasan dengan mudah.

Di sisi lain, dakwah Islam melalui organisasi terbesar NU dan Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya, tidak cukup robust mencover permasalahan atas maraknya konten-konten destruktif yang berseliweran di dunia internet pada saat itu. Sebab teknologi dunia digital masih sedikit “asing” di kalangan pesantren.

Oleh karena itu, Islami.co hadir sebagai counter-hegemony atas website yang mengandung konten provokatif tersebut. Dengan garis perjuangan, menyebarluaskan konten informasi dan gagasan yang mendukung tumbuhnya masyarakat yang penuh toleransi dan kedamaian, baldatun toyyibatun.

Menurut Fairuz juga, berdirinya Islami.co diharapkan dapat menjadi rumah bersama bagi siapapun, dengan menjadikan Islam dan Keindonesiaan sebagai platformnya. Islami.co menyasar pembaca masyarakat urban yang terbiasa dengan tema-tema keislaman yang renyah, ramah dan tidak kaku.

Ainun Mutmainnah sebagai perempuan satu-satunya yang menjadi pemantik pada malam itu juga menyampaikan pengalamanya yang tidak kalah menarik dengan pemantik lainnya. Ainun menceritakan bahwa ia awalnya merupakan aktivis literasi dari Makasar. Pengalaman yang ia bagi adalah kisah yang bermula dari penyewaaan buku, di Makasar yang ditutup tiba-tiba. Hingga suplay buku baginya sudah tidak ada lagi.

Ainun merasa resah dengan situasi yang tidak biasa ini. Kemudian terbit ide untuk membuka rumah baca. Gerakan kecil ini kemudian berkembang menjadi gerakan kepemudaan yang menginisiasi berbagai kegiatan sosial di luar persoalan perbukan.

Gerakan yang berbasis pemberdayaan itu semakin berkembang setelah Ainun berkesempatan melanjutkan studi di Yogjakarta. Kini dengan komunitas “Bawa Buku” ia melakukan serangkaian kegiatan yang berbasis filantrophi diberbagai bidang kegiatan, sosial kemasyarakatan. Spirit yang dipegang betul oleh Ainun adalah,

“Kerja kepemudaan saat ini bukan kerja persaingan tapi kerja kolaborasi, seperti yang kita lakukan saat ini” ucap Ainun dengan penuh keyakinan.

Kesempatan berikutnya disampaikan oleh Wahid, salah satu pengurus kegiatan keagamaan di Masjid Jendral Sudirman Kolombo yang sudah banyak dikenal dengan Ngaji Filsafatnya. Wahid menjelaskan bahwa visi utama dari rangkaian kegiatan di MJS sebenarnya sebagai media dakwah dan penyebaran informasi berbasis spiritual, intelektualisme dan basis kebudayaan. Sehingga masjid tidak hanya dikenal sebagai tempat sujud tetapi juga tempat kajian dan mengaji.

Siapa sangka MJS dengan Program Ngaji Filsafat-nya, yang rutin diselenggarakan tiap malam rabu itu, bermula dari gerakan kecil. Bermula dari hanya Ngaji Serat Jawa di tahun 2013, yang dilanjutkan dengan Ngaji Pascakolonial untuk melambari pemahaman jamaah atas wacana-wacana orientalis. Kemduian diteruskan dengan Ngaji filsafat, yang hingga saat ini telah sampai 291 episode.

Menurut Wahid capaian MJS ini sebenarnya berkat konsistensi dari Pak Fahrudin Faiz yang konsisten, ada orang atau gak ada orang tetap bersedia mengisi ngaji filsafat ini. Hal ini yang selalu memcau teman-teman pengurus masjid untuk terus berproses dan belajar.

Hingga pada tahun 2016 pengurus MJS melakukan pengembangan dengan membuat kelas menulis, menerbitkan buku dan diteruskan dengan pembuatan website di tahun berikutnya. Website itu sendiri awalnya, diniatkan untuk menapung seluruh rekaman atau jejak digital kegiatan yang diselenggrakan MJS ini berkembang pesat. Hingga profit yang dihasilkan oleh Web ini, diakui oleh Wahid, digunakan sebagai dana untuk membiyayi seluruh kegiatan di Masjid Jendral Sudirman Kolombo hingga saat ini.

Pembicara lainnya Sohifur Ridho Ilahi juga banyak menarik perhatian,  dengan gayanya yang agak sedikit berbau candaan teatrikal, Ridho menjelaskan bahwa diriya tidak punya modal komunitas untuk berbicara tentang kebudayaan. Modus kreativitas seorang teater hanya tubuh. Olah tubuh inilah basis produksi dari seorang seniman teater.

Ridho memaparkan hal ihwal tentang ingatan. Bagi Ridho, ingatan sebagai entitas yang non materi kini sudah dapat diringkus dalam folder ekternal.

“Ingatan tidak lagi di dalam kepala,” ujar Ridho yang juga sutradara teater itu.

Ingatan kini dapat dibaca sebagai bentuk kerapuhan atau ketidak berdayaan manusia, di satu sisi. Di sisi lain, ingatan menawarkan kemudahan transmisi data atau perpindahan informasi. Misalnya Google Map, Wekipedia, data percakapan dan lain sebagainya. Hanya saja untuk mengaksesnya membutuhkan kata kunci yang tepat. Selama kata kunci tidak tepat, maka ingatan itu tidak dapat diakses. Demikianlah yang diterangkan Ridho, dimana di era digital ini manusia diringkus dalam “rezim kata kunci”.

Betapa di masa pandemi ini, sebagai seniman teater Ridho tidak banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Aktivitasnya praktis hanya di seputar rumahnya saja. Tahu sendiri bahwa dunia pagung selama ini di topang dari kerja-kerja kolaborasi dari berbagai elemen yang ada di dalamnya. Namun setelah pandemi ekosistem itu tidak ada, hal itu menandakan bahwa system yang kita buat atau manusia itu sangatlah rapuh.

Meski demikian ia kini berusaha keras memanfaatkan waktunya untuk memperhatikan persoalan-persoalan yang dulunya ia abaikan. Misalnya seperti, menanam bunga, mencabut rumput, membersihkan rumah, dan aktivitas lainnya. Sembari terus berkarya menamukan format-format baru yang relevan dengan kondisi saat ini.

Selanjutnya pemaparan yang terakhir disampaikan oleh Argawi Kandito. Ia merupakan salah satu peneliti di bidang sains. Menurut Argo, Sains yang ia tekuni tidak pernah menawarkan keresahan. Yang ia pahami sains atau ilmu pengetahuan menawarkan aspek rasional dan logika. Budaya menawarkan nilai estetik dan sosial. Sedangkan agama menwarkan aspek moral, religious dan spiritual. Ketiganya merupakan bagian integral dan terpisahkan dari manusia.

Namun dalam realitas kehidupan dewasa ini ktiga hal tersebut saling dibentur-benturkan. Agama seringkali dibenturkan dengan budaya dan sains, begitupun sebaliknya sains juga dibenturkan dengan budaya.

Sementara itu hal berbeda terjadi, di belahan dunia yang lain, perkembangan teknologi atau sains berkembang begitu sangat liar. Argo menyinggung soal editing genom dan biologi sintetik. Tentu saja fakta ini sangat menghawatirkan, namun suatu saat nanti tidak mungkin tidak akan sampai juga ke Indonesia.

Tanpa banyak bicara, Argowi mengajak peserta yang hadir untuk merenungkan persoalan editing genom dan biologi sentiteik tersebut sebelum benar-benar sampai di Indonesia sehingga kemudahaan yang ditawarkan oleh sains dan teknologi mutakhir tidak berubah menjadi petaka.

Diskusi malam itu terasa menarik, sambil diringi musik keroncong dari Ashor Projek menambah syahdu diskusi pada malam itu. Tidak terasa waktu malam itu sudah sangat larut, moderator mulai gelisah. Sekitar jam 00.00-30, akhirnya moderator mengakhiri serasehan budaya pada malam itu, dengan memberi pesan bagi semua yang datang bahwa diskusi ini bukanlah akhir tapi bisa jadi awal untuk saling bertukar ide dan gagasan dengan semangat kolaborasi. Mungkin dari hal itu kita akan menemukan format bersama untuk jawaban atas persoalan kebudayaan kita ujar moderator sambil menutup acara malam itu.