Sebelum melangkah pada lestari-melestarikan bahasa, baiknya kita bertanya bagaimana bahasa itu bisa ‘tercipta, dan diciptakan’? Meski pertanyaan tersebut akan mengarahkan kita pada ragam ilmu sosial yang terpolarisasi oleh ilmu pengetahuan (modern) hari ini; sejarah, sosiologi, budaya, dan geografi. Ilmu pengetahuan tersebut jika kita telusuri dalam konsep pengetahuan moyang kita bersifat menyeluruh, seperti satuan lingkaran; antara bulatan satu, sisi sebagiannya terbentuk dari bulatan sisi lingkaran lainnya, ia saling mengisi, hingga terciptanya bentuk rupa. Ia bersifat partikular, sekaligus universal dalam kosmologinya, sehingga ia selalu selaras dengan alam. Namun kemudian, ilmu pengetahuan modern memecahnya menjadi bentuk kepingan puzzle. Ia universal, namun belum tentu partikular. Dampak karena belum tentu partikular adalah, ia tidak tahu lagi di mana kepingan-kepingan puzzle itu diletakkan, ia sibuk menguji satu persatu ke dalam sebuah kolom kepingan yang ‘dikiranya’ pas. Tidak tergambar lagi bentuk gambaran besar apa sebenarnya yang ia susun dalam puzzle itu.

Hal yang erat kaitannya bahasa adalah budaya. Keduanya tak terpisahkan, bisa dikatakan bahwa bahasa menciptakan budaya, dan budaya menciptakan bahasa. Jika bahasa itu diletakkan pada sebuah riwayat setiap individu, maka dengan mudah hal itu tercipta dengan sendirinya oleh keluarga serta masyarakat sejak individu itu dilahirkan. Keluarga dan masyarakat tersebut terbentuk dari kesamaan entitas komunal yang kemudian membentuk identitas. Identitas inilah yang kemudian menciptakan ragam kebudayaan; identitas suku, etnik, bangsa, agama.

Bahasa bagi saya adalah salah satu fragmen artefak kebudayaan. Artefak dalam arti ia tidak dekaden, tapi terus mengalami pemaknaan; dikonstruksi dan dikomposisikan kembali sesuai konteks zamannya.[1] Selain sebagai medium komunikasi sehari-hari, bahasa merupakan produk dari ilmu pengetahuan, ia diproduksi dan bersifat being, bahkan fluktuatif (berubah-ubah) layaknya identitas itu tercipta. Dengan demikian, kita bisa memahami dan bisa memposisikan bagaimana bahasa itu diletakkan. Jika kita mampu memahami dan meletakkan bahasa itu pada posisi dan proporsinya, maka terciptalah sebuah kesadaran baru akan kegunaan dan manfaat dari bahasa itu. Dengan demikian, bahasa akan lestari dengan sendirinya.

Jika kita mampu memahami dan meletakkan bahasa itu pada posisi dan proporsinya, maka terciptalah sebuah kesadaran baru akan kegunaan dan manfaat dari bahasa itu. Dengan demikian, bahasa akan lestari dengan sendirinya.

Jika kita telusuri pasca berakhirnya perang Jawa, dimulailah babak baru dalam sejarah bangsa kita yaitu Indonesia modern. Kemudian pemerintah kolonial Hindia Belanda, memberlakukan kebijakan sistem pemerintahan baru yang disebut politik etis. Salah satu dari program politik etis adalah sistem pendidikan; diciptakannya ruang kelas bukan sebatas ruangan di kelas, tetapi menciptakan kelas-kelas sosial; inlander[2], priyayi[3], timur asing[4], europenean[5]. Pendidikan jadi terpolakan, semuanya tersekat sejak dari sekat ruangan kelas, hingga membentuk sekat-sekat baru dalam kehidupan riil; sosial, ekonomi, suku, bahkan agama yang terus menjalar hingga hari ini.

Pada zaman pemerintahan kolonial di Hindia Belanda, bahasa ilmu pengetahuan waktu itu adalah  bahasa Belanda. Pada rentang waktu yang panjang, orang yang bisa mengakses pendidikan adalah orang-orang berdarah biru saja (ningrat). Pendidikan diarahkan untuk mengisi pos-pos kolonial; perusahaan perkebunan, kereta api hingga di struktur pemerintahan. Itu semua adalah untuk kelangsungan kekuasaan pemerintah kolonial. Sehingga yang terjadi, orang-orang ningrat yang mempunyai akses pendidikan (jiwa dan raganya) terbangun dan terbentuk oleh orientasi keinginan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Hanya sedikit saja kamu bumi putra biasa yang bisa mengakses pendidikan. Kaum bumi putra inilah yang kemudian menciptakan kelas sosial baru, yaitu para priyayi.[6]

Baru kemudian di awal abad ke-20, melihat realitas sosial yang sangat timpang dan memprihatinkan, munculah sosok ningrat (priyayi) baru yang memilih keluar dari keningratannya. terdapat juga yang terlahir dari kelas sosial baru para priyayi; Sukarno, Hatta, Sjahrir, Otto Iskandar Dinata, Kartini, Lasminingrat, Sri Dewi Sartika, Cut Nyak Dien adalah sosok-sosok besar yang muncul mewakili kegentingan bangsanya yang sangat memprihatinkan pada saat itu. Mereka membuka kran pendidikan agar bisa diakses dan dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pendidikan yang utama kala itu adalah kesadaran berbangsa, kesadaran berbangsa menyadarkan kesadaran suku bangsa. Bahwa bangsa ini terdiri dari ribuan suku, salah satunya suku Sunda. Maka kemudian, kesadaran berbangsa harus dilandasi dengan kesadaran suku/wilayah. Keduanya adalah idetitas satuan yang sama, seperti ‘Tritangtu’ dalam konsep alam berfikir kebudayaan manusia Sunda “Tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta keneh”. Jadi, identitas ‘lokal, nasional, dan global’ tidaklah semestinya dipertentangkan. Milan Kundera, seorang novelis yang mengeksflorasi perihal ketidakkekalan dan identitas, mengatakan bahwa identitas itu terus berubah dan bersifat fluktuatif. Artinya kalau identitas itu berhenti dan dikristalkan menjadi baku-tetap, maka ia akan tertutup dan mengeras dengan sendirinya.[7]

Terkait bahasa lokal dalam konteks global, perlu dipahami bahwa bahasa lokal itu mengisi pondasi dan ruang-ruang kosong yang membuat bahasa dan budaya global itu eksis. Tanpa bahasa dan budaya lokal, maka tatanan global dunia tidak dapat hadir. Inilah konsep Tilu Sapamulu atau Tritangtu yang tidak lahir dari dualisme oposisi binernya cartesian-newtownian yang saling meniadakan, melainkan lahir dari filsafat Karuhun yang mensistesa dualisme menjadi dualitas yang saling mengadakan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana kita melestarikan bahasa lokalitu? Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian dari berlakunya tatanan dunia modern. Kemajuan, dan percepatan ibarat syahadat untuk kita menjadi manusia modern. Belum lagi keglamoran dalam bentuk konsumerisme adalah pola hidup yang teramat dekat dengan dunia harian kita.

Jika kita mau membuka lembaran-lembaran dampak yang ditinggalkan modernitas, kita akan menemukan bongkahan besar di dalamnya; ialah kekeringan spiritual[8]. Tidak ada kesakralan dan makna hidup dalam dunia material modern. Jika kita tidak menyadari hal ini, selamanya kita akan tererosi oleh arus dunia modern ini.

Salah satu jalan alternatif untuk mengetengahi itu semua adalah kearifan lokal atau budaya. Orang Barat menyebut konsep ini dengan sekadar slogan eksotis “back to nature”. Salah satu yang menarik perhatian saya, dalam membaca gejala yang sudah saya kemukakan di atas, adalah perihal pendidikan. Pendidikan menurut saya adalah pola asuh, layaknya seorang ibu mengasuh anaknya, itulah pendidikan.

Terdapat satu lakon atau legenda di masyarakat Sunda, yaitu Sangkuriang. Cerita Sangkuriang bisa bercerita akan kita yang sudah lupa pada ibu (Sunda); mulai dari ilmu pengetahuan yang bisa dibahasakan oleh bahasa Sunda, kebudayaan Sunda, kesenian Sunda, pertanian, teknologi dan sebagainya. Bukankah kerajaan moyang kita juga punya interaksi (budaya, dagang dsb.) dengan bangsa lain. Artinya kebudayaan global juga terjadi kala itu, sebagaimana kita hari, tentu dengan bentuk-ragam yang berbeda. Namun yang menjadi catatan besar, bagaimana kita bisa belajar pada moyang yang tidak lupa akan jati dirinya, yaitu manusia Sunda, sebab itulah mereka menciptakan pesan zaman (legenda Sangkuriang) yang akan diwariskan pada anak cucunya hari ini.

Mungkin kita bisa belajar kembali pada Si Kabayan dengan cerita urakan spiritualisnya, Mundinglaya, atau bahkan karakter perempuan Dayang Sumbi. Anak muda yang hari ini gandrung dengan isu-isu feminisme misalnya, mungkin bisa belajar kembali, bahkan lebih maju dari sosok perempuan Sunda yang bernama Dayang Sumbi. Bagaimana ia kokoh dengan pendiriannya bahwa Sangkuriang adalah anaknya, lalu ia mencari cara agar siasat Sangkuriang tidak terjadi.

Contoh lain adalah dampak kerusakan alam lingkungan, mungkin sebenarnya manusia itu tahu bahwa alam-lingkungan layaknya ibu yang sudah merawatnya, namun ia keukeuh dengan ambisinya; perkebunan sawit, tambang batu bara, tambang pasir sungai, tambang emas dan lain sebagainya. Ambisi yang mirip layaknya Sangkuriang ingin memperistri Dayang Sumbi sebagai sang Ibu. Pertanyaannya kemudian, bagaimana revolusi besar yang dilakonkan oleh Dayang Sumbi bisa lahir dan hadir di perempuan-perempuan Sunda hari ini, yaitu teguh pada prinsip dan mencari cara untuk menggagalkan ambisi Sangkuriang pada sang ibu. Sangat menarik bukan?

Pertanyaannya kemudian, bagaimana revolusi besar yang dilakonkan oleh Dayang Sumbi bisa lahir dan hadir di perempuan-perempuan Sunda hari ini, yaitu teguh pada prinsip dan mencari cara untuk menggagalkan ambisi Sangkuriang pada sang ibu. Sangat menarik bukan?

Itu semua adalah pesan zaman yang dilegendakan oleh moyang kita dalam bentuk lakon; salah satu contohnya adalah Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Mungkin masih banyak lagi legenda yang telah dilakonkan (dalam bentuk pamali misalnya) yang belum kita pahami realita-imajisitasnya hari ini. Kita tidak akan bertanya lagi apakah cerita itu benar adanya atau tidak, akan tetapi bagaimana kita bisa memahami cerita itu dan dampak yang dirasakan hari ini. Bukankah dengan demikian cerita legenda itu bisa dihadirkan da nada yang kita perbuat untuk hari depan. Dengan demikian, purnalah tugas moyang kita dalam mewariskan pesan zamannya untuk anak cucunya yang hidup saat ini.

Jika kita mau kembali pulang ke alam rumah Sunda, cukuplah kita melihat apa yang ada di dalam rumah kita sendiri, bahwa ‘rumah Sunda’ sudah lebih dari cukup, telah diwarisi moyang untuk menghidupi kita. Di dalam rumah Sunda itu sudah barang tentu terdapat peralatan untuk menopang kehidupan; mulai dari bahasa, adat, kebudayaan, teknologi, hingga ilmu pengetahuan. Hanya saja, seringkali kita merasa bosan di rumah, lalu mengira rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah sendiri. Biarlah itu semua bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati, dan mengajarkan pada kita untuk tidak lagi pergi jauh, mencari terus keluar yang tidak akan pernah berujung.

 

[1] Munculnya wikipediawan (Indonesia, Sunda dan lainnya) adalah salah satu usaha pemaknaan tersebut. Derasnya istilah-istilah baru dalam bahasa asing (inggris) khususnya, perlahan menggerus makna-makna bahasa kita. Tidak bisa dielak, karena bagaimanapun itu semua perkembangan akan realitas global hari ini. Sebagai contoh; anak muda yang ‘keminggris’, ia lebih percaya diri menggunakan term-term Inggris dalam percakapannya, karena ia mengakses ilmu pengetahuan baru yang lahir dalam term tersebut. belum lagi kedepannya percakapan dagang (ekonomi) akan berporos di China, tentu perkembangan bahasa pun akan mengikutinya. Itu semua kita maknai sebagai ‘kebudayaan’.

[2] Sebuah ejekan yang dilontarkan sterotipe oleh orang Belanda kepada penduduk pribumi (masyarakat lokal). Orang Belanda yang hegemonial merasa dirinya superior, imbasnya pribumi merasa inferior.

[3]Kelas sosial terhormat (darah biru), kala itu hanya golongan ini yang mempunyai akses pada pendidikan.

[4] Meliputi ‘peranakan’. Cina, India, dan eropa lainnya.

[5] Orang-orang eropa kulit putih, stigma rasial masih berlangsung hingga hari ini di Eropa, bahkan Amerika.

[6] Novel Umar Khayam yang berjudul ‘Para Priyayi’ sangat menarik dalam bercerita kelas sosial baru ini.

[7] Perang antar suku dan sebagainya adalah bentuk dari pembakuan identitas (terlepas dari bumbu politik), semangat primordialisme, politik identitas yang terjadi di ibu kota belakangan kemarin, dan munculnya kerajaan-kerajaan baru belakangan ini adalah perwujudan bentuk pengkristalan dari identitas yang dibakukan.

[8]Orang-orang Eropa hingga dari mulai abad ke-19 hingga hari ini berbondong-bondong mempelajari dunia spiritual; mereka mempelajari Buddhisme, Hinduisme, Taoisem, Zen-Buddhisme dan sebagainya adalah fakta riil yang terjadi.