Apa Kabar Hari Esok? Puisi-Puisi Sandi Firly
Ada yang Melempar Dadu ke Udara Bertuba Ada yang melempar dadu ke udara bertuba sebagian diam, tak jua bertepuk tangan sebagian lainnya dibalut kecemasan dan...
Ada yang Melempar Dadu ke Udara Bertuba
Ada yang melempar dadu ke udara bertuba
sebagian diam, tak jua bertepuk tangan
sebagian lainnya dibalut kecemasan dan kesangsian
takdir adalah relung rahasia
keberuntungan dan kemalangan tak bisa dibaca
tidak juga pada tangan-tangan kekuasaan
yang bersembunyi di bilik-bilik kegelapan
orang-orang menyalakan doa di rumah yang tertidur
atau menghibur diri dengan kesia-siaan
berceloteh tentang hari buruk, hari baik
tanpa kepastian, juga harapan
televisi terus mengabarkan kematian
hanya angka, tak menyentuh jiwa
lalu seseorang berbicara, menujumkan petaka
dari bisikan yang tak bisa dipercaya
Keceriaan telah diringkus dari jalanan
sementara hidup harus terus diperjuangkan
hanya ada pilihan; menjadi pahlawan atau kesialan
telah tiba pada kita
tahun yang mencatatkan sejarah luka
seperti abad–abad lampau
menjadi kisah yang kekal
dan setelahnya
dunia takkan lagi sama
burung-burung tetap beterbangan
langit masih dengan misterinya
manusia
belajar lagi tentang sepi
dan tuhan, selalu
tak terjangkau dalam semayam
Ada yang melempar dadu ke udara bertuba
Entah apa
Maret 2020
Apa Kabar Hari Esok?
Seseorang mengaku telah bertemu dengan nasib
dalam rupa yang paling rahasia
pada suatu malam
Seorang lelaki tua
Lalu ia bertanya;
Apa kabar hari esok?
lelaki tua itu tak menyahut
terus berjalan menyeret jubah usangnya
yang seketika berkibar menutupi seluruh jagat raya
langit menjadi gelap dan menggetarkan
kini ia hanya melihat wajahnya sendiri
namun asing
Ia bertanya lagi;
Apa kabar hari esok?
Langit kian meninggi,
betapa jauhnya
dan tanya itu
mengawang
dalam kehampaan
Tak ada jawaban
Nasib telah berubah menjadi lelaki tua
berselimut kelam, dingin, dan mengancam
mengetuk pintu dari rumah ke rumah
tanpa suara tanpa peringatan
Esok,
matahari masih pucat
waktu kehilangan detak
September 2020
Kenang
Rindumu menyerpih ingin
ngilu desir angin datang
dalam hujan dan dingin memagut akan
bersendirian kau terpejam
bintang timur masih berjaga jika
esok pagi kau berdiri dekat jendela
dan pada embun di kaca itu
seseorang menuliskan namamu
tapi tak terbaca
kau merasa hanya
ia mengenangmu
bila
Januari 2021
Kesepian, dan Tuhan yang Menunggu
Ada ruang kesepian di rongga jiwaku
hanya ada aku dan tuhan di sana
tapi tuhan terlalu pendiam dan membosankan
aku pun pergi ke kafe
ngopi dan merokok
terbahak bersama teman –teman
hingga lampu–lampu dipadamkan
dan musik dimatikan
teman–temanku berlalu
aku pun pulang
kembali ke ruang kesepian
dan ternyata tuhan masih ada di situ
menunggu
Mei, 2021
Jejak Kecil Waktu di Keningmu
Aku melihat waktu di keningmu
yang selalu kukecup, ratusan atau mungkin ribuan kali
tanda aku berdamai dengannya
tak peduli nanti keningmu mengerut dan kering
aku akan terus meninggalkan jejak kecupku di sana
seperti bibir ombak kepada pantai yang tiada bosannya
Maret, 2021
Tak Ada Cinta di Sini
Jika yang kau cari cinta, ia sudah lama tiada
dicuri seorang perempuan di masa mudanya
yang tersisa hanya ingatan–ingatan; sajak norak dan lagu lama
Kau masih bisa duduk di sampingnya
barangkali kau bisa mengusir kabut sepi di matanya
Maret, 2021
Puisi Cinta Tanpa Hujan dan Senja
Aku ingin menulis puisi cinta untukmu, tanpa ada kata hujan dan senja.
Hanya cinta. Sebab cinta ini tak bisa diwakilkan oleh hujan dan senja
seperti puisi-puisi cinta penyair tua dan lainnya.
Cinta ini lebih dingin dari hujan, menusuk hingga ke tulang rusukku.
Lebih indah dan ngelangut dari senja, memukau hingga aku ingin terus terjaga.
Hanya rindu. Sebab rindu ini terus berdenyar, tak hanya kala hujan datang dan senja tiba.
Rindu ini lebih menggelisahkan dari mereka yang menunggu hujan reda.
Lebih takut kehilangan dari mereka yang tak ingin senja terbenam.
Padamu adalah cinta yang bara, rindu yang ngilu
—bagaimana mungkin hujan dan senja bisa mengartikan itu?
Februari, 2021