Skena Musik dan Skena Literasi dalam Satu Tarikan Nafas
Sebagai seorang mahasiswa sastra, bagi saya, musik dan sastra adalah dua dunia yang berbeda. Tak mudah untuk menemukan geng-geng nerd sastra. Berangkat dari pengalaman, orang-orang...
Sebagai seorang mahasiswa sastra, bagi saya, musik dan sastra adalah dua dunia yang berbeda. Tak mudah untuk menemukan geng-geng nerd sastra. Berangkat dari pengalaman, orang-orang itu condong asik dengan imajinasi bacaannya sambil mengurung diri di kosan. Sesekali bersajak atau mengulas bacaan di media sosial. Kalau pun mencuat di permukaan, mereka sudah mapan dengan circle-nya.
Sedang geng musik berbeda. Ia mudah ditemui di panggung konser yang megah. Tongkrongan anak-anak skena dengan kaos band-nya. Atau gigs-gigs bawah tanah di fakultas yang singkat karena terhalang jam malam kampus. Oleh sebab itu, secara tak sadar pengotomian sastra selaku budaya serius dan musik sebagai budaya pop terus berlangsung.
Sebenarnya, jika ditilik secara seksama pengotomian itu tak begitu kentara. Toh banyak musik yang telah menjadi pengiring pamflet-pamflet perlawanan, yang pamflet itu dibuat oleh kalangan pembaca (baca: aktivis itu seorang pembaca jadi masih dekat dengan dunia sastra). Live session di toko buku yang jamak terjadi beberapa waktu belakangan ini. Atau festival buku dengan bintang tamu musisi ternama.
Akan tetapi, hal itu belum bisa menjadi tolok ukur bahwa musik dan sastra saling berkelindan. Di ranah akademik, tak banyak mahasiswa sastra yang meneliti soal musik, kalau pun ada palingan ia masuk ke kategori linguistik. Tak banyak juga sastrawan atau budayawan yang membedah lagu selayaknya forum bedah buku pada umumnya.
Alhasil, dari pengalaman itu, tak ada ekspektasi berlebih ketika sebuah acara musik berkolaborasi dengan buku. Maka ketika gelaran semacam itu ada, niat untuk mengunjunginya semata-mata hanya untuk melihat musik dan pernak-perniknya. Dorongan semacam itulah yang mengiringi saya untuk datang ke Cherry District (27/2/2026) di Gelanggang Inovasi Kreativitas UGM.
Acara yang bertajuk Road To Cherry Pop 2026 itu bukanlah acara hingar-bingar musik seperti biasanya. Berbeda dengan layaknya gelaran Cherry Pop, tak ada panggung besar. Tak ada sound system yang megah. Memang Cherry District ini lebih menyerupai sebuah bazar yang memamerkan kaos-kaos band ternama. Compact Disk (CD) dan kaset pita terpampang rapi di rak-rak. Di langit-langit ruangan itu, terpasang artwork dengan warna yang beragam. Pernak-pernik musik dan seni yang bertebaran di sudut-sudut. Dan berjejer buku-buku digelar seluas-luasnya di tengah ruangan.
Meski hari-hari ini hujan tak kunjung terus terang. Awan mendung dan sesekali gerimis merintik membasah jalan. Bazar tetap ramai dengan pengunjung yang berlalu-lalang. Di sela-sela meja perbukuan dan kaos-kaos band bergelantungan, orang-orang melebur bersuka ria. Istilah kata tak ada lagi kutu buku yang nerdy atau mas mbak skena musik edgy. Semua berdiri dan datang di tempat yang sama, yakni Cherry District. Lantas apa sebenarnya acara ini sampai mampu meleburkan pecinta buku dan anak-anak skena musik?
Sebetulnya kolaborasi buku dan musik bukan hal baru bagi Cherry Pop. Dalam gelarannya, Cherry Pop memang selalu menampilkan aktivasi dan kolaborasi di ekosistem musik, mulai dari merchandise, brand, art, rekaman, dan semacam. Namun baru di tahun lalu kolaborasi dengan buku dibentuk, yang digawangi oleh Buku Akik. Masih lekat di ingatan ketika panggung musik megah berjejer saling sahut dengan alunan para musisi, berdiri satu stand khusus milik Buku Akik. Saya sempat heran juga saat beberapa konten kolaborasinya berisi pertanyaan buku favorit para musisi undangan Cherry Pop. Saya kira hal ini hanyalah gimmick sesaat yang nantinya pudar.
Asumsi itu tak ujug-ujug datang. Sejarah telah mencatat bagaimana pergulatan Remy Sylado dalam mengembangkan dan membesarkan Aktuil. Jika dalam sastra, Aktuil dikenal dengan puisi-puisi mbelingnya. Tapi jangan lupakan bagaimana Aktuil menjadi kiblat skena musik pop dan rock kalangan anak muda kala itu. Namun nahasnya, meski digandrungi oleh anak muda, majalah itu justru berumur muda.
Pun halnya saat Bob Dylan dianugerahi Nobel Sastra tahun 2016. Respons negatif banyak bertebaran, tak terkecuali sastrawan Indonesia. Banyak ketidakrelaan bahwa musisi Amerika Serikat itu bisa meraih penghargaan yang juga didapat oleh Milan Kundera, yang bahkan tak pernah diraih oleh Pramoedya Ananta Toer. Ya, terlepas namanya sebuah penghargaan niscaya menghadirkan kontroversi, tetap saja hubungan musik dan buku, termasuk sastra, tak pernah baik-baik saja.
Oleh sebab itu agak mengherankan bahwa pemandangan yang saya temui di Cherry District adalah kaset album Bob Dylan dan novel George Orwell di satu ruangan yang sama. Atau buku antologi puisi Nirwan Dewanto berhadap-hadapan dengan kaos band The Jeblogs. Maka, gerangan apa yang sebenarnya coba diusung oleh pembuat acara ini?

Pertanyaan itulah yang mengantarkan saya untuk menemui Arsita Pinandita, project manager Cherry Pop. “Ya sebetulnya Cherry District bukan pertama kali ya,” ungkapnya membuka percakapan. Ia sudah berdiri sejak tahun lalu sebagai bentuk aktivasi Cherry Pop dalam menghidupkan ekosistem musik. Jika sebelumnya semua itu tampil sendiri-sendiri, Cherry District dibentuk sebagai ruang pemersatu semua aktivasi itu, jelasnya.
Pria yang akrab dipanggil Dito itu menyebutkan, dalam perkembangannya, Cherry District menjadi sebuah ekosistem berbasis ekonomi dan pengetahuan. Basis ekonomi dibentuk lewat kolaborasi dari teman-teman yang memiliki produk, entah merchandise, brand, art, rekaman, atau semacamnya. Sedang, basis pengetahuan dibangun dengan acara talkshow, workshop, pemutaran film dan perbukuan.
Selain itu, menurut Dito, Cherry District juga membuka ajang bagi kedua skena yang berbeda itu untuk saling berkomunikasi. Skena musik dapat memperdalam pengetahuan melalui literasi. Pada saat yang sama, skena buku dapat menilik banyak referensi musik yang sebelumnya tidak ia kenal. “Ya semuanya bisa diakses gratis,” terang Dito.
Dari basis pengetahuan inilah kolaborasi skena musik dan buku menjadi masuk akal. Bagi Dito, ide awal ini muncul karena band hari-hari ini atau para penikmat musik juga punya pengetahuan akan sastra. Sebut saja Barasuara, Hindia, Banda Naira, atau band lainnya, yang lirik-liriknya banyak dikutip di media sosial, fenomena tersebut baginya juga bentuk literasi. “Musik juga beririsan dengan literasi,” katanya.
Penerbit-penerbit pun ia lantas ajak kolaborasi. Semua buku digandeng, tak terkecuali. Baginya, dengan tidak mengkotak-kotakan buku, ia justru bisa membangun akses literasi yang lebih luas. “Asumsinya kalau literasinya maju, nanti dia bisa mengakses sastra dengan lebih. Liriknya jadi bagus, selera musik jadi lebih. Saya nggak ngomong selera, pasti punya perbedaannya. Tapi minimal punya karakter yang baik,” terang Dito.
Saya sangat sepakat dengan pernyataan Dito. Dalam perjalanan saya mengitari tempat ini, jawaban itu semakin kentara adanya. Di salah satu rak berisi kaset dan CD, terlihat CD album Sekilas Info. Sebuah album milik Jason Ranti, yang salah satu tracknya “Lagunya Begini, Nadanya Begitu” barangkali bisa jadi contoh.
Jika diingat-ingat, lagu ini seperti pesan untuk Pak Sapardi. Tak cuma penyebutan Pak Sapardi yang berulang-ulang, Jason Ranti menyempilkan banyak kutipan puisi-puisi Sapardi dengan rapi, Bilangnya begini, maksudnya begitu/kita abadi, yang fana itu waktu/Barangkali hidup adalah doa yang panjang. Sebuah lagu yang benar-benar terilhami dari buku-buku Sapardi.
Pandangan saya beralih ke rak lain, yang kemudian bertatap dengan kaset Demi Masa milik Morgue Vanguard. Benar juga, membicarakan Sapardi, jangan lewatkan Morgue Vanguard yang membelokkan puisi “Aku Ingin” menjadi Kuingin mencintaimu dengan tidak sederhana/karena tak ada yang membaca Sapardi di Kantin Sastra. Gubahan ini begitu kentara di single-nya yang bertajuk “Membebaskan Hujan dari Tirani Puisi”.
Lalu, bagaimana skena buku merespon pertemuan ini? Bagi, Aditya Purnomo, selaku pihak dari IKAPI, gelaran ini menjadi bukti bahwa kita bisa kolaborasi lintas sektor. Jika, menilik acara-acara sebelumnya, bazar buku hanya mempertemukan antar penerbit, atau palingan dengan pecinta buku. “Udah gitu selesai, circle-nya itu itu aja,” terang Adit.
Perbincangan itu mengingatkan awal mula perkenalan saya dengan musik jazz. Barangkali jika tak baca Jazz, Parfum, dan Insiden-nya Seno Gumira Ajidarma, hanya mobil Honda Jazz yang saya kenal. Atau tanpa Norwegian Wood-nya Haruki Murakami, mungkin saya tak bakal tahu dan mengulik siapa itu The Beatles.

Meski dengan banyak pertanyaan di kepala saya, setidaknya perjalanan ini memberi arti bahwa musik dan literasi bukanlah dua dunia yang berjarak. Dan sudah sepantasnya musik dinilai setara dengan sastra atau bentuk literatur lainnya. Saya tak ingin bilang bahwa mereka sama. Musik tetap dunia yang berbeda. Mungkin mereka punya fitur yang sama: lirik yang liris serupa dengan puisi-puisi liris. Namun, fakta bahwa ia diiringi dan dinyanyi dengan komponen-komponen musik, itu persoalan lain. Demikian halnya dengan literatur yang memang murni pengejawantahan dari bahasa tulis.
Daripada itu, peleburan literasi dan musik masih tetap samar. Anggapan dan pertanyaan saya di awal hanyalah ungkapan saya seorang. Barangkali ia berupa kenyataan. Barangkali ia cuma khayalan. Adalah sebuah kemustahilan jika saya harus menanyai satu persatu, apakah dia seorang pembaca buku serius sekaligus pendengar musik serius? Atau satu diantaranya? Atau jangan-jangan tidak sama sekali? Ya, terlepas dari itu, bagi saya perhelatan semacam Cherry District atau live session seperti di Buku Akik sangat layak untuk digalakkan.
Karena jika memang musik dan literasi adalah dua dunia yang berbeda, pada akhirnya mereka tetap disatukan oleh kata-kata. Bahwa musik dengan lirik-liriknya dibaca melalui telinga-telinga pendengarnya. Sedang buku didengar kata-katanya dalam sanubari pembacanya. Mereka pun melahirkan dua hal yang sama di dalam diri manusia: ide dan pengetahuan. Seperti kata Efek Rumah Kaca, Karena setiap aksara/Membuka jendela dunia.








