Maghrib di Ciranjang: Puisi-puisi Nuryana Emsi

Darma Singkong


Singkong itu meringkuk berdzikir
Tertimbun doa panjang umur
Daunnya melambaikan rasa pasrah

Bapak mencabutnya dengan bismilah panjang
Berharap perut tak menangis sampai petang
Singkong mendorong tubuhnya keluar
Bagi mereka singkong adalah suar

Ketika bapak pulang
Anak-anak bersorak dengan alhamdulillah paling bahagia
Diberikannya singkong itu pada ibu
Inilah Nafkah yang Maha Sederhana

Ketika bapak pulang
Anak-anak bersorak dengan alhamdulillah paling bahagia
Diberikannya singkong itu pada ibu
Inilah Nafkah yang Maha Sederhana

Bandung 2021


Menjelang Maghrib (di Ciranjang)

Ketika bayangan hampir tenggelam oleh redup matahari 
Ada langkah yang berat untuk kembali
Becak-becak yang kelelahan gerobak-gerobak lesu
Saatnya melipat nafkah dan menyetorkan rindu

Langit mulai membiru
Angkot masih setia menunggu
Kaki-kaki yang pasrah
Pundak-pundak yang sadrah

Gelanggang nampak lengang
Lampu jalan berdiri terang
Mendoakan mereka yang pulang

Cahaya maghrib sepenuhnya tumpah
Pak polisi menenteng sajadah
Mengamankan iman taqwa

Di seberang jalan
Pak kiyai tersenyum arif tanpa tarif
Adzan maghrib begitu lantang
Klakson menyalak panjang

Saat bulan merangkak nyala
Beberapa orang pulang ke rumahnya
Beberapa yang lain pulang ke Tuhannya


Juni 2022

Nyonya Tua

Rambutnya perak menyala
Dengan tatapan kian senja
Ia menghitung waktu
Sepanjang bambu

Di setiap langkah matahari
Ia kehilangan ingatannya
Entah jatuh di mana
Tak tahu bersarang di mana

Tapi kidung masih mengalir di mulutnya
Semua akan baik-baik saja katanya
Tentang kain kafan dan tanah merah
Ia sudah pasrahkan segalanya

Purwakarta 2021


Gelanggang Tari


Lentera-lentera sayu berkedip
Liuk api mengundang si perjaka
Melompat ke gelanggang menemui penari
Namun ia lupa picisan pun ia tak punya

Penari itu masih sebening sungai
Keringat bercucuran seperti mata air
Kerlingan matanya membuat kas pak kades jebol
Liuk lehernya menghabiskan modal si bandar sayur

Tinggalah  perjaka itu termangu di sudut lentera
Dadanya meledak lalu otaknya menerbitkan sebuah cara
Lompatlah ia seperti kangguru mencari betina
Soal bayaran biarkan cahaya bulan menanggungnya

Si perjaka menata hati-hati mendekati penari
Darahnya mengalir deras lebih dari air terjun
Jantungnya mengalami gempa hebat
Akhirnya pandangan tajam menjaring penari

Si perjaka menata hati-hati mendekati penari
Darahnya mengalir deras lebih dari air terjun
Jantungnya mengalami gempa hebat
Akhirnya pandangan tajam menjaring penari

Selendang lembut bergelayut di leher si perjaka
Mereka berdua menari disirami bintang-bintang
Bulir cinta menggumpal karena mereka sebaya
Sayangnya malam hampir habis

Penari pergi membungkus rasa penasaran
Si perjaka pulang tanpa picisan kenangan

Cianjur 2020


Siraman

Bahagia yang menjelma air
Menyusup ke lekuk tubuhmu
Menjalar doa yang wangi
Dalam bisikan renyah ibu

Berjalanlah di atas kain songket
Yang membentang sepanjang hari
Bertanyalah pada dinding yang robek
Tentang hakikat kesepian


Di jalan sempit lumut bercanda
Tentang yang tertinggal akan tumbuh dewasa
Dan di langit yang luas awan menangis
Yang jatuh (tak) akan kembali ke muara



Memori Jam Tujuh

Perasaan itu datang lagi
Dibawa ombak pagi hari
Setelah kutatap bingkai wajahmu
Yang beku dan tak tersentuh

Rinduku bocor lewat pori-pori
Membuatku tenggelam di kamar sendiri
Ketika kuhamburkan lagi kertas dan puisi
Kau hanya mengingatku sebagai catatan kaki

Debaran ini berpacu kembali
Dan jari-jari yang lebih gatal lagi

Untuk menyapamu
Di balik bongkahan kaca yang begitu silau

Cianjur 2020



Undangan


Di ujung kalimat akad
Kau telah menjelma menjadi melati
Kebahagiaanmu harum
Disingkat ucapan sah

Semoga amplopku bisa membantu
Melunasi hutang dan pondasi rumah tanggamu
Tarian kusuguhkan di gelanggang dangdut
Melepas pahit dalam hingar-bingar resepsi

Semoga amplopku bisa membantu
Melunasi hutang dan pondasi rumah tanggamu
Tarian kusuguhkan di gelanggang dangdut
Melepas pahit dalam hingar-bingar resepsi

Senyumanmu mungil
Entah karena tingkahku atau kesadaranmu
Inilah terakhir kalinya
Tarianku dan senyumanmu bertemu

Cianjur 2018

Maghrib di Ciranjang: Puisi-puisi Nuryana Emsi


Nuryana Emsi
Nuryana Emsi lahir di Bandung, 21 tahun yang lalu. Aktifitasnya selain kuliah juga bergiat di Dewan Kesenian Cianjur tepatnya di komite teater. Facebook: Ikbal Nuryana Instagram: @nuryanamc