Centhini, Islam, dan Jawa | Wawancara Dengan Elizabeth D Inandiak

Perkenalan saya dengan bu Elizabeth D Inandiak, begitu saya ingin memanggilnya, awalnya hanya melalui buku-buku yang ia tuliskan. Buku “Centhini, Kekasih Yang Tersembunyi” (Gramedia: 2015) bisa jadi salah satu karya yang pernah saya baca. Mengenai buku tersebut, awalnya saya agak menaruh penilaian negatif karena dalam pemahaman saya Serat Centhini mestinya tidak harus dilihat sebagaimana bu Elizabeth gambarkan. Dalam pemahaman saya saat itu, Ia membingkai Serat Centhini dengan penuh muatan erotismenya. Bahkan beberapa kali ketika saya membaca beberapa review dari buku tersebut, aspek erotismenyalah yang selalu menjadi sorotan utama. Tetapi saya kemudian menyadari, bahwa penilaian tersebut mungkin terlalu dini untuk buku yang saya baca tidak tekun tersebut.

Dari rekam jejak yang selalu menimbulkan tanya dalam diri saya itulah, tidak tahu kenapa, beberapa waktu lalu saya diajak oleh teman saya untuk berkunjung ke rumah bu Elizabert. Sebuah tawaran yang menarik dalam bayangan saya saat itu. Suatu kesempatan yang mungkin saya tunggu-tunggu untuk bertanya secara langsung kepada sastrawan kelahiran Prancis itu.

Dengan lantaran teman saya tersebut, di suatu senja yang tertutup kabut mendung dengan rintik hujan yang nampak tak mau hilang, saya dengan beberapa teman berangkat ke rumah bu Elizabeth di daerah Mlati, Sleman.

Sore itu kami bergegas ke rumahnya. Kami berangkat dengan iringan hujan yang tidak kunjung reda. Walaupun begitu, kami memutuskan tetap berangkat dengan semangat untuk mencari tahu lebih lanjut terkait karya-karya dan pandangannya.

Sesampainya di sana, dari sudut parkiran rumahnya, bu Elizabeth terlihat menghadap laptop dengan tenang di teras pendopo rumah. Melihat kedatangan kami, ia bergegas menghampiri, dan dengan ramah ia menyapa kami.

“Waduh kalian kehujanan ya,” sapa bu Elizabeth kepada kami.

“Oh iya bu, tidak papa. Kan baru hujan air, belum hujan kenangan. Dan Itu belum seberapa bagi kami,” jawab dari salah satu teman saya dengan nada basa-basinya.

Kami kemudian dipersilahkan untuk duduk di bangku yang terlihat nyaman di teras rumah pendapa yang sepi dengan suara-suara hewan dari sawah yang membentang. Dari sana kami kemudian ditawari pilihan minuman antara teh dan kopi. Saya sendiri meminta kopi, sekadar menghangatkan badan yang kedinginan dari perjalanan. Setelah minuman dihidangkan, saya  kemudian meminta izin memulai perbincangan dengan beberapa pertanyaan yang telah saya siapkan.

Sebelum jauh menyuguhkan hasil wawancara yang saya lakukan di kediaman rumahnya, saya ingin memberi gambaran sedikit siapa Elizabeth D. Inandiak. Ia merupakan seorang Jurnalis dan sastrawan dari Prancis yang hampir seperempat hidupnya dihabiskan untuk mengkaji kebudayaan Nusantara, terutama terkait kesusateraan Jawa dan khususnya Serat Centhini yang sangat ia cintai. Salah satu karya menumentalnya adalah hasil terjemahan Serat Centini dalam bahasa Prancis dengan judul “Les Chants de l’île à dormir debout – Le Livre de Centhini” (terbit 2002). Karya ini berhasil menjadikan dirinya sebagai penerima Prix littéraire de l’Asie (Penghargaan Sastra Asia) pada tahun 2003 oleh Perhimpunan Sastrawan Berbahasa Prancis. Namanya mulai dikenal luas oleh publik Indonesia setelah ia menuliskan gubahan novel berbahasa Indonesia berjudul, “Centhini, Kekasih Yang Tersembunyi” (GalangPress: 2004). Sebuah hasil gubahan ulang Serat Centhini yang dikarang pujangga Jawa pada awal abad ke 19. Dari sana ia sering dimintai menjadi narasumber terkait Serat Centhini yang masyhur di pulau Jawa ini.

Berikut adalah hasil wawancara kami Redaksi Langgar.co di kediaman Elizabeth D Inandiak pada Minggu 10 Januari 2021.

Bisa Anda ceritakan kisah awal anda bertemu dengan pulau Jawa?

Perkenalan saya dengan Jawa, lebih jauh dengan Indonesia, awalnya (adalah) sejak saya masih berumur 18 tahun. Kebetulan saat itu saya bekerja sebagai jurnalis di salah satu media di Prancis, yakni sebuah majalah layaknya majalah Rolling Stones yang fokusnya di musik. Tapi media saya itu lebih fokus pada masalah budaya dan lifestyle masyarakat di beberapa negara. Saat itu saya memang sudah keliling beberapa negara karena tuntutan pekerjaan. Kebetulan saya juga ditugasi membuat liputan investigasi untuk mengetahui lebih jauh Islam dan Kejawaan (Kejawen).

Saat pertama kali saya ditugaskan untuk meliput ke Indonesia, dalam fikiran saya itu aneh sekali, media yang jauh ada di Prancis membicarakan Islam dan Kejawaan, apa maksudnya. Bahkan dalam pandangan saya sebelumnya Indonesia itu sendiri tidak ada dalam peta bayangan saya. Yang saya tahu daerah Asia hanyalah Jepang, Cina, dan nama Indonesia bagi saya saat itu memang suatu wilayah yang baru dan tidak terbayangkan.

Akhirnya saya datang ke Indoensia pada tahun 1989. Saya masih ingat betul (yakni) di bulan Desember. Dan waktu itu orang pertama yang saya temui adalah D.R. HM. Rasjidi yang dulu pernah menjadi menteri agama yang pertama. Bagi saya HM. Rasjidi waktu itu sangat menarik sekali, beliau sepertinya orang yang anti Kejawen, tetapi tidak tahu kenapa ia terus saja meneliti terkait Kejawen itu sendiri. Dari pertemuan itu akhirnya saya diberi buku terkait Gatholoco yang membuat kepala saya pusing karena tidak paham.

Orang kedua yang saya temui saat itu adalah Gus Dur, waktu itu beliau masih menjadi Ketua PBNU. Pertemuan saya dengan Gus Dur semakin membuat saya bingung, Gus Dur cerita banyak hal terkait Islam dan Kejawen yang bagi saya saat itu aneh sekali. Karena waktu itu saya benar-benar tidak tahu terkait Islam dan Jawa itu sendiri. Akhirnya perjalanan itu membawa saya ke Kota Yogyakarta. Di kota inilah saya menemui banyak orang hingga setelah liputan itu selesai saya kembali lagi ke Prancis.

Waktu saya kembali lagi ke Prancis saya membayangkan saya sudah berada di dunia yang berbeda yang susah saya jelaskan. Rasanya seperti magic, dan saya seperti tidak bisa lepas. Hingga akhirnya saya harus balik ke Indonesia lagi, untuk mengerti kenapa saya tidak bisa lepas dari negeri ini. Saya seperti merasakan saya seperti dicintai/dikasihi di sini (Jawa). Tapi saya tidak mengerti dicintai oleh siapa.

Dari sana akhirnya saya mesti kembali dan terus kembali lagi di sini, hingga pada suatu ketika saya harus menikah dengan orang Jawa hingga mempunyai satu anak, walaupun akhirnya pernikahan itu tidak bisa dipertahankan sampai lama. Tetapi karena mempunyai anak saya menjadi sering di Indonesia.

Saya masih ingat betul, ketika saya mendapatkan buku Denys Lombard, tepat pada tahun dimana saya melahirkan anak saya pada tahun 1991. Buku itu sebenarnya berisi hanya dua halaman terkait Serat Centhini. Namun setelah membaca bagian itu, saya seperti ketemu dengan jodoh saya yang sebelumnya membuat saya gelisah.

Dari situlah saya mulai melakukan penelitian terkait Serat Centhini. Ketemulah saya dengan karya disertasi H.M. Rasjidi di Sorbonne University dalam bahasa Prancis yang bagi saya sangat menarik. Waktu pertama kali saya menemukan disertasi tersebut di sebuah perpustakaan di Prancis, karya akademik ini hampir tidak tersentuh oleh siapapun. Saya masih ingat disertasi itu berada gedung perpustakaan bagian bawah sehingga mengharuskan saya turun ke bawah. Dan akhirnya saya bisa menemukannya pada tumpukan yang rapat sehingga saat mengambilnya harus memakai pisau karena halamannya yang lengket dan juga sangat berdebu.

Bagi saya disertasi itu sangatlah penting dan bersejarah, karena dalam karyanya tersebut Rasjidi berusaha menjelaskan bahwa ia sebenarnya tidak anti Kejawen tapi ia hanya menekankan jangan campur antara Islam dan Kejawen itu sendiri. Rasjidi juga mengatakan bahwa Serat Centhini juga harus dipahami sebagai karya sastra. Dan Rasjidi menulis itu semua dengan sangat cermat dan teliti.

Kenapa pulau Jawa spesial di mata Anda?

Ya itu yang selalu saya bilang, bahwa bukan saya yang memilih Jawa tapi Jawa seperti memilih saya. Karena saya sebelumnya tidak pernah bayangkan berada di pulau ini. Bahkan seperti yang saya sampaikan, Jawa sebelumnya tidak pernah ada sekalipun ada di peta imajinasi saya. Saya juga heran saat itu. Apa lagi waktu itu saya masih menganggap Jawa masih sangat rumit, padat penduduk, dan merupakan kebudayaan baru yang bagi saya sangatlah kompleks sekali.

Namun jika dikatakan turning point, nampaknya tidak ada hal itu. Lama kelamaan setelah biasa ke sini (Jawa), saya merasa ada dorongan kuat untuk terus berada di sini. Jika dikatakan saya jatuh cinta dengan seseorang laki-laki Jawa, ya saya menikah. Toh akhirnya juga tidak bertahan lama dan saya masih tetap berada di sini. Artinya bukan hal itu yang membuat saya bertahan dan jatuh cinta di sini. Sesuatu yang mistik dan spirituil yang susah saya jelaskan.

Saat berada di Jawa dan menekuni kebudayaan Jawa terutama naskah kuna Jawa, apa yang ibu bayangkan saat itu?

Harus saya akui saya bukan seperti Nancy Florida, seorang ilmuan yang berangkat dari dunia akademik untuk mendalami naskah-naskah Jawa. Tapi saya berangkat sebagai seorang penyair sama halnya dengan penyair Centhini yang juga bukan seorang akademik. Saya merasa satu suku dengan mereka. Dari situ saya bisa menulis kembali Serat Centhini. Kalau ada orang mau melihat Centhini dari perpestif akademik, silakan. Tetapi karena saya pikir yang menuliskan Centhini bukan orang akademik tetapi mereka seorang penyair. Mereka, pengarang Centhini, memang mengumpulkan banyak informasi tetapi mereka menuliskannya dengan kebebasan. Dan saya sendiri akhirnya juga menemukan kembali kebebasan itu. Awalnya saya memang merasa sangat kuatir karena saya bukan ahli bahasa dan kebudayaan Jawa, dan saya juga bukan orang yang tumbuh di pulau Jawa. Mungkin karena itu juga justru saya merasa berhasil, karena setelah saya memahami diri saya sendiri, saya pada dasarnya adalah seorang penyair. Dari hal itu sebagai sesama seorang penyair, saya merasa kami satu suku. Hal ini bukan masalah saya dari kebudayaan lain, seperti halnya pemusik ketika bertemu dengan pemusik lainnya dari manapun itu mereka bisa saling tersambung. Hal ini berkait erat dengan sifat universalitas karya sastra Centhini itu sendiri. Dari hal itulah saya masuk ke dalam Serat Centhini. Dan dengan Serat Centhini lah satu-satunya persentuhan saya dengan peninggalan sastra Jawa yang ratusan ribu jumlahnya itu.

Kenapa Centhini begitu menarik perhatian Anda?

Dari ringkasan singkat Denys Lombard yang sebenarnya tidak terlalu dalam, saya merasa itu jodoh ya. Dari sana saya merasa Centhini merupakan karya yang luar biasa, apalagi saat itu Serat Centhini belum sama sekali diterjemahkan dalam bahasa manapun. Waktu itu seingat saya hanya Balai Pustaka yang berusaha menerjemahkan. Itupun hanya dalam dua jilid karena para penerjemah pada saat itu meninggal semua. Sehingga dilanjutkan oleh UGM yang dipimpin oleh pak Marsono setelah beberapa tahun lama. Selain itu motif lainnya adalah saya merasa bertagung jawab sebagai sama-sama seorang penyair. Ada karya yang luar biasa tapi belum diterjemahkan. Meskipun pada akhirnya dalam karya saya bukan hanya terjemahannya saja, tetapi sebuah karya kreasi baru. Awalnya saya pikir perlu menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi setelah saya fikir ulang, nampaknya hal itu tidak mungkin saya lakukan. Iya mungkin, tetapi itu bukan tugas saya, karena menurut saya itu tugas para akademisi bukan tugas penyair.

Sejak bertemu pertama kali dengan Serat Centhini, saya memang dituntut untuk membaca karya-karya lainnya. Karena naskah Centhini memuat banyak hal termasuk banyak dari naskah-naskah lainnya. Dalam serat ini juga terdapat banyak karya tasawuf dari Timur Tengah, dari situ saya dituntut untuk banyak menggali ajaran-ajaran tasawuf Islam. Untungnya waktu saya masih di Prancis saya banyak menemukan para tokoh-tokoh ahli pemikir tasawuf Islam dari Perancis. Misalnya seperti empat jilid buku yang saya miliki di sini terkait “Hukuman Al Hallaj” yang dikarang oleh Masignoun yang sangat membantu saya untuk mengetahui konsep-konsep tasawuf yang ada dalam Serat Centini seperti halnya saat Amongraga di hukum ulama Sultan Agung. Saya banyak menggunakan kata-kata Masignoun yang kebetulan pas dan sesuai dengan intuisi saya saat itu. Banyak hal-hal seperti itu yang kemudian membantu saya untuk menuliskan Centhini. Selain itu selama saya menuliskan Centhini, saya juga sempat masuk tariqah Qadiriah di sebuah desa kecil di Yogyakarta. Makanya bagian tentang zikir yang ada di dalam Centhini saya tahu, karena saya mengalaminya secara langsung.

Di dalam karya Centhini juga menceritakan banyak hal seperti nilai-nilai moral maupun catatan terkait budaya masyarakat Jawa. Kalau menurut anda apa yang paling menarik dari semua itu?

Kalau menurut saya alur cerita, karena menurut penuturan beberapa orang yang saya temui dulu, Serat Centhini ditembangkan/dinyanyikan dan biasanya memang diiringi dengan beberapa alat musik seperti langgam macapat. Tetapi biasanya tidak dibaca secara utuh karena saat mereka membacanya disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Misalnya malam ini ia membaca terkait salah satu bab yang mereka butuhkan.

Ketika saya harus terjun pertama kali untuk menerjemahkan Centhini secara harfiah, saya melihat Centhini memliki alur cerita yang sempurna. Dan saya merasa apa yang diceritakan dalam Centhini tidak dibuat-buat, sehingga saya sangat menyakini bahwa itu semua berhubungan dengan terbentuknya kosmos ini. Hal ini seperti yang dilakukan banyak sastrawan besar di belahan dunia manapun: bahwa setiap proses kreatif selalu berkait erat dengan sesuatu yang benar-benar ada, kemudian diolah dengan kreatifitas. Dan setiap zaman, proses seperti itu selalu di-update dan saya yakin juga seperti itu. Maka dari itu Centhini bisa menjadi karya yang universal walaupun khas Jawa. Saya merasa dalam Serat Centhini seperti ada ajaran yang disembunyikan dan kemudian dimunculkan lagi dalam serat tersebut dalam bentuk teks setelah beberapa abad. Dan saya menyakini di situlah ada kekuatan yang luar biasa.

Dalam Serat Centhini terdapat nilai-nilai ajaran tasawuf Islam bagaimana anda melihat hal tersebut?

Iya ini menarik. Banyak orang menilai bahwa Centhini ini Kejawen padahal tidak. Serat Centhini dalam hal ini sangat Islami. Kejawen ada, tetapi tidak dominan. Jika dilihat pada sosok Amongraga jelas menceriminkan nilai-nilai ke-Islaman. Bisa jadi Centhini memang ditujukan untuk merekam kondisi keberislaman masyarakat Jawa saat itu, meski saya tidak terlalu otoritatif untuk membicarakan hal ini. Karena Centhini ditulis di abad ke-19, walaupun di dalamnya menceritakan peristiwa dua abad sebelumnya. Namun saya sendiri menyakini bahwa apa yang ada dalam Serat Centhini merupakan apa yang terjadi di abad ke-19 dan ia dikarang untuk konteks masyarakat Jawa pada saat itu.

ya ini menarik. Banyak orang menilai bahwa Centhini ini Kejawen padahal tidak. Serat Centhini dalam hal ini sangat Islami. Kejawen ada, tetapi tidak dominan. Jika dilihat pada sosok Amongraga jelas menceriminkan nilai-nilai ke-Islaman.

Elizaberh D Inandiak

Tetapi yang menarik lagi dalam Serat Centhini sama sekali tidak merekam keberadaan orang Belanda dalam naskah tersebut. Padahal dalam naskah itu jelas menggambarkan realitas Jawa. Hal ini menurut saya sangat menarik dimana keberadaan penjajah seperti tidak dianggap di pulau Jawa. Pada saat itu kita bisa bayangkan orang Belanda sudah masuk sejak dua abad sebelumnya. Apalagi di abad 19 sudah banyak orang Belanda berada di pulau Jawa. Hal ini bagi saya sangat cerdik dan bisa jadi sebagai perjuangan untuk tidak mengakui keberadaan penjajah. Jadi hal ini (merupakan) bentuk perlawanan kultural yang sangat luar biasa. Dan saya rasa ini disengaja, alias tidak kebetulan dilakukan oleh para pujangga Jawa.

Bagaimana anda melihat hubungan Serat Centhini dengan realitas keagamaan hari ini, khususnya muslim berbasis tradisi yang tercermin dalam Pesantren?

Saat saya menemui Gus Dur, ia menceritakan bahwa Serat Centhini dibacakan oleh para kiai di beberapa pesantren di Madura. Tapi apakah sekarang Serat Centhini dibacakan di pesantren-pesantren saya pikir sudah tidak. Padahal Amongraga dalam pengantar, jelas berkeliling pesantren dan sempat mondok di beberapa tempat. Tetapi memang ada keterputusan antara tradisi keraton dan pesantren itu sendiri.

Tetapi saya memahami naskah Centhini bukan naskah agama, dan pengarangnya bukanlah tokoh agama. Meraka adalah penyair. 

Dalam Serat Centhini selama ini dipandang sebagai salah satu ekspresi erotisme masyarakat Jawa dan banyak orang lebih banyak menyoroti hal itu. Bagaimana Anda melihat hal tersebut?

Ya aspek itu memang ada tetapi saya bisa katakan bahwa aspek erotisme dalam Serat Centhini paling tidak lebih dari 20 persen. Tetapi bagaimanapun seksualitas itu sendiri merupakan bagian dari realitas keseharian kita yang tidak bisa kita hindari.. Ia tidak berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi tetapi dalam hal ini bukan berarti mendukung hal tersebut. Hal ini sebenarnya tergantung dari sudut pandang kita melihat dari mana. Jika kita melihat dengan mata kotor mungkin aspek seksualitasnya yang lebih menonjol. Memang dalam Serat Centhini ada adegan-adegan percintaan, tetapi selalu itu sangat jujur dan tidak ada orang yang dipaksa. Semuanya sangat natural. Jadi saya fikir hal itu bukan pornografi dimana kita melihat dengan maksud penuh nafsu kotor. Ya tetapi itu situasi orang bercinta yang terjadi sangat natural dan biasa aja. Jika saya mengibaratkan, apakah ketika kita menulis orang yang sedang ke toilet, apakah hal itu perlu kita sembunyikan, itukan hal yang sangat biasa dalam keseharian kita.

Ya aspek itu memang ada tetapi saya bisa katakan bahwa aspek erotisme dalam Serat Centhini paling tidak lebih dari 20 persen. Tetapi bagaimanapun seksualitas itu sendiri merupakan bagian dari realitas keseharian kita yang tidak bisa kita hindari.

Elizaberh D Inandiak

Jadi memang Serat Centhini bukan dimaksudkan untuk menarasikan seksualitas, tetapi ia hanya menggambarkan realitas. Jadi kamu pilih saja, kamu bisa mendapatkan nilai-nilai dalam Serat Centhini, seperti melihat seksualitas seperti binatang penuh nafsu birahi, silakan. Tetapi ada juga hubungan seksualitas yang jauh lebih indah seperti adegan antara Amongraga dan Tambangraras dimana hubungan seksualitas mereka bisa menjadi suatu yang ilahi. Jadi ini semua adalah proses dalam Serat Centhini, dan tinggal kita mau mengambil bagian yang mana. Dan Jangan dikeluarkan konteks keutuhan Serat Centhini itu sendiri. Karena jika dikeluarkan kita hanya mendapatkan potongan-potongan sehingga mempersempit Serat Centhini menjadi satu bagian yang tidak utuh. Misalnya bagian pornografi yang banyak disalahpahami para pembaca.

Jika ditarik dalam konteks hari ini, apa yang bisa diambil anak muda dari Serat Centhini?

Saya fikir kita bisa ambil bagian yang menarik dari tokoh Cebolang, yang dulu saya pentaskan dengan Slamet Gundono, dimana ia sangat berani untuk mementaskannya di pesantren-pesantren dengan wayang kondomnya. Karena Cebolang adalah seorang remaja yang bisa dikatakan “nakal”, tetapi dia sedang mencari jati dirinya. Hal tersebut saya pikir sangat penting dilakukan oleh seorang remaja. Selain itu jika hal tersebut kita hindari, bisa jadi fase krisisnya bisa meletus di umur dewasa. Jadi memang masa remaja itu menurut saya fase penting untuk mengeksplorasi semua kemungkinan dalam kehidupan, tetapi juga harus tetap ada batas jangan sampai membahayakan dirinya, terutama orang lainnya.  

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96