


Mesin, Agama, dan Maulid
Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, melainkan sebuah catatan pengalaman. Bicara pengalaman, tentu sangat subjektif. Sudut...

Membantah Pembacaan Sulak atas SGA
I Esai kritis A.S. Laksana—atau Sulak, “Hantu Pohon Seno Gumira dan Sastra yang Bersuara” di...

Wayang Menak: Upaya Manusia Sasak Menggali Hakikat Kediriannya
Jika ditanya, tradisi atau budaya apa yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atas jalannya suatu...

Tradisi Malamang: Antara Ritus Komunal dan Makna Sosial
Sejak tahun 2021, tradisi malamang yang dipraktikkan oleh masyarakat Minangkabau, khususnya wilayah Padang Pariaman, Sumatra...

Ambiguitas Tragedi dan Komedi dalam Ghost in the Cell
“The child is innocence and forgetfulness, a new beginning, a sport, a self-propelling wheel, a...

Para Perasuk dan Upaya Manusia Berebut Otoritas Gaib
Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja memberi pengalaman yang relatif baru bagi saya dalam menonton film...

Jogja Performa dalam Fenomena Kesenian di Kota Yogyakarta
Ketika hari libur nasional, jalanan kota Yogyakarta sering dilanda macet. Apalagi hari libur itu seturut...

Sunan Kalijaga: Jejak Material dan Makna Batin
Tulisan ini sebelumnya terbit di laman Facebook Mohammad Basyir pada 19 April 2026 dengan judul...

Di Batas Etika Priyayi
Kemunculan kembali Para Priyayi karya Umar Kayam dengan sampul baru1 membuat saya menyadari satu hal:...

Rakyat Bukan Bahan Baku Sastra
Ada satu pertanyaan yang sering alpa dalam diskusi sastra Indonesia mutakhir padahal bobot permasalahannya sangat...

