Membaca Suluk Kebudayaan Indonesia: Meneguhkan Jati Diri

Sore itu, Tuhan merestui langkah saya untuk menghadiri acara bedah buku “Suluk Kebudayaan Indonesia: Menengok Tradisi, Pergulatan dan Kedaulatan diri” sebuah kumpulan tulisan dari acara Suluk Kebudayaan Indonesia yang kemudian dibukukan. Tidak sembarangan, penulis yang ada di dalam buku tersebut sesuai bidang kepakarannya antara lain Hasan Basri Marwah, Hairus Salim HS, Mahfud Ikhwan, Irfan Afifi, Ridwan Muzir, M. Jadul Maula, Katrin Bandel, Achmad Fawaid, Dwi Cipta, Ali Romdhoni, Afthonul Afif, dan Nur Khalik Ridwan. Sayangnya, tidak semua penulis bisa hadir dalam acara tersebut.

Ini adalah acara bedah buku pertama yang diselenggarakan oleh Buku Langgar yang berkolaborasi dengan SaRanG yang bertajuk Membaca Suluk Kebudayaan Indonesia, bertempat di Sarang Building, Kalipakis, Tirtonimolo, Kasihan, Bantul (27/3). Saya kira, saya benar-benar direstui sama sang Akaryo Jagat, bagaimana tidak sesampainya di tempat bebarengan dengan pembedah sekaligus salah satu penulis di buku yaitu Kiai Jadul Maula.

Entah ini kebetulan atau tidak yang jelas saya merasakan semesta sudah mengatur semua untuk menjadikan saya sebagai “santri” (dalam tanda kutip) dari Kiai Jadul Maula setelah sebelumnya saya juga ikut ngaji Dewa Ruci di Pondok Kaliopak yang bertajuk Sains dan Pesantren. Kemudian saya menyapa kiai dan salim (bersalaman), layaknya seorang santri terhadap kiainya. Tidak berapa lama, kami kemudian masuk ke dalam, saya mengambil langkah di belakang beliau untuk masuk ke tempat acara, dan ini benar-benar seperti santri derek kiai.

Terdengar lantunan suara musik dari pendopo Sarang Building yang dibawakan oleh kawan-kawan Madha Soentoro dengan nama grup Asor Project-nya. Terlihat tempat itu sudah dipadati peserta bedah buku Suluk Kebudayaan Indonesia. Mereka beragam, ada yang dari kalangan budayawan, akademisi, kiai, santri, bahkan ada yang hanya sekadar say hello untuk melihat kegiatan tersebut. Setelah lantunan suara musik selesai acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Jumadil Alfi sebagai tuan rumah sekaligus salah satu penyelenggara acara Suluk Kebudayaan Indonesia sebagai embrio dari lahirnya buku Suluk Kebudayaan Indonesia.

Dalam sambutannya Uda Alfi, panggilan akrabnya, menyampaikan bahwa acara seperti ini, salah satu bentuk dari ikhtiar dalam meneguhkan eksistensi budaya kita terutama mengenai Islam dan kebudayaan. Oleh karena itu diharapkan acara ini akan berlangsung setiap tahunnya dan ini sudah memasuki tahun kedua dimulai sejak Desember 2018. Uda Alfi juga menuturkan bahwa tempatnya Sarang Building bisa menjadi kawah candradimuka untuk keberlangsungan berkebudayaan dan keberislaman.

Keberislaman Sekaligus Berkebudayaan

Setelah sambutan disampaikan oleh Uda Alfi, acara dilanjutkan dengan pemaparan refleksi buku Suluk Kebudayaan Indonesia dari dua narasumber yang datang pada sore itu. Dari pemaparan kedua narasumber yang memiliki latar belakang yang berbeda, satu sebagai kiai sekaligus pengasuh Pesantren Kaliopak dan satu sebagai pemerhati kebudayaan Islam Indonesia pasca kolonial sekaligus Imam Langgar.co, “Diharapkan bisa mengambil sesuatu yang berharga, bak mutiara yang selama ini belum kita lihat,” ujar Anta Kusuma sebagai moderator dalam acara tersebut.

Pada acara diskusi, kesempatan pertama diberikan kepada Irfan Afifi selaku editor dan salah satu penulis yang berjudul Ngilmu. Awal mula Irfan Afifi memaparkan bagaimana dirinya kesusahan dalam mencari sosok perempuan yang konsen dalam kajian perempuan, kebudayaan, dan keindonesiaan, terkecuali Katrin Bandel. Ini menandakan bahwa belum ada kalangan akademisi khususnya perempuan yang mumpuni dalam kajian tersebut untuk dijadikan pemantik pada acara Suluk Kebudayaan.

Ia juga memaparkan dalam pengantar buku ini, bahwa kajian suluk kebudayaan sebagai tema “alternatif” dan berbeda yang biasa keluar dan luput dari kalangan akademisi kampus (Irfan Afifi, 2021:xxxvi). Tidak berlebihan jika di awal, ia menuturkan belum ada dari kalangan akademisi kampus yang dijadikan sebagai pemantik dalam acara sekaliber Suluk Kebudayaan Indonesia. Selain itu, ia juga berharap acara Suluk Kebudayaan Indonesia juga menjadi terobosan baru mengenai  masalah Islam dan keindonesiaan yang selama ini disalahartikan. Kesalahan pemahaman ini akibat adanya upaya dari kolonial yang berusaha memisahkan antara Islam dan budaya.

Irfan Afifi juga menyatakan bahwa hanya di Indonesia Islam bisa diterjemahkan dalam level kebudayaan. Seharusnya hal ini tidak lagi diartikan sebagai bagian dari sinkretisme tapi memang pada dasarnya Islam adalah agama universal yang menyesuaikan dengan kebudayan setempat. Maka, ujar Irfan Afifi wujud dari Islam dan kebudayaan adalah kearifan budaya yang akhir-akhir ini disalahartikan bahwa budaya selalu bertentangan dengan ajaran Islam. Ia juga menandaskan dengan tegas kebudayaan saat ini, sering disalahartikan sebagai hasil olahan kaum kolonial yang tidak ingin kekuasaanya atau pengaruh politiknya di Jawa hilang. Sehingga berbagai cara dilakukan supaya orang Jawa kehilangan kejawannya. Dengan cara demikian, orang Jawa perlahan tapi pasti mulai kehilangan kediriannya, yang mana pemaknaan kedirian hidup orang Jawa termanifes dalam ujaran “sangkan paraning dumadi” itu sendiri.

Maka, ujar Irfan Afifi wujud dari Islam dan kebudayaan adalah kearifan budaya yang akhir-akhir ini disalahartikan bahwa budaya selalu bertentangan dengan ajaran Islam.

Ikhwal mengenai diri sendiri memang begitu urgent, pasalnya sebelum manusia mengenali dirinya maka ia tidak pernah mencapai kedaualatan dirinya, selaras dengan hadist Nabi Muhammad yang berbunyi Man arafa nafsahu faqod arafa Robbahu. Senada dengan hal itu, Imam al-Ghazali dalam kitabnya Kimiya’ As-Sa’adah juga menjabarkan, bahwa mengenali diri sendiri merupakan kunci untuk mengenal Allah Swt secara lebih dekat. Maka sejatinya kita perlu melihat diri kita secara lebih dalam agar kedirian kita jejeg tegak seperti huruf Alif, tidak mudah tergoyahkan.

Ngilo Githoke Dewe

Kesempatan berikutnya disampaikan oleh Kiai Jadul Maula, yang juga sebagai salah satu penulis dalam buku ini. Pertama Kiai Jadul mengurai tulisan Dwi Cipta yang berjudul Tiga Kisah Pertaruhan Penulis dalam Sastra Indonesia yang menurut Kiai Jadul ketiga novel yang dibabar oleh Dwi Cipta memberikan pemahaman pada kita atas ketersingkiran masyarakat kita terhadap struktur besar ekonomi dunia di setiap zamannya.

Contohnya Novel Pasar yang ditulis oleh Kuntowijoyo menguraikan bagaimana posisi Mantri Pasar yang dididik oleh kolonial hanya untuk menjadi kelas dua dalam strata sosial yang ada pada saat itu. Pendidikan ini berdampak pada generasi berikutnya, bahkan masih kita rasakan sampai sekarang. Serta dampak dari kolonialisme justru terasa ketika politik kolonialisme sudah tidak berjalan di Indonesia, ujar kiai Jadul.

Berbeda kasus dengan orang-orang pedalaman, atau orang kampung, meskipun terpinggirkan jiwa mereka merdeka. Mereka tidak memikirkan bagaimana nantinya dibentuk sama arus peradaban. Kolonialisme yang ada seolah-olah dinormalkan melalui konstruk kulturalnya. Bagi kiai Jadul dengan terbentuknya sistem kolonialisme yang kemudian dinormalkan dalam konstruk kultural menyebabkan bangsa ini tidak mampu memahami dirinya sendiri.

Terkait dengan Suluk misalnya, Kiai Jadul menjelaskan bahwa Suluk berati sebuah perjalanan batin yang terkait ajaran esoteris dalam Islam. Kiai Jadul juga mencontohkan terkait Suluk dengan mengambil dua karya agung yakni Mastnawi Maulana Jalaluddin Rumi yang dianggap sebagai warisan sufi dunia dan bahkan ada yang mengganggap sebagai al-Quran dalam bahasa Persi. Kedua, Babad Diponegoro yang sudah menjadi warisan tasawuf dunia.

Tasawuf menjadi faktor paling dominan yang menggerakan orang Nusantara khususnya Jawa untuk melawan kolonialisme. Pada hakikatnya ketika kedirian orang Jawa diperlihatkan atau tatkala orang Jawa menyatu dengan kejawaannya, seraya bangsa lain (kaum kolonial) tidak bisa berbuat apa dengan kedigdayaan yang dimiliki oleh orang Jawa. Bagi kiai Jadul, pembacaan terdahap diri sendiri sebenarnya sudah termanifestasikan di dalam pagelaran wayang, seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan Kiai Jadul sendiri.

Syahdan, Kiai Jadul memberikan komentar terkait kover buku Buku Suluk Kebudayaan Indonesia. Menurutnya kover yang dibuat oleh Uda Alfi adalah gambaran terkait isi buku Suluk Kebudayaan Indonesia yang menceritakan bagaimana diri kita bisa membaca realitas yang datang dari luar baik berupa tulisan, wacana, kebudayaan dan lain sebagainya. Tetapi, kita (orang Jawa) tidak dapat melihat ke-diri-annya karena tertutup “hijab” (kaum kolonial). Sebenarnya, semua pengetahuan ada di dalam diri kita, jikalau kita bisa melihat ke dalam diri kita sendiri. Kata kiai Jadul “Ngilok githoke dewe”.

Diskusi sore itu terasa menarik, disela-sela jeda obrolan, diselingi bacaan puisi dengan judul puisi berjudul Lukisan Umami dan Berkunjung ke Desa Sade yang dilantunkan oleh Lamuh Syamsuar begitu nama penanya dan diringi dengan grup musik Asor Project. Tidak terasa sore itu sudah sekian larut, langit mulai terlihat mendung nampaknya sebentar lagi hujan deras akan turun. Sekitar jam 17:15-30, akhirnya moderator mengakhiri acara bedah buku pada sore itu, dengan memberi pesan kepada peserta baik luring maupun daring untuk tetap meneguhkan kedirian kita.

Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.