“Mencari Kubur Baridin dan Suratminah”- Riki Dhamparan Putra: Sebuah Antipoda

Baridin-Ratminah. Cerita rakyat tentang cinta yang tragik. Konon, kubur Baridin dan Suratminah ada di Gegesik, Cirebon. Sebagian orang masih menziarahi kubur, juga kisah mereka. Dan, saya pernah mendengar cerita yang sama di era sekarang.

Ada pemuda yang melakukan puasa sekian puluh hari, dan kepada perempuan yang sangat dicintainya ia bacakan kemat Jaran Guyang. Beberapa hari sesudahnya, konon, perempuan itu gila, lalu mati. Tak lama, giliran si pemuda yang mati.

Cerita ini saya dapatkan dari seorang lelaki tua yang cukup saya kenal. Beliau sendiri mendengar curhatan ini dari seorang ibu yang mengaku sebagai saudara dari si perempuan terkemat Jaran Guyang itu—keduanya kebetulan bertemu di sebuah daerah di Indramayu, sama-sama tamu di rumah seorang sakti yang biasa dimintai nasehat.

Sebuah cerita. Mungkin kita mengira bahwa hanya dengan kematian tokoh utama, sebuah cerita dapat menumpahkan haru-biru. Kematian—sesuatu yang universal dan yang tua, yang enigmatik dan dekat dengan kita, satu tanda bahwa betapa terbatasnya diri manusia—di tempatkan pada akhir cerita sebagai representasi klimaks yang tajam dan mengguncang. Begitulah, strategi ini hadir dalam cerita Baridin dan Ratminah.

Setelah merasa terhina dan ditolak mentah-mentah oleh Ratminah, Baridin pun merapal mantra Jaran Guyang dan melakukan 40 hari puasa. Ia berhasil membuat Ratminah tergila-gila; hatinya bertekuk lutut di hadapan Baridin. Berulangkali Ratminah membujuk Baridin agar mau menikahinya. Tapi, berulangkali pula Baridin menolaknya. Sampai akhirnya, Ratminah benar-benar gila. Dan, karena Ratminah gila, Baridin semakin tak mau memiliki Ratminah. Tersiksa karena keadaannya saat itu, Baridin pun ikut gila. Hari-hari pun terseok-seok bagi keduanya. Hingga tiba suatu waktu, keduanya meninggal, dalam gila.

Cinta tak bersatu hingga akhir hayat. Dalam pentas tarling Abdul Adjib, Ratminah meninggal lebih dulu, dan proses meninggalnya dikabarkan dalam lakon atau teks kisah itu sendiri. Ratminah meregang nyawa dalam kegilaan dan keringkihan jiwa-raga, begitupun Baridin. Inilah keadaan: hati yang dirundung duka oleh hidup di dunia, di mana rasa frustasi, cinta, atau benci telah menyatu, membuat dunia memusat hanya pada seorang yang dicintai, tunduk, dan tenggelam padanya. Tak ada yang ditakuti dari keduanya, tidak juga kematian.

Fanatisme terhadap sosok yang dicintai atau yang dibenci ini, alhasil, mencuatkan pseudo-heroisme di hadapan kematian. Maut tak lagi sesuatu yang diterima datangnya secara wajar, tetapi malah memaksanya untuk segera menjemput. Ketakutan akan kematian itu, sudah tak lagi dimiliki Baridin dan Ratminah. Namun, bersamaan dengan kekuatan untuk mati pula, kedua tokoh tersebut lemah terhadap kehidupan. Hidup menjadi sesuatu yang dijauhi dan ditakuti. Rasa haus terhadap kematian, sejajar dengan rasa benci terhadap kehidupan. Baridin dan Ratminah, kehilangan cara untuk mencintai hidup dan kehidupan. Keduanya mandul untuk menemukan makna-makna di dalam kehidupan.

Pada dua tokoh semacam itu, kita menemukan hubungan kausalitas antara eksistensi manusia dengan lingkungannya yang telah putus, dan menghasilkan satu kondisi psikologi yang kaotis. Segala kemungkinan lain untuk hidup pun lenyap, dan keduanya memilih untuk impoten terhadap waktu masa depan. Masa depan tak lagi berarti jika tidak dijalani bersama orang yang dicintai. Selain seseorang yang dicintai itu, tak lebih hanya kefanaan yang membosankan; hidup yang tak layak dijalani. Ini adalah sebuah keadaan fatalistis, pesimisme akut.

Ada harapan. Ada iman. Dua hal ini bermekaran di dalam diri manusia yang berani untuk hidup. Sementara, Baridin dan Ratminah tak punya keberanian tersebut, dan praktis, sudah tak bersemayam lentera harapan dan iman pada keduanya. Nalar keduanya ambruk. Kreativitas sudah mbluruk. Dengan cara mematikan pontensi hidup diri, diam-diam Baridin dan Ratminah menolak akan keajaiban-keajaiban yang mungkin saja kelak diberikan oleh Tuhan kepada mereka, jika mereka memilih tetap hidup tak terbelenggu oleh cinta kepada seseorang. Penolakan implisit ini, sama saja dengan menolak kemungkinan campur tangannya Tuhan dalam hidup mereka.

Jika kita tautkan dengan gagasan-gagasan teologi, terutama dalam agama yang hidup di latar Baridin dan Ratminah—yaitu Islam, Kristen, mungkin Hindu,  Kejawen, atau Sunda Wiwitan—, mengerasi, menyakiti diri dan orang lain, apalagi bunuh diri dan membunuh orang lain, adalah terlarang. Alhasil, kita menemukan bahwa keberanian terhadap maut pada tokoh Baridin dan Ratminah, bukanlah sesuatu yang spiritual, sebab: dunia ditolak dan keduanya mati tidak dalam rangka menerima anugrah Tuhan.

Konsep cinta pada kisah Bairidin-Ratminah ini, oleh kacamata Erich From dalam The Art of Loving, merupakan cinta yang kekanak-kanakan. Erich menganalogikannya dengan cara mencintai ibu terhadap anaknya yang kecil dan anaknya yang kecil itu terhadap ibunya. Keduanya saling tenggelam satu sama lain. Keduanya terlalu saling bergantung.

Seorang ibu sangat kuat intervensinya terhadap anaknya. Ia seringkali ketat terhadap anaknya. Sementara anaknya pun sangat membutuhkan kehadiran ibu di sampingnya. Ia seringkali “mewek” saat ibunya tak ada di sekitarnya. Seorang ibu seringkali sulit menaruh kepercayaan dan kebebasan terhadap anaknya. Ada pun anaknya tidak bisa percaya bahwa dirinya bisa bebas dari ibunya. Tidak ada ruang kosong dalam cinta keduanya. Ruang kosong tempat saling percaya. Ruang di mana keduanya bisa menjadi diri sendiri, menjadi autentik tanpa tereduksi oleh orang lain.

Cara mencintai yang matang, yaitu, yang saling menumbuhkembangkan potensi diri, dan cara agar hal itu terjadi adalah dengan tidak memperlakukan yang dicintai sebagai ibu ataupun seorang anak; tidak terlalu bergantung satu sama lain. Cara mencintai yang dewasa menyaratkan ruang-ruang kosong sebagai tempat bagi satu sama lain untuk bisa menjadi diri sendiri, menaruh percaya, dan menerima dengan perasaan masygul: segala hal yang di luar angan-angan kita.

***

Saya kira, Riki Damparan Putra memiliki kesamaan dengan Erich Froom. Keduanya sama tentang cara mencintai yang dianggap lebih baik. Itulah mengapa, Riki melakukan pembacaan ulang sekaligus mendekonstruksi kisah Baridin-Ratminah; merekonstruksi tokoh Baridin dan Ratminah sebagai sesuatu yang benar-benar lain dibanding kisah asalnya. Ia membuat antipoda dari kisah sumbernya, dalam sebuah puisi yang cukup panjang, berjudul “Mencari Kubur Baridin dan Suratminah” dalam buku puisinya, Mencari Kubur Baridin (Akar Indonesia, 2014):

 

/1/
Kau masuki relungku
Kau daki gigir bukit di punggungku
Seperti memikul isi bumi dan isi langit
Kau buat kasih
Menjadi beban dalam pilu nasibku
 
Tapi aku tak akan jadi Baridin, kasihku
Karena engkau juga bukan Ratminah
Walau telah menyakitiku
 
Engkau hanya dirimu
: sebait mantra teluh
cahaya kilat yang menjejak
dalam kelam penuh gemuruh
meniupku
menipuku
mengikat nama di atas nama
yang terlarang di lidahku
 
Sebab bila aku paksa mengucapnya
sedih kembali tiba
kenangan akan gelombang pasang
makin menyintak isi dada

 

Aku memang terluka
Tapi hari ini kupaksa diriku
Untuk tak ikut melepas mantra
Puasa sakit hatiku kututup sudah
Kuda-kuda kaca yang menunggangku
Telah kuhalau
Ke kawah-kawah darah

 

Aku tak meninggalkanmu di situ
Karena bukan aku yang membawamu
Aku tidak juga sedang berpamitan
untuk kembali menjemput janji-janji
pun tidak untuk surat-surat
yang ingin kutulis bagi diriku sendiri
Kita tak pernah bertemu!
Itulah yang terjadi

 

Dan aku tak mendengarmu pergi
Seperti pula engkau
tak mendengarku berjuang
memaafkan diriku sendiri
Atau saat susah payah aku ampuni
arca-arca batu yang membisu
di jalan-jalan asmaraku
yang tak suci

 

Hati tak seperti matahari
Tapi cukup terang untuk menuntunku
Di lorong panjang kematian ini
 
/2/
Kuburku kelak
Adalah tanah yang sejati
Karena berani mengubur
Kisah-kisah api
Para penari disucikan
Kubah-kubah dibangun di sepanjang petilasan
 
Aroma kemenyan menebar harum
Lawang-lawang memberi salam bagi mereka
yang datang memohon ampun

 

Tinta penyair menuju pulang
Meniti huruf di sumsum tulang
 
Jiwa akan terus bernyanyi
Untuk mereka kelak yang tak sekali
akan menjengukku di sini

 

Sunyaragi, Februari 2006

 

Riki beranggapan bahwa sebenarnya, nganga luka karena cinta yang ditolak dan penghinaan itu, cukup diterima dalam kelapangan purna. Aku memang terluka/ Tapi hari ini kupaksa diriku/ Untuk tak ikut melepas mantra/ Puasa sakit hatiku kututup sudah/ Kuda-kuda kaca yang menunggangku/ Telah kuhalau/ Ke kawah-kawah darah. Hanya dengan begitulah, mencintai tidak akan menimbulkan dendam terhadap seseorang yang dicintai ataupun pada hidup ini.

Penderitaan dalam mencintai pun tidak lantas jadi satu kekuatan destruktif, melainkan jadi jalan cahaya bagi diri maupun orang lain, lebih luas: bagi hidup ini. Inilah pencapaian Riki dalam puisi Mencari Kubur Baridin: mengubah Baridin dan Ratminah yang semula nihilistik, menjadi Baridin dan Ratminah yang transenden; berawal dari dua tokoh yang muram, menjadi dua tokoh yang bijaksana.

Tapi, mengapa dalam puisi tersebut, aku lebih memilih memakai sudut pandang Baridin? Mengapa bukan Ratminah, Mbok Wangsih, Bapak Dam, atau Gemblung? Karena dalam cerita Baridin-Ratminah, tokoh Baridin merupakan titik jungkir-balik lakon tersebut.

Keputusan Baridin untuk melakukan tirakat Jaran Guyang, merupakan keputusan ekstrem dan merusak dalam cerita tersebut. Lewat mantra itu, Baridin hendak memaksa Ratminah agar jatuh cinta padanya. Ini akibat Ratminah dan keluarganya sempat menolak keras, mencaci-maki, bahkan mendupak Mbok Wangsih dan Baridin—keluarga buruh tani yang papa.

Awalnya, Ratminah dan keluarganya adalah simbol penindas. Kejam, memang. Namun, dalam sejarah, kita kerap saksikan kaum minoritas yang dulu ditindas, berubah menjadi kaum penindas yang baru, yang sering lebih kejam. Baridin adalah simbol korban penindasan yang bangkit menjadi penindas. Semula ia mengalami pemarjinalan. Oleh karena luka yang mengetam, dirinya lalu melakukan serangkaian metode untuk meremukkan Ratminah.

Saat Ratminah menjadi begitu cinta, Baridin pun ingin membalas cinta itu, tetapi dengan penolakan yang tak kalah getir dari penolakan Ratminah dulu kepada Bairidin. Dendam telah mencuatkan watak tersembunyi dari seorang Baridin. Dirinya yang semula tampak sebagai seorang empatik, ternyata mengandung watak toksik: ia tuang racun Jaran Guyang itu ke dalam dada Ratminah, ia memanipulasi Ratminah, mengeksploitasi Ratminah. Hal itu tidak lain hanya demi memuaskan nafsu dendamnya sendiri. Egoisme dalam diri Baridin, ternyata begitu kuat.

Oleh karena itu, Ratminah pasca-dirapal Jaran Guyang, jika pun bagi Erich Froom dianggap telah begitu tenggelam dalam diri Baridin, hanyalah seorang korban. Ia hanya seorang yang tak lagi sadar. Baridin yang “mengendalikan” kesadaran Ratminah, dan karenanya Baridinlah yang memiliki cinta kenak-kanakan. Ketenggelaman, kekanak-kanakan cinta, ini hanya terjadi satu arah, yakni dari arah Baridin.

Tapi, kata Riki, aku tak akan jadi Baridin, kasihku/ Karena engkau juga bukan Ratminah/ Walau telah menyakitiku. Tapi hari ini kupaksa diriku/ Untuk tak ikut melepas mantra. Jadi, mantra, dalam kisah Baridin-Ratminah adalah inti bencana. Tak melepas mantra, berarti menghalau bencana. Riki tahu itu. Sehingga, ia berusaha menciptakan alternatif sudut pandang bagi tokoh Baridin dan Ratminah yang lebih dewasa, lebih matang, lebih humanis. Riki tak ikut melepas mantra. Tak ikut melepas mantraTak ikut melepas mantra.

 

0
13