Kajian Etimologi dalam Sejarah

Mengenai asal-usul nama Demak (kesultanan Demak) saya sudah menjelaskan dalam buku Istana Prawoto: Jejak Pusat Kesultanan Demak (Jakarta: Pustaka Compass, 2018: 62). Hal yang juga menarik untuk dikupas adalah asal-muasal penyebutan Bintara (Demak Bintara).

Melacak kronologi munculnya nama-nama penting (kajian etimologi) sangat dibutuhkan untuk membantu dalam proses pencarian sejarah, termasuk narasi kesultanan Demak. Terlebih lagi bila menyadari bahwa sejarah mengenai kesultanan Demak hingga saat ini masih diselimuti misteri.

Saya ingin memulai tulisan ini dengan penegasan, bahwa untuk melacak jejak faktual tempat penting di masa lalu, ada baiknya terlebih dulu mengetahui kronologi lahirnya tempat kesohor itu. Selanjutnya menemukan asal-usul penyebutan tempat yang dimaksud. Alasannya, tempat-tempat penting itu bisa saja telah memiliki penyebutan khas dari waktu ke waktu.

Munculnya penyebutan Majapahit, misalnya. Hari ini kita mengetahui Majapahit sebagai nama kerajaan yang memiliki pengaruh besar di masa lalu. Sebagian ahli menerangkan, wilayah kekuasaan Majapahit (1293-1527 M) membentang seluas kumpulan pulau-pulau yang hari ini diidentifikasi sebagai Nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Timor Leste, dan Filipina).

Bila hari ini kita mencari tempat (sepetak area) bernama Majapahit, maka hampir bisa dipastikan tidak akan ketemu. Tetapi bila maksudnya adalah titik tempat yang memunculkan nama Majapahit untuk pertama kalinya, maka tempat yang dimaksud adalah bekas wilayah yang dulu dikenal sebagai hutan Tarik (alas Terik).

Penjelasan di atas didasarkan pada fakta sejarah (dalam kitab Pararaton), bahwa kotaraja Majapahit dibangun oleh para eks elit kerajaan Singasari (1222-1292 M) setelah mereka berhasil membuka kawasan hutan Tarik menjadi hunian. Dari tempat inilah nama Majapahit mulai digunakan untuk menyebut kerajaan yang didirikan oleh Dyah Wijaya (memerintah 1293-1309 M) itu.

Demikian pula dengan penyebutan Mataram sebagai nama kerajaan yang disiapkan oleh Pemanahan (w. 1584 M) untuk anaknya, Sutawijaya (w. 1601 M). Bila muncul pertanyaan di mana Kotaraja Mataram dibangun? Maka, jawabannya adalah di bekas wilayah hutan Mentaok (sekarang di Yogyakarta).

Lalu, bagaimana dengan pusat kesultanan Demak Bintara?

Untuk melacak keberadaan bekas kotaraja kesultanan Demak, kita harus kembali membicarakan sejarah cikal-bakal kerajaan yang disiapkan oleh Sunan Ampel (1401-1481 M) itu. Babad Tanah Djawi dan Babad Pajang memberitakan, kesultanan Demak didirikan oleh Raden Fatah (1455-1518 M) setelah membuka wilayah hutan Gelagah. Babad Pajang menyebutnya dengan “alas gelagah gandane wangi”.

Dari bekas hutan Gelagah inilah nama Demak muncul untuk pertama kalinya, dan digunakan untuk menyebut nama kerajaan. Jadi, jangan sampai keliru, pada awalnya Demak adalah nama wilayah kerajaan. Adapun jejak faktualnya adalah bekas wilayah hutan Gelagah.

Sampai akhirnya, nama Demak digunakan pula sebagai nama wilayah kabupaten. Bila tidak teliti, orang awam akan mengimajinasikan kesultanan Demak kala itu sebagaimana kabupaten Demak hari ini. Bukan apa-apa, menganggap kesultanan Demak sama dengan kabupaten Demak akan mereduksi keagungan Demak di masa lalu sebagai kerajaan besar.

Bathara, Binathara, dan Bintara

Para ahli sejarah mengakui, sumber yang menerangkan asal-usul nama Bintara sedikit sekali. Iya, penjelasan etimologi mengenai asal dan makna nama Bintara hampir tidak diketemukan. Untuk itu, tulisan ini menjadi penting untuk dibaca oleh publik.

Di antara yang sedikit tentang penjelasan asal-usul penyebutan Bintara itu disampaikan oleh R. M. Soetjipto Wirjosoeparto (Solichin Salam, 1960: 14). Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 1961-1964 itu menjelaskan:

“Adapun kata Bintoro, saya belum pernah dengar. Menurut paham saya, rupa-rupanya Bintoro berhubungan dengan perkataan betoro, dan betoro itu gelar dari Dewa Syiwa. Bahwa bintoro itu ada hubungannya dengan betoro yang dalam agama Hindu dianggap bertahta di bukit keramat yang bernama Himalaya atau Parwata, keterangan ini diperkuat oleh nama bukit Perwata di Grobogan.”

Dari penjelasan Soetjipto Wirjosoeparto kita mendapat petunjuk awal, bahwa sangat mungkin kata bintara diderivasi dari kata bathara (batara; betara). Kesimpulan ini akan semakin mudah diterima kalau kita mengerti sebutan lain tentang konsep kekuasaan Jawa yang mashur, yaitu gung binathara (agung binetara).

Masyarakat Jawa umumnya menandai satu kerajaan yang memiliki hegemoni kekuasaan dan politik dengan sebutan kerajaan yang gung binathara. Seorang raja besar dengan pengaruh politik yang kuat juga disebut sebagai raja yang agung binathara. Sebutan yang demikian masyhur di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa bagian tengah hingga tahun 1980-an.

Lihatlah, misalnya, ketika Kiai Bisri Musthofa menjelaskan seorang kaisar di Champa yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar di wilayahnya. Raja Champa itu bernama Kunthara. Kiai Bisri menyebutnya sebagai raja Kunthara yang gung binathara (Bisyri Musthofa, Tarikh al-Auliya: Tarikh Wali sanga, 1372 H: 3).

Kata (istilah) binathara digunakan untuk menyebut kerajaan atau raja yang memiliki kekuasaan besar dan tidak tertandingi pada masanya. Raja yang agung binathara bermakna seorang raja yang memiliki kekuasaan yang besar (tanpa batas; absolut). Binathara artinya memiliki kekuasaan tanpa batas yang hampir menyamai dewa (bathara).

Dalam kajian konsep kekuasaan Jawa (Arif Budi Wurianto, dalam Jurnal Bestari No. 32 tahun 2001), gung binathara memiliki inti pemahaman bahwa kekuasaan raja itu agung binathara, bahu dhendha nyakrawati, berbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta (artinya: besar laskana kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa dunia, meluap budi luhur mulianya, dan bersikap adil terhadap sesama).

Sampai di sini, kita lebih mudah dalam menerima penjelasan Soetjipto Wirjosoeparto  di atas. Dalam penelusuran saya lebih lanjut, penyebutan bintara memiliki kedekatan dengan kata binathara yang berasal dari akar kata bathara.

Dari paragraf-paragraf di atas menjadi jelas, penyebutan kesultanan Demak Bintara memiliki kemiripan (kedekatan istilah; makna) dengan sebutan kerajaan yang agung binathara. Dengan demikian, kerajaan Demak

Bintara tidak lain adalah kerajaan Demak yang agung binathara. Artinya, kerajaan Demak pada waktu itu memiliki pengaruh politik dan kekuasaan yang tidak tertandingi. Raja-rajanya adalah seorang sultan yang agung binathara.

Pemaknaan konsep kekuasaan agung binathara juga tidak jauh dengan penjelasan yang mashur di kalangan kaum santri (zaman kesultanan Demak; masa kewalian), bahwa seorang raja atau sultan adalah khalifah Allah di muka bumi. Sultan Fatah, pendiri kerajaan Demak bergelar bergelar Sultan Syah Alam Akbar (penguasa dunia yang agung), dan Sultan Surya Alam (raja yang menerangi dunia).

Wallahu a’lam.

Ali Romdhoni
Penulis buku Istana Prawoto: Jejak Pusat Kesultanan Demak. Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang. Email: ali_romdhoni@yahoo.com