SORE itu, minggu ketiga Februari 2019, saya melintasi jalanan menanjak dengan banyak kelokan tajam, sesekali mendapati badan jalan berlubang karena aspalnya terkelupas. Di sisi kiri jalan terdapat tebing-tebing curam, dan di sisi kanan berhadapan langsung dengan jurang dan sungai yang cukup deras aliran airnya. Di sepanjang jalan saya juga menjumpai pohon kopi yang berjejer rapat dan mulai menampakkan buahnya.

Beruntung sore itu cuaca cerah. Guyuran sinar matahari menemani perjalanan saya dari Demak menuju sebuah desa yang terletak di lereng sebelah barat laut Pegunungan Muria. Dengan menggunakan kendaraan roda dua, waktu yang saya butuhkan kurang lebih satu jam sejak dari titik keberangkatan. Desa yang saya kunjungi adalah Rahtawu, sebuah desa pinggir hutan yang secara administratif ikut Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Perjalanan mencapai desa ini tidaklah sulit. Di era digital seperti sekarang ini keberadaan Desa Rahtawu sudah terintegrasi ke dalam layanan google maps, sehingga pengunjung dari luar daerah yang terbiasa mengoperasikan telepon pintar tidak perlu khawatir akan tersesat selama perjalanan.

Sesampainya saya di Rahtawu, kesan pertama yang saya tangkap adalah sebuah perkampungan sejuk yang kental dengan nuansa budaya Jawa. Saya langsung disambut papan-papan penunjuk arah di sebelah kiri jalan begitu saya memasuki perkampungan Rahtawu. Menariknya, pada papan-papan penunjuk arah ini, yang sekaligus menjadi petunjuk untuk mencapai lokasi-lokasi petilasan yang tesebar hampir di semua arah mata angina, tertera nama-nama tokoh pewayangan yang lazim dikenal dalam kebudayaan Jawa. Beberapa yang tertangkap oleh mata saya adalah petilasan Eyang Abiyasa, petilasan Eyang Pandu, petilasan Dewi Kunti, petilasan Eyang Sakri, dan petilasan Eyang Modo.

Meski Rahtawu merupakan desa yang secara geografis berada di ketinggian dan letaknya di pinggiran hutan, hal ini tidak membuat desa ini sepi dari aktivitas orang. Pengendara roda dua silih berganti melintas di depan saya. Dari informasi yang saya peroleh dari Sunarti, penduduk asli Rahtawu yang sore itu warungnya saya singgahi untuk menikmati kopi, para pengunjung umumnya berdatangan menjelang sore hari untuk menikmati pesona alam Rahtawu yang memang terkenal elok. “Rahtawu kalau ramai pas sore hari mas, banyak pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam rahtawu ketika matahari akan terbenam” ungkap Sunarti sambil membuat kopi yang saya pesan.

Dari Sunarti pula saya mendapat informasi awal tentang penduduk Rahtawu yang beragama Buddha. Lewat penuturannya saya mengetahui bahwa desa ini dulu pernah memiliki pengikut Buddha yang cukup banyak. Salah satunya adalah kerabatnya, yang tetap memeluknya hingga kini. Ada kondisi yang unik di desa ini, para penganut Buddha umumnya juga pelaku ritual Kejawen. Sepenggal informasi inilah yang selanjutnya memandu saya menelusuri siapa sebenarnya para penganut Buddha awal di desa ini.

Sunarti kemudian mengarahkan saya untuk menemui salah seorang tokoh Buddha sepuh yang dianggap masyarakat setempat sebagai tokoh kunci sekaligus pemimpin umat Buddha di Rahtawu. Beliau bernama Sujata Suparkam. Kebetulan kediaman beliau terletak 50 meter di sebelah utara balai desa dan tidak jauh dari warung kopi yang saya singgahi. Bergegas saya menuju rumahnya, mengingat waktu semakin sore dan tidak lama lagi hari akan berganti.

Saya menyusuri jalan sempit di sela-sela deretan rumah warga. Kondisinya agak licin karena mulai berlumut. Jalan beton dengan lebar tidak lebih dari dua meter ini merupakan akses menuju kediaman Sujata Suparkam. Saya melaluinya dengan berjalan kaki, sementara kendaraan yang saya pakai saya titipkan di rumah warga yang berada persis di ujung jalan terluar.

Di ujung jalan saya menjumpai rumah sederhana yang didominasi material kayu dengan kombinasi batu bata yang letaknya berada di belakang perkampungan warga. Inilah rumah Sujata Suparkam. Rumah ini diapit oleh pekarangan yang ditanami beberapa pohon keras.

Dulu laki-laki berusia 80-an tahun dengan postur cukup tinggi ini bernama Suparkam, dan setelah beragama Buddha namanya berganti Sujata Suparkam. Laki-laki sepuh berkaca mata dan berkepala plontos ini tinggal sendiri di rumahnya. Dia dikarunai tiga orang anak, yang semuanya sudah berkeluarga.

Suparkam menyambut kedatangan saya dengan raut muka sumringah. Dengan agak tergopoh dia mempersilakan saya duduk di ruang tamu rumahnya. Tampak foto Sang Buddha berbingkai kayu tergantung di dinding ruang tamu yang terbuat dari kayu, bersanding dengan fotonya sendiri yang mengenakan pakaian khas Buddha. Sebelum kami memulai obrolan, dia menjelaskan kalau pendengarannya mulai terganggu. “Ngapunten menawi kulo boten pati mireng nggeh, sampun sepuh” [Maaf jika pendengaran saya tergangggu, maklum sudah tua], ujarnya pelan.

Dia memulai obrolan dengan menyampaikan rasa syukur kepada Sang Buddha atas karunia kesehatan dilimpahkan kepadanya, sehingga sampai sekarang masih bisa rutin menerima kunjungan tamu. “Sembuh syukur kulo haturaken kaleh sang Buddha nak, berkat sang Buddha niki kulo saged kepanggeh lan saged maringi pangertosan soal Buddha teng bumi Rahtawu” [Rasa syukur saya panjatkan kepada Sang Buddha, nak. Berkat Sang Buddha saya masih bisa menjumpai kamu dan memberikan informasi tentang agama Buddha di bumi Rahtawu], ucapnya dengan wajah riang.

Meski hidup seorang diri, Mbah Parkam, begitu dia sering dipanggil, tidak mengeluhkan kondisi hidupnya seperti sekarang ini. Padahal umumnya orang ketika menginjak usia senja, ingin menghabiskan sisa usianya dengan berkumpul bersama keluarga tercinta. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dia ditanggung oleh keluarganya yang juga tinggal di desa yang sama. Jarak rumah mereka tidak jauh dari kediaman Mbah Parkam. Dia menyeritakan kalau dua anak laki-lakinya telah memilih agama Islam sebagai pedoman hidup mereka, sementara anak satunya lagi memilih mengikuti jejaknya sebagai pengikut Buddha. Baginya agama adalah pilihan hidup yang tidak bisa dipaksakan, memilihnya harus berdasarkan hati nurani.

Dia menyeritakan kalau dua anak laki-lakinya telah memilih agama Islam sebagai pedoman hidup mereka, sementara anak satunya lagi memilih mengikuti jejaknya sebagai pengikut Buddha. Baginya agama adalah pilihan hidup yang tidak bisa dipaksakan, memilihnya harus berdasarkan hati nurani.

Azan yang berkumandang dari sebuah masjid yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah Mbah Parkam memecah obrolan kami. Dia sepertinya tahu kalau saya Muslim. Dia pun secara spontan mengingatkan saya untuk segera menunaikan salat Maghrib, dan menawarkan obrolan dilanjutkan setelahnya. “Sampun maghrib, sumunggo jenengan ibadah rumiyen” [Sudah maghrib, silahkan kamu sembahyang dulu], ucapnya sambil melempar senyum ramah. Saya pun bergegas ke masjid dengan perasaan kagum dan hormat untuk sikap Mbah Parkam yang toleran.

Sebagai orang yang ditokohkan dalam Agama Buddha, sikapnya tersebut pantas untuk diteladani. Sebagai seorang Muslim saya merasa diperlakukan secara terhormat. Ya, keputusan beragama seharusnya memang menjadi bagian dari upaya menemukan diri sejati, bukan semata perkara kepatuhan terhadap doktrin-doktrin agama.

Setelah menyelesaikan salat Maghrib saya bergegas kembali ke kediaman Mbah Parkam. Saya menyaksikan aktivitas masyarakat Rahtawu petang itu cukup ramai. Kendaraan roda dua berlalu lalang. Warung-warung di pinggir jalan pun masih buka. Sekelompok anak-anak saya lihat sedang bermain di halaman kantor balai desa setempat, membuat Rahtawu malam itu tampak semarak.

Percakapan saya dengan Mbah Parkam kembali tersambung. Kali ini obrolan kami mulai menyinggung tentang sejarah Rahtawu masa lalu. Untuk ukuran orang seusianya, ingatan Mbah Parkam terbilang masih tajam dan detil. Matanya berkaca-kaca ketika ingatannya tertuju pada peristiwa di masa lalu.

Sebelum tahun 1970-an, kondisi Rahtawu masih gelap gulita. Aktivitas masyarakatnya di malam hari ditunjang oleh obor yang terbuat dari bambu. Jika minyak tanah mahal, masyarakat terpaksa mengandalkan limpahan cahaya rembulan. Rumah-rumah belum sebagus sekarang. Mayoritas rumah warga terbuat dari kayu dan berlantai tanah. Kondisi alam Rahtawu waktu itu masih asri karena belum banyak pepohonan yang ditebangi. Namun kondisi jalan belum semulus sekarang. Kendaraan bermotor belum bisa digunakan untuk menjangkau Rahtawu, karena kondisi jalannya yang terjal berbatu. Satu-satunya cara mencapai Rahtawu, atau sebaliknya, adalah dengan berjalan kaki.

Bertani dan berternak adalah aktivitas ekonomi yang menopang kehidupan warga Rahtawu waktu itu. Hamparan sawah di lereng-lereng bukit dan hewan kerbau yang berlalu lalang masih menjadi pemandangan yang lazim zaman itu. Ikatan sosial dan kekerabatan juga masih terjalin erat, karena masyarakat Rahtawu lebih banyak menghabiskan waktu di kampung halaman mereka.

Para sesepuh Rahtawu menyebut Rahtawu zaman dulu dengan Wukir Rahtawu atau Gunung Retawu, sebuah pegunungan yang yang pada zaman dulu konon dihuni oleh para leluhur Pandawa. Masyarakat setempat mencoba membenarkan versi sejarah lokal ini dengan menunjukkan petilasan-petilasan dengan nama tokoh-tokoh pewayangan yang tersebar di pegunungan Rahtawu, seperti petilasan Sang Hyang Wenang, petilasan Eyang Pandu, petilasan Eyang Abiyasa, petilasan Dewi Kunti, petilasan Eyang Sakri, dan sebagainya, yang sampai sekarang keberadaannya masih terjaga. Keberadaan sejumlah petilasan inilah yang menarik minat para tamu dari luar, terutama para penghayat Kejawen, untuk mengunjungi kawasan ini. Mereka umumnya berkunjung untuk melakukan semedi, bertapa, atau sekedar menyepi menenangkan diri.

Masyarakat Rahtawu meyakini bahwa daerah mereka merupakan tempat lahirnya tokoh-tokoh utama pewayangan, sehingga menjadi tidak elok dan pantas jika mereka membicarakan apalagi mementaskannya di rumah sendiri. Setiap warga masyarakat yang mempunyai hajat juga dilarang keras mementaskan bahkan sekadar memperbincangkan cerita-cerita atau tokoh-tokoh dalam pewayangan, apapun bentuk cerita dan tujuannya.

Dari informasi yang saya gali dari Mbah Parkam, masyarakat Rahtawu sebelum tahun 1965 sebagian besarnya adalah penganut kepercayaan terhadap leluhur atau biasa dikenal dengan sebutan Kejawen. Kejawen merupakan salah satu bentuk kepercayaan yang didasarkan pada konsep kebatinan dan tata laku sebagai agama Adam. Selain itu, sebagai masyarakat hulu yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota, mereka mempraktikkan budaya religi yang khas Jawa dan belum banyak terkontaminasi oleh budaya modern. Sekitar 40 persen warga Rahtawu waktu itu adalah pelaku ajaran Kejawen dan sisanya adalah Muslim.

Adalah Eyang Suprapto, salah satu tokoh terkenal yang mengajarkan Kejawen pada masyarakat Rahtawu. Dia adalah penghayat Kejawen dari Solo yang mengajari masyarakat Rahtawu untuk lebih mendalami kebatinan Jawa. Untuk mengenang perjalanannya, masyarakat mengabadikannya dengan membangun petilasan Eyang Suprapto yang hingga sekarang ini terawat dengan baik.

Tanpa terasa malam beranjak larut. Saya melihat Mbah Parkam sudah tampak lelah. Tidak mungkin saya melanjutkan obrolan dengannya dalam kondisi seperti ini. Saya meminta ijin supaya percakapan dapat dilanjutkan keesokan harinya sekaligus berkunjung ke vihara di Rahtawu. Saya undur diri dengan membawa segepok kisah Rahtawu masa lalu yang terus membekas di benak saya, hingga kini.

Dari informasi yang saya gali dari Mbah Parkam, masyarakat Rahtawu sebelum tahun 1965 sebagian besarnya adalah penganut kepercayaan terhadap leluhur atau biasa dikenal dengan sebutan Kejawen.

DERETAN rumah berjajar rapi membelah tebing-tebing curam. Sebuah sungai besar, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan sungai gelis, yang di atasnya melintang jembatan beton, menjadi penanda sebelum memasuki perkampungan warga. Pagi itu saya sedang menuju Dukuh Wetan Kali, salah satu dukuh di Rahtawu yang letaknya di bagian paling timur. Dari dukuh ini saya dapat menyaksikan dengan jelas puncak songolikur, puncak tertinggi di Pegunungan Muria.

Pagi itu pukul 07.00 cuaca sedikit mendung menyelemuti perkampungan Rahtawu. Kicauan burung-burung mulai riuh mencari makan di sekitaran bantaran kali gelis. Beberapa petani terlihat berjalan kaki, ada pula yang mengendarai sepeda motor, melintasi jembatan beton menuju ladang di bantaran hutan produksi. Umumnya mereka menanam jagung, meski beberapa sudah beralih ke tanaman kopi. Hutan-hutan di bagian timur terlihat gersang karena dijadikan ladang jagung, nampak pula gunturan tanah longsor membelah pepohonan.

Rahtawu memiliki riwayat diterjang bencana longsor. Seluruh perkampungan di Rahtawu termasuk zona merah rawan longsor. Bencana longsor dan banjir bandang terakhir kali terjadi pada awal tahun 2014, menerjang Dukuh Wetan Kali dan telah merusak 16 rumah dan 2 mushola. Meski dukuh ini terbilang zona rawan bencana, masyarakatnya hingga kini tetap memilih bertahan di kawasan ini. Sutrisno, Kepala Desa Rahtawu periode 1999-2009, menyebutkan bahwa alasan masyarakat Dukuh Wetan Kali memilih tetap bertahan di perkampungan mereka adalah karena kelekatan dan kecintaan terhadap dukuh mereka.

“Rahtawu berkali-kali terkena musibah tanah longsor mas, bencana terbesar terjadi pada tahun 2006 dan 2014 kemarin. Sebagian warga dukuh Wetan Kali memutuskan tetap tinggal di sini apapun kondisinya, ada pula akibat bencana 2014 sebagian lebih memilih pindah ke tempat lain yang lebih aman,” terangnya dalam sebuah obrolan di atas jembatan Dukuh Wetan Kali.

Berkat bantuan Sutrisno saya akhirnya sampai di lokasi Vihara Dukuh Wetan Kali. Dia menawarkan diri mengantarkan saya menuju vihara untuk menjumpai Mbah Parkam karena malam sebelumnya kami membuat janji bertemu di vihara. Lewat Sutrisno pula saya mendapatkan informasi tentang riwayat pembangunan infrastruktur di Rahtawu.

Pada tahun 1990-an pembangunan jalan mulai dilakukan di Desa Rahtawu. Alat-alat berat dikerahkan pemerintah daerah untuk membuka akses jalan yang waktu itu dipenuhi bebatuan terjal. Masyarakat Rahtawu bersama aparatur TNI bahu membahu membangun jalan yang layak dilewati. Di kisaran tahun yang sama, listrik juga sudah bisa diakses hampir semua rumah tangga di desa ini.

Setelah berkeliling mengitari perkampungan Wetan Kali akhirnya saya sampai di lokasi vihara yang bernama Vihara Narada. Letak Vihara ini agak menjorok ke belakang, bersentuhan langsung dengan tebing yang cukup curam. Di belakang bagunan vihara terdapat perbukitan yang ditanami kopi. Sebelah kiri Vihara Narada berbatasan langsung dengan pemukiman warga, sementara di sebelah kanannya terdapat petilasan Eyang Saturkem, salah satu petilasan yang menjadi cikal bakal perkampungan Rahtawu.

Mbah Parkam dengan seorang pemuda sudah menunggu saya di depan gerbang vihara. Mereka manyambut kedatangan saya dengan ramah. Mbah Parkam sudah menunggu sejak pukul 06.30 bersama pemuda itu. Namanya Sukamto. Dialah yang digadang-gadang menjadi pengganti Mbah Parkam. Sekarang dia menjabat sebagai wakil ketua umat Buddha di Dukuh Wetan Kali. “Perkenalkan kulo Sukamto, kulo muridipun Mbah Parkam [Perkenalkan saya Sukamto, saya murinya Mbah Parkam],” sapanya memperkenalkan diri sebelum mengajak saya memasuki vihara.

Saya segera memasuki bangunan yang dari luar terlihat didominasi warna kuning dengan kombinasi hitam. Pintu gerbangnya menyerupai arsitektur candi Buddha. Vihara ini memiliki halaman cukup luas yang terbuat dari paving. Di sisi kanan terdapat bangunan persegi panjang yang dilengkapi papan kayu berukuran kecil dan bertuliskan Vihara Narada. Sementara di sebelah kirinya terdapat bangunan kedua yang lebih kecil dari bangunan pertama.

Kompleks Vihara Narada secara keseluruhan seluas 12 x 9 meter dengan dua bangunan terpisah. Bangunan pertama berfungsi sebagai tempat istirahat Bikkhu yang berkunjung sekaligus sebagai ruang tamu, dilengkapi dengan fasilitas kamar tidur, televisi dan dapur. Sedangkan bangunan kedua adalah tempat peribadatan umat Budhha.

“Kalau vihara memang harus begini mas, bisa disebut vihara jika sudah mencapai standar yang telah ditentukan. Harus ada tempat khusus yang disediakan untuk para Bikkhu,” ujar Sukamto.

Bangunan tempat peribadatan bentuknya memanjang ke belakang. Di atas pintu utama terdapat aksesoris terbuat dari kaca bertuliskan Vihara Narada, hadiah dari Perguruan Tinggi STAR Negeri Sriwijaya. Di sebelah kanan pintu terdapat ornamen persegi yang berisi informasi tentang peresmian Vihara Narada pada 24 September 2005. Di bagian kanan bawah tertera tanda tangan Taram, B.A. selaku camat setempat, sementara di sebelah kirinya terdapat bukti pengesahan dari Sang  Hayanaka Dhamma Sudhotera, Ketua Umum Buddha Theravada.

Setelah berkeliling melihat seisi vihara, saya dipersilahkan duduk di ruang tamu. Kami duduk melingkar mendengarkan Mbah Parkam berkisah tentang sejarah perkembangan umat Buddha di Rahtawu.

Pada tahun 1950-an, hanya ada satu keluarga di Rahtawu yang menganut Buddha, yaitu keluarga Suradi Suryakusuma. Mayoritas penduduk di periode itu adalah pemeluk Islam dan penghayat Kejawen.

Pada tahun 1950-an, hanya ada satu keluarga di Rahtawu yang menganut Buddha, yaitu keluarga Suradi Suryakusuma. Mayoritas penduduk di periode itu adalah pemeluk Islam dan penghayat Kejawen. Suradi Suryakusuma sendiri adalah Sekertaris Desa setempat, dan sejak kecil dia sudah menganut ajaran Buddha.

Tahun 1956 merupakan peristiwa bersejarah bagi umat Buddha Indonesia. Di tahun ini Buddha Dhamma digemakan kembali. Bikku Ashin Jinnarakhita memotori Peringatan 2.500 tahun Buddha Jayanti yang diselenggarakan di Vihara Buddha Gaya Watu Gong dan Mandala Agung, Borobudur, Magelang. Perhelatan ini disambut antusias oleh semua penganut Buddha di seluruh Indonesia, tidak terkecuali yang dari pantai utara Jawa, seperti Kudus, Pati dan Jepara, yang waktu itu turut hadir.

Seperti yang dicatat dalam majalah Sinar Dharma, tahun 1956 adalah angin segar bagi kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Situasi ini dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Buddha pantai utara Jawa seperti Suradi Suryakusuma, Saidin Reksowardojo, dan Takrip Hadidarsana, untuk memperkenalkan ajaran Buddha di Kudus, khususnya di kawasan lereng Muria.

Tak lama berselang dari peristiwa bersejarah itu, Reksowardojo ditahbiskan menjadi salah satu pandita Buddha pertama dari kawasan timur pantai utara Jawa Tengah oleh Persatuan Upasaka Upasiki (PUUI) Pusat, dan namanya berganti menjadi Upasaka Pandita Ramadharma Reksowardojo. Sementara Takrip Hadidarsana kemudian bergabung ke Wihara Maha Dhamma Loka, Tanah Putih, Semarang, dan Suradi Suryakusuma mengemban tugas memperkenalkan Buddha Dhamma di Rahtawu.

Usaha Suradi Suryakusuma pelan-pelan menuai hasil. Penduduk Rahtawu, warga yang tinggal di Dukuh Kulon Kali, Wetan Kali dan Semliro mulai mengenal ajaran Buddha. Dengan ketulusan hati, tanah bengkok yang dia miliki sebagai pejabat desa, yang di atasnya berdiri bangunan sederhana, dia wakafkan sebagai tempat pujabakti. Tempat ini sebenarnya belum bisa disebut vihara, mengingat bangunannya yang masih sangat sederhana dengan fasilitas seadanya. Tempat ini dulu diberi nama Cetya Bodhigiri, atau tempat peribadatan sementara untuk umat Buddha.

Lokasi Rahtawu yang masa itu masih terisolasi membuat pengajaran Buddha menuai banyak kendala, ditambah belum adanya Bikkhu yang mengajarkan secara rinci ajaran Buddha. Waktu itu, Pandita Ramadharma Saidin Reksowardojo dan Pandita Takrip Hadidarsana secara bergantian mengajarkan Buddhadhamma dengan merujuk pada sebuah naskah kuno bernama Badra Santi, pokok-pokok ajaran Buddha dalam bahasa Jawa, yang dipercayai sebagai peninggalan Kerajaan Lasem.

Kulo taseh imut bilih Pandita Takrip Hadidarsana mengajar kidung Badra Santi kaleh menari, lan diiringi irama pangkur lamba [Saya masih ingat Pandita Takrip Hadidarsana mengajarkan kidung Badra Santi sambil menari, dan diiringi irama pangkur lamba],” kenang Mbah Parkam sambil menjelaskan bahwa di Desa Rahtawulah untuk pertama kalinya ajaran Buddha yang terangkum dalam syair-syair berbahasa Jawa mereka kidungkan.

Dalam laman Buddhazine saya mendapati keterangan bahwa Badra Santi bukan termasuk sekar ageng (Kakawin, Jawa Kuno), dan juga bukan sekar alit (Macapat, Jawa Baru). Agaknya metrum Badra Santi lebih tepat digolongkan sebagai kidung atau sekar tengahan. Kidung Badra Santi digubah oleh Sramana Mpu Santi Badra (1432-1527 M). Mpu Santi Badra adalah seorang pangeran dari trah Bre Lasem, tepatnya adalah canggah dari Dewi Indu Purnama Wulan atau Bhre Lasem. Dewi Indu adalah Ratu Lasem yang merupakan adik sepupu Prabu Hayam Wuruk adalah istri dari Pangeran Rajasa Wardhana.

Mpu Santi Badra mengawali penggubahan Sabda Badra Santi pada tahun 1479 M di pertapaan Madirasari, Gunung Argasoka, Lasem. Tepatnya setahun setelah melarikan diri dari Keraton Majapahit usai terjadi kudeta dari pihak luar istana, sebuah suksesi politik yang melengserkan Raja Kerthabumi atau Kerthawijaya pada tahun 1478 M.

Pengajaran Buddha lewat media kidung Badri Santi mendapat sambutan baik dari sejumlah tokoh Buddha terkemuka di Pantura, salah satunya adalah Bikkhu Khemasarano. Yang Mulia Khemasarano Mahathera lahir di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Beliau ditahbiskan menjadi bhikkhu pada tanggal 13 Juli 1973 oleh Somdet Phra Nyanasamvara di Wat Bovonarives Vihara, Bangkok, Thailand. Bikkhu Khemasarano mengapresiasi dan mendukung penerbitan ulang Kidung Sabda Badra Santi edisi revisi pada tahun 1985 dan penerbitan Sejarah Rembang serta Pangawikan Kejawen Badra Santi.

Pada tahun 1988 dan tahun 1996, beliau turut menerbitkan ulang Vedha Badra Santi versi edisi 1967 dan didistribusikan ke berbagai vihara di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Bikkhu Khemasarano berjasa besar dalam mendorong banyak pemuda, khususnya yang berasal dari daerah pantai utara Jawa untuk menjadi bikkhu, dan berkat jasanya itu sekarang mereka telah menjadi Dhammaduta di berbagai penjuru tanah air.

Setelah beberapa jam kami berbincang, Mbah Parkam tiba-tiba berdiri lalu mengambil sebuah buku tentang sejarah Badra Santi dan dokumen penting tentang perjalanan Buddha di Rahtawu. Puncak berkembangnya Buddhisme di Kudus khususnya di Rahtawu terjadi setelah tahun 1965, semacam menuai berkah dari meletusnya peristiwa (berdarah) September 1965. Tidak hanya di Rahtawu, ajaran Buddha paska peristiwa 1965 juga menyebar hingga ke sisi timur lereng Muria, khususnya di Desa Colo, yang sekarang juga berdiri sebuah vihara di desa itu.

Puncak berkembangnya Buddhisme di Kudus khususnya di Rahtawu terjadi setelah tahun 1965, semacam menuai berkah dari meletusnya peristiwa (berdarah) September 1965.

 

AGAMA selalu menjadi persoalan sensitif dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada tanggal 27 Januari 1965 Presiden Sukarno menerbitkan Kepres No.1/PNPS/1965 atas desakan kelompok Muslim konservatif yang resah dengan munculnya aliran-aliran dan organisasi-organisasi kebatinan atau kepercayaan yang menurut mereka bertentangan dengan ajaran-ajaran dan hukum Agama. Kebijakan ini, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, adalah cikal bakal dari diakuinya 5 lima agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha) sebagai agama resmi. Dampaknya, keberadaan masyarakat yang masih memegang teguh ajaran-ajaran lokal seperti Kejawen atau Sunda Wiwitan pun terancam.

Kondisinya semakin runyam ketika pada September 1965 terjadi peristiwa berdarah yang konon melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), kejadian yang kemudian dikenang sebagai Peristiwa 30 September 1965. Agama lagi-lagi digunakan sebagai alat propaganda untuk menyerang orang-orang atau kelompok yang diduga berafiliasi dengan PKI. Para penghayat Kejawen pun ikut terseret dalam kejadian tersebut karena tuduhan serampangan dari kelompok Muslim bahwa apa yang mereka yakini bertentangan dengan Pancasila, dan entah seperti apa persis ceritanya, tiba-tiba mereka dianggap mendukung PKI, partai politik yang terlanjur dilabeli anti Tuhan dan agama.

Dampak dari kebijakan di atas, dan terutama Peristiwa September 1965, setiap warga negara yang tidak menganut satu dari lima agama yang diakui pemerintah, sekonyong-konyong akan dituduh sebagai komunis. Tidak mengherankan jika di tahun-tahun setelahnya, pengikut Buddhisme di Indonesia meningkat tajam.

Sebagai respon atas kebijakan dan situasi di atas, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, mengusulkan adanya penyesuaian dalam dogma Buddhisme di Indonesia, khususnya mengenai konsep ketuhanan dalam agama Buddha, maka digagaslah Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha di Indonesia dengan sebutan “Sang Hyang Adi Buddha”.

Dampak dari kebijakan di atas, dan terutama Peristiwa September 1965, setiap warga negara yang tidak menganut satu dari lima agama yang diakui pemerintah, sekonyong-konyong akan dituduh sebagai komunis. Tidak mengherankan jika di tahun-tahun setelahnya, pengikut Buddhisme di Indonesia meningkat tajam. Pada tahun 1987 tercatat ada tujuh aliran Buddhisme yang berafiliasi dengan Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi), yaitu Theravada, Buddhayana, Mahayana, Tridharma, Kasogatan, Maitreya, dan Nichiren. Di tahun itu, diperkirakan umat Buddha Indonesia mencapai 2,5 juta orang, dengan 1 juta dari jumlah tersebut berafiliasi dengan Buddhisme Theravada dan sekitar 0,5 juta dengan aliran Buddhayana yang didirikan oleh Jinarakkhita.

Dampak dari tragedi politik 1965 merembet hingga ke kawasan lereng Muria. Para penghayat kejawen, khususnya di kawasan Rahtawu dan Colo, mendapatkan intimidasi dan diburu. Untuk menyelamatkan diri, mereka akhirnya berbondong-bondong bergabung ke dalam agama Buddha.

Sarija Sariputra (70 tahun), salah satu tokoh umat Buddha di Colo, memberikan kesaksian bahwa imbas dari Peristiwa 1965 merembet hingga ke kampungnya. Di Desa Colo, desa yang berdekatan dengan kompleks Pemakaman Sunan Muria, pada masa itu masih banyak yang menganut ajaran kebatinan jawa.

“Di Colo sendiri sebelumnya memang sudah ada pengikut Buddha, tetapi sangat sedikit. Kemudian ketika peristiwa 65 jumlah penganut Buddha di sini meningkat tajam, yang disebabkan oleh para penganut kejawen takut ditahan oleh negara akibat peristiwa tersebut,” terangnya.

Meningkatnya pengikut Buddha di Colo kemudian direspon oleh pengurus setempat dengan membangun tempat peribadatan baru yang lebih representatif yang diberi nama Vihara Dhammadipa. Vihara ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama berfungsi sebagai tempat Bikkhu sekaligus ruang tamu, dan lantai kedua menjadi tempat peribadatan.

Kondisi serupa juga terjadi di Rahtawu. Para pengahayat kejawen beramai-ramai beralih keyakinan ke agama Buddha. Atas inisiatif Suradi Suryakusuma, carik pemerintah desa setempat, mereka, tua dan muda, dikumpulkan di depan halaman balai desa, dan “dibaiat” menjadi pengikut Sang Budhha. Tak ayal lagi, jumlah pemeluk agama Buddha meningkat tajam, karena menurut perhitungan waktu itu sekitar 60 persen dari penghayat kebatinan di Rahtawu beralih ke Buddha. Untuk menampung membengkaknya jumlah pengikut, maka dibangunlah sebuah cetya bernama Bodhigiri yang didirikan di atas tanah bengkok Carik Suradi Suryakusuma.

Masalah serius muncul ketika Suradi Suryakusuma meninggal dunia pada tahun 1977. Tanah yang ditempati cetya diambil kembali oleh pemerintah desa, karena tanah bengkok tersebut memang aset desa. Pengikut Buddha sebelum kematian Suradi yang berjumlah 100 keluarga dengan 500 jiwa, menjelang tahun 1980 menyusut menjadi 60 kepala keluarga saja. Kondisi ini membuat Bhikkhu Sudhammo dari Lasem ikut prihatin. Untuk mengatasi situasi tidak semakin mengkhawatirkan, pada tahun 1980 dia membeli sebidang tanah milik keluarga Pak Karto Wadiman di dukuh Wetan Kali atas nama Pak Gunandar, seorang guru agama Buddha dari Jepara. Namun baru pada tahun 2005 sebuah vihara dapat dibangun di tanah ini. Vihara Narada namanya, yang kini menjadi tempat peribadatan dan pusat informasi seputar agama Buddha di Rahtawu.

Setelah Vihara Narada berdiri, perkembangan Buddhisme di Rahtawu kembali menggeliat. Pada tahun 2011, warga yang tinggal di sebelah barat desa, persisnya di Dukuh Krajan, bahu membahu mendirikan vihara kedua, lantaran jarak antara Rahtawu Kulon dan Rahtwu Wetan cukup jauh. Setelah berdiri, mereka memberi nama vihara baru ini dengan Vihara Giri Kusala. “Pembangunan vihara ini ditujukan supaya lebih tekun dalam beribadah mas. Kondisi Rahtawu membuat masyarakat Rahtawu Kulon kesulitan ketika hendak pujabakti, apalagi ketika musim penghujan, kita harus turun sejauh 5 km untuk sampai ke Vihara Narada. Kalau jalannya lurus saja tidak apa-apa. Masalahnya akses jalannya seperti ini, dari satu bukit satu ke bukit lainya,” ujar Pitono, salah seorang warga Buddhis yang bermukim di Rahtawu Kulon.

Data tahun 2013 menunjukkan, dari total penduduk Rahtawu sebanyak 4.482 jiwa, 162 di antaranya adalah Buddha, 32 Kristen, dan selebihnya Islam. Jumlah pemeluk Buddha hari ini memang masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan tahun 1970-an, namun kini mereka telah memiliki fasilitas peribadatan yang lebih layak dan menikmati rasa aman dalam menjalankan keyakinan mereka. Salah satu faktor yang menjadikan pemeluk Buddha di Rahtawu secara statistik menurun adalah bencana tanah longsor dan banjir bandang yang menerjang Dukuh Wetan Kali dan Semliro pada 2006 dan 2014, yang membuat sejumlah keluarga pindah dari Rahtawu. Kini hanya 50 keluarga yang tercatat sebagai pemeluk Buddha di desa ini.

Umat Buddha di Rahtawu, lanjut Pitono, hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain, terutama dengan mayoritas penduduk Muslim. Sejauh yang dia ketahui, belum pernah terjadi konflik antarumat beragama di Rahtawu, sebab menurutnya: “Di sini kami hidup berdampingan dengan orang-orang Muslim, seringkali beraktivitas bersama dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Satu sama lain saling membantu jika mempunyai hajat dalam agama masing-masing, seperti pembangunan Vihara Giri Kusala ini umat Muslim ikut bergotong royong serta berpartisipasi hingga akhir pembangunan vihara.”

Hal senada diungkapkan oleh Subkhan, seorang tokoh Muslim sekaligus imam Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, masjid terbesar di Rahtawu. Laki-laki berusia 50-an tahun ini mengakui bahwa hubungan antarumat beragama di Rahtawu berjalan harmonis. Ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, dia menyontohkan, tidak sedikit pemeluk Buddha yang turut memeriahkannya. Mereka berpartisipasi dalam takbiran di malam menjelang Idul Fitri dan menyediakan aneka suguhan di ruang tamu mereka sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga atau tetangga Muslim mereka yang akan berkunjung ke rumah mereka. Pada perayaan Idul Adha mereka juga ikut membantu pelaksanaan qurban di desa.

Ketika ada Muslim yang meninggal, lanjut Subkhan, “umat Buddha di Rahtawu secara sukarela membaur dengan umat Islam untuk menyampaikan rasa bela sungkawa. Tidak jarang pula umat Buddha dengan keyakinan yang dianut, ikut mendoakan orang yang baru saja meninggal. Pada peringatan hari ketujuh atau ke empat puluh mereka biasanya juga datang.”

Kini yang menjadi ancaman serius di Rahtawu bukanlah keragaman agama yang dianut penduduknya, namun kerusakan alamnya yang makin memprihatinkan karena pembalakan liar dan alih fungsi lahan secara besar-besaran, yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya longsor dan banjir bandang setiapkali musim penghujan tiba.

Kini yang menjadi ancaman serius di Rahtawu bukanlah keragaman agama yang dianut penduduknya, namun kerusakan alamnya yang makin memprihatinkan karena pembalakan liar dan alih fungsi lahan secara besar-besaran, yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya longsor dan banjir bandang setiapkali musim penghujan tiba. Risiko dari kerusakan alam ini bukan tidak mereka sadari sama sekali, namun ikatan yang terlanjur kuat dengan tanah leluhur, juga keterbatasan pilihan dalam memenuhi tuntutan ekonomi, seringkali membuat mereka pasrah menghadapi kemungkinan hidup, bahkan yang terburuk sekalipun.

“Kami di sini yang masih bertahan di Rahtawu tidak akan meninggalkan tanah kelahiran kami sendiri. Apapun kondisinya dan bagaimanapun keadaan alamnya, kami akan tetap tinggal di sini dan mempertahankan tanah leluhur kami,” ujar Sukamto, pemuda Buddhis dari Dukuh Wetan Kali, seolah mewakili perasaan yang juga dirasakan oleh umumnya penduduk Rahtawu.

 

Islakhul Muttaqin. Menekuni kajian tentang kelompok-kelompok minoritas di Kudus. Bergiat di kelompok belajar Anima Mundi, sebuah perkumpulan untuk pendidikan riset dan literasi yang berkedudukan di Kudus, Jawa Tengah.

Islakhul Muttaqin
Islakhul Muttaqin. Menekuni kajian tentang kelompok-kelompok minoritas di Kudus. Bergiat di kelompok belajar Anima Mundi, sebuah perkumpulan untuk pendidikan riset dan literasi yang berkedudukan di Kudus, Jawa Tengah.