Wahyudi Anggoro Hadi: Jalan Transformasi Diri dan Masyarakat

Hujan turun begitu deras dua jam sebelum keberangkatan saya menuju kantor kelurahan Pagungharjo untuk menemui seorang yang sudah lama saya kagumi rekam jejaknya dalam menggawangi perubahan sosial di desanya. Awalnya saya agak was-was, apakah saya bisa datang tepat waktu atau tidak, pasalnya hujan tidak seperti biasanya deras mengguyur daerah Cepokojajar titik dimana saya akan berangkat. Beberapa saat saya mencoba untuk berfikir tenang, bagaimanapun keadaannya kalaupun hujan deras tidak menunjukan tanda-tanda reda, saya akan menerabasnya karena pertemuan ini mungkin tidak terulang kedua kali bagi saya.

Benar, sampai jam 15.30 hujan masih turun tipis, padahal kita janjian untuk bertemu jam 16.00. Saya masih menunggu, tetapi nampaknya tidak ada tanda-tanda hujan sore itu akan hilang sama sekali. Akhirnya dengan berbekal niat dan tekat saya memutuskan untuk menerjang hujan, dengan balutan jaket hitam andalan saya mengindahkan gerimis yang terus menampar wajah saya.

Sesampainya kantor kelurahan, saya melihat jam ternyata saya telat beberapa menit dari janjian yang saya ajukan. Hati saya mulai was-was kembali, saya tidak ingin pertemuan ini membuahkan citra buruk atas komitmen saya untuk menemui seorang yang saya kagumi selama ini. Saya kemudian berjalan pelan menuju ruang kantor kepala desa. Dari kejauhan saya melihat pak lurah sudah duduk menyambut dua tamu yang sudah mendahului saya. Gerimis menyertai langkah saya menuju pintu ruang tamu itu. Dengan jaket dan sepatu basah, saya mengucapkan salam untuk memulai pertemuan yang sudah saya bayangkan beberapa bulan yang lalu.

Wahyudi Anggoro Hadi Kepala Desa (lurah) Pagungharjo Sewon, Bantul. Nama yang sebenarnya tidak asing bagi banyak orang Yogyakarta dengan segenap prestasi yang diukir selama kepemimpinannya menjadi kepala desa. Apa yang saya bayangkan sebelumnya ternyata tidak terjadi, masih di depan pintu, dengan ramah Wahyudi mempersilakan duduk di sofa yang tersedia.

Sampean kudanan to mas, niki pesenke kopi go mase,” ujar Pak Lurah meminta salah satu orang di ruangan itu untuk membelikan kopi untuk saya dan tamu lainnya.

Suguhan kopi panas tiba di hadapan saya, dengan sigap setelah dipersilakan saya langsung meminumnya untuk sekedar menghangatkan tubuh saya yang belum hilang dinginnya. Sambil menyulut sebatang rokok, saya mendengarkan perbincangan yang cukup menarik pak lurah dengan mbak peneliti tersebut.

Selang beberapa menit, sambil mendengarkan perbincangan pak lurah dengan seorang peneliti dari salah satu kampus di Yogya yang nampaknya membicarakan peran pemerintah Desa Pagungharjo menghadapi pandemi. Pak lurah menyela kemudian menunjukan bahwa waktu sudah menunjukan jam 16.00, “Bagaimana kalau ngobrol-ngobrol di rumah saja mas,” ujar Pak Lurah.

Mendengar tawaran tersebut saya tidak ambil pusing untuk menyetujuinya, malah saya semakin tambah bersemangat untuk melihat kediaman pak lurah yang satu ini. Waktu terus berjalan, setelah wawancara dengan peneliti selesai, saya diajak langsung ke rumah Pak Wahyudi. Rumahnya tidak jauh dari kelurahan Pagungharjo, kira-kira satu setengah kilo meter ke arah Barat. Karena saya tidak tahu rumahnya, saya diantar salah seorang warga Pagungharjo yang kebetulan juga tetangga pak lurah. Sore itu tampak semakin gelap, bau tanah setelah hujan juga semerbak di sana-sini. Akhirnya kami berjalan bersama ke rumah pak lurah, sambil melihat Desa Pagungharjo yang lekat dengan sebutan kampung Mataraman ini, saya merasakan gairah perubahan yang tetap bersendikan nilai-nilai lokal yang begitu kental dari desa ini.

***

Bergerak Melalui Dolanan Anak

Sesampainya di rumah Pak Lurah, azan magrib berkumandang, tidak seperti yang saya bayangkan awalnya. Dari halaman rumah tempat saya memarkirkan kendaraan sudah terdengar suara anak-anak belajar melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, mungkin puluhan jumlahnya. Tidak seperti rumah lurah umumnya yang saya kenal di tempat saya, dimana biasanya ada sebuah pendapa besar khas bangunan Jawa, kemudian diikuti bangunan limasan untuk tempat tinggal empunya rumah. Rumah Wahyudi ternyata lebih dinamis dan minimalis. Hanya ada tiga bangunan utama, dua pendapa hampir mirip langgar karena di sesaki oleh banyak orang mengaji, satunya lagi tempat tinggal yang sederhana tapi cukup bersahaja.

Rumah Wahyudi ternyata lebih dinamis dan minimalis. Hanya ada tiga bangunan utama, dua pendapa hampir mirip langgar karena di sesaki oleh banyak orang mengaji, satunya lagi tempat tinggal yang sederhana tapi cukup bersahaja.

Saya kemudian dipersilahkan masuk ke rumah utama, sambil menunggu pak lurah siap-siap, saya memutuskan untuk beribadah magrib sejenak. Setelah itu saya ditemui oleh pak lurah yang masih menggunakan pakaian dinas dengan peci hitam yang tampak tidak pernah lepas. Dari situlah kami memulai obrolan yang hangat mengenai masa awal keterlibatan Wahyudi Anggoro Hadi muda yang ia sebut sebagai upaya untuk terlibat dalam merekayasa sosial sesuai kepentingan bersama.

Sebenarnya, Jauh sebelum ia terlibat dalam politik pemerintahan seperti sekarang ini, sekitar tahun 99-an, Wahyudi muda dalam konteks rekayasa sosial ia mencoba menggunakan pendekatan kultural untuk mengintervensi kondisi sosial melalui dolanan anak sebagai pintu masuknya. Dengan lahirnya kampung dolanan yang ia gagas bersama teman-temanya saat itu, ia mendorong lahirnya kesadaran kolektif di tengah masyarakat. Ia menyatakan bahwa ada suatu yang khas, unik, yang juga menjadi bagian dari pranata sosial untuk mendidik anak-anak melalui dolanan permainan tradisi yang bermacam-macam bentuknya tersebut.

Ia menceritakan kenapa dolanan anak itu penting untuk dikenalkan pada masyarakat untuk mempertahankan. Karena bagaimanapun Wahyudi sebagai anak kampung yang tumbuh di Dusun Pandes Desa Pagungharjo memiliki memori yang indah ketika masa kecilnya. Ia mengungkapkan bahwa sejak dulu mulai abad ke-19 dusun Pandes dikenal sebagai sentra industri rumahan dolanan anak. Bahkan hampir 60 persen mata pencarian warganya berasal dari membuat kemudian menjual dolanan anak, termasuk keluarga Wahyudi. Ia masih ingat, ketika kecil di sela-sela aktivitas bertani di sawah ia sering diajak bapaknya untuk membuat dolanan anak, ada wayang kertas, otok-otok, manukan, belimbingan, payungan dan lain sebagainya. Biasanya menjelang lebaran warga borong (menjual dengan bersama-sama) produk dolanan anak dengan menggunakan truk besar kemudian dikirim ke pasar-pasar di Yogyakarta bahkan sampai ke beberapa pasar di Jawa Tengah.

Ia masih ingat, ketika kecil di sela-sela aktivitas bertani di sawah ia sering diajak bapaknya untuk membuat dolanan anak, ada wayang kertas, otok-otok, manukan, belimbingan, payungan dan lain sebagainya. Biasanya menjelang lebaran warga borong (menjual dengan bersama-sama) produk dolanan anak dengan menggunakan truk besar kemudian dikirim ke pasar-pasar di Yogyakarta bahkan sampai ke beberapa pasar di Jawa Tengah.

Salah satu dolanan anak yang khas dari daerah Pandes dan hampir semua warga yang sekarang berumur 50 tahun mempunyai kemampuan dalam pembuatan dolanan wayang tanpa pola.

Jadi jenengan nyuwun wayang napa? Tak guntingke tanpa pola tanpa digambar dulu,” tutur Wahyudi sambil tertawa.

Menariknya hampir semua tokoh wayang dapat dibuat tanpa digambar terlebih dahulu, jika dilihat keterampilan mereka seperti sudah di luar kepala. Selain itu, biasanya transfer pengetahuan pembuatan wayang tersebut dilakukan saat Wahyudi membantu bapaknya, ia masih ingat dimana bapaknya sering menunjukkan bagaimana karakter seorang tokoh wayang kemudian dijabarkan dalam bentuk dolanan anak. Namun Seiring berjalanya waktu, ketika Wahyudi dalam bahasanya mendorong merekayasa sosial dengan membuat kampung dolanan anak tersebut pada tahun 1999. Pengrajin yang tersisa hanya tinggal delapan orang, dan mungkin sekarang tinggal lima orang dan itupun semuanya sepuh-sepuh.

Hal tersebut awalnya dimulai dengan adanya perubahan besar yang terjadi sekitar tahun 80-an, ketika ada dolanan anak yang terbuat dari bahan plastik yang datang dari luar negeri. Sehingga membuat dolanan anak yang medianya dari kayu dan kertas secara ekonomi tidak lagi mencukupi, kemudian secara perlahan profesi sebagai pembuat dolanan anak banyak ditinggalkan oleh masyarakat di kampungnya.

Melihat kondisi tersebut, berangkat dari kesadaran dan kecintaan sebagai pemuda yang dilahirkan dari keluarga pengrajin dolanan anak itulah, ia terdorong untuk memulai melestarikan kembali warisan kekayaan kultural yang sedikit banyak mempengaruhi kesadarannya selama pertumbuhannya mulai dari kecil hingga dewasa. Hingga akhirnya pada tahun 1999, ia bersama dengan teman-temanya mencoba mendorong kesadaran masyarakat atas pentingnya dolanan anak dihidupkan kembali.

Namun menanamkan kesadaran baru di tengah perubahan yang semakin menggerus ternyata memang tidak mudah. Sehingga apa yang diupayakan Wahyudi tersebut ternyata tidak mudah diwujudkan. Baru kemudian sekitar tahun 2007 sejak tahun 99 mulai tumbuh kesadaran kolektif yang ditandai dengan lahirnya komunitas dengan nama Pojok Budaya. Melihat rentang waktu yang disebutkan, Wahyudi membutuhkan sekitar tujuh tahun untuk meyakinkan masyarakatnya, bahwa apa yang diupayakan melalui dolanan anak itu penting bagi masyarakatnya. Hal itupun momentumnya paska bencana gempa Yogya pada tahun 2006, dimana saat gempa kolektifitas masyarakat relatif mudah dibangun karena semua sedang mengalami krisis. Sehingga momentum gempa tersebut ia gunakan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa khasanah tradisi budaya bisa digunakan untuk mendidik anak-anak.

Namun menanamkan kesadaran baru di tengah perubahan yang semakin menggerus ternyata memang tidak mudah. Sehingga apa yang diupayakan Wahyudi tersebut ternyata tidak mudah diwujudkan.

Tujuan Komunitas Pojok Budaya sendiri menurut pemaparan Wahyudi lahir dalam tiga hal, pertama melestarikan permainan tradisi dolanan anak yang di sini tidak hanya produknya tetapi yang terpenting juga nilai-nilainya. Kemudian pengembangan dengan jalan mereposisi dolanan anak yang sudah tidak bisa menjadi sumber penghidupan, sehingga menjadikan proses pembuatan dolanan anak tersebut sebagai bentuk wisata minat khusus serta edukasi bagi anak-anak. Dalam hal ini yang dijual tidak lagi produknya tetapi lebih pada experience membuat, kemudian story, atmosfer, dan sebagainya, yang kemudian ditawarkan pada pengunjung wisata kampung dolanan anak tersebut.

Tetapi dalam titik tertentu Wahyudi kemudian juga mempunyai kesadaran bahwa dolanan anak juga bisa punah. Maka dari itu upaya selanjutnya yang dilakukan adalah me-redesign dolanan anak mulai dari material bentuknya dan sebagainya. Bersamaan dengan itu juga dilakukan revitalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam dolanan anak tersebut. Jadi yang terpenting dalam dolanan anak itu bukan pada dolananya, tetapi pada nilai yang melatar belakangi lahirnya dolanan anak. Termasuk pada tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat kita selama ini. Sehingga pada waktu itu, dilakukanlah penelusuran sejarah terkait dolanan anak mengenai pesan apa yang ingin disampaikan oleh simbah-simbah kita terdahulu.

Jadi yang terpenting dalam dolanan anak itu bukan pada dolananya, tetapi pada nilai yang melatar belakangi lahirnya dolanan anak. Termasuk pada tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat kita selama ini. Sehingga pada waktu itu, dilakukanlah penelusuran sejarah terkait dolanan anak mengenai pesan apa yang ingin disampaikan oleh simbah-simbah kita terdahulu.

Maka ditemukan empat hal, yang pertama kreatifitas yang muncul dari kesadaran ruang masyarakat desa tersebut. Kedua, adannya kemandirian mulai dari kecakapan untuk mengonsep, memproduksi, hingga dapat menjual sebagai bahan penghidupan. Sehingga bisa dikatakan mereka tidak lagi tergantung dengan pasar karena sudah menguasai dari hulu sampai hilirnya. Ketiga ternyata dolanan anak bisa berangkat dari kesadaran ruh geografis, hal ini misalnya tercermin dari permainan yang khas muncul di daerah Tandes seperti mainan kitiran yang secara bentuk dan desainnya bisa menyesuaikan karakter angin tanpa bantuan angin sekalipun. Dan yang keempat ternyata permainan tradisi itu merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan majemuk anak.

Selain itu permainan tradisi sendiri selalu dicirikan oleh empat hal, pertama (1) wicara (berbicara), karena hampir dipastikan semua permainan tradisi selalu berhubungan dengan suara, dialog, hingga ungkapan-ungkapan seperti yang terekam dalam beberapa tembang dolanan anak. Hal itu ternyata dapat meningkatkan artikulasi bahasa seorang anak sebagai bentuk lain dari proses internalisasi nilai-nilai tanpa merasa digurui tapi malah digembirakan. Kemudian (2) wiraga (gerak/olah raga), seperti dolanan anak dakon, sepak sekong, grobak sodor, jelongan, dll., selalu berhubungan dengan olah tubuh yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan motorik dan tentu kesehatan tubuh seorang anak. Kemudian ada (3) wirama (irama), dalam permainan anak irama itu bisa terjadi jika diantara anak bisa saling bekerja sama. Hal ini berkaitan dengan kerja psikomotorik seorang anak dalam membangun keharmonisan dengan teman lainnya. Dan yang terakhir adalah (4) wirasa hal yang berkaitan dengan batiniah yang di dalamnya menyimpan sistem etik dan nilai-nilai yang disisipkan dalam sebuah permainan. Wirasa sendiri sarat nilai transendensi sebuah proses olah rasa untuk menghaluskan budi pekerti dan menanamkan sikap arif pada seorang anak.

Begitu komperhensifnya, Wahyudi menyimpulkan dolanan anak itu mengandung tiga unsur dasar yaitu rekreatif sebagai medium hiburan bagi anak, atau medium edukatif bagi pembelajaran dan keteladanan seorang anak. Dan yang ketiga, juga reflektif, berupa penghayatan atas nilai-nilai yang selalu diselaraskan dengan lingkungan sekitar dan keagamaan.

Menjadi Kepala Desa

Setelah sekian tahun menggunakan jalur kultural untuk merekayasa sosial melalui dolanan anak, ternyata apa yang dilakukan Wahyudi tidak begitu berdampak signifikan untuk mempengaruhi masyarakat luas. Ia menyatakan, paling hanya tiga RT dari tempat sanggar Pojok Budaya berdiri yang menerima gagasan hasil rumusannya dan teman-temannya.

Walaupun begitu ia tidak patah arang, untuk menuangkan niat tulusnya untuk kebermanfaatan yang lebih luas. Sehingga pada tahun 2012, ketika ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dalam konteks politik kekuasaan dengan mencalonkan diri sebagai kepala desa Pagungharjo yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Bahkan jika ia coba mengingat, secara pribadi dirinya sejak mulai remaja sudah tidak lagi percaya dengan adanya institusi Negara sebagai bagian dari masyarakat. Hal itu diungkapkan dari sikapnya yang mulai remaja hingga sampai menjelang pencalonan dirinya sebagai kepala desa tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan membayar pajak.

Aku iki yo mas kawit enom ra pernah, duwe KTP. Lagi arep nyalon lurah tinggal beberapa hari, baru membuat KTP.,” tutur Wahyudi dengan gelak tawa.

Aku iki yo mas kawit enom ra pernah, duwe KTP. Lagi arep nyalon lurah tinggal beberapa hari, baru membuat KTP.,” tutur Wahyudi dengan gelak tawa.

Tidak hanya itu, penolakan atas sistem birokrasi dan pemerintahan pernah ditunjukkan Wahyudi dengan sikapnya sejak SMA yang selalu menginjak rapor hasil sekolahnya, walaupun pada waktu itu ia terhitung cukup berprestasi. Hal itu menunjukan sikap geramnya terhadap birokrasi pemerintahan termasuk sistem sekolah.

Tetapi seiring berjalanya waktu entah kenapa, dirinya sekarang malah diarahkan untuk menjadi tangan panjang dari negara dengan menjadi orang nomer satu di Desa Pangungharjo seperti sekarang ini. Sungguh dirinya sendiri tidak pernah menyangka. Tetapi mungkin hal tersebut sudah ditakdirkan Tuhan pada dirinya.

Sebegai kepala desa Wahyudi pun sebenarnya tidak banyak berubah secara visi, keberpihakan, dan orientasi perjuanganya. Seperti telah disingung di atas, bahwa keterlibatan dirinya ke dalam sistem pemerintahan, lagi-lagi ia tetapkan sebagai bentuk upaya untuk merekayasa sosial. Ternyata hasilnya lebih cepat dari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Karena pendekatan struktural menurut Wahyudi mempunyai otoritas, ada penetapan kebijakan, regulasi, yang dapat memaksa orang untuk berubah. Ia sendiripun berusaha memutarbalikan logika birokrasi yang sudah ada sehingga progam-progam yang ia canangkan bisa dijalankan.

Hal tersebut tercermin dari progam yang sifatnya hampir semua humanis dan inklusif untuk melindungi kaum lemah yang ada di desanya. Seperti misalnya progam perlindungan kesehatan bagi warga desa.

“Jadi kita ingin menjamin kesehatan dan kecukupan gizi bagi warga desa dengan adanya petugas kesehatan di bawah struktur desa. Dengan upaya ini, diharapkan warga desa mempunyai akses kesehatan yang murah dan layak. Dan progam inipun sebenarnya jauh sebelum progam yang dicanangkan pemerintah pusat karena kita memulainya sejak tahun 2013,” ungkap Wahyudi.

Tidak hanya itu, Wahyudi sejak tahun 2019 juga mengeluarkan progam Peningkatan Nafsu Makan yang diperuntukan bagi para lansia. Jadi setiap jam 11 siang dengan jam 4 sore, para petugas desa memberikan makan geratis bagi para lansia yang ada di desa Pagungharjo selama setahun penuh tanpa ada libur kecuali dua hari lebaran.

Masih banyak sebenarnya progam-progam yang mempunyai keberpihakan yang jelas bagi masyarakat yang rentan. Misalnya perlindungan bagi ibu hamil, biaya dari persalinan sampai imunisasi disediakan oleh pemerintah desa. Dalam bidang pendidikan, Wahyudi juga mencanangkan progam satu rumah satu sarjana, ada auransi pendidikan, dan biasiswa pendidikan. Dibidang perumahan desa Pagungharjo juga memiliki progam Rumah Sehat Sewa Sederhana, yang diperuntukan bagi masyarakat yang tidak memiliki rumah.

Menurut penuturan Wahyudi semua progam yang dicanangkan di atas, sebenarnya berasal dari pertanyaan kapan kita diurusi oleh negara? Hal ini berangkat dari perasaan dan pengalaman dirinya sendiri, yang merasa selama ini negara tidak pernah hadir bagi masyarakat. Dari sanalah, Wahyudi sekarang sebagai tangan panjang negara berupaya menjadikan negara dalam hal ini, “desa” benar-benar memberikan kebermanfaatan bagi masyarakatnya.

Dari sanalah, Wahyudi sekarang sebagai tangan panjang negara berupaya menjadikan negara dalam hal ini, “desa” benar-benar memberikan kebermanfaatan bagi masyarakatnya.

Jika ditanya kenapa Wahyudi mengeluarkan progam-progam semacam itu, bahkan sampai mencurahkan tenaga dan pikiraanya untuk kesejahtraan masyarakatnya. Karena bagi Wahyudi ketika ia sudah mengangkat sumpah di atas nama agama dan negara, itu artinya pertagung jawabannya tidak hanya pada masyarakat saja tetapi juga pada Tuhan. Dalam hal ini, Wahyudi selalu mengibaratkan ketika ia sudah mengucap sumpah ia seperti berada dalam tiang gantungan, dan hal itulah yang dipeganginya sampai hari ini. Bahkan saat memasuki periode kedua, setalah ia di periode pertama selesai ia merasa lega karena sudah melepas tali gantungan dari lehernya. Namun ternyata hal itu tidak bertahan lama, setelah dipriode kedua sebenarnya ia sudah tidak ingin mencalonkan lagi menjadi kepala desa, ternyata masyarakat masih ingin ia menjadi kepala desa lagi karena tidak ada calon lain yang ingin mendaftar. Mulai detik itulah tidak ada pilihan lain bagi Wahyudi, yang akhirnya memasang tiang gantungan di lehernya kembali untuk menjadi kepala desa untuk kedua kali atas dorongan kuat masyarakat yang memintanya.

Kongres Kebudayaan Desa

Baru-baru ini Wahyudi sebagai salah satu kepala desa terbaik se-Indonesia yang cukup mempunyai wawasan nasional hingga global, juga turut serta dalam merespon kondisi sosial masyarakat yang sedang dilanda bencana gelobal Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Dengan tim yang dibentuknya ia mengadakan Kongres Kebudayaan Desa yang pertama kali dilakukan secara nasional dengan seri webinar mengundang para pakar, peneliti, pemangku kebijakan, masyarakat adat, untuk merumuskan sebuah tatanan baru dalam menyongsong era baru setalah pandemi tiada.

Dalam hal ini ia menyatakan bahwa di tengah kondisi seperti ini, konstruksi sosial kita banyak yang berubah, bahkan jaringan kapitalisme global banyak tumbang berjatuhan sedangkan sosialisme juga banyak yang tiarap entah kemana, sedangkan radikalisme dan fundamentalisme agama juga banyak disibukan dengan masalah internal mereka sendiri. Di tengah kondisi seperti itu, ternyata yang paling tangguh bertahan menghadapi ketidakmenentuan tersebut adalah komunitas masyarakat yang bernama desa. Dari hal itulah sebenarnya acara Kongres Kebudayaan Desa, dengan segenap potensinya bisa menjadi jawaban atas kondisi ketidakmenentuan seperti hari ini.

Di tengah kondisi seperti itu, ternyata yang paling tangguh bertahan menghadapi ketidakmenentuan tersebut adalah komunitas masyarakat yang bernama desa. Dari hal itulah sebenarnya acara Kongres Kebudayaan Desa, dengan segenap potensinya bisa menjadi jawaban atas kondisi ketidakmenentuan seperti hari ini.

Wahyudi sendiri dengan tegas menyatakan, kenapa desa menjadi jawaban atas persoalan bangsa kita hari ini, karena di dalam desa itu sendiri terdapat tiga komoditas strategis yang tidak dimiliki oleh penduduk yang tinggal di kota. Petama desa memiliki udara yang bersih, hal ini nampaknya tidak dimiliki masyarakat kota, dimana mereka hanya untuk menikmati udara yang bersih harus pergi ke gunung, pantai, sawah, yang di situ membutuhkan transportasi dan pembiayaan yang tidak murah. Kedua desa memiliki air bersih, kita lihat hari ini banyak orang kota sekarang hanya untuk meminum air, ia mesti membeli, bahkan di kota sekarang terancam kehabisan air karna distribusi air-nya yang tidak merata. Dan yang ketiga desa memiliki pangan yang sehat. Tiga komoditas mulai dari air, udara, dan pangan itu sendiri sekarang menjadi rebutan dari perusahaan Multinational Corporation, sehingga perang kedepan itu jika kita sadar tidak lagi merebutkan sumber daya mineral lagi, tetapi tiga komoditas itulah yang akan menjadi rebutan, dan desa memiliki itu semua.

Selain itu, menurut Wahyudi sebenarnya desa menarik tidak hanya karna komoditas di atas saja. Mengutip Roem Topatimasang bahwa desa itu sendiri tidak hanya terdiri dari hardwere yang meliputi bentang hidup yang bersifat georafis, tetapi juga socialwere yang meliputi budaya, tradisi masyarakat, dan nilai-nilai yang mengatur relasi manusia dengan lingkungan alam sekitar, dan lebih jauh lagi relasi manusia dengan Tuhanya. Bagi Wahyudi sendiri, melalui Kongres Kebudayaan Desa inilah sebenarnya dapat menjadi moment yang tepat untuk merekonstruksi ulang desa sebagai jawaban atas krisis yang kita alami saat ini.

Tidak hanya itu adanya Kongres Kebudayaan Desa itu sendiri merupakan salah satu narasi “perlawanan” atas negara. Ketika dalam hal ini negara dipaksa oleh desa untuk melegitimasi rumusan hasil konkres untuk menjadi rujukan kemudian dijadikan panduan pembangunan bagi desa-desa di seluruh Indonesia nantinya. Hal ini ditunjukan dengan melibatkan presiden RI sebagai simbol kepala negara untuk mendeklarasikan hasil rumusan dari Kongres Kebudayaan Desa tersebut.

***

Begitu panjang cerita menarik dari Wahyudi Anggoro. Tidak terasa hidangan teh hanget yang disuguhkan sudah habis. keasikan ngobrol yang hampir setiap kalimatnya bagi saya cukup penting untuk saya catat, membuat saya tak sadar kalau malam semakin larut. Ulasannya yang runut dan sistematis menjadikan saya lebih paham bahwa hasil dari proses Wahyudi Anggoro saat ini, tidak berangkat dari ruang kosong yang ujug-ujug tapi melalui jalan yang berliku, mungkin juga terbentur sehingga membuat integritasnya terbentuk.

Komitmen yang kuat untuk memberi dampak pada perubahan masyarakatnya cukup membuat saya tersentak bahwa sebenar-benarnya kebahagian adalah memberi kemanfataan bagi orang yang membutuhkan. Dari sana juga akhirnya membuat saya tersadar bahwa pemahaman atas kompleksitas persoalan yang begitu dinamis di tengah masyarakat menjadi salah satu hal yang mendasar ketika kita sudah menetapkan diri untuk bergerak di tengah masyarakat. Tidak mudah tentu. Tetapi niat tulus Wahyudi untuk memberi secercah harapan dan kebahagiaan pada yang liyan adalah sebuah upaya menjaga marwah kemanusiaan sebagai makhluk Tuhan. Adalah keteladanan yang dapat kita upayakan dari diri kita semua. Semoga.

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96